Bara tampak berkedip terus menerus. Cobalah untuk mengatur pancaran cahaya yang melewati pupilnya.
Di sampingnya, anak pertamanya tampak tertidur sambil memegang buku administrasi bisnis. Perlahan Bara menepuk kepala Mahawira, berusaha membangunkan anak itu.
Bahkan, Mahawira segera bangun dan melihat Bara terbangun.
"Ayah bangun lebih awal?" tanya Mahawira dengan suara serak.
“Baru bangun,” jawab Bara pelan dengan suara yang terdengar samar namun Mahawira masih bisa mendengarnya.
Saat Mahawira hendak mengangkat kepalanya, tiba-tiba dia merasakan perasaan sesak dan tegang yang membuat tulang lehernya terbelah.
"Apakah kamu tidur seperti ini cukup lama?" tanya Barra.
“Aku tertidur, Ayah. Membaca buku sepertinya terlalu asik,” kata Mahawira.
"Ibu dan Mahesa?" tanya Bara, yang sepertinya sedang mencari 2 karakter keluarga lainnya, tapi mereka tidak ada di ruangan itu.
"Aku menyuruh Mahesa dan Ibu pulang karena aku takut dia sakit. Mungkin Mama dan Mahesa akan segera datang."
Mahawira bangkit dari posisi duduknya, lalu meregangkan seluruh tubuhnya dan membuka gorden jendela yang masih tertutup rapat.
Segera, sinar matahari pagi yang hangat menyinari kamar Bara.
"Jam berapa?" tanya Barra.
"Jam 7," jawab Mahawira sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Mahawira melangkah mundur ke arah Bara lalu membetulkan posisi selimut yang dikenakan Bara.
“Saya sarapan dulu, Pa,” kata Mahawira, lalu pergi ke arah lain dan mengambil sebagian dari sarapan yang sudah lama berada di meja.
Juga karena lelah dan tertidur dalam tidurnya, Mahawira tidak menyadari bahwa seseorang telah masuk dan menyiapkan sarapan untuk Bara dan untuknya.
Mahawira mendekati Bara dan kemudian membuka tutup makanan untuk Bara.
“Mahawira,” panggil Bara sambil menatap Mahawira yang seolah sibuk menyiapkan sarapannya.
Mahawira menjawab tetapi kepalanya tidak menoleh. Tangannya yang lain sibuk mengangkat tempat tidur Bara untuk menyimpan makanan agar dia tidak tersedak.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata Bara serius.
Seolah sangat mengenal Bara, Mahawira langsung menoleh ke arah Bara dan mengangkat alisnya.
“Jangan pikirkan perusahaannya dulu, Mahesa dan saya bisa mengelolanya. Serahkan saja itu kepada anak-anak Anda dan jangan terlalu khawatir. Sekarang fokus saja pada kesehatan ayah,” kata Mahawira.
“Saya tidak ingin membicarakannya. Juga, saya lelah berjuang dengan bisnis selama lebih dari 45 tahun. Sekarang giliran Anda untuk melanjutkan. ”
Mahawira berbalik: “Apa yang ingin kamu katakan? Mahesa itu magang? Aku sudah memberitahumu bahwa..."
“Callista,” kata Bara cepat, membuat Mahawira terdiam hanya dengan menyebut satu nama, membuat waktu seolah berhenti seketika.
"Apa itu?" Mahawira bertanya dengan suara yang lebih lemah dari sebelumnya.
"Boleh aku minta dompetmu?" tanya Barra.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Mahawira mengambil dompet Bara dan memberikannya kepada pria itu.
Bara rupanya membuka dompetnya dan mengeluarkan secarik kertas dengan foto di atasnya. Mahawira langsung melebarkan matanya saat melihat foto yang diperlihatkan Bara.
“Itu Callista dan Grayson. Apakah Anda meminta seseorang untuk mengikuti Anda? ' tanya Mahavira.
Bara tertawa. "Jadi namanya Grayson."
"Kamu masih belum tahu?"
"Belum. Menemukan putramu sudah cukup sulit."
“Jadi apa yang harus dilakukan Grayson?
"Apakah Ayah terlihat seperti kakek yang mengerikan ketika dia harus memisahkan ibu dan anak?"
“Kurasa begitu,” jawab Mahawira sambil menyuapi bubur Bara.
Dia hanya mendengus kesal.
“Saya masih ingat Ayah mengharapkan cucunya dan bersikeras agar putra saya menjadi penerus dan pewaris perusahaan,” kata Mahawira, lalu memberi makan Bara semangkuk bubur lagi.
"Awalnya memang seperti itu, tapi setelah menerima laporan bahwa Grayson tumbuh dengan baik, saya tidak bisa menerimanya."
Bara tersadar sejenak, lalu menatap Mahawira, "Jadi kamu sudah tahu sebanyak itu?"
"Berapa harganya?"
"Apakah itu Grayson, putramu?"
“Saya tidak tahu dan masih tidak tahu. Tapi sebagai ayahnya, saya merasa sangat aman.”
"Kalau begitu, putar saja ke Callista."
Mahawira, awalnya bermaksud memberi Bara sesendok bubur, lalu memasukkan kembali sendok itu ke mangkuk buburnya.
"Mengapa?" tanya Barra.
“Kalau saja semudah itu,” jawab Mahawira.
"Jadi kenapa? Juga, Callista belum menikah lagi.
"Ayah," teriak Mahavira.
“Dengan banyak kesalahan yang saya lakukan, saya tidak bisa membaliknya itu. Banyak dosa yang harus kutebus. Lagi pula jika memang kehadiran Grayson bisa membuat kami kembali bersama, kami pasti kembali," ujar Mahawira dengan nada penyesalan di dalamnya.
"Kamu tahu Grayson dari Callista langsung?"
"Tidak. Kami bertemu tanpa sengaja di apotek dan semuanya terjadi begitu saja."
Bara hanya menganggukan kepala.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu temui orang ini. Dia tahu banyak tentang masa lalu kalian. Siapa tahu bisa menjadi kunci utama dan menjadi penyesalan terberatmu sekarang," ujar Bara sembari menyerahkan secarik kertas yang sudahari tadi
"Papa menyalahkanku?" Tanya Mahawira.
"Bukankah ini salahmu? Menceraikan istrimu tanpa bertanya dan meminta alasan."
Mahawira terdiam seketika. dosa langsung tanggung jawab Mahawira.
"Jika memungkinkan, tolong ajak Callista dan Grayson kemari. Aku ingin bertemu dengan mereka. Mama juga sepertinya ingin bertemu dengan Callista," ujar Bara.
"Aku akan dihargai," jawab Mahawira kemudian masukkan secarik kertas itu ke dalam kantonnya.
* * * * *
Usai menjaga Bara dan segera didukung oleh Tanisha, Mahawira pun segera menghubungi pria bernama Darius yang sudah hidup selama puluhan tahun untuk menjadi tangan kanan Bara.
Sebenarnya Mahawira sudah tahu banyak tentang Darius. Pria yang pendiam dan informasinya selalu akurat.
Mahawira tiba di sebuah kafe lebih dulu. Memesan segelas teh melati dan cemilan. Beberapa saat kemudian pintu masuk terbuka dan menghadirkan sosok Darius yang sudah diketahui oleh Mahawira sejak lama.
Dengan senyuman kakunya, Darius berjalan ke arah Mahawira dan menggenggam tangan Mahawira sebagai sapaannya.
"Darius."
"Mahawira."
ujar kedua pria itu sembari memperkenalkan diri.
"Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari Pak Bara," ujar Darius.
"Saya juga sudah mendengar tentang anda tapi bukan dari Papa. Saya tahu dengan sendirinya."
Darius tampak tersenyum menahan tawa.
"Jadi ada perlu apa anda ingin menemui saya?" Tanya Darius.
"Saya tahu kontak anda dari Papa. realisasi anda sudah tahu betul apa tujuan saya."
"Tentang Callista dan anak kandung anda?" ujar Darius.
Mahawira menelan ludah saat Darius mengatakan anak kandung.
"Ya," jawab Mahawira singkat.
* * * * *
Callista memasuki area VIP stasioner Bara bersama Grayson. Putranya melihat dan melihat sekeliling karena dia baru pertama kali datang ke tempat ini.
Setelah Tanisha menghubunginya tadi malam dan memberitahunya bahwa Bara dalam kondisi kritis, Callista langsung menyetujui permintaan Bara untuk menemui cucunya tanpa berpikir panjang.
Dan inilah dua di antaranya. Di kamar rumah sakit kelas atas dengan fasilitas paling lengkap.
"Bang, tempat apa ini? Siapa yang akan kita temui disini?” tanya Grayson sambil meremas tangan Callista.
Callista melirik Grayson lalu berjongkok sebelum memasuki ruangan tempat Bara dirawat.
"Sampai jumpa dengan kakekmu," kata Callista.
"Kakek dari pihak ayah?" Greyson bertanya balik.
"Ya, Kakek. Kamu ingin melihat Kakek, bukan?"
"Apa itu Kakek Budi?"
"Tidak sayang, ini Kakek Bara."
Grayson merasa aneh dan hanya mengangguk, tidak mengetahui apakah Callista yang dimaksud Bara.
Sejauh ini, Callista tidak pernah mengungkapkan keberadaan keluarga mantan suaminya itu. Dia bahkan tidak mencoba untuk memperkenalkan citra ayah anak laki-laki itu.
Namun semuanya berubah saat Tanisha memberitahunya bahwa Grayson masih anak Mahawira. Terlepas dari apakah Mahawira percaya atau tidak bahwa Grayson adalah putra kandungnya, kenyataannya putranya tidak akan pernah melarikan diri dan menghilang.
Yunita sendiri pernah meminta Callista untuk membawa anaknya ke keluarga besar Mahawira, namun Callista menolak, bertindak egois.
"Bu," panggil Grayson atas nama Bara Rasendriya sesaat sebelum memasuki ruang VIP.
"Ya, sayang?"
"Apakah Kakek Bara jahat?"
"Tidak Bu, Kakek Bara sangat baik.
Akhirnya, perasaan campur aduk Grayson mulai membaik.
Callista perlahan mendorong pintu hingga terbuka dan membiarkan putranya masuk terlebih dahulu. Begitu dia masuk, dia bisa melihat mata tertuju padanya.
"Keponakanku ada di sini!" teriak Tanisha yang langsung tersenyum senang atas kedatangan Grayson dan Callista yang baru saja melewati pintu masuk kamar rumah sakit Bara.
Callista meraih tangan Grayson dan berjalan menuju Tanisha.
"Halo Bu," sapa Callista.
"Siang..Nenek?" Grayson juga berbicara dan mengikuti Callista, yang menyambut Tanisha dengan hangat.
"Bagaimana perjalanan ke sini? Apakah ada kemacetan lalu lintas?" tanya Tanisyah.
"Tidak terlalu ketat."
Callista kembali ke tempat tidur untuk menemukan Bara tertidur.
“Ayah hanya tidur setelah dia minum obat. Dalam tiga hari terakhir kondisinya memburuk dan tidak ada perbaikan," kata Tanisha.
Tiba-tiba, mata Bara terbuka dan tubuhnya berputar. Tiba-tiba, Tanisha langsung berlari ke arah suaminya.
"Ayah sudah bangun? Padahal dia baru saja tertidur,” kata Tanisha.
Bara menoleh ke Callista. "Keponakanku..." ucap Bara lemah.
Callista juga mendesak anaknya untuk mendekati Bara, yang terbaring tak berdaya di tempat tidurnya.
"Halo, kakek, sayang," sapa Callista lembut.
Grayson berjalan ke arah Bara dan meraih tangan Bara yang keriput dengan tangan kecilnya.
"Dia sangat tampan. Mirip Mahawira waktu masih muda Ma,” kata Bara saat melihat Grayson menatapnya.
"Benar," Tanisha membenarkan kata-kata suaminya.
Karena sepertinya gen Mahawira sangat kuat dan wajah Grayson lebih mirip Mahawira daripada Callista.
"Ada apa dengan kakek?" tanya Greyson.
"Kakek baru bangun, akan segera sembuh.. batuk!" Bara menjawab dan langsung terbatuk.
“Jangan banyak bicara, Pa,” kata Tanisha menenangkan suaminya.
Barbara hanya mengangguk.
Di sisi lain, Callista tampak memutar matanya. Seolah mengerti, Tanisha berjalan mendekati Callista.
“Mahawira dan Mahesa tidak datang ke sini. Mereka ada pertemuan penting di Padang," kata Tanisha.
Callista menghela napas lega saat mendengar itu.
"Ibu berjanji, Mahawira tidak akan melihat anaknya," kata Tanisha lagi.
Entah sampai kapan Callista akan menyembunyikan Grayson dari Mahawira dan tidak membiarkan lelaki itu menyentuh bayinya.
"Callista," panggil Bara pelan.
Callista pergi ke Bara dan menatapnya. Mata Bara berubah seolah dia ingin berbicara dengannya dengan serius. Pada akhirnya, Tanisha mengundang Grayson untuk menjauh dari Bara dan Callista dan membiarkan keduanya berbicara satu sama lain.
"Ayah ingin menanyakan sesuatu padamu. Kedengarannya tidak etis, tapi Ayah harus melakukan ini," kata Bara dengan suara serak.
Melihat wajah Bara yang pucat, tubuhnya yang lemas dan bahkan tidak bisa berbicara, Callista merasa kasihan padanya dan akhirnya hanya mengangguk.
"Bisakah kamu berbaikan dengan Mahawira?" tanya Barra.
Tiba-tiba mata Callista melebar. "Ayah."
"Maaf, tapi jika itu permintaan taan papa yang terakhir, hanya ini saja yang papa minta, Callista."
"Pa, tolong jangan berkata seperti itu. Papa pasti bisa sembuh."
"Mahawira," ujar Bara mengantung.
"Mahawira masih mencintaimu. Dia menyesali perbuatannya. Tolong Maafkan dia," pinta Bara lagi.
"Pa."
"Grayson pasti ingin bertemu dengan Ayahnya kan? Tak mungkin seorang anak tak memiliki rasa penasaran ingin tahu siapa Ayahnya."
"Grayson tidak punya Ayah, itu yang Callista katakan pada Grayson," balas Callista.
Meski berusaha menolak, Callista tidak memungkiri jika dirinya merasa iba melihat kondisi Bara yang tampak nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Grayson adalah anak kandung Mahawira," ujar Bara.
"Tidak-"
"Kamu tidak bisa menolak itu, Callista. Meski kamu berusaha memisahkan mereka dan menolak kenyataan, tapi faktanya darah Mahawira mengalir dalam tubuh Grayson," ujar Bara.
Callista membocorkan Bara. Bara pun tampak batuk beberapa kali dan membuat wanita itu ingin membawakan air minum kepada pria itu.
Tapi dengan cepat Bara menolak dan meminta Callista untuk tetap mendengarkan permintaannya.
"Kondisi Papa sudah buruk. Kamu mungkin sudah mendengar juga dari Mama jika operasi patch berhasil tapi tubuh Papa sudah menolak. perkiraan usia Papa tidak akan lama lagi."
Bara meraih tangan Callista dan menatap, "Jika permintaan papa terlalu berat untuk kalian bisa rujuk, setidaknya memperkenalkan Grayson secara resmi kepada Mahawira bahwa dia adalah anaknya. Anak kagung dan pewaris melihat dari keluarga Rasendriya."
Callista menghela napasnya dan menitikan udara matanya tanpa sadar.
"Callista akan terkenal," ujar Callista.
"Terima kasih banyak," jawab Bara kemudian tersenyum.
"Hiduplah dengan baik. Jangan sampai ada penyesalan yang menyesali waktu. Waktu itu sangat berharga, melebihi apapun," ujar Bara yang kian melemah.
Tangan Bara perlahan melemah dan akhirnya terlepas dari genggamannya dengan tangan Callista. Mata Bara perlahan terpejam dan pria itu tampak menarik napas panjang.
Tiba tiba bilang...
Tidak!
Suara mesin monitor detak jantung yang terletak di sisi kiri Bara bunyi dengan nyaring. Tanisha yang semula berbicara dengan Grayson sontak langsung berdiri dan berlari ke arah Bara.
Air mata mengalir deras pada pipi Tanisha. Berulang kali tanisha menekan tombol pemanggil dokter.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan beberapa dokter serta perawat datang dengan alat bantu pemicu detak jantung.
Callista memeluk Grayson yang membocorkan ke arah Bara. Wanita itu juga menangis sambil memeluk anaknya.
Meski baru kenal sewaktu-waktu, Grayson yang baru berusia 5 tahun juga tampak menitikkan air mata. Sampai akhirnya seluruh tim dokter dan perawat tidak dapat memicu detak jantung Bara.
"Pak Bara Rasendriya, telah meninggal," ujar salah seorang dokter Tanisha langsung menangis histeris dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Callista langsung menghampiri Tanisha, begitu juga dengan perawat lain yang langsung menopang tubuh Tanisha. Kedua wanita itu sama menangisi kepergian Bara yang sangat menarik.
permintaan barusan benar-benar sesuai permintaan Bara terakhir. Dia sudah mengetahui seluruh teka-teki keberadaan cucunya yang sempat ditolak karena bukan anak kagung dari Mahawira.
Kini, semuanya telah terungkap. Bara juga telah memberikan informasi yang cukup dan jelas pada Mahawira melalui anaknya.
Tinggal Mahawira yang menemani Callista dan mewujudkan nahginan terakhir Bara agar anak dan menantunya bisa kembali rujuk sehingga Grayson bisa menikmati hidupnya dengan layak dan ditemani oleh kedua orang tua kajungnya.