AUTHOR POV
***
Bel istirahat berbunyi nyaring menimbulkan sorak-sorai gembira dari para pelajar di sana. Tepat ketika guru mengucapkan salam pengakhir pelajaran, semua pelajar di bebaskan untuk berkeliaran di area sekolah.
“Huaa, akhirnya selesai juga.” Gaby memekik senang sembari merentangkan tangannya untuk meregangkan tubuhnya yang kaku.
Berbeda dengan Keyla yang masih asik mencatat, Gaby malah sudah sibuk untuk bersiap-siap ke kantin.
“Woy! Udah dulu, Key. Gue laper nih anjir, ayo kita ke kantin,” rengek Gaby sembari menarik-narik tangan Keyla yang masih sibuk menulis.
“Bentar lagi, By.”
“Cepet, Key. Nanti kita gak kebagian kursi kantin,” rengek Gaby tidak sabaran. Keyla bahkan sampai kewalahan untuk menulis. Gadis itu akhirnya memilih pasrah. Ia menutup bukunya dan berjalan kemanapun Gaby menariknya.
Gaby bersenandung riang, mereka berdua berbicara beberapa hal selama perjalanan menuju kantin. Berbeda dengan Gaby yang asik bercerita, Keyla asik memikirkan apa yang akan Gaby ajak makan bersama? Dia tidak punya uang lebih. Uangnya untuk jajan hanya tersisa lima ribu rupiah. Semua makanan kantin. tentu saja tidak ada yang bisa ia beli hanya dengan uang segitu.
“Lo duduk di sini, biar gue yang pesenin. Lo mau makan apa?” tanya Gaby.
Keyla terdiam cukup lama. Melihat Keyla yang diam saja, raut wajah senang Gaby langsung berubah sedih. Ia merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia tahu kenapa Keyla tidak mau ia ajak ke kantin tadi. Hatinya sakit saat melihat Keyla yang seperti ini, sahabatnya ini begitu menyedihkan.
“Cepet pesen, Key. Lo kek sama siapa aja sih, gua yang bakal bayarin semuanya. Santuy beb,” ucap Gaby dengan senyumnya yang lebar.
“Samain ajalah, By.”
“Okay, Nyonya Keyla. Harap tunggu sejenak pesanan Anda,” ucap Gaby ala-ala pelayan restoran mewah. Hal itu tak urung membuat Keyla tertawa karenanya.
Keyla menunggu di area kantin dengan mata yang mengamati sekitar. Ia tahu beberapa dari pelajar laki-laki sejak tadi mencuri tatap ke arahnya, tetapi ia tidak peduli. Keyla terkenal akan sikap ramahnya dan hal itulah yang membuat sosok Keyla dibenci pelajar perempuan karena dianggap cari perhatian. Tatapan Keyla tanpa sengaja jatuh pada seorang pelajar laki-laki yang sedang menatapnya datar. Keyla mengernyit. Ia menatap tubuhnya. Apa ada yang salah dari dirinya?
Keyla merasa tatapan itu sangat tajam hingga bisa melubangi kepalanya. Ia memilih untuk menunduk dalam untuk menghindari tatapan itu, sangat menyebalkan. Padahal Keyla tidak salah apa-apa, kenapa malah ditatap seperti itu?
Tidak lama setelahnya barulah Gaby datang dengan nampan berisi dua mangkuk bakso, dua cangkir es jeruk, dan dua mangkuk lebih kecil yang entah apa itu isinya.
“Ini dia,” ucap Gaby penuh semangat. Gadis itu meletakkan satu mangkuk di meja Keyla dan satunya lagi untuknya. Keyla sempat terkejut karena bakso yang dipesan Gaby adalah bakso jumbo yang besarnya tiga perempat dari mangkuk itu sendiri. Bahkan ternyata ada dua mangkuk khusus untuk kuahnya sendiri.
“Gaby, kayaknya kamu gak makan lima hari ya?” Ucapan Keyla disambut tawa oleh Gaby.
“Iya nih, gue gak makan udah sekitar sembilan bulan kalo gak salah.” Kini Keyla yang tertawa.
Mereka makan dengan tenang. Keyla sesekali menanggapi celotehan Gaby. Hingga akhirnya bakso di mangkuk mereka masing-masing habis. Keyla bersandar di kursinya sembari mengelus perutnya yang kenyang, begitu halnya dengan Gaby. Mereka berdua kekenyangan.
“Gila, Key. Lo liat gak ini perut gue? Kayak orang hamil gak sih?” ucap Gaby yang entah bercanda atau memang polos. Gaby terus mengusap naik turun dan melingkar pada perutnya yang sedikit membuncit. Tak urung orang-orang yang sejak tadi memperhatikan mereka menjadi tertawa diam-diam. Kedua sahabat itu sangat lucu.
“Key, nanti kalo kita udah nikah. Kita bakal adain rencana hamil bareng, terus setelah itu anak kita nanti kita jodohin.”
Meledak tawa seisi kantin saat mendengar ucapan Gaby yang lucu. Mereka bukan tertawa mengejek, tapi hanya tertawa selayaknya karena hal lucu. Gaby menatap ke sekitar dengan tatapan malu. Apa ucapannya tadi sebesar itu sampai-sampai penghuni kantin bisa mendengarnya? Gaby merutuki kebodohannya.
Keyla pun turut menjadi bagian dari orang-orang yang tertawa itu. Ia sangat gemas dengan tingkah Gaby yang selalu menghibur tiap harinya.
“Key, ayo balik ke kelas. Gue malu,” bisiknya pada Keyla.
Keyla menurut, ia menunggu sejenak untuk Gaby membayar segala makanan mereka tadi barulah mereka pergi ke kelas kembali.
“Key, ayah lo masih?” tanya Gaby tiba-tiba. Ia bukannya ingin ikut campur, hanya saja ingin memastikan apakah ada perkembangan perubahan sikap ayah sahabatnya ini. Memang ia hanya tahu bahwa ayah Keyla tidak suka pada Keyla karena sesuatu hal. Namun bukankah tidak wajar jika itu sudah bertahun-tahun lamanya? Keyla adalah putrinya. Ayah mana yang tega memberikan kebencian pada putrinya sendiri? Gaby tidak habis pikir.
“Ada sedikit, beliau sudah mau ngomong sedikit sama aku.”
Tatapan berbinar Gaby layangkan pada Keyla saat ini. Ia menggenggam tangan Keyla dan melompat senang. Terlihat sekali bahwa ia begitu senang dengan kabar yang baru saja ia terima. Harapan Keyla, sahabatnya ini sedikit mulai terlihat. Gaby ingin melihat Keyla tersenyum bahagia lagi tanpa perlu merasa sedih kembali. Gaby memang menyayangkan perilaku ayah Keyla, tapi ia juga tak bisa menjudge langsung pria setengah baya itu karena ia hanya tahu sedikit permasalahan bukan keseluruhan, jadi ia tidak pantas untuk menjudge sebelum tahu cerita lengkapnya. Namun, intinya Gaby amat senang sekali mendengar kabar sedikit perubahan pada ayah Keyla.
“Bagus dong. Gue yakin cepet atau lambat bokap lo bakal sadar. Lo harus sabar nunggu sedikit lebih lama lagi, Key. Kali aja seminggu, sebulan, dua bulan bokap lo bisa luluh. Lo harus semangat!” ucap Gaby sembari memberikan kepalan tangannya memberikan tanda semangat pada Keyla. Begitu pula dengan Keyla, dia tersenyum lembut menanggapi hal itu.
Keyla sedikit merasa bersalah. Gaby mengartikan lain ucapannya. Ya, memang selama ini ayahnya tidak akan pernah mau berbicara dengannya, tapi kemarin-kemarin ayahnya sempat bicara. Bukan tentang bagaimana harinya. Bukan tentang bagaimana kabarnya. Bukan tentang pembicaraan hangat seorang ayah pada putrinya.
Sana pergi!
Ayahnya berbicara itu. Tidak ada kalimat lain selain itu. Namun bukankah Keyla sudah benar mengatakan ayahnya sudah mau berbicara dengannya? Gaby saja yang terlalu berpikir positif. Namun, Keyla juga tidak ada niatan untuk menjelaskan lebih detail karena menurutnya cukup ia saja yang tahu soal ini.
“Doain ya semoga ayah cepet baik. Gaby kalo ada masalah ngomong juga ke Keyla biar Keyla bisa bantu ngatasinnya,” ucap Keyla dengan tulus. Gaby memeluk erat Keyla dan mengangguk.
Gaby itu adalah sosok yang cerewet dan super aktif amat cocok jika dipadukan dengan sosok Keyla yang pendiam dan lemah lembut. Persahabatan mereka begitu erat satu sama lain hingga tidak pernah sekalipun terlintas dalam angan mereka bahwa keduanya akan berpisah walau sekolah mereka telah usai. Gaby bahkan sudah merencanakan akan membangun rumah yang bersebelahan dengan Keyla nantinya.
Saat mereka sedang asik melangkah hendak memasuki kelas, tiba-tiba sebuah tangan menghalangi pintu masuk. Gaby dan Keyla terhalang karenanya. Keduanya sempat tersentak kaget, tetapi kembali bersikap biasa saja dan menatap ke arah pemilik tangan yang menghalangi jalan mereka.
“Oh ternyata ini yang cewek gatel itu?” ucap seorang gadis dengan sinis.
Keyla menatap Gaby dan begitu pula dengan Gaby. Mereka berdua kelihatan bingung dengan apa yang dimaksud oleh gadis di depannya ini.
Siapa yang salah?
***