Rania sedang menikmati uangnya dengan berbelanja di pusat perbelanjaan. Beberapa tas belanjaan tampak sudah memenuhi kedua tangannya. Namun, Rania terlihat menuju ke tempat baju. Ya yang pasti Rania tidak akan hanya melihat lihat baju, pasti ia akan membelinya satu atau dua potong atau berkemungkinan juga ia akan memborongnya, padahal harga baju pada mall tersebut terbilang lumanayan mahal. Ya kehidupan Rania sekarang bagaikan sultan. Ia dengan gampangnya dapat memiliki apa pun yang ia inginkan. Pekerjaannya telah menjadikannya kaya raya dalam sejenak.
Lelah berbelanja perut Rania pun merasa lapar. Ia segera menuju Resto yang berada di mall tersebut. Tanpa ragu dengan bill-nya, Rania memilih makanan makanan yang baginya sangat mengggoda.
Sedang fokus melahap makanan yang tersaji di depannya, tiba tiba saja nafsu makannya hilang seketika ketika ia melihat pemandangan di depannya. Ia melihat sosok yang sangat ia kenali. Rania hafal betul siapa pemilik postur tubuh tersebut. Rania kaget kenapa Maycel bisa berada di Amerika. Sunguh suatu kebetulan mereka pergi ke mall yang sama pada waktu yang sama. Maycel ini adalah cinta pertama Rania ketika SMA. Satu tahun sejak Rania ke Amerika Maycel tidak pernah ada kabar. Nomor w******p nya tidak bisa dihubungi. Pada hari pertama ia pergi ke Amerika w******p, centang dua tanpa dibaca dan beberapa jam kemudian w******p nya sudah centang satu dan tidak bisa dihubungi nomer ponselnya. Sungguh satu tahun lamanya Rania selalu menanti nanti kabar dari Maycel.
Rania mendapati Maycel yang tengah duduk bersama wanita. Namun sialnya Rania tidak dapat mengenali wanita tersebut karena ia duduk membelakangi Rania. Hanya Wajah Maycellah yang terlihat jelas oleh Rania. Dengan berani dan tanpa ragu ia mendekati Maycel dan meminta klarifikasinya.
“Selama ini lo kemana, hah? ” tanya Rania dengan nada tegas pada Maycel.
“Sungguh beruntung saya bertemu anda di sini.” Sambil tersenyum senyum. Inilah yang membuat Rania semakin kebingungan. Apakah Maycel juga mencarinya?
“What?” Rania Kaget dengan respon dari Maycel. Tak kalah kejutnya ia juga mengetahui siapa wanita yang bersama Maycel. Cassy orang yang sudah menolongnya sebelumnya dan ternyata ia juga menusuknya dari belakang. Cassy jelas jelas sudah tau betul kalau Rania memiliki hubungan dengan Maycel sejak SMA.
Rania pun sangat marah dan tidak terima dengan apa yang ia alami.
“Cassy, bukannya kamu tau aku punya hubungan dengan Maycel?” Sambil menahan amarah yang sudah hampir meledak.
“Ya, gue emang tau itu dari dulu. Gue sama Maycel sudah satu tahun bersama.” Cassy justru menjawab dengan santai.
“Dasar teman ngga tau diri!”
“Heh yang ngga tau diri itu lo, gue udah nampung lo dari dulu dan gue ngasih kerjaan ke lo, masih berani lo bilang gue ngga tau diri!” Cassy menjawab pertanyaan Rania dengan emosi. Ia sangat tidak terima dengan apa yang dibicarakan Rania. Nada Cassy yang tinggi juga telah berhasil membuat orang melihat ke arah mereka. Sontak mereka menjadi pusat perhatian. Pemilik resto yang menyadari adanya keributan di restonya pun segera mendekati mereka dan mengusir mereka.
Rania melayangkan tangannya ke pipi Maycel ketika mereka diusir ke luar resto.
“Dasar cowo kurang ajar!”
“PLAK! PLAK!”
***
Rania merebahkan tubuhnya di kamar. Ia merasa sangat lelah dan marah dengan kejadian yang baru saja membuatnya naik darah. Kembali terlintas ingatan Rania ketika masa masa indah bersama Maycel. Bahkan janji janji Maycel yang mulai muncul kembali dalam ingatan Rania membuatnya sangat tertekan.
Dasar buaya para wanita, laki laki pecundang. Tanpa kendali Rania melemparkan vas bunga yang menghiasi meja di sambing tempat tidurnya.
Tiba tiba saja ponsel Rania berdering. Sebuah pesan w******p masuk dari Bass. Rania segera membacanya dan membalasnya.
“Rania, Kangen,” pesan dari Bass yang terpampang di layar ponselnya.
“Kita ketemu di Apartemenku gimana?” pesan dari Bass masuk kembali.
“Bass ....” balas Rania. Sebenarnya Rania sangat ingin sendiri untuk sekarang. Rania dan Bass sama sama tahu satu di antara mereka masih mencintai pasangan mereka sebelumnya. Namun sepertinya bagi mereka, mereka memang tidak dapat kembali bersatu dengan pasangan mereka. Karena mereka merasa senasib dan sama sama nyaman akhirnya waktu itu mereka memutuskan untuk menjalin hubungan
“Okey Bass, wait a minute,” balas Rania. Mungkin inilah hal yang paling tepat untuk sekarang bagi Rania. Daripada ia terus emosi dalam apartemennya, ini bisa merusak semua barang barang yang berada di sana. Lagian Maycel juga sudah jelas jelas tidak mengharapkan Rania, jadi untuk apa Maycel terus bersedih padahal adalah Bass yang mau menyayangi Rania.
Rania segera menuju ke mobilnya dengan cepat. Dipacunya mobil mahalnya itu di atas kecepatan rata rata. Tak butuh waktu lama, Rania sudah berada di apartemen Bass dan mereka akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan meminum alkohol.
Tanpa tersadar Rania meneguk banyak sekali alkohol dan ini membuatnya pusing. Memang ini tujuan Rania meminumnya dengan porsi banyak. Ia ingin menghilangkan beban dan kesedihan dalam dirinya untuk sementara waktu.
Kesempatan ini pun dipakai oleh Bass untuk menjual Rania pada temannya yang sangat kaya. Ia tertarik pada Rania ketika Bass menunjukan fotonya padanya. Teman dekat Bass ini yang bernama Edward memang sangat tegila gila pada pesona Rania sehingga ia rela membayar mahal untuk bisa bersama Rania satu malam. Dalam pikiran Bass lagi pula Rania adalah seorang p*****r. Pasti ia tidak akan marah setelah tahu bahwa ia dijual satu malam oleh Bass.
Bass menghubungi Edward dengan segera. Edward pun langsung tertarik dengan tawaran dari Bass. Edward segera menuju ke apatemen Bass dan memberikan segepok uang pada Bass. Tanpa berlama lama Edward membawa Bass ke kediamannya.
***
Rania terbangun. Ia masih merasa sedikit pusing karena efek minuman keras yang ia teguk. Ia merasa kebingungan. Ntah di mana ia sekarang. Tembok yang mengelilinginya dan berang barang yang ada di dalamnya terasa sangat asing bagi Rania. Tiba tiba saja seorang pria masuk ke kamar.
“Siapa anda? ”
“Aku Edward. Bass telah menjualmu untuk satu malam. Terima kasih banyak, sekarang aku akan mengantarmu ke apartemenmu.”
Rania kaget. Ia tidak menyangka Bass akan melakukan hal itu padanya. Sungguh di luar dugaan. Rania merasa Bass benar benar tulus padanya. Tanpa diduga ia berani belaukan hal itu padanya.
“Tolong antar saya ke apartemen Bass saja,” jawab Rania dengan singkat.
Tanpa menolak ia pun mengantarkan Rania ke apartemen Bass. Mereka langsung bergegas ke apartemen Bass. Rania sangat kaget. Sesampainya di apartemen Bass, ia tidak bisa membuka kuncinya karena kode apartemennya telah ganti. Rania kemudian membuka ponselnya. Di sana terdapat besan singkat dari Bass.
“Rania, terima kasih banyak buat uangnya. Aku sudah pindah apatemen baru bersama pacarku.”
Guncangan dahsyat langsung menyerang d**a Rania. Sementara Edward telah pergi setelah mengantar Rania.