Sebuah bangunan berbalut warna putih lengkap dengan ornamen kayu yang mempercantik interiornya terlihat indah, apalagi dengan dekorasi cantik lainnya yang memberikan kesan sakral dan suci.
Di tengah ruangan terdapat panggung kecil yang dimaksudkan sebagai tempat bersatunya dua insan sebagai suami istri.
Akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu Callista, Eric, Yunita dan Budi. Setelah 3 bulan persiapan akhirnya selesai juga.
Persiapan singkat untuk perang partai sederhana bagi Yunita dan Budi sudah lebih dari cukup.
Di hari keberuntungannya, Yunita juga mengundang Dian Istimewa dari Australia dan meminta Budi menyediakan akomodasi untuk kedatangannya bersama suami dan anak-anaknya.
Budi yang sangat menyukai Yunita pada pandangan pertama, langsung menyetujui permintaan Yunita yang cukup mudah baginya. Apalagi dengan semua uang yang dimilikinya sekarang.
Permintaan Yunita bukanlah masalah besar. Menghabiskan sedikit uang tidak akan membuat Budi miskin.
Ibu kelihatan cantik," kata Callista sambil melegalkan bayangan Yunita.
Gaun putih dengan bahu tawanan memberikan kesan yang baik bagi wanita berusia 50 tahun itu.
Nyata? Bukankah itu terlihat aneh dipakai? Ibu tidak begitu yakin dengan gaun ini, tapi Budi memilihnya," kata Yunita.
Ibu itu cantik,” jawab Callista.
"Benar! Nenek terlihat sangat lelah!" Grayson yang juga menatap Yunita, meski mulutnya kini penuh cokelat.
Callista menoleh ke Grayson ketika dia menyadari putranya makan cokelat: Dari mana kamu mendapatkan cokelat? "tanya Callista.
Mama dulu ada. Tidak apa-apa, hanya sesekali saja, Callista,” kata Yunita, seolah menunggangi Grayson agar tidak diambil alih Callista.
Mengalahkan! Mengalahkan! Mengalahkan!
Pintu ke ruang persiapan pengantin terbuka dan memperlihatkan sosok Eric dalam jas putih.
Karena Yunita dan Budi juga memiliki anak, mereka memberi Callista dan Budi kesempatan untuk menjadi pengiring pengantin bersama. Sementara Grayson dibiarkan mengantarkan bunga dan cincin kawin Yunita dan Budi.
Ayo, upacara pernikahan akan segera dimulai, ”kata Eric.
Callista menoleh ke arah Yunita lalu membantunya mengambil gaun Yunita.
Grayson akan datang bersama Paman Eric,” kata Callista kepada putranya saat melihat Grayson berusaha membantu Callista mengangkat gaun Yunita.
Grayson segera menganggukkan kepalanya dan kemudian berlari ke arah Eric.
"Grayson jangan lari!" Callista berteriak ketika mereka secara legal menjalankan putranya.
Eric segera menggendong Grayson dan mengeluarkan anak itu sementara Callista mengikuti Yunita.
Sama seperti upacara pernikahan sebelumnya, Callista deades Mal membimbing Yunita dan mengantarnya ke Budi, yang akan menjadi suaminya.
Dag peach segera menggali d**a Callista saat dia mengingat momen seperti ini. Meski sudah lama, Callista masih ingat bagaimana perasaannya hari itu.
Hari dimana dia memberikan kehidupan lajangnya untuk status sebagai istri dari pria lain yang telah bersamanya selama 2 tahun.
Ternyata seperti itulah rasanya gugup sebelum upacara pernikahan," "Yunita dan beberapa orang saling membunuh seperti jantungnya akan meledak.
Ibu. Saya tidak akan melupakan momen ini," kata Callista.
"Kematian adalah momen berharga dalam kehidupan ibu."
Mata Yunita juga berbinar ketika membayangkan tamu undangan akan menatapnya, sofie Budi yang hanya akan menatapnya.
Callista bisa mengerti itu, karena dia tahu betul bahwa Callista sebenarnya adalah anak dari kecelakaan. Pernikahan Yunita dengan kekasihnya hanya formalitas tanggung jawab.
Namun nyatanya, ayah kandungnya berselingkuh dan berkencan dengan wanita lain. Tanpa akad nikah dan tanpa pamit, Yunita dibuang begitu saja.
"Pho!" Yunita baru saja menghela napas saat melihat celah di pintu yang terbuka lebar dan membiarkan lebih banyak cahaya masuk.
Sontak semua mata tertuju padanya, Dian, melihat Yunita yang cantik dalam balutan gaun pengantin, seolah meneteskan air mata.
Dian tahu betul bahwa kisah perjuangan hidup Yunita tidaklah sederhana. Yunita berhasil mengatasi berbagai kendala, hingga akhirnya ia mengungkapkan perasaannya kepada Budi.
Bibi Dian ada di sebelah kanan, Bu,” bisik Callista sambil mengikuti Yunita untuk pergi.
Yunita melirik Dian dan menyapanya saat mata mereka bertemu.
Sutradara Hingga akhirnya Callista membawa Yunita ke hadapan Budi. Setelah itu, Callista menyingkir dan berdiri di samping Eric.
"Apakah Grayson Berat?" Callista bertanya, berbisik pada Eric.
Tidak, tetap tenang," jawab Eric.
Budi muncul untuk membuka penutup wajah Yunita, lalu mereka berjalan bersama menuju pendeta yang sedang menyebar di sekitar aula apaan mereka.
Setelahnya mereka pun mengucapkan janji suci mereka.
Grayson yang membawa cincin pernikahan pun langsung dibawakan oleh Eric kemudian memberikan cincin itu kepada Budi.
"Terima kasih Grayson," ujar Budi kemudian mengambil cincin itu dan menyematkannya pada jari manis Yunita.
Kini giliran Yunita yang mengambil cincin dari Grayson kemudian menyematkan cincin pada jari manis Budi.
"Cium! Cium! Cium!"
Semua orang tampak berteriak dan meminta Budi untuk mencium Yunita. Akhirnya Budi pun menarik pinggang Yunita dan mencium wanita itu.
Eric yang Grayson langsung membalik dan menutup mata Grayson.
"Astaga! Lain kali beri aba aba terlebih dahulu! Apa kalian lupa masih ada anak di bawah umur yang berdiri di samping kalian?!" protes Eric.
Yunita pun melepaskan ciumannya dan memukul d**a Budi, "Astaga cucuku jadi melihat hal seperti ini!" keluh Yunita.
Semua orang tertawa melihat tingkah laku Yunita pada Budi yang tampak lucu.
Callista yang berdiri di pinggir mimbar pun tampak tertawa saat melihat Ibunya yang memukul Budi sebagai tanda protesnya karena langsung menariknya begitu saja.
Sambil berusaha meredakan tawanya, Callista pun menoleh ke arah lain dan menemukan Dylan, Anggara, Ajeng dan juga Agita yang duduk di kursi untuk tamu. Ajeng tampak dengan semangat menyapa Callista yang sedang menjadi pengiring pengantin.
"Kau tampak cantik," ujar ajeng dengan mulutnya yang bahkan tak mengeluarkan suara sama sekali.
"Terima kasih," balas Callista sambil tersenyum kepada Ajeng.
Namun, senyuman pada wajah Callista tak berlangsung lama.
Senyuman itu seketika terlihat saat menangkap 2 orang pria yang duduk di kursi belakang dengan pakaian rapi lengkap dengan jas berwarna hitam dan rambut yang ditata dengan rapi.
Kedua pria itu tak lain adalah Mahawira dan juga Mahesa yang tampak menikmati upacara pernikahan dengan khidmat.
Saat mata Callista dan Mahesa bertemu, Mahesa langsung terpesona olehnya. Callista pun menoleh pada pria di sebelahnya dan kemudian menoleh ke arah lain saat melihat mata mereka bertemu.
"Kenapa orang itu ada disini?" gumam Callista yang berusaha menghindari kontak mata dengan Mahawira.
* * * * *
Usai akad nikah, acara yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ini adalah pesta pernikahan.
Semua orang tampaknya bersorak untuk pasangan muda selamanya.
Kerabat dan kolega Budi juga pergi ke sana. Salah satunya adalah Yusuf yang membantu proses ekspor buah.
"Yusuf!" Budi mengatakan melihat pria itu datang.
Ternyata Yusuf tidak datang sendiri, melainkan bersama istri dan anaknya yang bernama Natasha.
“Ini putri saya, Natasha, dan istri saya, Edelyn,” kata Joseph sambil memperkenalkan istri dan anaknya.
Natasha dan Edelyn juga menyambut Budi dan Yunita.
"Selamat atas pernikahan mu!" Kata Edelyn dan memeluk Yunita dengan hangat.
“Terima kasih sudah datang,” jawab Yunita.
Kemudian giliran Natasha yang mengucapkan selamat. Tatapannya jatuh pada Eric yang berdiri tidak jauh dari Budi. Tapi wanita itu hanya melewati Eric setelah tersenyum pada pria itu.
“Wanita ini cantik,” bisik Yunita kepada Eric, menyadari bahwa Eric menatap Natasha lama-lama.
Eric menoleh ke Yunita. "Ah, iya bu. Tapi dia sangat cantik," kata Eric.
Kini giliran Yunita yang sudah menunggu, Dian pun datang bersama suami dan anaknya.
"Yunita!" Kata Dian sambil berlari ke arah Yunita dan memeluk wanita itu hingga mereka berdua menangis.
"Ya ampun! Maaf aku menangis! Lagi pula, aku sangat senang melihatmu begitu bahagia!" kata Diana.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke Australia,” jawab Yunita, lalu melepaskan pelukannya dengan Dian dan menyeka air mata Dian, membuat mereka berdua tertawa.
“Oh ya, ini Edward, suamiku, dan ini putriku Giselle,” kata Dian sambil memperkenalkan suami dan putrinya.
“Wah, Giselle cantik sekali,” kata Yunita.
"Usianya lima tahun sekarang," kata Dian.
"Oh, maksudmu yang kedua?"
“Ya, anak pertama saya juga perempuan, namanya Grace, tapi dia tidak bisa datang karena dia tinggal di rumah neneknya di California. Jadi saya hanya bisa mengundang Giselle.”
"Tidak apa-apa, aku akan menyapa Grace nanti."
"Aku akan membawanya ke Indonesia nanti."
"Yah, aku kehilangan kesabaran."
“Dimana Callista? Dia sudah punya bayi, bukan? "
"Ya. Anak itu laki-laki dan aku juga berumur 5 tahun. Sepertinya dia sedang makan sesuatu," kata Yunita, lalu mulai mencari Callista, akhirnya menemukan wujud Callista di antara kerumunan.
Yunita menunjuk Callista, yang telah memimpin Grayson di barisan barbekyu.
"Itu benar," Yunita menunjuk.
Dia menoleh, "Oh begitu. Nanti saya ke sana," jawab Dian.
"Kita turun dulu ya," lanjut Dian.
"Ya, jangan lupa makan yang banyak ya?" jawab Yunita.
"Jangan khawatir. Edward mengawasi Soto Betawi."
Setelah para tamu diundang untuk memberi selamat satu per satu, Dylan, Anggara, Ajeng dan Ajeng juga datang untuk memberi selamat.
Dylan menyapa Yunita dengan akrab, yang membuat ketiga rekan kerjanya bingung.
“Ya ampun, Dilan! Sangat tampan! Apakah kamu sudah makan? tanya Yunita pada Dylan.
"Ya, Bu. Tetap tenang."
"Begitukah? Kemudian makan lagi.
Jiwa keibuan Yunita sepertinya sudah tertanam dalam dirinya.
"Tidak perlu, Bu. Saya akan makan lagi nanti."
"Ini baik. Oh, itu rekan Callista, kan? Anggara? ajeng? Agita? Yunita menduga melihat ketiga temannya yang lain.
“Ya, Bu. Saya Ajeng,” kata Ajeng.
"Apakah kamu sudah makan?" tanya Yunita.
“Ya, Bu, tapi masih lapar. Mungkin nanti jajan,” jawab Anggara.
“Jika Anda ingin membawanya pulang, itu tidak masalah. Sekarang sudah tanggal tua, simpan uangnya,” kata Yunita yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah.
Setelah menyapa, keempatnya segera turun.
"Saya tidak menyangka Pak Dylan begitu dekat dengan ibu Callista," kata Agita.
"Apakah Anda benar-benar tidak tahu bahwa Tuan Dylan telah mengenal Bu Callista begitu lama?" tanya Ajeng.
"Sungguh? Kurasa aku tidak mengetahuinya," kata Agita.
“Lebih baik daripada tidak tahu. Nanti saya turun tangan,” jawab Ajeng, lalu pergi meninggalkan Agita dan menoleh ke Callista.
Setelah keempat rekan Callista, giliran keduanya yang diperhatikan Yunita sebelumnya.
“Menantumu akan segera datang,” bisik Budi saat Mahawira naik ke atas panggung bersama Mahesa.
Yunita tersenyum melihat penampilan Mahawira lalu memeluk pria itu dengan erat.
“Bagaimana kabarmu, Nak? tanya Yunita.
Air mata Mahawira pun tak kuasa dibendung karena disuguhi hangat oleh Yunita.
"Maaf," kata Mahawira.
Yunita hanya mengusap punggung Mahawira dan berkata, “Jangan menangis seperti itu Mahawira lagi.
"Ibu sudah memaafkanmu, Nak," ujar Yunita.
Terakhir kali pertemuan mereka tepat saat ia hendak menjenguk Callista. Sejak saat itu Yunita tak pernah lagi bertemu dengan Mahawira.
"Kau sudah bertemu dengan anakmu?" Tanya Yunita.
Mahawira pun melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.
"Anakku?"
"Ibu yakin itu anakmu walau mungkin dalam masih ada keraguan Yunita yang terdengar lembut.
Budi yang berdiri di samping Yunita bahkan sampai sangkutan bahu Mahawira dengan tegas.
"Seorang pria tak akan membiarkan wanitanya menunggu lebih lama, bukan?" ujar Budi.
Mahawira menoleh ke arah belakang dan tepat di belakangnya, Callista berdiri sambil menggandeng tangan Grayson.
Tatapan matanya dengan Callista bahkan sampai bertemu.
"Dia anakmu. Kau harus ingat, satu satunya pria yang callista cintai kamu, Mahawira," ujar Yunita dan kemudian hanya tidur Mahawira.
Usai mengucapkan ucapan, Mahawira bergeser dan kemudian giliran Mahesa yang mengucapkan selamat pada Yunita.
Setelah memberikan selamat, kedua pria itu segera turun. Mahawira pun hendak melangkahkan kakinya ke arah Callista dan Grayson, tetapi langkah kakinya terhenti saat tiba-tiba saja ponselnya bergetar di dalam sakunya.
Tak hanya Mahawira saja, melainkan ponsel Mahesa juga bunyi.
"Papa masuk rumah sakit! Jantungnya kambuh!" pekik Mahesa saat melihat pesan yang masuk.
Mahawira dan Mahesa sontak saja langsung berlari keluar dari gedung pernikahan dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan pada pemilik acara.
Callista yang melihat itu hanya menggidikan kedua bahunya dan kembali membocorkan anaknya.
"Aku pikir dia akan menyapa anaknya disini," gumam callista yang sebenarnya sempat berharap namun harapannya langsung sirna saat melihat pria itu berlari ke arah lain dan meninggalkannya.