Di kamar Mahawira, Callista dan wanita paruh baya yang menjual produknya sedang duduk di sofa. Keduanya menikmati secangkir teh sebelum memulai percakapan.
Mahawira meletakkan cangkirnya dan menatap wanita yang mengamuk di kantornya.
"Sebelum kita bicara, siapa namamu? Lebih mudah bagi saya untuk menelepon Anda,” tanya Mahawira.
Wanita itu meletakkan cangkirnya dan menatap Mahawira. "Saya Risma," jawab Risma.
“Ya Bu Risma, berdasarkan bukti-bukti yang ada, kami pastikan produk ini adalah produk kami. Oleh karena itu, kami mohon maaf karena telah menimbulkan kerugian yang besar bagi Ibu Risma," kata Mahawira.
"Sekarang aku sudah tenang, kamu juga mengakui bahwa itu adalah produkmu, kan?" tanya Risma.
“Ya, itu benar, tetapi baik Callista maupun saya tampaknya tidak menyangkal bahwa ini bukan produk kami. tanya Mahavira.
Risma berdeham, tidak ingin bertanggung jawab atas kata-katanya.
"Karena kita sama-sama tahu ini sebenarnya produk kita, apakah kita bisa tahu persis dari siapa Bu Risma mendapatkan ini?" Mahavira bertanya lagi.
"Aku baru saja memberitahumu bahwa aku mendapatkannya dari orang di pabrik yang menjualnya. Sekarang aku tidak bisa menghubungiku, orang itu tidak sopan."
Callista melihat setiap gerakan Risma dan akhirnya mulai berkata, "Boleh saya minta kontaknya, Bu? Mungkin aku bisa menemukannya. Karena ini adalah produk kami, tidak apa-apa.
Risma mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Callista. Callista dengan cepat mencatat nomor-nomor di dalamnya.
Seolah masih marah dan tak mau tunduk pada keadaan, Risma kembali mengambil kasar ponsel Callista.
"Apakah kamu siap? Jangan bergerak lama!" Risma cemberut.
“Bu Risma,” teriak Mahawira.
Risma menoleh ke Mahawira dan menatap wanita itu.
"Saya akan mengganti kerugian yang kami timbulkan hingga lima kali lipat," kata Mahawira.
Risma tersenyum senang mendengar biaya ganti rugi Mahawira.
"Bagus. Di mana saya harus meletakkan nomor rekening saya? Kami sarankan untuk mengubahnya dalam waktu 1 x 24 jam karena saya perlu membeli produk baru Anda sehingga saya dapat menjualnya kembali kepada pembeli," kata Risma.
Mahawira mengoreksi posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke arah Risma dan mengancam wanita itu.
"Aku akan menggantinya jika kamu tidak bertindak kasar. Namun, karena Anda menangkap salah satu karyawan saya, berperilaku tidak baik dan bahkan melecehkan karyawan saya, saya telah menurunkan tawaran kompensasi saya. biasanya empat kali lipat,” kata Mahawira.
Rem!
Risma membanting meja di depannya, berdiri dan menunjuk wajah Mahawira.
"Apa itu?!" Dia dipanggil.
Ibu Mahawira berkata, "Jika Anda masih kasar, saya akan menguranginya menjadi tiga kali lipat.
Rem!
"Perusahaan yang gila!"
"Dua kali lipat," jawab Mahawira.
Akhirnya Risma menyerah dan duduk, lalu menurunkan emosinya.
"Kembalikan lima kali dan saya akan baik-baik saja. Saya juga tidak akan menjatuhkan perusahaan ini ke pengecer lain," kata Risma.
Mahawira melonggarkan dasinya dan menatap Risma dengan tatapan mengancam.
“Jika Anda menyesali perbuatan Anda, minta maaf kepada korban Anda di sini,” kata Mahawira sambil melirik Callista yang sebenarnya adalah korban k*******n Risma.
Risma memelototinya dan memutar matanya, "Apa-apaan ini! Aku tidak... Oke, aku akan minta maaf. kata Risma.
Callista berkedip berulang kali, mendengar kata-kata Risma dan permintaan maafnya tanpa sedikit pun penyesalan.
"Maaf! Aku minta maaf karena tidak mendengar!" seru Risma.
Mahawira berdeham, membuat Risma terdiam lagi dan merendahkan suaranya.
"Maaf aku menarik rambutmu," kata Risma akhirnya meminta maaf.
Callista tersenyum pada Risma, lalu meraih tangan Risma dan mengusapnya perlahan. Pijatan tangan Callista, perlahan-lahan menurunkan emosi Risma, berada di puncaknya dan ego yang tidak ingin saya kalahkan melalui perdebatan.
"Kalau begitu saya akan mengembalikannya 5 kali. Anda bisa meninggalkan saya nomor rekening Anda nanti. Tapi bisakah Bu Risma membantu kami mengetahui siapa yang menjual produk ke Bu Risma sebelumnya?" tanya Mahavira.
“Saya sudah izin untuk dihubungi,” jawab Risma.
"Sudah berapa lama kamu mengenal orang ini?" tanya Mahavira.
"Tidak. Sebenarnya baru beberapa waktu yang lalu. Tiba-tiba orang ini datang ke toko saya dan menawarkan harga yang sangat murah. Saya tergoda dan memang saya tertipu oleh omong kosongnya. Dia bahkan menjual nama produksi pabrik White Knights untuk mengonfirmasi bahwa dia asli "bekerja di sana dan membuktikan bahwa pabrik itu benar-benar membuat produk itu."
"Ksatria putih?" Callista bergumam sambil mencoba berpikir n nama itu.
"Apa ada tambahan lainnya?" Tanya Mahawira.
"Seperti nama?" Sambung Mahawira.
Risma tampak berpikir dan berpikir, kemudian mengungkap Mahawira.
"Laras! Ya aku ingat namanya Laras!" ujar Risma.
"Bu Laras dari pabrik Ksatria Putih? Baik kalau begitu kami akan mencoba mengusut masalah ini. Paling lambat saya akan mengembalikan uang Ibu dalam waktu 6 jam ke depan. Bagaimana?" ujar Mahawira.
"Setuju. Jika sedari awal diskusi ini sudah berjalan baik, saya tidak perlu mengamuk di lobi! Buang buang tenaga saja," ucap Risma yang padahal ia sudah mengamuk lebih dulu bahkan sebelum bertemu dengan Mahawira dan negosiasi tentang biaya rugi.
"Oh ya sekalian cari wanita bernama Laras itu. Kurang ajar sekali dia menipuku," ujar Risma.
"Iya Bu. Saya akan mencoba mengusut orang ini. Jika Ibu masih berminat menjual produk kami, saya bisa mengirimkan produk kami sesuai dengan jumlah yang Ibu beli," sahut Callista.
"Saya membeli 300 pasang, apa anda tidak masalah?" Tanya Risma Pada Callista.
"Saya akan memberikannya."
"Biaya ganti ruginya tak akan dipotong kan?" tanya Risma kepada Mahawira.
"Saya akan tetap membayarnya sekaligus menjadi uang tutup mulut karena saya juga tidak mau hal ini menyebar ke luar. Jika sampai tersebar, saya bisa memastikan Ibu mengganti 20 kali lipat dari biaya awal."
Risma mendengar ucapan Mahawira, "Hanya saya saja yang tahu masalah ini, tenang saja."
"Baguslah jika begitu," balas Mahawira kemudian kembali meminum secangkir tehnya hingga habis.
Usai saling membuat kesepakatan, Risma pun akhirnya keluar dari ruangan Mahawira. Mahawira juga akan meminjamkan menemukan beberapa oknum yang menjelekkan perusahaannya.
Karena jika orang-orang tersebut terus dibiarkan, yang ada akan semakin banyak orang yang protes dan membuat nama perusahaannya jelek.
"Kalau begitu saya izin dulu, Pak. Saya akan coba mencari tahu tentang orang pabrik itu," pamit Callista.
"Tunggu," sanggah Mahawira tepat saat Callista hendak beranjak dari duduknya.
Mahawira pun berpindah posisinya menjadi di sampling Callista kemudian mengungkapkan wajah Callista dari dekat.
"Kamu dipukul? Atau ditampar dengan wanita itu?" Tanya Mahawira Saat Melihat Sebuah Goresan Luka Pada Area Tulang Pipi Callista.
Callista pun menyentuh pipinya dan melihat, "Agh! Sejak kapan ini terluka?" gumam Callista kemudian mengeluarkan ponselnya dan bercermin.
"Tunggu disini," titah Mahawira kemudian beranjak dari sofa.
Callista bahkan baru menyadari jika area tulang pipinya ada goresan luka yang sepertinya karena dari jambakan Risma. Adegan tarik menarik menimbulkan luka di area lain dan kini pipinya menjadi kemerahan karena luka itu.
Beberapa saat kemudian, Mahawira datang dengan kotak obat di tangan. Pria itu langsung meletakkannya di atas meja dan mengeluarkan cairan NaCl untuk membersihkan luka Callista lebih dulu.
"Lihat sini," titah Mahawira kemudian mulai membersihkan luka Callista terlebih dahulu.
"Perih?" Tanya Mahawira.
"Tidak," jawab Callista.
Setelah selesai membersihkan luka tersebut dari sisa darah kering yang menempel, Mahawira pun mengambil salep antibiotik dan juga sebuah cotton bud untuk mengoleskan salep ke luka tersebut.
"Tahan Kemana-mana," titah Mahawira.
Dengan lihai, Mahawira mengoleskan salep itu ke luka Callista perlahan dan sambil meniupnya agar tidak terasa sakit.
"Akh!" pekik Callista saat merasakan sensasi perih.
"Tahan dulu," ujar Mahawira.
"Iya."
Setelah diobati, Mahawira menutup luka tersebut dengan sebuah plester kecil.
"Sudah selesai," ujar Mahawira.
Callista langsung bercermin dan membocorkan.
"Terima kasih," ujar Callista.
"Sampai rumah bisa dilepas plesternya dan oleskan lagi salep antibiotik agar tidak ada infeksi. Untuk sekarang tutup dulu saja," ujar Mahawira.
"Ya, terima kasih sekali lagi, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Callista.
Mahawira pun menghilangkan kepergian Callista dari ruangannya.
Sedangkan Callista yang saja keluar, langsung menghela napas leganya sedari tadi ia merasa menahan napas karena tenaga baru karena merasa berada di dekat Mahawira dan bahkan berada di ruangan yang sama dengan Mahawira dalam kondisi hanya berdua saja.
"Astaga, apa yang kau lihat Callista! Jangan kembali jatuh kepadanya!" gumam callista sembari melangkah masuk ke dalam lift yang sudah terbuka dan akan mengantarkannya ke ruang kerja.