rumah Sakit swasta
Jakarta Selatan, Indonesia
Tempat dengan warna dominan putih, bau kuat antibiotik dan obat-obatan lain mengalir masuk dan langsung menyergap hidung kedua pria yang baru saja datang itu.
Dengan penampilannya yang rapi, orang-orang di rumah sakit mungkin mengira mereka bertanggung jawab atas keamanan. Namun siapa sangka jika kedua pria berwajah panik itu berlari ke ruang operasi menjadi pewaris Rasendriya Corporation.
Mahawira dan Mahesa tampak saling beradu menggunakan kaki panjang yang dibiarkan berjalan di setiap sudut rumah sakit. Hingga akhirnya dua pria jangkung tiba di depan ruang operasi.
Mata elang Mahawira langsung melihat seorang wanita duduk terisak di depan pintu ruang operasi. Suasana berbeda dan berbanding terbalik dengan area di depan rumah sakit yang dia lewati bersama Mahesa.
Mahawira dan Mahesa segera duduk di samping Tanisha dan memeluk erat ibu mereka.
"Ayah, ayahku-"
"Tenanglah, Ibu. Jangan terlalu khawatir. Bagian dalamnya akan baik-baik saja,” kata Mahesa sambil mengusap punggung Tanisha dengan lembut.
Beberapa waktu lalu, baik Mahawira maupun Mahesa mendapat kabar dari pengurus rumah tangga mereka bahwa Bara dirawat di rumah sakit.
Awalnya, Mahawira dan Mahesa bereaksi biasa saja. Pada akhirnya Tanisha yang memberitahunya bahwa Bara membutuhkan operasi darurat karena tambalan di hatinya telah hancur sehingga menempel di dinding jantungnya.
Operasi darurat dilakukan untuk menghilangkan tambalan yang rusak dan menggantinya dengan yang baru.
Sebagai orang tua, Bara tidak sesehat ketika dia masih muda. Dia memiliki penyakit jantung yang membuat jantungnya lemah. Jadi dokter juga memasang plester yang harus diperiksa sebulan sekali.
Di Amerika, Bara selalu dijaga dengan baik. Jadi Bara tidak pernah sakit. Pada akhirnya dia gagal dalam 2 ujian dan pada akhirnya tambalan hatinya patah karena dia tidak bisa menahan beban.
Jeritan Tanisha terdengar menyedihkan. Hal ini memungkinkan kedua anak tersebut secara tidak langsung memberdayakan wanita paruh baya tersebut.
1 jam...
jam 2...
jam 3...
6 jam...
Waktu terus berjalan. Matahari tak bersinar lagi. Sekarang bergantian dengan cahaya arus listrik yang menerangi ruangan.
Operasi jantung memang tidak mudah. Bahkan alat kecil itu ada di hati Bara. Dokter tidak bisa melakukannya dalam beberapa menit.
Akhirnya 8 jam berlalu...
Dua dokter muncul dari ruang operasi sambil melepas jilbab mereka. Kedua dokter itu langsung menghampiri Tanisha yang sudah tertidur di bahu Mahawira beberapa saat.
"Bu, ada dokter," bisik Mahawira, membangunkan Tanisha.
Bahkan, Tanisha yang telah setia menunggu suaminya, langsung terbangun ketika mendengar dokter yang merawat suaminya keluar dari ruang operasi setelah 8 jam berjuang untuk mengeluarkan sisa-sisa tambalan yang rusak dan menutup implannya. tambalan baru. .
“Selamat malam, Bu Tanisha,” sapa dokter itu.
"Selamat pagi Dok. Bagaimana kabar suami saya? Bolehkah saya memesan patch baru?" tanya Tanisyah.
Dokter menghela nafas dan berjalan terus, bermain dengan topi yang diambilnya dari tangannya.
“Sekarang kami berhasil menghilangkan puing-puing dari tambalan yang rusak. Beberapa masuk ke arteri, tapi untungnya kami bisa menghentikannya. Adapun penggantian tambalan, pengaturan yang harus disalahkan. Bahan di sini terbatas, jadi kami bisa.“Hanya memasang pengganti seadanya,” kata dokter bernama Daniel.
"Bagaimana dengan ayah, dok?" kata Mahesa.
Daniel menoleh ke Mahesa, "Untuk saat ini kamu bisa. Tapi yang terbaik adalah menggantinya dengan yang bagus dalam waktu dua minggu. Kebetulan saya punya rekan di Singapura yang mungkin tertarik dengan salah satunya di AS," kata Daniel.
"Apakah ada operasi lagi yang akan datang?" tanya Mahavira.
Dokter lain bernama Ryan berkata: "Ini sebenarnya agak berisiko.
"Mempertaruhkan?" tanya Mahesa.
"Ya. Pak Bara sudah tidak muda lagi, mengingat sudah 9 tahun terakhir ini hatinya ditambal, rasanya sangat sulit untuk mengatakan apakah dia baik-baik saja. Bahkan dengan kondisinya saat ini, saya juga tidak bisa menjamin, kata Ryan.
Tanisha langsung menangis, tetapi pada kenyataannya hal yang paling menyakitkan di dunia menjadi kenyataan.
“Dalam jangka pendek, kami akan mengembalikan Pak Bara dulu. Setelah itu kami akan mencoba menyepakati jadwal dengan pihak RS Singapura untuk menyiapkan patch. Kalau Pak Bara benar-benar tidak bisa ke Singapura, kami akan tanya rekan, kata Ryan.
Mahawira hanya mengangguk mengerti.
Akhirnya Daniel dan Ryan pun pamit undur diri. Beberapa saat kemudian, Bara yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri dikeluarkan dari ruang operasi menuju kamar inapnya.
* * * * *
Sudah 3 jam berlalu, namun bara tak kunjung sadar. Mesin monitor yang diletakkan di sampingnya sengaja digunakan untuk menyatukan kondisi Bara agar lebih spesifik lagi.
Mulai dari detak jantung, kadar oksigen, sampai napas terpantau dalam sebuah alat kotak yang terletak di atas meja tempat Bara masalah.
"Mama tidak mau pulang saja? Aku bisa menjaga Papa disini," ujar Mahawira saat melihat Tanisha yang sudah sembap dan bahkan sepertinya tak sanggup lagi untuk menitikkan menjaga air mata.
"Mama mau menunggu Papa sampai siuman," ujar Tanisha.
"Tapi Mama bisa sakit. Mama pulang saja-"
"Kau juga pulang Mahesa. Temani Mama. Biar aku yang jaga Papa," potong Mahawira cepat.
"tapi-"
"Tak ada tapi. Jika kamu memang peduli pada kesehatan Mama dan dirimu sendiri, pulang sekarang sebelum pintu utama Rumah Sakit ditutup. Kalian harus beristriahat. Besok kita bisa berjaga disini," ujar Mahawira.
Mahesa pun mengalah. Di satu sisi memang tengah kelelahan karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi bukan berarti Mahawira selama ini tak pernah punya pekerjaan berat.
Karena Tanisha memang lebih dekat dengan Mahesa, Mahawira pun berhasil memancing dan memberi perintah kepada Tanisha untuk pulang.
Sedangkan Mahawira, menjaga Bara yang tak sadarkan diri.
Tok! Tok! Tok!
Sebuah suara ketukan pintu menyadarkan Mahawira dari rasa kantuknya. Suasana luar biasa menjadi semakin hening dengan kepergian Tanisha dan Mahesa yang sudah lebih dulu pulang untuk beristirahat di atas permintaan Mahawira.
"Masuk," jawab Mahawira.
Pintu terbuka. mencari Ryan baru saja masuk dan berjalan ke arah Mahawira. Dokter muda dengan banyak pengalaman di bidang penyakit jantung dan patch itu langsung saja memberitahu Mahawira terkait kondisi Bara sekarang.
"Saya sudah coba menghubungi pihak Singapura tapi sepertinya kurang baik. Sekarang kita hanya perlu menunggu kapan akan siap," ujar Ryan.
"Kalau begitu minta langsung ke Amerika saja," balas Mahawira.
"Sudah kami kabari, Rumah Sakit yang biasa menangani Pak Bara sedang penuh."
"Kira kira berapa lama harus menunggu?"
"Kurang lebih 5 minggu."
"1 bulan lebih?!"
Ryan hanya memastikan, "Tak ada cara lain. Kondisi Pak Bara juga melemah. Bapak terus menemani Pak Bara," ujar Ryan kemudian akhirnya pergi dari sana setelah berpamitan dari Mahawira menyampaikan pesan yang ia bawa barusan.
Tubuh Bara yang sudah tua hanya terbaring di atas tempat tidur. Suara mesin pun mengiringi rasa sakit yang membebaninya.
Mahawira hanya bisa menghela napas sambil menatap matanya yang sangat berat.