Sejak pertemuan yang memalukan dengan Ahmad, Rania kini lebih sering berdiam diri. Rania yang biasanya cerewet pun seolah olah sedang sakit gigi dan menghindari untuk berbicara. Tentu saja hal ini membuat seribu tanda tanya pada benak Asma. Baru kali ini ia melihat Rania bersikap demikian.
“Hey, gue perhatiin lo sekarang lebih sering diem? Kenapa ? ”tanya Asma dengan seribu pengharapan mendapat jawaban.
“Ngga, gue ngga kenapa napa,” jawabannya yang demikian justru malah membuat Asma curiga. Pasti ada yang di tutupi oleh Rania.
Asma merasa ada yang berbeda dengan Rania. Asma beberapa kali mendapati Rania menimang nimang jilbabnya. Namun Asma tidak enak jika langsung mendekatinya. Dalam benak Asma, sepertinya Rania ingin mengenakan jilbab namun masih memiliki keraguan.
Tepat setelah sholat isya, Asma mendekati Rania yang tengah rebahan sambil memainkan ponselnya.
“Key Kak Ran, Kakak gue tadi nanyain elo nih!”
“Asma plis berhenti goda gue terus, usil banget ya ini anak,” jawab Rania. Tampak juga muka Rania yang sedikit merona dan berusaha untuk mengelaknya.
“Haduh orang di kasih tau kok ngga percaya, ini hihat!” Asma menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Rania.
“Hah ini beneran? Ngapain kakak lo nanyain gue,” Rania berusaha cuek, padahal jiwanya kegirangan dan penuh penasaran. Rania menutupi itu semua karena Rania sadar diri ia tidak mungkin bisa dekat dengan Ahmad. Secara Rania bukanlah tipe gadis Ahmad, batin Rania.
“Nih, lo percaya atau ngga, kakak gue itu jatuh hati pada lo,”
“What? Demii apa ? ngga usah ngarang kamu,”
“Siapa juga yang ngarang, kemarin kakak gue telfon gue dan cerita semuanya tentang perasaan dia ke lo!”
Bak di sambar petir, Rania masih saja tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang Ahmad yang memiliki paras nenawan blaseteran Indonesia Amerika dan pemuda yang taat beragama bisa jatuh hati kepadanya. Sementara Rania adalah gadis kotor dan tidak mengerti agama. Rania juga bukan gadis yang seperti Asma. Yang selalu ramah dan tertutup. Apakah ini bener bener nyata?
Rania semakin tidak percaya ketika Asma sudah menjelaskan panjang lebar kepada Rania. Asma juga mengutarakan keinginan kakaknya yang akan serius untuk menghalalkan Rania. Rania menolak berkali kali dengan apa yang Asma utarakan padanya. Rania takut keluarga Asma di Indonesia tidak bisa menerima Rania apa adanya mengingat masa lalu kelam Rania.
Dengan beribu ribu bujukan yang di lakukan Asma, Rania akhirnya mengakui perasaanny akalau sebenarnya ia juga memiliki rasa pada Ahmad. Namun Rania terus menolak karena merasa ia sangat kotor dan manusia yang sangat bertolak belakang dengan Ahmad.
***
“Rania, aku siap membimbingmu menuju jalan yang lebih baik, aku tau kamu sebenarnya orang baik” ucapan Ahmad membuatnya mematung. Ia sangat senang dan tidak menyangka Ahmad mau nemerima masa lalunya yang kelam. Bagi Ahmad, masa lalu Rania tidaklah penting. Sesuatu yang sudah terjadi dan Ahmad sadar semua manusia memiliki khilaf masing masing. Ahmad yakin Rania kedepannya dapat menjadi sosok bidadari muslimah yang akan menemaninya mengarungi hidup untuk beribadah kepada sang pencipta.
Dengan di bimbing oleh Asma perlahan, kini Rania sudah benar benar mengubah penampilannya secara total. Balutan hijab yang menutupi mahkotanya sungguh memberi ketentraman tersendiri. Kini wajah Rania dipandang begitu anggun dan menyejukkan. Sikap Rania pun sudah seperti Asma, dalam bertutur kata maupun berlaku selalu sopan. Kini tidak ada lagi Rania yang dulu.
Kabar berubahnya Rania dengan cepat tampai kepada Nisa yang kini sudah berada di Indonesia, Nisa mengucap syukur. Akhirnya Rania dapat berhijrah dan sekarang menjadi wanita yang rajin beribadah.
***
Di sebuah taman yang penuh dengan bunga bunga yang bermekaran, Ahmad dan Rania tampak duduk bersama. Disana juga terdapat Asma. Ya Asma ini selalu ikut kemana Rania dan Ahmad pergi. Ini memang ajaran dari keluarganya yang sudah di tanamkan pada Ahmad. Jika ia sudah ingin mencari calon istri, bawalah Asma untuk menemani mereka sampai mereka halal.
Ahmad semakin yakin dengan Rania, gadis ini msemakin hari perilakunya semakin baik. Bahkan sepertinya orang yang baru bertemu dengan Rania tidak akan menyangka Rania pernah hidup dalam kesesatan. Segera mungkin Ahmad akan membawa Rania ke Indonesia untuk dipertemukan dengan orangtuanya.
Tiket pesawat sudah Ahmad beli. Tiga buah tiket penerbangan untuk bulan depan. Ya tiket untuk mereka bertiga. Ahmad Rania dan Asma akan terbang ke Indonesia. Tujuan mereka tentu saja ke Rumah Ahmad untuk mengenalkan Rania dan meminta izin keluarga bahwa Ahmad anak mempersunting Rania sekaligus menjadikannya sebagai kakak ipar untuk Asma.
“Ahmad, maaf apakah kamu sudah yakin mau meminangku?” Rania memastikan sekali lagi pada Ahmad. Rania masih sedikit ragu dengan dirinya, ia takut nantinya tidak bisa menjadi istri yang baik buat Ahmad.
“In Syaa Allah aku sudah yakin Rania, lupakan masa lalumu, kita bangun masa depan”
Jawaban Ahmad inilah yang selalu membuat Rania terngiang-ngiang. Ia merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan sosok Ahmad yang mau membimbingnya menjadi lebih baik dan menerima semua masa lalunya yang kelam.
Rania sungguh bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Ia sangat beryukur bertemu dengan Nisa yang membawanya bertemu dengan Asma dan Ahmad. Kini Rania sudah dapat menikmati hidup. Rania bukan lagi sosok yang mencari harta untuk bersenang senang. Ia telah menjelma menjadi sosok yang tenang dan menikmati kehidupannya di situasi yang baru.
***
Ditengah hijrahnya Rania, tanpa sengaja Rania bertemu dengan Bass di jalan. Bass awalnya tidak mengenali Rania. Rania yang paham itu adalah sosok Bass pun berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
Apalah daya, Bass sangat paham dengan sweater yang Rania kenakan. Bass yang basic orangnya suka bertindak sembarangan pun menarik tangan Rania. Bass ternyata paham kalau itu adalah Rania. Sosok yang dulu pernah ia jadikan kekasih dan memanfaatkannya. Sekarang keadaan berbalik. Karma seperti nyata adanya. Sebelumnya Bass yang mencampakkan Rania dan memanfaatkannya, Ternyata ia juga mengalami hal serupa. Cassy mencampakkannya dan memilih hidup bersama orang yang baru ia kenal dan ia seorang jutawan. Mirisnya lagi, Bass juga ditipu Cassy. Bass bekerja sebagai modeling namun uang hasil jerih payahnya di bawa kabur oleh Cassy. Sialnya Bass tidak bisa membawa bukti ke polisi untuk memenjarakan Cassy.
“Hey Rania? Benarkan ini lo?” tangan Bass masih memegang tangan Rania.
Dengan segera Rania langsung menarik tangannya.
“Sejak kapan lo jadi begini?”
“Bukan urusanmu! Maaf biarkan aku pergi sekarang”
“Hey Hanny, you don’t miss me (kamu tidak kangen denganku) ?” raut wajahnya sangat yakin jika Rania pasti mau kembali kepadanya. Mengingat ketika ia menjadikan Rania kekasihnya, Rania selalu menuruti apa katanya dan takut kehilangannya.
“No, you are a stranger to me now (tidak, kamu adalah orang asing bagiku sekarang)”
“Pleas come to me, i will make you happy with a lot of money (tolong datanglah kepadaku, aku akan membuatmu bahagia dengan uang yang banyak)”
“Be beautiful like before Rania, you willl be very famous. Take your hijab and come with me ( jadilah cantik seperti dulu Rania, kamu akan sangat terkenal. Lepas jilbabmu dan ikutlah bersamaku)”
“Please do not bother me (tolong jangan ganggu aku)”
Tangan Bass terus berusaha untuk meraih tangan Rania kembali dan membawanya dengan paksa untuk ikut dengannya. Rania melakukan perlawanan. Namun apalah daya tenanga Rania jauh lebih kecil dari pada Bass. Rania terus berusaha melepaskan tangannya dari Bass namun tetap saya sia sia.
“Let she go, she’s mine !! ( lepaskan dua, dai milikku)”
Rania sangat lega. Rania tahu siapa pemilik suara itu. Ya Ahmad datang untuk menyelamatkannya dari Bass yang ingin membawanya pergi. Ahmad dan Bass terlibat dalam perkelahian. Sementara Rania yang panik hanya bisa berdiri sambil mencari bantuan. Rania langsung menghubungi Asma untuk segera datang. Rania khawatir pada Ahmad. Fisik Ahmad jauh lebih kecil jika di bandingkan dengan Bass. Tidak ada orang yang berlalu lalang disana yang bisa menolongnya. Ahmad sudah terkapar di jalan. Sementara Bass masih terus berusaha untuk menghabisi Bass. Sementara Ahmad semkain tidak berdaya.
Asma datang dengan beberapa polisi tidak lama kemudian. Bass yang menyadari kehadiran polisi segera kabur sekuat tenaga. Bass pun berhasil kabur.