Saat Callista hendak pergi bersama tiga pria lainnya, Tanisha tiba-tiba memanggil Callista.
"Callista," panggil Tanisha, membuat Callista dan yang lainnya menoleh ke arah Tanisha. Mereka bahkan menatap wanita yang dipanggil oleh Tanisha barusan yang tak lain adalah Callista.
"Aku ingin makan siang dengan Callista, oke?" tanya Tanisha.
“Tentu saja, Bu. Pelan-pelan,” kata Mahesa sambil mendorong Callista lalu memberi isyarat agar Dante dan Dylan meninggalkannya.
Callista masih belum sadar bahwa dirinya secara tidak langsung dikucilkan oleh timnya sendiri.
"Kau ingin berbicara denganku?" Tanya Callista Tanisha.
“Berbicara santai. Ayo makan siang bersama, Yuk," ajak Tanisha.
Akhirnya Callista bergabung dengan Tanisha dan Mahawira untuk makan siang di kantin gedung kantor SCTP.
Selama makan, Tanisha tidak mengatakan apa-apa. Padahal, dia sangat ingin mengajak Callista makan malam.
“Bu, sepertinya Callista sudah selesai dan harus menonton di bawah. Bisakah Callista turun lebih dulu? "tanya Callista.
Tanisha mengangguk sambil menelan makanan di mulutnya.
“Ya, harta karun. Terima kasih telah mengajakku makan malam.
"Baik ibu."
Callista segera pergi. Setelah pergi, Mahawira tampak memperhatikan bagian belakang Callista yang telah pergi.
Seolah mengerti apa yang Mahawira tonton, Tanisha akhirnya angkat bicara.
"Jika kamu ingin berbicara dengannya, ikuti dia," perintah Tanisha.
"Tidak-"
"Ibu tahu."
Akhirnya, setelah menolak, Mahawira tidak bisa memungkiri bahwa dia ingin berbicara dengan Callista secara pribadi.
Akhirnya Mahawira bangkit dan berlari mengejar Callista.
Hingga akhirnya Mahawira meraih tangan Callista di depan area gedung perkantoran yang dicat.
"Kalista!" seru Mahawira sambil terkesiap.
Callista menoleh dan menatap Mahawira. Wanita itu mencoba melepaskan dan dengan cepat dikuasai oleh Mahawira.
"Tunggu sebentar," kata Mahawira.
"Apa itu?" tanya Callista.
Mahawira melihat sekeliling, lalu menarik Callista ke sudut yang lebih terpencil.
"Apa yang kamu lakukan? Aku harus bekerja!" Callista berteriak, mencoba melawan dan pergi, tetapi dengan cepat dihentikan oleh Mahawira, yang lebih tinggi darinya.
Mahawira menatap Callista dalam diam, membuat Callista merasa mual dan ingin pergi.
"Tidak ada yang perlu dikatakan, kan? Aku pergi."
"Tunggu!" kata Mahavira.
"Apa?"
"Bolehkah aku diam sebentar?"
"Untuk apa? Aku harus bekerja!"
"Jika bos Anda meminta Anda untuk diam, apakah Anda akan membalas?" tanya Mahavira.
Akhirnya Callista mengakhiri, "Oke, lima menit."
"15 menit," usul Mahawira.
"Apa-apaan?!"
"20 menit. Semakin banyak Anda mengalahkan, semakin lama waktu yang dibutuhkan".
Pada akhirnya, Callista hanya bisa menghela nafas.
"Mengapa?" tanya Callista singkat.
“Saya tahu tentang Laras, Bu Risma dan juga tentang Agita. Apa yang harus aku lakukan untuknya sekarang? Api Agita? Api Lara? ' tanya Mahawira, membuat pilihan.
Callista memutar matanya karena dia sendiri tidak membiarkan ini menyebar dan tidak memberi tahu siapa pun tentang hal itu.
"Aku tahu," lanjut Mahawira.
"Tentang apa?"
“Langsung dari Bu Zulfa. Zulfa adalah teman sekelas kita di kampus, apakah kamu lupa itu? ' tanya Mahavira.
"Apa?!"
"Jangan kaget. Tapi dia masih tidak tahu bahwa kita berpisah.
"Untuk apa? katakan saja padaku Bukankah itu tandamu sebagai janda seksi di kantor?"
"Janda seksi?" Mahawira mengerutkan kening dan bertanya.
"Ya, itu nama panggilanmu."
Tiba-tiba, Mahawira menginjak kakinya, semakin memojokkan Callista dan akhirnya membentur tembok. Mahawira mengulurkan tangan dan bersandar ke dinding di belakang Callista.
“Saya tidak suka julukan itu,” kata Mahawira, dan nada suaranya mulai berat.
Karena begitu dekat, Callista bahkan bisa merasakan napas Mahawira, hangat dan serak.
"Mengapa?" tanya Callista.
"Karena aku tidak menyukainya."
"Bukankah kamu suka menjanda? Bukankah kamu yang menceraikanku? Kenapa kamu tidak menyukainya? Jika kamu tidak menyukainya maka cari saja wanita lain dan menikahlah. Ayu sepertinya cocok." Callista menyarankan sebelumnya.
"Kenapa Ayu?"
"Karena kalian berdua dekat?" tebak Callista.
“Kami tidak begitu dekat. Kami hanya rekan kerja.”
"OH."
“Saya tidak punya niat untuk menikahi wanita lain,” kata Mahawira, yang tiba-tiba membuat jantung Callista berdegup kencang saat mendengarnya.
Mahawira menatap Callista, membuat Callista tidak nyaman.
"Aku harus pergi," kata Callista.
"Tunggu sebentar."
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di benak Mahawiraa. Teringat pria yang meminta untuk menjaga istrinya, pria itu menceritakan apa yang dilakukan istrinya yang benar-benar membawa malapetaka bagi kehidupan keluarganya.
"Apa itu?" tanya Callista.
"Maaf," kata Mahawira tiba-tiba ja.
"Maaf? Untuk apa? Kau aneh sekali akhir akhir ini. Tak seperti Mahawira yang biasanya."
"Memang Mahawira yang biasanya seperti apa?"
" Entah. Dingin? Bijaksana? Dan tidak lemah seperti ini mungkin."
"Tapi nyatanya semua pertahanan itu runtuh jika aku berada di hadapanmu."
Callista tiba-tiba saja tertawa saat mendengar ucapan Mahawira.
"Kenapa tertawa?" Tanya Mahawira.
"Karena lucu."
"Lucu?"
"Iya lucu. Pria yang mencoba menggodaku kembali setelah menceraikanku. Apa kau tahu bagaimana sulitnya kehidupanku menjalani ini? 5 tahun, Wira. 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar lagi. Jika kamu menyesal? Atau bagaimana?" Tanya Callista.
Mahawira membocorkan sorot mata Callista dan membuat wanita itu terdiam.
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya 3 bulan setelah percerainnya, Mahawira mengurung dirinya di kamar.
Pria itu bahkan melewati sarapan pagi dan juga makan siang. Keadaannya membuat Tanisha merasa khawatir namun juga tidak bisa kembali karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan di Amerika.
Mahawira patah hati. Setelah perpisahannya dengan Callista, pria itu merasakan sakit hati yang luar biasa.
Kehidupannya berubah drastis. Tak ada lagi sosok wanita yang ia cintai dalam kehidupan sehari-hari. Sosok Callista yang selalu dengan hangatnya menyapa Mahawira di pagi hari dan memberikan semangat yang membangkitkan tekadnya untuk bekerja dan membangun keluarga yang sempurna.
Untuk pertama kalinya, Mahawira juga kehilangan semangat hidup dan menyalahkan dirinya.
Selama itu juga Mahawira berusaha mencari keberadaan Callista. Mengitari Bogor dan berusaha mencari dimana Callista berada. Tapi usahakan nihil.
Dengan segala uang dan koneksi, ia tak bisa menemukan Callista. Bahkan sosoknya seolah hilang ditelan bumi.
"Jika itu menurutmu, kalau begitu dianggap saja begitu," ujar Mahawira kemudian akhirnya pergi meninggalkan Callista seorang diri.
Sedangkan Callista yang masih bersandar pada dinding hanya menghilangkan kepergian Mahawira seolah tak percaya.
"Pria gila! Apa sekarang dia jadi gila setelah bercerai?!" racau callista kemudian akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dan menyusul ke studio untuk melanjutkan syuting yang sempat tertunda karena jam makan siang.
Di sisi lain, Mahawira merasa sedikit lega karena rasa rindunya terobati setelah melihat wajah Callista dari jarak dekat.
"Aku akan berusaha agar kita bisa kembali bersama," gumam Mahawira sembari meremas sebuah cincin.
Cincin berbahan perak yang pernah ia pakai selama 2 tahun untuk melunasi status pernikahannya dengan wanita yang ia cintai, Callista Evanora.