BAB 13

1046 Words
13 Itu adalah hari Minggu yang cerah, dengan sinar matahari pagi yang hangat merayap melalui celah di jendela dan tirai apartemen Callista. Pagi ini Callista memutuskan untuk menikmati hari Minggunya dengan bersantai di rumah. Tubuhnya yang lelah direbahkan di atas sofa di area ruang tamu apartemennya. Cting! Suara notifikasi di ponsel Callista yang tergeletak di atas meja langsung membuat Callista bergerak-gerak. Saat mengecek ponselnya, Callista juga mendengar pintu kamar anaknya terbuka, memperlihatkan sosok Grayson yang baru saja bangun sambil mengedipkan matanya berulang kali. "Kamu sudah bangun sayang?" Kata Callista sambil melihat putranya meninggalkan ruangan. Grayson mengangguk dan tersenyum, "Bu," panggilnya. Callista berbalik dan mencatatnya sebentar di ponselnya. "Benar?" jawab Callista. "Saya ingin telur dan sosis untuk sarapan. Bisakah kau melakukannya untukku?" tanya Grayson. "Kalau begitu mandi, sayang. Aku akan melakukannya nanti," kata Callista. Grayson segera bersemangat dan berlari ke rak handuknya dan ke kamar mandi. Sementara itu, Callista tampak membaca pesan yang baru saja ia ketik di ponselnya. * * * * * Oleh: Tim Produksi SCTP Selamat pagi Bu Callista, maaf mengganggu. Saya Alex dari tim produksi SCTP. Kami ingin memberi tahu Anda tentang jadwal iklan R-Fashion pagi ini. Sepertinya akan ada penundaan sekitar 15 menit. Tapi sebaliknya Anda juga akan mengirimkannya besok pada waktu yang sama. Maaf atas informasi yang tiba-tiba. Salam, Alex. * * * * * Callista mengangguk dan membalas pesan itu. Sebenarnya, dia tidak masalah dengan jadwalnya yang agak terlambat. Dia segera menanggapi pesan dari Alex yang mengatakan tidak ada masalah dengan penundaan janji. Yang terpenting adalah iklan dilakukan dengan benar dan tanpa hambatan. Setelah membalas pesan itu, Callista bangkit dari sofa dan menyiapkan sarapan seperti yang diminta Grayson. Callista tampaknya mengeluarkan beberapa sosis, telur, dan sayuran seperti brokoli, wortel, kentang, dan jamur. Wanita itu dengan terampil menyiapkan semua item sarapan untuk dirinya sendiri, Grayson, dan Yunita. Sosis yang baru saja ia siapkan dipanggang dalam wajan, kemudian digoreng dengan telur dan direbus dengan mata sapi, dan sayuran lainnya digoreng dengan garam dan merica. Callista sepertinya sudah terbiasa menyiapkan hidangan seperti itu. Dia juga tidak pernah meninggalkan kebiasaan itu. Memiliki suami yang pemilih seperti Mahawira praktis membuat Callista bisa memilih mana yang sehat dan mana yang tidak, bahkan ada sedikit manfaat dari kebiasaan ini, ia tidak terlalu peduli dengan selera anaknya, seperti halnya Mahawira. Retak! Pintu kamar mandi terbuka untuk memperlihatkan Grayson sedang mengeringkan rambutnya dan tersenyum saat mencium bau telur goreng di dapur. "Wow, baunya enak sekali bu," teriak Grayson. Callista berbalik ketika dia menuangkan telur ke piring, "Kamu cepat berpakaian. Makan malam hampir siap,” perintah Callista. "Oke, Bu," kata Grayson bersemangat. Begitu Grayson memasuki kamarnya, ruang tamu Yunita terbuka, memperlihatkan sosok Yunita yang langsing. "Kamu mau pergi?" Callista bertanya sambil melemparkan panci ke mesin pencuci piring. Yunita tampak pergi ke meja makan dan melihat sarapan yang sedang disiapkan putranya. "Aku akan mencoba gaun pengantin. Mereka bilang sudah selesai. Maukah kamu ikut denganku?” tanya Yunita. "Tidak bu. Callista ingin istirahat di rumah hari ini,” kata Callista. Yunita tampak melihat semua masakan Callista dan menyodok sosis dengan garpu. "Ayo kita sarapan dulu," kata Callista. Yunita menggelengkan kepalanya. "Saya harus pergi. "Apa kamu yakin?" "Setelah itu, saya bisa menggunakan Pak Budi untuk membeli makanan di jalan." "Atau kau ingin aku membungkusnya?" "Tidak perlu. Berikan saja pada Grayson dan dia pasti akan makan apa saja.” "Tapi hantu-" "Aku pergi dulu, sayang," kata Yunita, segera berjalan ke arah sepatu dan memakainya. Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi dan saat Yunita membuka pintu, Budi sudah berdiri di depannya dengan sebuket bunga mawar di tangannya. "Halo," sapa Budi. Yunita berkata, "Apakah kamu akan membeli bunga lagi?" Budi tersenyum seperti kekasih: "Saya selalu memikirkan Anda ketika saya melihat bunga." "Ya, saya tahu, tapi lihat, bunga dari kemarin, 2 hari yang lalu, 4 hari yang lalu dan 1 minggu yang lalu masih ada di sana," kata Yunita sambil menunjuk ke belakang di mana terlihat setumpuk karangan bunga yang sudah diatur. dengan tangan. lehnya di dalam vas bunga. "Tidak apa apa, biar rumah Callista makin cantik. Benar kan Callista?" Tanya Budi Pada Callista. Callista menoleh dan hanya mengangguk kemudian tersenyum. "Kalau begitu di mana saja di sini dan kita berangkat sekarang," ujar Yunita kemudian langsung mengambil buket bunga mawar tersebut dan meletakkannya di samping rak sepatu. "Oh ya, Eric kemana Om?" Tanya Callista. "Eric lagi ke Subang sejak kemarin. berkaitan dengan urusan pekerjaan," jawab Budi. "Ayo berangkat!" ajak Yunita dan langsung mendorong Budi menutup pintu apartement Callista yang sudah terbuka sejak tadi. Callista hanya tertawa kemudian tertawa pelan saat melihat tingkah laku Yunita dan Budi yang seperti anak kecil. Meski usia Yunita dan Budi terpaut hampir 10 tahun dan mereka sama sama sudah menginjak usia paruh baya, nyatanya percintaan kedua orang tua itu sama muda lainnya yang sedang di mabuk cinta. "Bunda," panggil Grayson saat pintu terbuka dan berlarian kecil ke arah meja makan kemudian naik ke atasnya. "Pelan pelan sayang," ujar Callista sambil memberikan porsi makan kepada Grayson. "Terima kasih, Bunda," ujar Grayson tersenyum. Senyuman Grayson yang terkadang manis mengingatkan Callista kepada Mahawira. Sampai wanita itu tiba tiba saja dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana Mahawira yang mendorong tubuhnya dengan sengaja dan menyudutkannya. Membuat Callista kembali bisa melihat wajah Mahawira dari jarak yang sangat dekat. adalah saja wajah Callista memerah dan Grayson yang melihatnya langsung bertanya, "Bunda kepanasan?" tanya greyson tiba-tiba yang membuat Callista segera tersadar dari lamunannya. "Eh? Tidak. Hanya- Ah iya, Bunda kepanasan," jawab Callista yang lebih terdengar seperti orang yang sedang salah tingkah. Callista pun berjalan ke arah sofa dan televisi dengan saluran SCTP. Sambil menikmati sarapan paginya, Callista membocorkan layar tv di hadapannya. Beberapa saat kemudian iklan iklan tayang dan menampilkan sosok Dante yang tampan. Hal yang tak terduga pun membuat Callista terkejut sekaligus melihatkan matanya. "Kenapa dia ada disitu?!" gumam Callista saat melihat sosok Mahawira yang muncul di akhir iklan seolah-olah mempromosikan produk Dante. Callista pemijatan peningnya karena kehadiran Mahawira yang baru saja ia bayangkan beberapa saat yang lalu. Sedangkan Grayson yang sedang memakan brokolinya langsung terdiam sesaat kemudian tersenyum beberapa saat kemudian melihat Mahawira di televisi. "Seandainya saja Om itu benar-benar Ayahku," ujar Grayson. Callista menoleh saat mendengar suara Grayson. "Yang mana Grayson?" Tanya Callista. "Tidak, Bunda. Tadi aku baca tulisan di televisi saja," jawab Grayson berbohong kemudian kembali membetulkan posisi duduknya dan melanjutkan sarapan paginya dengan tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD