BAB 11

1188 Words
Sebuah studio dengan beberapa kolom cahaya tampak memenuhi ruangan. Selesai dengan latar belakang putih menambah kesan elegan. Para kru film tampak mondar-mandir, sibuk dengan pekerjaannya, jarang duduk bersantai sambil mencoba mengapresiasi dekorasi ruangan. Callista berdiri di tengah ruangan, menatap dekorasi yang tertata rapi. Seluruh ide pengaturan ini adalah idenya. Kecintaannya pada dekorasi dan ketertiban dari masa lalu tampaknya bertahan hingga hari ini. Bahkan Callista ditugaskan oleh Mahawira untuk menentukan desain background yang akan digunakan pada produknya. Menyusul kesuksesan produk fashion R yang digarap timnya, Callista berkesempatan membuat iklan. Lebih tepatnya, karena Dante sebenarnya adalah brand ambassador untuk pabrikan terkenal bernama SCTP. Karena Dante belum membuat iklan apa pun, tim SCTP dan R Fashion bekerja sama untuk membuat iklan berkualitas tinggi. Dan inilah mereka. Lebih tepatnya, ada dua studio dalam satu gedung untuk syuting dan pemotretan produk R Fashion. R Fashion merilis aksesorisnya sendiri untuk melengkapi fashion dengan fitur Milenial dan Gen Z. Masing-masing produknya memiliki fungsi dan gaya yang sedang tren saat ini. Mulai dari topi, kacamata, jaket denim dan tali sepatu. Semua produknya dijual dengan harga yang terjangkau dan pastinya menguasai pasar dan penjualan tertinggi di grup Rasendriya. "Miss Callista," panggil Dylan sambil berjalan ke tempat Callista sedang sibuk meninjau pengaturan studio yang akan segera dikerahkan. Callista berbalik. "Ya?" "Pesanan kuemu sudah datang. Ayo makan sebentar sambil menunggu Dante datang," kata Dylan. "Oh ya." Callista segera mengikuti Dylan ke belakang dan benar saja, di atas meja sudah ada sekotak kue strawberry favorit Callista, kue yang selalu ia sukai dan selalu menjadi favoritnya. "Aku menaruh jus jambu di tasmu," kata Dylan sambil menunjuk ke tas kecil yang dipesan Dylan dan benar-benar diberikan kepada pria itu. "Terimakasih banyak." Callista segera duduk dan mulai memakan strawberry shortcake miliknya. Beberapa dekorasi telah dipasang. Yang paling penting adalah cahaya. Callista adalah yang pertama kali mengorganisir organisasi semacam itu, tetapi tidak jauh di belakang dibandingkan dengan seorang profesional. "Dante sedang dalam perjalanan ke sini?" Callista bertanya dengan seteguk kue strawberry. Dylan menoleh ke Callista dan bukannya menjawab, dia mengulurkan tangan dan mengusap krim dari sudut bibir Callista, menyebabkan wanita itu terkesiap dan segera menyeka mulutnya. "Ada kue," kata Dylan sambil tersenyum. "Oh ya, maaf. Terima kasih" “Dante pergi dari sini bersama Mahesa. Mahesa pergi ke sana secara pribadi untuk menjemputnya. Sepertinya itu keuntungan karena Mahesa adalah teman dekat artis papan atas di kelas Dante,” Dylan hanya menanggapi pertanyaan Callista. Mereka baru berbicara sebentar ketika tiba-tiba ada keributan di belakang mereka. Callista dan Dylan juga kembali dan menemukan Dante bersama Mahesa. "Pasti suara fans yang menunggu di luar set," bisik Dylan, karena dia sudah keluar masuk studio dan memang ada beberapa fans Dante yang menunggu di luar pintu. Karena syuting dilakukan pada hari kerja, tim Callista yang beranggotakan 6 orang harus bubar. Anggara, Ajeng dan Agita tinggal di kantor dan menjaga tim redaksi serta mengatur waktu tayang siaran SCTP dan lain-lain. Sementara itu, Callista, Dylan, dan Dante bekerja di lapangan dan menyaksikan Dante menembak. "Halo, Bu Callista," sapa Dante sambil mendekati Callista sambil melepas kacamatanya. Callista berbalik dan meletakkan strawberry shortcake, lalu berdiri dan menyapa Dante. "Bagaimana perjalanannya? Apa ada kemacetan?” tanya Callista. "Tidak terlalu. Tapi lumayan panas, untung di sini sejuk,” jawab Dante. Seorang pria dari tim produksi SCTP tampak menghampiri Dante dan menyapa pria itu juga. “Halo Dante, selamat datang di SCTP. Perkenalkan saya kepada Alex yang akan membantu pembuatan iklan ini,” kata Alex sambil memperkenalkan diri. "Halo Pak Alex. Nah, Anda tampak sangat bersemangat," kata Dante. "Tentu saja saya senang, terutama ketika saya mengetahui bahwa bintang iklan hari ini adalah Dante." "Bisa, Pak." "Lalu bagaimana kalau kita mulai persiapannya sekarang? Persiapan untuk pengaturannya hampir selesai." "Ya. Apakah penata riasnya sudah datang?" "Itu datang dari 15 menit yang lalu." Akhirnya Da kembali aja, suara ricuh kembali terdengar dan mendandakan pintu studio yang kembali terbuka. "Astaga berisi sekali, harusnya mereka katakan untuk tidak sembarang keluar dan masuk dari studio," ujar Callista sambil meminum jus jambu miliknya. Seorang pria dengan coat hitam panjang tampak berdiri di sampingnya. Pria tinggi itu mengutamakan tak hanya datang sendiri melainkan seorang wanita yang saat ini berdiri di sampingnya. Di saat Callista sedang asik minum, Dylan dan Mahesa justru tiba saja berdiri dan menyapa orang tersebut. Mata Callista sontak melirik dan tiba tiba saat melihat Mahawira dan Tanisha yang sudah berdiri di sampingnya. "Aduh!" Callista tersedak saat menyadari kehadiran 2 orang tersebut. "Pelan pelan saja minumnya sayang," ujar Tanisha. Buru buru Callista meletakkan botol juice milik dan menyapa Mahawira dan Tanisha yang baru saja datang. "Persiapannya bagaimana? Sudah waktunya syuting kan?" tanya Mahawira sambil melihat ke arah dekorasi yang sudah 99% selesai. "Sudah, sekarang Dante sedang bersiap di belakang. Kita akan mulai dalam... Oh sepertinya sekarang," ujar Dylan yang tiba-tiba berubah saat Dante keluar dengan produk R Fashion yang menempel di tubuhnya dan memposisikan dirinya di tempat pengambilan gambar. Tanisha tampak terkesima dengan dekorasi ruangan syuting di hadapannya. "Callista.. Apa ini kamu yang menuangkan ide dekorasinya? Cantik dan elegan sekali," ujar Tanisha. "Iya, Ma- Bu," ujar Callista saat tersadar dengan kesalahan pengucapannya yang memanggil Tanisha dengan panggilan Mama. Entah mengapa Mahawira dan Tanisha tiba-tiba saja datang, padahal seingat Callista, hanya mereka bertiga yang diutus. "Ngomong ngomong, Bu Ayu nggak ikut, Pak?" tanya Mahesa yang membuat Mahawira semula fokus pada proses pengambilan gambar dan menoleh ke arah Mahesa. "Maksudnya? Kenapa kamu menanyakan Bu Ayu?" balas Mahawira. "Tumben saja Bapak datang dengan Bu Direktorat. Biasanya selalu dengan sekretaris pribadi Bapak," ujar Mahesa yang seolah mencibirnya. "Aku melarangnya datang dan kebetulan Ibu saya ingin ikut kemari. Memang ada masalah?" "Ada tapi sepertinya saya saja yang ingin mencari masalah," gumam Mahesa. kasar! Tiba tiba saja Dylan yang berdiri di sampingnya langsung menyikut pinggang Mahesa hingga pria itu menoleh. "Aduh!" pekiknya perlahan. "Jaga bicaramu jika kau tidak ingin menjadi gerakan!" bisik Dilan. Mahesa hanya menganggukan kepalanya. Sebenarnya dalam hati ia ingin tertawa karena sepertinya hanya Dylan yang tidak tahu jika sebenarnya Mahesa adalah anak kedua dari Tanisha. * * * * * Proses syuting pun dimulai. Dante akan mengambil gambar beberapa kali dan berganti baju sampai 7 kali. Callista, Mahawira, Mahesa, Dylan, dan juga Tanisha masih setia mengamati dan menemani Dante yang sibuk mengambil gambar. Akhirnya pengambilan gambar costume yang ke 4, Alex pun memutuskan untuk mengambil istirahat. "Kita rehat 60 menit untuk ibadah dan makan ya! Sudah jam makan siang jadi silakan istirahat dan kita lanjut lagi nanti," pekik Alex. Dante pun mengucapkan terima kasih kepada Alex kemudian berjalan ke arah Mahawira. "Selamat siang Pak Mahawira. Saya terkejut melihat Bapak dimari dan Bu directorate selamat siang juga," sapa Dante kepada Mahawira dan juga Tanisha. "Bagaimana menurutmu dengan produk R Fashion?" tanya Mahawira tanpa basa basi. "Jika Bapak bertanya pendapat saya pribadi, saya sangat menyukainya. Kualitasnya tidak utama dan pasti trendi serta nyaman digunakan," ujar Dante. "Benarkah? Bukan karena kamu temannya Mahesa kan?" Tanya Mahawira. Mahesa langsung memutar bola mata dan memasang wajah kecut membocorkan Mahawira. "Kalau begitu saya izin untuk makan siang dulu, Pak. Sekaligus sepertinya Bu Callista dan Pak Dylan juga belum makan. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Dante. "Boleh saja. Kita ke belakang untuk mengambil makanan," balas Dylan. "Kami permisi dulu," pamit Mahesa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD