BAB 8

2202 Words
Tadi malam, Yunita tiba-tiba tiba di Jakarta tanpa memberi tahu Callista terlebih dahulu. Juga dalam beberapa hari terakhir, Yunita tampaknya sangat sulit untuk dihubungi, dan sangat jarang bertanya kepada Callista bagaimana kabarnya kecuali itu penting. Namun, ada satu hal yang Callista curigai. Yunita datang bersama Budi, ayah Eric. Tidak ada hal penting yang dibicarakan. Budi langsung pulang setelah mengantar Yunita ke apartemen Callista. Pagi ini Callista bangun pagi seperti biasa. Kembali ke hari akhir pekan seperti akhir pekan pada umumnya. Callista, dalam keadaan setengah sadar, segera berjalan ke meja makan dan menuangkan sereal ke dalam mangkuk putih yang telah dia siapkan. Setelah menambahkan sereal, Callista menuangkan s**u juga. Wanita itu menarik kursi dan mulai memakan muesli. Tidak lama kemudian, pintu kamar Grayson terbuka, menampakkan sosok Grayson yang baru saja bangun. Seperti yang dilakukan Callista sebelumnya, Grayson mengambil mangkuk, menuangkan sereal dan s**u, lalu berbagi makanan Callista di atas meja. "Apakah kamu bangun?" kata Yunita, muncul entah dari mana dengan pakaian rapi. Callista langsung melihat penampilan Yunita dari atas ke bawah. "Kamu mau pergi?" tanya Callista. “Ah ya, aku harus bekerja di luar,” jawab Yunita. "Tapi kamu baru sampai di Jakarta, apa kamu tidak mau istirahat dulu?" "Aku akan memberitahumu nanti, oke?" "Oke," jawab Callista, kembali ke sarapannya. "Kalau begitu tidak apa-apa jika kita pergi dulu." "Hati-hati di jalan, Bu," kata Grayson sambil menyesap sereal. Tepat saat Yunita hendak pergi ke pintu, bel tiba-tiba berbunyi, menandakan bahwa seseorang akan datang mengunjungi rumah. Yunita segera membuka pintu dan matanya terbelalak sejenak. Karena penasaran, Callista bangkit dari tempat duduknya dan menuju pintu. "Siapa itu, Bu?" Callista terdiam sejenak saat melihat seorang pria paruh baya yang familiar di matanya, "Pak Budi?" tanya Callista. Seperti biasa, Budi datang dengan tangan hampa, namun dengan sebuket bunga mawar yang indah. "Bunga itu untuk siapa, Om?" tanya Callista. Seketika suasana menjadi tidak nyaman. * * * * * Tidak nyaman karena harus mewawancarai Budi di depan pintu rumahnya, Callista akhirnya mengundang Budi ke rumah. Sementara itu, Yunita masuk dan bahkan duduk di sebelah Budi. "Kamu jangan pergi? Saya pikir Anda akan pergi," kata Callista. Budi dan Yunita bertukar pandang dan menatap Callista secara bersamaan. "Nak, sepertinya aku ingin berbicara denganmu. Bisakah Grayson masuk ke kamar dulu? Saat mendengarnya, terdengar tidak etis," kata Yunita. Callista menoleh ke Grayson, yang baru saja mencuci mangkuk yang dia gunakan sebelumnya. “Sayang, pergi ke kamarmu, aku ingin berbicara dengan Nenek.” Perintah Callista. "Baiklah, Bu," jawab Grayson, menurut dan langsung pergi ke kamarnya tanpa bertanya apa pun kepada Callista. "Jadi ada apa? Lalu bunganya? Jangan bilang kalian… pacaran?!” tebak Callista. Budi berdeham dan menatap Yunita. "Tidak," jawab Yunita. "Bisa dibilang begitu," jawab Budi serempak. Sontak, Callista dibuat bingung dengan jawaban berbeda yang diberikan oleh dua orang di depannya. "Katakan yang sebenarnya," pinta Callista. "Kami sebenarnya sudah sering berhubungan akhir-akhir ini. Saya sudah beberapa kali ke Surabaya dan saya selalu melihat Yunita. Kurasa aku jatuh cinta pada ibumu," kata Budi. "Apa?!" Callista langsung berteriak karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Budi. "Bagaimana mungkin?" tanya Callista. Budi menjawab: “Itu terjadi begitu saja dan perasaan itu berkembang. Saya kebetulan berada di Jakarta untuk urusan bisnis. Karena aku merindukan Yunita, aku memintanya untuk datang ke sini.” Callista tidak bisa berhenti berpikir. Orang tuanya dengan orang tua Eric berakhir seperti ini. Bahkan, dia tidak pernah menyangka kalau Yunita dan Budi akan berpikiran sama. Meski begitu, Callista sangat meyakini hal itu, apalagi Yunita sudah menjanda sejak lahir dan Budi sudah menjanda sejak Eric duduk di bangku sekolah dasar. "Kau baik-baik saja dengan hubungan kita?" tanya Yunita curiga. Raut wajah Callista yang awalnya terlihat serius dan khawatir pada Yunita dan Budi tiba-tiba berubah. "Apakah Eric tahu tentang ini?" tanya Callista. "Aku belum memberitahunya, tapi aku akan memberitahu diriku sendiri segera. Dia akan mengerti," kata Budi. Seketika senyum Callista mengembang, “Eric pasti sangat senang. kata Callista. Yunita dan Budi terdiam saat mendengarnya. "Jadi kamu mengharapkan kita untuk bersama dan menikah, ya?" tanya mate. Callista mengangguk cepat. "Tentu saja Eric sudah menganggap Ibu sebagai Ibunya sendiri, aku juga menganggap Om seperti Ayahku sendiri. Apa Om ingat saat ada lomba di sekolah dahulu, Om yang pertimbangkan untuk lomba bersama orang tua? Saat itu saya langsung merasa kagum dan berharap Om adalah Ayahku," ujar Callista. Mata Callista berbinar saat mengingat momen mengharukan baginya. "Jika kalian saling mencintai, aku hanya berharap kalian akan segera menikah," ujar Callista. Tiba tiba saja Yunita mengangkat tangan kirinya dan menunjukan sebuah cincin yang sudah di jari manisnya. "Sebenarnya dia sudah melamar Ibu. Hanya saja Ibu belum memberi jawaban karena takut kamu atau Eric tidak setuju dengan hubungan kami," ujar Yunita. "Wah! Kapan Ibu akan menikah? Kita harus segera mempersiapkan dan memberitahu Eric. Eric pasti akan senang karena kami akhirnya akan menjadi seorang saudara saudara!" Budi langsung tersenyum mendengar ucapan Callista yang benar-benar akan menerimanya sebagai Ayah tirinya. "Aku sudah memilih tanggal sekitar bulan depan. Bagaimana menurutmu, Callista?" Tanya Budi. "Bagus. Bulan depan cuacanya pasti akan cerah. Tidak seperti biasanya bagaimana?" tanya callista balik. "Aku meminta Eric yang menentukan nanti." "Seketika aku menjadi sangat antusias." Setelah selesai dengan percakapan singkat mereka, Budi dan Yunita akhirnya pamit. Sebenarnya kedatangan Yunita bukan hanya karena ia melihat Budi saja. sekaligus survey tempat pernikahan dan juga gaun pengantin. Callista sengaja membiarkan Yunita pergi bersama Budi. Bagaimana pun, Callista bisa merasakan jika Yunita banyak menderita karena kehadirannya yang sempat tak diharapkan. Maka dari itu, saat Callista melihat wajah penuh kebahagiaan dan cinta dari Yunita, Callista langsung setuju tanpa berpikir lama. Apa yang sudah mengeal Budi cukup lama. Saat ini, status keeuangan Budi jauh dari kata baik. Keuangannya stabil, ditambah dengan usaha ekspornya yang melejit dalam 5 tahun terakhir. "Aku tidak sabar untuk kedepannya," gumam Callista yang tampak seolah tersabar karena ingin cepat memiliki keluarga baru dan bisa menjadi seorang keluarga bersama Eric, yang tak lain adalah teman masa kecilnya sekaligus satu satunya yang dianggapnya seperti sendiri. * * * * * Seorang wanita paruh baya dengan pakaian agak acak-acakan dan apa pun tetapi tampak tertib memasuki blok kantor. Beberapa anggota staf menatapnya. Namun setelah beberapa saat, ekspresi di matanya berubah dan berbalik ke arah yang berbeda ketika dia melihat ekspresi di wajah wanita aneh itu. Tiba-tiba.. air payau! Wanita itu membenturkan sesuatu ke tanah dan menginjaknya dengan marah. "Di mana kepala perusahaan ini! Cepat panggil dia karena saya ingin mengajukan keluhan! Beraninya dia kehilangan saya dengan mengirimkan ratusan produk cacat!" teriaknya, semua mata tertuju padanya. Tampaknya dalam kegembiraan yang muncul, semua orang melihat ke arahnya satu per satu dan kemudian mengelilinginya. Alih-alih menjadi lebih baik setelah membanting salah satu produksi tim Callista, orang tersebut benar-benar meledak saat emosi mereka semakin tinggi. “Panggil CEOmu! Katakan padanya aku keberatan dan ingin bertemu dengannya sekarang! ' teriaknya lagi. Petugas front desk langsung panik saat melihat wanita yang tidak diketahui identitasnya itu agresif di lobi gedung utama Rasendriya Group. Tiba-tiba, wanita di belakang meja depan berpakaian hitam dan putih berdiri dan berlari ke arah orang asing yang marah itu. “Bu, aku minta maaf. Bukankah kamu harus tenang dulu? Karena semua orang menatapmu sekarang, ”katanya dengan sangat hati-hati. "Tidak mungkin! Hubungi manajer umum Anda sekarang! Betapa tidak tahu malunya dia ingin menghancurkan bisnis kecil saya! Hubungi manajer umum Anda!" dia berteriak lagi. Resepsionis mencoba menenangkannya lagi, tetapi usahanya sia-sia. Tangannya langsung ditepis hingga terasa sakit di area wajah. "OH!" disebut wanita meja depan Cindy. Cindy segera menangkupkan wajahnya yang panas akibat tamparan tangan yang didorong keras oleh wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu mengambil produk lain dari tasnya dan melangkah ke lantai. "Panggil CEO Anda!" Dia berteriak. Callista yang baru saja makan siang bersama tim di luar kantor langsung mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita yang agresif di lobi perusahaan. Mata Callista menyipit, begitu pula rekan-rekannya yang lain mencoba mengidentifikasi wanita yang sedang marah. “Mumi! Itu bukan produk kami? Seru Ajeng saat melihat produk yang dilepaskan tergeletak di tanah dan diinjak-injak. Bahkan Cindy, petugas meja depan perusahaan, berdiri tidak jauh dari wanita itu, yang sangat marah sambil memeluk pipinya, tampak merah karena tamparan keras dari tangan wanita itu. "Sepertinya dia akan protes?" kata Agita, menatap setiap gerakan wanita itu. “Sepertinya dia pedagang yang memprotes,” bisik Mahesa sambil menyilangkan tangan di depan d**a. Penjaga keamanan akhirnya tiba dan segera melindungi wanita yang kehilangan kesabaran. Selain itu, ketika dua penjaga keamanan mencoba melindungi wanita asing itu, wanita itu menjadi semakin marah dan marah, yang segera mengejutkan anggota staf lainnya dengan kemarahannya yang tiba-tiba. “Panggil bosmu! Tunjukkan wajah CEO sampah Anda yang berani menjual produk yang salah dan tidak pantas! s****n perusahaan ini! "Dia terus-menerus berteriak. Callista mendengar setiap anggukan kepalanya dan segera berjalan ke arah wanita itu. Ajeng, melihat Callista, berbalik dan berjalan ke wanita yang mengamuk, berusaha dilindungi oleh penjaga keamanan. “Selamat siang, Bu,” Callista menyapa wanita itu dan terdiam sejenak. "Siapa kamu? Apakah kamu bosnya?" Wanita paruh baya itu bertanya, matanya melotot, menatap Callista. "Bisakah kamu melepaskannya sebentar?" Callista bertanya kepada 2 satpam yang ingin mengeluarkan wanita itu. Setelah melepaskan tangannya, wanita itu memutar matanya dan mengusap bahunya seolah ingin melepaskan kotoran yang menempel di tubuhnya. “Oh, jadi kamu bos perusahaan ini? Justru karena Anda datang! Apa yang Anda tahu? Perusahaan ini benar-benar sampah! Saya ingin menolak semua yang saya beli sebagai agen! "Dia berteriak. Wanita itu kemudian mengambil beberapa barang yang telah dibuang ke tanah, menginjaknya, menunjukkannya kepada Callista, dan melemparkannya ke wajah Callista. menjembatani! "Jatuhkan sampah itu! Dan kembalikan uangku 3 kali lipat! Buang-buang waktu, aku menjual sampah ini!" Dia berteriak. Tentu saja, petugas keamanan, yang melihat perilaku kasar orang asing itu, segera mencoba melindunginya lagi. Tapi Callista dengan cepat memberi perintah untuk tidak menangkapnya sebelum dia tenang dan— menjelekkan nama perusahaan pada orang lain. "Produk sampah?" Tanya Callista. melihat Callista yang sedang berbicara, alhasil seluruh hasil ikut menyusul Callista. Bahkan Dylan dengan sigap berdiri di belakang Callista karena takut dilukai oleh wanita yang sedang naik darah itu. "Produk yang aku beli semuanya cacat dan tidak layak dijual! Apa yang kalian sebut dengan pelayanan maksimal? Cih, persetan!" pekik wanita itu dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Callista membuka produk yang ia rancang dan ia buat, matanya seketika saat melihat produk cacat yang ada di tangannya. "Maaf, apa boleh saya tahu ibu beli dimana?" tanya callista lembut tapi tiba tiba saja. Tangan wanita itu langsung menarik rambut Callista dengan cepat dan enggan melepasnya, "Tentu saja aku beli dari perusahaan bodoh ini! Kau pikir aku beli dimana? Kualitas jelek dan produk cacat. Benar benar sampah!" pekik wanita itu. Semua orang menjadi panik karena wanita itu terus menarik rambut callista. Petugas keamanan, Dylan, Anggara dan juga Ajeng berusaha memisahkan Callista dari tangan wanita itu. Tapi cengkramannya justru semakin kuat dan membuat rambut Callista semakin ditarik dengan keras. "Ada apa ini?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan membuat kericuhan itu berhenti untuk sewaktu-waktu. Wanita paruhnya mengungkapkan ke arah Mahawira yang berdiri di sampingnya sambil memegang tangan dengan tangan keras, lengkap dengan wajahnya yang dingin. "Apa bisa untuk tidak menggunakan k*******n di kantor saya? Anda bilang tadi mau menemui saya bukan?" Tanya Mahawira lagi. Wanita itu menoleh dan akhirnya melepaskan tarikannya pada rambut Callista. Akhirnya Callista bisa terbebas dari keputusan menarik tenaga dan berantakan. Ajeng pun langsung memastikan kondisi Callista dan mengungkapkan tajam ke arah wanita asing itu. "Dasar wanita gila!" pekik Ajeng. Wanita itu menoleh ke arah Ajeng dan hendak menjambak rambut Ajeng tapi dengan cepat Mahawira mengambil tangan itu hingga wanita itu membuka kembali ke arahnya. "Apa tujuan kamu datang kemari?" Tanya Mahawira. Wanita itu merebut kembali beberapa produk yang ia bawa dan yang ia berikan kepada Mahawira. "Semua produk yang akan saya jual ini cacat! Uang yang saya pakai untuk membeli ini sia sia!" pekiknya. Mahawira melihat produk itu dengan cermat kemudian mengungkapkan callista yang langsung dibalas dengan anggukan karena memang benar semua produk itu dalam kondisi cacat dan jika tidak ada kondisi baik serta layak untuk dijual. "Anda seorang distributor?" Tanya Mahawira. "Ya, aku seorang distributor! Selama ini aku tak pernah protes dengan produk kalian tapi baru kali ini aku kecewa dengan produk yang dihasilkan oleh kalian! Aku rugi bandar!" pekiknya. "Apa boleh saya tau anda mengambil barang ini dari mana? Langsung dari pabrik atau orang lain?" Tanya Mahawira. "Saya dari orang pabrik yang menjual dengan harga murah! Dia bilang ini produk yang sedang naik daun, makanya dia menjualnya murah kepada saya. Eh pas tiba-tiba, ternyata produk cacat. Pantas saja dijual harga saya!" pekiknya. "Pabrik orang?" gumam callista kemudian melangkah mendekati wanita itu. "Apa bisa disebutkan secara spesifik pabrik mana, Bu? Semua produk yang saya buat ini berdasarkan buatan tangan ujar Callista. Wanita yang semula mengamuk seketika terdiam saat mendengar ucapan callista. Wanita itu sontak mengeluarkan ponselnya dan membuat panggilan suara. Sayangnya, panggilan suara itu justru sama sekali tak tersambung dengan orang yang menjual barang tersebut Anda. "s**l! Kenapa dia sama sekali tak bisa dihubungi!" pekik wanita itu sembari mencaci ponselnya sendiri. "Kalau begitu kita ke ruangan saya saja. Biar kita berbicara lebih lanjut. Bu Callista juga ikut ke ruangan saya agar masalah ini menjadi jelas," titah Mahawira kemudian meninggalkan tempat itu lebih dulu. Callista pun ikut berjalan mengikuti Mahawira sedangkan ke wanita asing itu awalnya dibawa oleh petugas akhirnya ikut dengan Callista ke asing Mahawira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD