BAB 10

1280 Words
Sebuah bangunan dengan cerobong asap menjulang di atas Callista. Tembok yang sudah berkarat, lumut yang menempel di tempat yang lembab, menambah kesan kumuh pada bangunan. Setelah berdiri lama, Callista akhirnya memberanikan diri masuk ke pabrik bernama White Knight. Pabrik White Knight merupakan salah satu pabrik dengan volume produksi yang tinggi. Biasanya produk yang ada adalah tiruan, namun tidak jarang produk yang asli mengaku dibuat sendiri. Kisaran harga produksi tergantung pada bahan yang digunakan. Jika menginginkan kualitas yang terbaik, maka akan membutuhkan harga yang sangat mahal. Tetapi jika Anda menginginkan versi yang murah dan tidak ingin mengorbankan banyak uang, Anda hanya akan menghasilkan versi yang murah. Produk cacat yang dibawa Risma tetap dibawa oleh Callista. Dalam beberapa hari terakhir, Callista telah mengawasi produk yang dikatakan dibuat di pabrik White Knight ini. "Satu barel?" Gumam Callista sambil mencoba mengingat nama wanita yang dijual Risma sebagai dalang penjualan produk cacat untuk produknya. Bahkan, Callista berulang kali mencoba menghubungi Laras, tetapi tidak bisa menghubungi wanita itu. Oleh karena itu, Callista memutuskan untuk menemuinya secara langsung setelah menghubungi pihak pabrik dan memastikan bahwa memang ada seorang karyawan bernama Laras di bagian produksi pakaian dan aksesoris. “Halo,” sapa Callista ketika bertemu dengan seorang wanita dengan pakaian agak kotor, memegang setumpuk pakaian untuk bahan produksi. Wanita itu menoleh ke Callista dan tersenyum, “Ya, selamat siang. Dengan siapa? dia bertanya. "Ah, saya ingin bertemu Bu Zulfa, manajer di sini. Bolehkah?" tanya Callista. "Nona Callista?" jawab wanita itu. "Ibu? Nona Zulfa," tebak Callista. "Ya, saya Zulfa dan saya berbicara dengan ibu tadi malam. Tunggu sebentar, Bu," kata Zulfa, lalu meletakkan dokumen yang dibawanya di lantai dan berjalan ke Callista. Zulfa tampak menepuk-nepuk pahanya beberapa kali dengan tangannya seolah hendak membasuh tangannya yang kotor. “Saya Zulfa,” dia memperkenalkan diri. “Callista,” jawab Callista, membalas jabat tangan Zulfa. "Kalau begitu ayo kembali ke kamarmu. Maaf agak kotor karena saat ini kami memproduksi beberapa produk secara massal dan kami kekurangan staf. “Tidak apa-apa, Bu Zulfa. "Kembalilah ke kamarmu." Akhirnya Zulfa dan Callista masuk ke kamar pribadi Zulfa bersama-sama. Berbeda dengan udara di pabrik, kamar Zulfa jauh lebih segar dan sejuk karena memiliki AC. "Mau minum apa, Bu Callista?" tanya Zulfa. "Tidak perlu, Bu. Aku di sini hanya sebentar karena aku ingin melihat Laras. “Oh ya, Laras, tunggu dulu,” jawab Zulfa. Wanita itu kemudian mengambil telepon di atas meja dan menelepon. Callista bisa mendengar Zulfa menyebut nama Laras beberapa kali dan memanggilnya ke dalam ruangan. Tidak lama kemudian, pintu Zulfa diketuk dan dibuka oleh seseorang. Seorang wanita berpenampilan lusuh, dengan kemeja diikatkan di pinggang, menghampiri Zulfa. "Ibu memanggilku?" tanya Laras. "Ya. Ada yang mencarimu," kata Zulfa sambil menoleh ke Callista. Callista dan Laras saling berpandangan, "Laras?" tanya Callista. "Ya, ini aku. Siapa kamu?" tanya Laras. Callista tampak merogoh tas yang dibawanya dan mengeluarkan kartu nama dan menyerahkannya kepada Laras: "Saya Callista, ketua proyek tim Rasendriya," kata Callista sambil memperkenalkan diri. Mata Lara langsung terbelalak begitu mendengar nama Rasendriya Corporation. “Dilihat dari raut wajahmu, nama perusahaan kami terdengar familiar, bukan? Omong-omong, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, khususnya mengenai R-Mode yang baru saja dirilis,” kata Callista. "Silakan duduk, Laras," perintah Zulfa. Callista sepertinya sangat berterima kasih kepada Zulfa karena berkat wanita inilah dia bisa bertemu Laras seperti sekarang. Akhirnya, Callista mulai menceritakan kembali rangkaian peristiwa yang disaksikannya. Pada awalnya, Laras mengelak dan mengakui bahwa dia tidak menerima pesanan produksi, tetapi akhirnya mengakui. "Maaf Bu, saya harus bertanya. Saya harus menerima dan melepaskan produk cacat karena permintaan konsumen. Konsumen juga mengatakan itu untuk keuntungan pribadi. Saya tidak tahu apakah itu terjadi atau tidak", sesal Laras. "Baik. Tapi bolehkah saya tahu tentang orang ini?" tanya Callista. Laras mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto a?" gumam callista saat melihat sosok wanita yang ditunjukan oleh laras. Merasa masih tak percaya, Callista pun kambali bertanya. Tapi Laras bersumpah jika wanita itu yang memesan meski tak memiliki bukti kuat. "Baiklah, kalau begitu terima kasih banyak, ya," ujar Callista. Usai bertanya dan mewawancarai Laras, Callista pun berpamitan pergi dan segera menemui Risma untuk meminta maafnya secara langsung sekaligus mengirimkan penawaran yang lebih baik untuk dijual sebagai distributor. Risma sendiri telah menjadi distributor beberapa produk lainnya dan memang dipercayai memiliki harga yang lebih murah dari pasaran, hingga membuat banyak konsumen yang membeli Anda. Dari Risma, Callista pun segera menghubungi Agita. awalnya ingin secara gamblang bertanya tentang maksud Agita, tapi callista langsung mengurungkan niatnya. Callista memilih untuk bertanya secara langsung dan tidak akan membiarkan masalah ini diketahui oleh rekan yang lain. Oleh karena itu, Callista pun meminta Agita untuk menemuinya di sebuah kafe yang berada tak jauh dari apartemen mereka berada. "Bu Callista," panggil Agita yang baru memasuki area kafe saat Callista yang tampak tenang melihat video yang hangatnya di tengah suasana hujan Kota Jakarta. Callista tersenyum menyapa kedatangan Agita, "Tadi naik apa kemari?" "Kebetulan ada sisa saldo untuk menyewa mobil taksi. Jadi saya naik taksi kemari. Ibu sudah lama?" Balas Agita. "Tidak, saya baru tiba juga. Suasananya pas ya, untuk minum kopi hangat seperti ini." "Iya Bu. Apalagi kia di luar juga cukup dingin." Setelah berbicara sedikit, barulah Callista menyenggol tentang Agita yang meminta Ksatria Putih untuk memproduksi barang miliknya. "Oh ya, kamu tahu tentang orang yang datang ke kantor beberapa hari lalu bukan? Yang mengamuk dan bahkan sempat menjambak rambutku," tanya Callista. Agita mengangguk, "Tentu saja saya ingat, Bu. Pembeli itu memang tidak ada sopan santunnya." "Ya, tadi saya habis bertemu dengannya lagi. Bu Risma jauh lebih ramah dari hari itu. Bahkan di rumahnya, saya disuguhkan dengan berbagai makanan dan minuman yang enak." "Syukurlah kalau begitu, Bu. Perusahaan pasti rugi sangat banyak karena harus mengganti uang itu." "Sebenarnya tidak menggunakan uang perusahaan, melainkan uang pribadi Pak Mahawira." "Apa? Pak Mahawira memberikan uang pribadinya?" Callista menganggukan kepalanya. "Ngomong ngomong, apa kamu sebelumnya pernah kenal Bu Risma?" Tanya Callista. Agita kepalanya, "Tentu saja tidak pernah, Bu. Untuk apa saya bertemu dengan orang seperti itu." "Oh begitu. Kalau pabrik Ksatria Putih, apa kamu tahu?" agita terdiam dan membocorkan Callista, "Maksud Ibu?" "Saya tadi habis dari pabrik dan menemui Laras. Kamu pasti bisa menebak apa yang saya temukan, kan?" Agita langsung berdiri kemudian ayak di hadapan Callista. "Bu, maafkan saya!" Callista menoleh dan merasa tak enak dengan aksi heroik agita yang tiba-tiba dan membuat semua pelanggan di kafe itu mengungkapkan ke arah mereka. "Agita, kembali ke tempatmu!" titah Callista. "Maafkan saya, Bu. Saya sama sekali tidak bermaksud menjatuhkan perusahaan. Saya tidak tahu jika akan jadi seperti ini," ujar Agita. Callista berbicara dan mengungkapkan tajam ke arah Agita, "Agita," panggil Callista. Agita mendongakkan kepalanya mengungkapkan Callista. "Saya tak pernah menuduhmu. Saya bilang saya pergi ke pabrik dan menemui Laras. Tapi mengapa kamu sampai ayak? Apa kamu menganggap hal yang kemarin itu berhubungan dengan Laras?" Tanya Callista. Seolah-olah mengambil tindakan, Agita kemudian bangkit dari duduknya dan tersenyum getir. "Tidak, Bu. Hanya saja saya merasa-" "Jika sudah begini, kedokmu justru dengan mudah ketahuan, Agita," potong Callista. "Apa maksud Ibu?!" "Kamu ayak karena merasa bersalah kan? Pasti kamu sudah tahu jika hal ini akan terjadi." "Tidak, Bu! Tujuan saya ingin memproduksi produk hati kita lebih banyak dan dengan begitu hati kita akan mendapatkan penghargaan dari Pak Mahawira! Saya sama sekali tak ada niat hanyaan lain." "Kamu yakin?" Agita berbicara dan mengungkapkan Callista yang ekspresi wajahnya bahkan tak dapat ditebak. Untuk yang sekarang duduknya. Sebelum pergi, Callista pun menoleh ke arah Agita, "Seberapa handal pun kamu berusaha menyembunyikannya, pasti ketahuan oleh saya tinggal saya mencari tahu motif yang kamu lakukan saat ini," ujar Callista kemudian pergi meninggalkan Agita. Agita tampak terdiam dan ketakutan mendengar ucapan callista. Callista yang ia kenal benar-benar berbeda. Jika biasanya Callista sangat lembut, namun sekarang terdengar jelas dan mengilhami. Agita pun buru buru
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD