“Semua ini karena kau! Tidak berguna menjadi anak! Keluar dari sini!” bentak Alfred
“Aku? Memangnya apa salahku? Semua ini karena kamu! Kamu yang sudah merenggut harta ibuku, kamu sendiri yang berulah hutang sana-sini!” teriak Aron lalu berdiri membalas tatapan Alfred ayah tirinya.
Sejak empat tahun yang lalu ayah kandungnya meninggal dan ibunya memilih menikah lagi dengan bos perusahaan, namun sayangnya semua hanya manis di awal, ayah tirinya seperti benalu di kehidupan mereka, hutang dimana-mana, usahanya mengalami penurunan, belum lagi seringkali Aron melihat ayah tirinya berusaha mencoba membunuh ibunya dan melakukan kekerasan. Dia sangat geram, ingin rasanya keluar dari rumah yang ia huni namun ibunya selalu menentangnya dan mencegahnya untuk tetap disisinya. Aron tak habis pikir, cinta ibunya kepada Alfred jauh lebih besar hingga membutakan mata dan hatinya, jutaan kali ibunya disakiti, ibunya makin setia kepada Alfred. Aron berulang kali berusaha membuka matanya, memang mungkin bukan hal yang mudah bagi ibunya untuk melepas Alfred, yang ibunya butuhkan adalah teman hidup baginya, meski Alfred menyakitinya, ia tak peduli lagi, bahkan jika dia diberi pilihan, lebih memilih Alfred daripada harus hidup berdua saja dengan anaknya, Aron.
“Cukup, kalian berdua kenapa selalu bertengkar? Ini aku berikan sertifikat rumah untuk menebus hutangmu sayang, apalagi yang harus kamu bingungkan?” ucap ibu Aron mendekati suaminya, memeluknya untuk berusaha meredam emosi dan memberikan sertifikat rumah pemberian mantan suaminya.
Alfred tersenyum puas, ini yang dia inginkan, mengeruk seluruh harta Tifani, lalu membuangnya, membuatnya sengsara seperti saat dulu Tifani lebih menikahi Adam daripada dengannya. Perjodohan Adam dan Tifani memang tidak bisa Tifani hindari, dia rela menikah dengan Adam karena tak ada pilihan lagi, orang tuanya tidak pernah menyetujui dirinya bersama Alfred yang hanya lelaki biasa. Sakit hati itu masih membekas dan melekat di pikiran Alfred, bukannya bahagia kini memiliki Tifani, justru Alfred ingin menyiksanya, memberikan pelajaran kepada Tifani betapa sakitnya dirinya ditinggal menikah dengan orang lain.
“Apa yang ibu lakukan? Itu rumah pemberian ayah! Lalu setelah ini sertifikat apa lagi yang mau ibu berikan? Jika semua ibu lakukan hanya demi dia sama saja ibu seperti kerbau yang dicucuk!” teriak Aron, dia tidak pernah terima ibunya yang selalu mengalah karena Alfred
“KELUAR KAMU DARI RUMAH INI!” Alfred bangkit membentak Aron, dia tidak suka ucapan anak tirinya.
Aron menatap ibunya, meminta pembelaan atas dirinya, namun semua sia-sia, ibunya hanya menatapnya nanar, ikut kecewa atas ucapan Aron, tanpa basa-basi Aron keluar dari rumah dan mengendarai motor Harleynya. Ibunya ikut keluar, ingin rasanya mencegah putra semata wayangnya untuk tetap di rumah ini, tapi Alfred menarik tangannya, mencegah istrinya untuk menemui anaknya. Aron masih terdiam memandang rumahnya dari jauh, percuma, ibunya pun tidak mengejarnya. Sudah tidak ada harapan lagi untuknya kembali ke rumah itu. Hanya serpihan kenangan dan luka yang ada disana. Aron tak lagi menyetir melihat apa yang didepannya, dia menembus kekesalannya dan terus menyetir dengan kecepatan penuh, deru motornya semakin keras. Jalanan sepi, waktu menunjukkan pukul 1 malam. Matanya mulai lelah dan mengantuk, tanpa Aron sadari, truk besar datang dari arah berlawanan dan menghantam dengan keras motor Aron. Harley kesayangannya remuk, darah bercucuran keluar dari kepala Aron, dia tidak bisa bangkit dan menutup matanya
***
“Sedot darahnya cepat!”
“Aduh sepertinya ini akan mengalami gagal jantung,”
“Tidak, kita pasti bisa menghidupkan dia, ayo segera selesaikan ini!”
“Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain,”
“Tidak, jangan dok, itu ilegal, dia bisa saja mati seperti objek lainnya!”
“Bagaimana lagi? Ini satu-satunya cara, dibiarkan pun dia tetap mati.”
“Dok, tapi..”
Belum selesai suster itu mengatakan kepada dokter Alvaro, tapi dokter itu telah menyuntikkan cairan kepada Aron. 1 menit.. Keadaan hening... 2 menit.. 3.. 4... 5.. Tangan Aron mulai bergerak, matanya mulai bergerak tanda akan terbuka, Alvaro segera mendekat kepada Aron dan mengecek kondisinya. Aron membuka matanya dan melihat wajah Alvaro, seketika dia menampik wajahnya dan membuat Alvaro terpental punggunggnya menatap dinding ruangan. Aron berdiri, dan menatap suster yang bergetar membawa jarum suntik dan alat bedah lainnya, dia mendekati suster itu dan berniat menyentuhnya, namun suster itu malah berlari ketakutan dan keluar ruangan. Aron berhenti sejenak, terkadang pandangannya kabur, dan dia mengalami pusing. Keringat dingin mulai menyergap dirinya, tubuhnya bergetar hebat dan dipenuhi keringat, dia mencoba mengingat bagaimana dia ada disini. Hanya beberapa potongan yang ada dalam ingatannya, ayah tirinya yang kejam dan ibunya yang tidak membelanya, lalu dia pergi menaiki motornya dan melihat truk besar, yang dia ingat tubuhnya terpental dan motornya hancur. Setelah itu dia tidak mengingat apapun. Aron menyentuh kepalanya yang sakit lalu kembali duduk di ranjang. Alvaro berdiri diam-diam lalu mengambil suntik cairan penenang dan berjalan perlahan mendekati Aron, lalu menyuntikkan ke punggung Aron.
“Argghh!!” geram Aron lalu kembali menampik Alvaro, pukulannya sangat keras hingga membuat Alvaro kembali tersudut di pojok dinding. Aron menatap tajam Alvaro, iris matanya berubah menjadi merah, Alvaro yang menatapnya bukannya takut, malah takjub. Dia tidak menyangka, setelah 48 orang menjadi bahan percobaannya, kali ini berhasil hidup. Aron mendekati Alvaro dan mencengkram bahunya,
“SIAPA KAMU?” teriak Aron meminta penjelasan.
“Aku Alvaro, penyelamat hidupmu!”
Aron malah geram dan mengangkat tubuh Alvaro, berniat membantingnya lagi, sejenak kemudian Aron baru menyadari, dia mampu mengangkat tinggi tubuh Alvaro. Lalu Aron membanting Alvaro dan menatap kedua tangannya, dia tidak pernah merasa sekuat ini sebelumnya, apa yang terjadi dengannya? Dia masih bingung. Aron menelan ludah saat melihat darah yang keluar dari pelipis Alvaro, entah kenapa rasanya ia ingin meminumnya sampai habis, Aron kembali mendekat dan menyentuh darah di pelipis lalu mencicipi darah Alvaro, rasanya manis. Tatapan Aron berubah menjadi buas dan ingin menerkam Alvaro.
“TUNGU! KENDALIKAN DIRIMU!” teriak Alvaro
Ucapan itu membuat Aron sadar kembali, rupanya masih ada kesadaran dalam diri Aron, dia mundur selangkah menjauihi Alvaro, dan menatapnya bingung.
“Apa yang terjadi padaku?” tanya Aron
“Kau.. kau tadi kritis, sebuah truk besar menabrakmu, dan supir itu membawamu kemari,” jawab sang dokter bedah
“Lalu?”
“Kepalamu retak, mengalami pendarahan...”
Alvaro terdiam sejenak dia bingung darimana dia harus menjelaskan, ada rasa takut dalam dirinya jika tiba-tiba diserang oleh Aron. Alvaro masih berpikir keras penjelasan apa yang harus ia berikan.
“Lalu?” tanya Aron lagi tidak sabar
“Kau.. aku selamatkan, lihat kini, kau hidup kembali kan?” ucap Alvaro dengan tertawa renyah
“Tapi, aku merasa ada yang aneh dalam diriku,” ucap Aron
Alvaro menghela nafas, melihat gelagat Aron, sepertinya dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak langsung menyerangnya.
“Ya, sekarang kau berubah, menjadi vampir,” ucap Alvaro.