Menikmati udara di siang hari adalah hal yang paling nikmati, apalagi untuk tidur. Ellie masih sibuk dengan mata kuliah hari ini, ditambah lagi dirinya terus saja diganggu oleh orang-orang yang tidak jelas, Ellie menyandarkan tubuhnya di kursi menatap lapangan yang begitu luas.
"Nih." Seseorang menyodorkan air putih mineral dingin kepada Ellie.
Ellie mendongak. "Thanks," ujarnya lalu mengambil air botol tersebut.
"Hem, sorry soal tadi."
"Santai aja, aku udah lupa juga," ujar Ellie.
"Untuk beberapa hari, aku boleh minta bantuan kamu? Buat kasih tau aku tentang kampus ini?" tanya Eric lalu meneguk airnya.
"Aku? Kenapa enggak yang lain aja coba? Kan banyak tuh yang naksir sama kamu. Kenapa harus aku," ujar Ellie.
"Karena cuman kamu yang tepat," ujar Eric.
"Sama yang lain aja ya, soalnya aku sibuk." Ellie membereskan barang-barangnya dan berniat untuk pergi.
Baru setengah langkah, tangannya ditahan oleh Eric. "Please? Aku bantuin balik deh, soalnya cuman kamu yang aku kenal di sini," ujarnya.
Ellie memutar bola matanya malas, ternyata tak sesuai dengan ekspektasinya Eric yang tampan, tinggi, putih, dan terlihat cool ini ternyata bisa memasang wajah yang seperti itu. Dan memohon-mohon kepada Ellie untuk dibantuin.
Ellie nampak berpikir. "Oh aku tau," ujarnya lalu membisikkan sesuatu kepada Eric.
"Gimana?" tanya Ellie.
"Oke setuju." Mereka berdua mengaitkan kedua tangannya mereka tanda deal.
Mereka berdua sekarang berada di sekitar kampus, Ellie mulai menjelaskan beberapa hal tentang kampus ini mulai dari ruangan, jalan, dan lain-lain. Eric yang tak berfokus pada omongan Ellie, melainkan hanya fokus pada wajah Ellie yang begitu cerah dan cantik tentunya. Eric bahkan terpanah, seketika hati kecilnya merasa yakin, kalau sebenarnya Ellie adalah orang yang benar-benar dia cari.
"Hem, aku tau aku cantik. Tapi ngerti enggak aku ngomong apa tadi?" tanya Ellie.
Eric yang tak bergeming oleh pertanyaan Ellie dan masih fokus menatap Ellie. Ellie menghela napasnya, dan menepuk-nepuk lengan Eric. "Eric, are you okay?"
Eric sadar akan lamunannya. "Ya, aku ngerti. Makasih loh," ujarnya lalu menatap ke arah sekitar.
"Heem, terus sekarang? Kamu mau ngapain? Ini udah sore, dan Kris juga udah pulang. Dan kampus ini udah lumayan sepi," ujar Ellie.
"Iya sekarang pulang, aku masih ada barang di kelas. Kamu duluan aja," ujar Eric.
Ellie mengangguk. Dia berjalan meninggalkan Eric dengan tas yang dia pegang, rasanya berat jika dia terus menggendongnya. Tepat saat di samping ruangan kosong, Ellie ditarik oleh seseorang.
"HMPH!!" Ellie menggeleng-gelengkan kepalanya, dirinya sekarang tak bisa berbicara—dikarenakan mulutnya yang tertutup oleh kain.
Tangannya yang dicekat oleh seseorang lelaki. "Hem, gadis sombong. Kalau secara halus enggak mempan, baiknya pakai cara kasar ya?" tanyanya lalu membuka kain yang menutup mulut Ellie.
"b******n!" umpat Ellie saat lelaki tersebut ingin menyentuh dirinya.
"Jangan sentuh aku!" geram Ellie mencoba melepaskan diri dari cekatan lelaki tersebut. Dirinya tak bisa bergerak, karena lelaki ini tak sendiri melainkan dua orang.
"TOL—!" Mulut Ellie kembali ditutup, kali ini bukan dengan kain melainkan dengan tangan lelaki tersebut.
"Kita cuman mau baik-baik doang kok, cuman nyentuh dikit doang? Enggak apa-apa kan? Lagian kamu enggak punya kekasih." Lelaki tersebut mengelus pelan pipi milik Ellie.
Ellie menendang kaki lelaki tersebut. Dan menggelengkan kepalanya agar tangan lelaki yang satunya bisa lepas dari mulutnya. "Sialan kamu, Rean! Fitran!"
Rean langsung berdiri dan mengambil kedua tangan Ellie. Tangannya mencoba membuka baju milik Ellie, namun belum sempat ....
Brakh ...
Satu pukulan dari Eric membuat Reano terhempas ke lantai. Fitran yang tak tinggal diam langsung menyerang Eric dengan mengambil jurus pukulannya, namun Eric dengan cepat mengelak dan kembali membalas pukulan tersebut, hingga dua kali membuat sudut bibir Fitran berdarah.
"Sialan lo pada!" Eric memukul wajah Reano.
"Udah Eric," ujar Ellie dia tak tahan melihat aksi pukul memukul itu apalagi melihat sudut bibir Eric juga terluka.
"Pergi lo semua!" bentak Eric. Reano dan Fitran pergi meninggalkan ruangan tersebut. Eric menghapus darah yang ada di sudut bibirnya dengan santai.
"Ish, itu berdarah jangan digituin. Sini." Ellie menyuruh Eric untuk duduk. Ellie mengambil sapu tangan di tasnya.
Ellie membersihkan luka di wajah Eric. Eric terpanah melihat wajah Ellie yang begitu dekat dengan dirinya, gadis yang begitu cantik. "Jangan liatin aku kayak gitu," ujar Ellie lalu menekan luka milik Eric hingga sang empu meringis.
"Auu."
"Makanya, tapi aku mau bilang terimakasih. Kalau kamu enggak datang ...."
"Sstt!" Eric memasang jari telunjuknya di depan bibir mungil milik Ellie membuatnya terpaku, jantungnya berdebar begitu cepat.
"Jangan ngomong gitu, kan aku datang tadi. Aku enggak bakal biarin orang lain nyentuh kamu, selain aku nanti," ujarnya.
Ellie memukul pelan lengan milik Eric, di saat-saat seperti ini lelaki itu malah gombal tidak jelas. Tapi, entah kenapa jantung Ellie menjadi tak karuan seperti ini, dia menggeleng pelan. Dia dan Eric baru berjumpa dua hari ini. Bahkan Kris yang sudah lama dengannya tak pernah seperti ini.
Ellie membantu Eric berdiri. "Aku bisa kok," ujarnya.
Ellie mengangguk dan mengambil tasnya, mereka berdua berjalan beriringan menuju motor milik Eric. Eric memakai helmnya dan memerintahkan Ellie untuk naik ke job belakang. Ellie dengan sedikit rasa ragu lalu naik ke atas motor Eric.
"Emang kamu tau rumah aku?" tanya Ellie melihat Eric yang dengan santainya membelah jalanan seolah tak memikirkan Ellie yang berada di belakangnya.
"Enggak."
"Lah loh, terus ini mau ke mana?" tanya Ellie.
"Ke pelaminan boleh enggak?" tanya Eric.
Ellie yang mendengar itu langsung mencubit perut milik Eric membuat sang empu sedikit meringis sekaligus terkekeh. "Aku tau kok, isi tas kamu aja aku tau," ujar Eric.
"Emang iya? Tau darimana? Apa coba isi tas aku?" tanya Ellie.
"Tau dari hati kamu, dan isi tas kamu pasti buku, laptop, sapu tangan dan lain-lain," ujar Eric.
"Sekali lagi bercanda aku cubit keras loh," ancam Ellie.
Gombalan dari Eric cukup membuat Ellie tersenyum dan menaikkan moodnya drastis apalagi mengingat kejadian yang tadi, sungguh kejadian yang sangat kotor. Motor Eric berhenti di depan rumah Ellie.
Ellie turun. "Makasih ya," ujarnya.
"Iya, besok aku jemput enggak ada penolakan." Eric pergi meninggalkan pekarangan rumah Ellie tanpa menunggu jawaban dari gadis tersebut.
Ellie tersenyum. "Tentu enggak akan nolak," gumamnya lalu masuk ke dalam rumah.
Mood-nya hari ini sangat baik, beberapa candaan dari Eric membuatnya merasa nyaman walau mereka baru bertemu 2 hari saja. Eric sudah bisa mengambil perhatian dari Ellie. Ellie disambut dengan tatapan horor oleh ibunya.
"Kamu kenapa pulangnya telat? Handphone mati, terus yang antar kamu tadi siapa?" Ellie menghela napasnya pelan, sikap posesif Mamanya kembali lagi.
"Aku tadi bantuin temen aku, dan tadi yang antar dia teman yang aku bantuin. Maaf enggak izin, Ma. Tadi handphone Ellie lowbat," ujarnya memelas.
Laura menarik napasnya dan membuangnya pelan. "Yasudah, kamu mandi terus makan. Besok-besok kalau ada apa-apa kasih kabar, biar orang tua enggak khawatir," ujar Laura.
"Iya, Ma." Ellie naik ke atas kamarnya. Dia masuk dan menutup pintu kamarnya menyimpan tasnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan nikmat.
"Eric, satu-satunya orang yang bisa anterin aku pulang tanpa penolakan selain dari Kris."
"Ah! Hari yang baik!" ujarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
***