Suasana sibuk selalu menjadi ciri khas kantor Perusahaan Rasendriya. Apalagi dengan 47 tahun pengalaman di berbagai bidang, setiap orang yang bekerja di dalamnya merasa seperti orang hebat.
Namun kenyataannya tidak demikian dengan Callista. Wanita sejati merasa normal di tempat kerjanya. Selain itu, sebagai CEO perusahaan, Mahawira adalah mantan suaminya.
Setelah 5 hari, Callista kehilangan kesadaran karena keracunan makanan yang dia makan saat acara promosi produk, setelah itu Callista dirawat di rumah sakit selama 4 hari.
Meski dokter menentukan bahwa Callista hanya membutuhkan satu hari pengobatan, resep berubah ketika melihat kondisi Callista yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Beberapa ucapan selamat juga datang. Tak hanya dari rekan sekantornya, namun juga dari sejumlah pembeli dan penggemar Dante yang turut prihatin dengan kondisi Callista.
Bahkan, Mahawira memerintahkan dirinya untuk tinggal di rumah sakit dan beristirahat. Tapi wanita itu menolak, mengatakan dia sehat. Di sisi lain, dia tidak ingin membuat Grayson dan Yunita khawatir lagi.
Meskipun Grayson tidak diizinkan untuk bermalam, anak itu terus dirawat di rumah sakit dengan bantuan Eric. Grayson akan sangat sedih jika dia tidak melihat Callista bahkan untuk sehari.
Sampai Eric mau tidak mau membawa Grayson ke rumah sakit, menemui Callista, lalu membawanya ke TK Garuda. Eric melakukan hal yang sama dari TK Garuda, ke rumah sakit, baru saja kembali ke apartemennya dan ditemani oleh Dylan.
Karena Callista juga sedang dirawat, Eric harus menginap. Sementara itu, Dylan bertugas menjaga Grayson karena Dylan dan Callista tinggal bersebelahan.
2 hari terasa lama dan sepi ketika Grayson tidak bersama ibunya. Bahkan Grayson tidak berhenti peduli dengan kesehatan Callista.
Kekhawatiran akhirnya berakhir dengan Callista keluar dari rumah sakit dan Grayson berharap untuk melanjutkan harinya. Grayson juga dikirim kembali ke sekolahnya oleh Callista, tidak lagi bersama Eric.
Seperti biasa, setelah mengantar Grayson, Callista masuk ke kantor.
"Selamat pagi, Nona Callista. Nona Callista!" Ajeng berteriak saat melihat Callista sudah masuk kerja padahal Mahawira memintanya istirahat di rumah.
“Selamat pagi, Ajeng,” sapa Callista sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Ajeng segera berlari ke Callista.
“Apakah kamu bekerja? Apakah kamu merasa baik? Ajeng bertanya dengan serangkaian pertanyaan.
“Bisakah Bu Callista sakit lagi karena menanyakan itu, Ajeng,” kata Anggara sambil menatap layar komputer di depannya.
Ajeng melirik Anggara dan mendesah marah. Namun ekspresinya berubah saat melihat wajah Callista.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Ajeng lagi.
“Aku baik-baik saja, Ajeng. Tidak ada alasan untuk khawatir. tanya Callista.
“Ibu, bukankah kamu terlalu kejam pada dirimu sendiri? Kamu sudah pulih, tetapi kamu sudah bekerja sangat keras," kata Ajeng.
"Ajeng, aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Kamu tahu, aku baik-baik saja?"
"Ya, Bu. Tapi saya tetap peduli, Bu."
“Jika kamu khawatir, kerjakan pekerjaan rumahmu dengan cepat agar aku bisa menyelesaikan ringkasannya. Jadi kita berdua bisa pulang lebih awal.”
"Hehe, tenang Bu. Sudah baik-baik saja sejak Jumat lalu. Anda dapat memeriksa email Anda karena saya mengirimnya ke sana."
Callista menggerakkan kursor dan membuka situs emailnya. Bahkan, dia menerima beberapa email yang masuk ke sana.
"Oke. Maksudku semuanya aman."
"Ya pak."
"Terima kasih Ajeng, kamu bisa kembali bekerja sekarang."
Ajeng mengangguk dan berbalik. Namun saat kakinya hendak lepas landas, Ajeng memutar tubuhnya dan menghadap Callista.
"Oh ya, Bu."
"Hah?" kata Callista.
"Kamu tidak tahu apa prestasi Pak Mahawira ketika kamu pingsan karena racun hari itu?"
"Pahlawan?"
"Iya Bu! Pak Mahawira langsung menggendong jenazah ibunya seperti di drama Korea!"
“Tuan Mahawira? Saya pikir saya akan pergi ke Pak Dylan ... "
Segera, Callista mengingat saat ketika dia mulai bangun dari tidurnya. Dia merasakan tangan kanannya lebih hangat dan mendengar suara Mahawira berkali-kali.
"Mungkin Pak Mahawira hanya mengkhawatirkan karyawannya," kata Callista.
“Tapi Bu. Aku benar-benar tidak punya perasaan terhadap Mahawira-san. Meskipun Pak Mahawira adalah seorang janda dan begitu juga ibu Jan-"
"Ajeng," panggil Callista.
“Oh, maaf, Bu. Tapi menurutku kamu dan Pak Mahawira benar-benar pergi bersama,” kata Ajeng dan langsung berlari kembali ke mejanya.
Callista menggelengkan kepalanya. Ajeng yang dia kenal memang seperti itu. Bandingkan ya barkan dengan jelas, perasaan apa yang sedang Dylan rasakan. Tapi pria itu buru buru difokuskan pada dirinya untuk bekerja.
Mahesa yang merasa Dylan terus memperhatikan Callista langsung tersenyum, "Sepertinya ada yang sedang patah hati," ujar Mahesa dan langsung didengar oleh Ajeng yang duduk di sebelahnya.
"Eh? Siapa?" Tanya Ajeng.
"Kucingku patah hati," jawab Mahesa sambil menunjukan sebuah foto kucing di ponselnya dan tersenyum pada Ajeng.
Telepon yang ada di atas meja Callista tiba tiba saja bunyi. Sontak saja wanita itu langsung mengangkatnya.
"Ke ruangan saya," titah orang dari seberang sambungan telepon.
Belum sempat Callista menjawab, sambungan telepon langsung berakhir. Callista hanya menghela napas saat mendengar suara Mahawira yang sangat familiar di telinganya.
"Saya ke ruangan Pak CEO dulu," pamit Callista kemudian keluar dari ruang kerja.
Sepanjang perjalanannya menuju ruangan Mahawira, sebenarnya wanita itu terus melihat ucapan Ajeng. Percaya tapi juga tidak percaya jika Mahawira membawanya dan bahkan khawatir pada keadaannya.
"Padahal semuanya akan lebih baik jika dia memperhatikan tak peduli," gumam Callista.
Ting!
Pintu lift terbuka, Callista segera melangkahkan kaki ke arah ruangan Mahawira dan masuk ke sana setelah mengetuk pintu ruang kerja.
Pandangan mata Mahawira dan Callista langsung bertemu tepat setelah Callista masuk ke dalam sana.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" Tanya Callista.
"Saya hanya mau konfirmasi kontrak kerja Dante. Saya melihat kontrak kerjanya 1 tahun?"
"Iya, Pak. Kami mengajukan kontrak 1 tahun karena saya rasa sudah lebih dari cukup."
"Tapi album masa edar produk ini terbatas? Mungkin saja hanya 6 bulan."
"Iya, Pak. 6 bulan sisa akan kami gunakan produk lainnya yang sudah kami siapkan."
"Oh begitu. jadilah ke saya jika sudah selesai."
"Baik Pak. Kalau begitu saya pamit pergi," ujar Callista.
"Tunggu," titah Mahawira.
Mahawira pun langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri Callista.
Callista berusaha keras menelan air liurnya karena tiba-tiba saja Mahawira berdiri di hadapannya dan menyentuh keningnya.
"Demamnya sudah hilang?" Tanya Mahawira.
Plak!
Sontak saja Callista menepis tangan Mahawira.
"Saya baik baik saja, terima kasih atas pujian Bapak," ujar Callista.
Baru saja Callista hendak pergi, Mahawira dengan cepat menahan tangan Callista.
"Jika ini terkait masalah kemarin, saya izin. Tapi sebelum itu, saya terima kasih atas ucapan Bapak."
"Sama sama. Tapi ampun bukan hal itu yang mau saya lahirkan."
Callista membalik dan membocorkan Mahawira yang berdiri di hadapannya.
"Anak laki laki itu.. Anakku kan?" Tanya Mahawira.
Bak disambar petir, tubuh Callista langsung menegang mendengar pertanyaan Mahawira. tepat di depan mata seolah-olah ia kembali ke dunia nyata dan menyaksikan kembali jika bertemu dengan ayah kandungnya yang selama ini Callista berusaha tak pertemukan.
"Cih!"
"Kenapa? Apa aku salah?"
"Anakku? Kau sebut anakku?" ujar Callista.
Callista langsung mendekat ke arah Mahawira dan mengungkapkan pria di hadapannya dengan tantangan.
"Mohon maaf Pak Mahawira jika saya lancang tapi saya murni berbicara seperti ini sebagai MANTAN ISTRI anda," ujar Callista sambil berkata mantan istri pada Mahawira.
Sebaiknya Anda menganggap anak saya sebagai anak Anda. Karena Anda sendiri yang mengatakan jika anak saya kandung itu bukan anak Anda. begitu? Jangan menjadi pahlawan kesiangan dan membuat saya muak! Oleh karena itu, jangan mencoba masuk ke dalam kehidupan saya dan anak saya lagi," ujar Callista dengan nada bicara yang tiba tiba saja berbeda dari sebelumnya.
Bahkan etika Callista juga hilang ketika ia memutuskan berbicara sebagai mantan istri dari Mahawira Rasendriya.
"Jika sudah tak ada hal yang ingin terkait dengan pekerjaan, saya permisi. Saya sama sekali tertarik untuk membahas kehidupan pribadi saya dengan Anda," ujar Callista dan akhirnya pergi meninggalkan Mahawira.
rem!
Pintu ruangan Mahawira bahkan ditutup dengan keras oleh callista.
Mahawira yang menghilangkan kepergian Callista hanya bisa terdiam. Hal itu mengingatkan kembalinya tepat pada saat terakhir dengan callista, saat callista pergi bersama grayson yang masih bayi.
Bedanya, saat itu callista pergi bersama dengan seorang laki laki yang selalu curiga sebagai selingkuhan dari Callista.