***
Pagi ini, aku bersiap-siap untuk pergi sekolah. Dengan pakaian rapiku, aku turun ke meja makan yang kini sudah ada ayah dan bunda di sana. Bunda tidak menyadari keberadaanku, tapi ayah menyadarinya. Ayah masih tetap diam sembari menyuapi bunda sarapan pagi. Aku menatap ayah dengan takut. Sedikit 4agu menyerangku kala ingin duduk di depan mereka. Saat tanganku baru saja menarik kursi untuk duduk, ayah langsung memberiku tatapan tajam.
Tanpa suara ayah berkata, “Pergi sana!”
Aku menunduk takut. Tanganku saling bertaut karena gemetar yang tiba-tiba melandaku. Melihat tatapan ayah, aku merasa jantungku tertikam sebilah pisau tajam.
“Bunda,” panggilku.
“Iya, Nak?” sahut bunda dengan antusias.
“Keyla mau berangkat sekolah ya, Bun. Key udah selesai sarapan kok,” ucapku berbohong. Ayahku terus memberikan tatapan penuh peringatan seolah mengatakan aku harus tetap bungkam atas ancamannya.
“Loh, kok bunda gak denger?” ucap bunda yang keheranan.
“Dia memang udah makan, Sayang. Biarin dia berangkat sekolah, nanti dia telat.” Hatiku meraung pilu saat mendengar ayah bersuara menguatkan alibi. Apa sebegitu tidak inginnya ayah sarapan bersamaku? Tidak bisakah hati ayah sedikit lembut padaku? Apa aku harus menangis dan sujud di bawah kaki ayah agar ayah mau memaafkanku? Apa yang harus aku lakukan untuk meluluhkan hatinya?
“Ya udah kalo gitu,” ucap bunda pasrah.
Aku mengambil tangan bunda untuk mengecupnya sebagai tanda hormatku untuknya. Saat aku ingin mengambil tangan ayah, dia menepis tanganku kasar hingga aku terkejut dan dengan spontan menjauh darinya. Ayah memberikan tatapan seolah jijik aku sentuh dan lagi-lagi aku mendapatkan pengusiran dari ayahku. Aku terpaku sedih di tempat sembari menatap dalam manik hitam ayahku dengan harapan ada sedikit rasa kasihan ayah untukku. Namun yang terjadi adalah ayah berdecak kasar dan merogoh sakunya mengambil uang dan melemparkannya di wajahku.
“Sana pergi!” tekannya berusaha sekecil mungkin agar tidak didengar bunda.
Bibirku gemetar karena menahan tangis, mau tidak mau aku harus mengambil uang yang ayah lemparkan tadi. Aku membutuhkan uang itu untuk berangkat dan pulang sekolah. Aku juga lapar dan butuh makan tentunya.
Dua puluh ribu. Sepertinya cukup bagiku.
“Key pamit.”
***
Aku sampai ke sekolah menggunakan angkutan umum yang sering aku tumpangi. Hari ini terasa menyesakkan. Suasana hatiku selalu kacau tiap harinya. Tidak ada hari tanpa kesedihan bagiku. Namun baru saja aku ingin memasuki gerbang, ternyata sahabatku baru saja sampai dengan diantar ayahnya dengan mobil mewah. Aku menunggu Gaby di gerbang sembari melihat interaksi antara Gaby dan ayahnya. Kulihat wajah Gaby cemberut dan ayahnya yang tertawa, lalu setelah itu ayah Gaby mengusap pelan rambut Gaby sembari mencium pipi gadis itu.
Sesak.
Aku juga ingin seperti Gaby. Gadis itu sangat beruntung sangat disayangi ayah dan ibunya. Kapan aku bisa seperti itu juga? Ayahku juga punya mobil mewah seperti ayah Gaby. Aku juga punya bunda yang secantik ibu Gaby. Apa yang beda dari kami? Jika Gaby bisa, kenapa aku tidak bisa?
“Bye, Papa!” teriak Gaby sembari melambaikan tangannya pada mobil sang ayah yang menjauh pergi. Gaby berlari kecil menghampiriku.
“Kok muka lo murung gitu sih, Key?” heran Gaby sembari menatap wajahku dari samping.
“Siapa yang murung? Aku enggak tuh,” sanggahku cepat. Aku tidak ingin Gaby merasakan sedih yang sama seperti apa yang aku rasakan. Sudah cukup aku menceritakan beberapa hal yang tidak seharusnya Gaby ketahui tentang orang tuaku. Aku tidak ingin mengatakan lebih jauh tentang bagaimana ayahku selama ini karena aku tidak ingin citra buruk ayah terdengar sampai ke telinga siapapun. Cukup aku saja yang tahu bagaimana sikap dan sifat ayah yang sebenarnya. Aku ingin ayah terkesan sebagai sosok baik di kalangan teman-temanku. Aku tidak ingin menjelekkan ayahku sendiri hanya karena alasan curhat.
Aku dan Gaby berjalan menuju kelas kami. Sepanjang perjalanan, ada banyak yang kami bicarakan atau lebih tepatnya Gaby. Gadis itu bercerita bahwa semalam ayahnya baru pulang setelah dua hari kerja di luar kota dan membawakan Gaby oleh-oleh berupa pakaian baru dan beberapa aksesoris lucu. Aku menanggapinya dengan tersenyum dan kadang kala tertawa saat Gaby mengatakan ayahnya membelikan boneka monyet untuknya dikarenakan menurut ayah Gaby, putrinya ini mirip dengan monyet.
Lucu sekali.
Aku tertawa tak peduli orang-orang sekitar yang menatap ke arah kami. Aku bahkan tertawa keras hingga sudut air mataku mengeluarkan air mata. Aku sebenarnya ingin menangis, tapi mulutku berdusta. Aku malah tertawa.
Seandainya saja kecelakaan itu tidak terjadi pasti aku sudah sebahagia Gaby saat ini.
Akhirnya kami sampai di kelas. Gaby seperti biasa, selalu menyalin tugasku dan yang aku lakukan pergi ke kantin seorang diri. Perutku lapar. Aku ingin sarapan, setidaknya apapun yang penting aku kenyang.
Aku melihat lima belas ribu yang aku pegang. Lima ribu ini adalah uang untuk aku pulang nanti, berarti uangku hanya tersisa sepuluh ribu untuk jajan.
Setibanya di kantin, aku melihat cukup ramai di sana. Banyak anak-anak seangkatanku dan juga kakak kelasku. Beberapa dari kakak kelasku memberikan siulan dan godaannya untukku. Aku tidak peduli yang penting sekarang aku harus makan. Aku menatap menu di kantin. Aku meringis saat uangku tidak cukup untuk sekadar membeli nasi goreng. Di sana tertera sebelas ribu. Jika aku gunakan uangku untuk membelinya, bisa dipastikan aku akan jalan kaki pulang nanti.
Aku melihat menu lain dan ternyata sama saja. Semua menu kantin sepuluh ribu ke atas. Ih ayolah, apakah tidak ada yang bisa aku makan? Aku lapar!
Mataku tanpa sengaja menatap bungkus roti yang mana berada di dekat kakak kelas. Aku memantapkan langkah menghampiri roti itu sekadar membeli tiga dan satu s**u kotak sepertinya cukup untuk sarapan.
“Eh, adek cantik ngapain nyamperin kakak? Cie, mau ya?” goda kakak kelasku itu.
“Permisi Kak, aku cuma mau beli rotinya tiga.”
“Beli roti aja nih? Gak sekalian sama kakaknya juga?” Aku tertawa kecil sementara teman-temannya tertawa sangat keras. Godaannya tidak membuatku risih melainkan lucu didengar.
“Masya Allah, cantik banget calon bini.”
Aku mengabaikan ucapannya dan langsung mengambil roti yang kuinginkan dan tak lupa juga dengan s**u kotaknya. Saat aku ingin melewati kakak kelas itu lagi, tanganku dicekal olehnya. Dia menatapku intens tanpa wajah menggodanya tadi dan kali ini aku risih.
“Boleh minta nomor wa-nya gak?” ucapnya.
Aku menggeleng.
“Loh, kok gitu? Pelit banget,” dengusnya sedikit kesal.
“Aku gak punya wa, Kak. Maaf,” ucapku dengan jujur. Bagaimana bisa aku punya aplikasi itu jika ponsel pun aku tidak ada? Aku tidak memiliki ponsel, lantas bagaimana bisa aku memiliki aplikasi tadi!
“Alesan, cantik kok pelit.”
Aku mengabaikannya dan pergi dari sana saat cekalannya terlepas. Aku bernapas lega saat bisa bebas dari mereka. Lain kali aku akan selalu mengajak Gaby jika ingin ke kantin dan kemanapun itu.
Setibanya aku di kelas. Gaby masih dengan tugasnya. Ia belum selesai menyalin jawabannya. Aku duduk di samping Gaby dan membuka bungkus roti lalu memakannya dengan lahap. Gaby menatapku aneh.
“Gak makan berapa hari lo, Key?” tanyanya bercanda.
“Iya nih, aku belum makan seratus hari,” sahutku dengan candaan pula.
“Ebuset, pantes aja kurus.” Aku dan Gaby tertawa.
Aku menghabiskan tiga roti tak lebih dari sepuluh menit. Perutku sedikit terisi dan itu sudah membuatku cukup kenyang. Tepat saat aku menghabiskan s**u kotak ku, bel masuk pun berbunyi. Tepat setelah Gaby menyelesaikan tugasnya, guru kami pun masuk.
Aku memperhatikan pelajaran dengan sangat serius. Aku belajar dengan sungguh-sungguh. Aku harus bisa mempertahankan puncak prestasiku. Aku harus bisa menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Karena aku ingin ayah bangga.
Aku ingin ayah melihat segala perjuanganku. Aku ingin ayah melihat ke arahku. Aku ingin ayah bangga atas prestasiku. Aku ingin ayah mengusap kepalaku seperti ayah Gaby yang mengusap kepala Gaby saat gadis itu naik peringkat dari sembilan ke tujuh.
Ayah, aku ingin seperti Gaby.
***