Suasana biru bergerak menyelimuti kediaman Keluarga Besar Rasendriya. Puluhan bunga tampak memenuhi pekarangan sebagai bentuk belasungkawa untuk kerabat dan teman dekat.
Beberapa jam setelah berita meninggalnya pendiri Grup Rasendriya, semua perusahaan langsung melamar untuk mengirimkan ucapan selamat dan karangan bunga. Pada akhirnya, halaman dipenuhi dengan karangan bunga.
Tanisha, menyaksikan kematian suaminya tepat di depan matanya, tidak bisa berhenti menangis. Mahesa dan Mahawira bahkan mengkhawatirkan kesehatan Tanisha.
Di sisi lain, Callista yang saat ini berstatus mantan istri Mahawira justru bersedia membantu pemakaman terakhir Bara tanpa diminta. Callista memahami kesedihan Tanisha saat kehilangan seseorang yang dicintainya.
Tak hanya Callista, Yunita, Budi dan Eric yang datang ke acara ini. Yunita dan Budi bahkan rela pulang dari bulan madu mereka di Amerika dan pulang untuk membawa Bara ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Grayson berlari ke arah ibunya dan menarik baju Callista sampai ibunya kembali.
"Ada apa, Nak?" tanya Callista.
“Bisakah kamu tidur dulu, Anjing? Grayson lelah,” kata Grayson sambil memasang wajah menyedihkan.
Tanpa mereka sadari, Mahawira telah berdiri dan mengawasi mereka selama ini. Mahawira mendatangi Callista dan menyapa Callista dan Grayson.
"Tidur di kamarku," kata Mahawira.
Callista juga tersentak, begitu pula Grayson yang memutar bola matanya saat mengenali Mahawira.
"OH!" seru Greyson.
Tapi Mahawira sepertinya hanya ingin rahasia itu diketahui olehnya dan Grayson, jadi pria itu memberi isyarat dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya agar Grayson berpura-pura tidak mengenalnya.
"Tidak perlu. Di kamar tamu," kata Callista.
“Ibumu ada di kamar tamu. Masuk saja ke kamar saya,” kata Mahawira.
Callista lupa bahwa orang tuanya juga sudah cukup tua dan membutuhkan tempat untuk beristirahat.
"Oke. Aku akan membawa Grayson ke sana setelah aku memberitahunya tentang minumannya," kata Callista sambil melirik ke gelas air mineral yang disiapkan untuk para tamu yang menemani Bara.
Mahawira segera mengambil nampan minuman dan membawanya, “Biar aku saja yang melakukannya. Grayson lelah,” kata Mahawira, langsung menerima, mengabaikan reaksi Callista.
Akhirnya Callista mengalah dan membawa anaknya ke kamar Mahawira.
Rumah besar, masih sama seperti pertama kali Callista datang ke sini. Callista masih ingat seberapa besar rumah itu sampai dia berulang kali salah arah dan lupa.
Namun setelah beberapa kali datang setelah menikah dengan Mahawira, Callista akhirnya ingat seluruh kemapanan. Interior rumah tidak berubah, hanya isinya yang berubah. Callista, bukan lagi bagian dari keluarga Rasendriya dan Bara, telah pergi untuk selamanya.
Callista dan Grayson naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Mahawira. Matanya langsung terbelalak saat melihat foto pernikahannya dengan Callista, masih terpampang jelas di atas meja.
Callista buru-buru menutup foto itu, tidak membiarkan anaknya melihat. Seolah tidak peduli, Grayson langsung naik ke tempat tidur.
"Bu, bolehkah aku tidur di sini?" Greyson bertanya.
“Tentu, sayang,” kata Callista, lalu membuka selimut dan menidurkan bayinya.
Grayson, yang lelah dan sering tidur siang, perlahan menutup matanya. Napasnya melambat dan perlahan-lahan menjadi tenang.
Setelah memastikan anaknya sudah tidur, Callista meninggalkan tempat Grayson. Callista melihat sekeliling, “Kamar ini masih sama. Bahkan di mana boneka itu masih ada,” gumam Callista saat melihat boneka beruang putih tergeletak di sudut ruangan.
Callista berjalan kembali ke pintu dan tepat ketika dia akan menutup pintu kamar, dia tiba-tiba menabrak bahunya dan meminta seseorang untuk melihatnya.
“Maaf,” kata Callista, namun wanita itu langsung terdiam saat melihat siapa yang menyenggolnya.
Setiap. Wanita berbaju hitam itu menatap Callista.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ayu yang sepertinya sudah tidak menghormati Callista lagi.
“Saya menidurkan anak saya di rumah. Apa yang kamu lakukan di sini Bukankah seharusnya tamu berada di lantai pertama? Callista menjawab sama kerasnya.
Ayu tertawa: “Tamu? Padahal, saya sudah dekat dengan Pak Mahawira sejak lama. Mengapa saya masih harus menjadi tamu?
"Maaf. Kalau mau ganti baju, make up, dan istirahat silahkan pakai kamar lain. Karena kamar ini kamar Mahawira dan tidak semua orang boleh masuk."
"Siapa saya-"
"Ayu," kata Mahawira saat melihat Ayu y ang sedang beradu argument dengan Callista di depan kamarnya.
Kedua wanita itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat Mahawira yang berjalan ke arah mereka.
"Ada apa?" Tanya Mahawira.
"Saya mau membetulkan pakaian saya, Pak," ujar Ayu.
Ramah dibela oleh Mahawira, namun justru yang wanita itu dapatkan adalah sebaliknya.
"Kenapa tidak ke toilet saja?" ujar Mahawira.
"Toilet cukup penuh jadi saya pikir bisa ke kamar mandi di lantai 2," jawab Ayu.
Mahawira menoleh dan menunjuk kamar lainnya, "Masuk ke kamar Mahesa saja. Anakku sedang tidur di dalam," ujar Mahawira.
Callista langsung menoleh saat mendengar ucapan Mahawira.
"Tapi, Pak. Hanya sebentar saja. Saya juga tidak akan mengganggu-"
"Di kamar lain saja. Saya tidak suka jika ada orang lain yang menggunakan kamar saya," balas Mahawira.
Akhirnya Ayu mengalah. Wanita itu justru pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Sedangkan kini Callista membocorkan ke arahnya dengan cinta dingin.
"Anakku?" gumam Callista.
Mahawira menoleh ke arah Callista sampai pandangan mereka bertemu.
"Maaf. Aku tidak bermaksud-"
"Dia anakku. Jangan coba coba mengambilnya. Kau juga tak pernah menganggapnya sebagai anakmu bukan?" ujar Callista.
Baru saja callista hendak meninggalkan Mahawira, tiba-tiba langkah kaki terhenti akibat lengannya ditahan oleh Mahawira. Mata mereka saling bertatapan.
"Apa lagi?" Tanya Callista.
Sorot mata Mahawira berubah. matanya menjadi kaca saat pria itu menonton dengan ucapan Darius. Pria yang ia temui di saat Bara menghembuskan napas terakhirnya.
meminta Bara meminta Darius mencari tahu tentang Callista dan Grayson. Bahkan Darius juga melakukan uji kromosom atau DNA test pada Mahawira dan juga Grayson. Hasilnya menunjukan jika Grayson adalah anak kandung Callista.
Di sisi lainnya, Darius memaparkan orang yang pernah disewa oleh Mahawira untuk mengawasi Callista adalah teman Ayu. Orang itu sengaja memanipulasi bukti perselingkuhan dan menyulut api kecemburuan Mahawira.
Sampai akhirnya Mahawira mempercayai semua tipu muslihat Ayu dan membuat buta hati sampai menceraikan Callista.
"Halo? Jika tak ada yang mau mencari aku mau turun ke bawah karena harus di bawah," ujar Callista.
Seolah tersadar, Mahawira pun melepaskan tangannya yang memegang lengan Callista kemudian masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Callista tanpa meninggalkan kata pun.
Callista yang terheran hanya menggidikan bahunya kemudian pergi ke arah lantai 1. Sambil melangkahkan kaki Callista mulai melihat ekspresi wajah Mahawira yang mengirim saat melihat bahkan Mahawira terdiam beberapa saat.
"Apa dia masih berpikir Grayson bukan anaknya?" gumam Callista di dalam hati.