***
“Maksud lo?” balas Gaby ketus. Gadis itu tidak suka dengan cara bicara gadis di depan mereka ini.
Gadis di depannya mendorong bahu Gaby dengan kasar hingga Gaby termundur sekitar satu langkah. Gaby yang tipe orang emosian tidak terima saat didorong begitu saja, ia bergerak maju dan langsung menjambak rambut gadis itu.
“WOY, G*LA SAKIT!” pekik gadis itu kesakitan sembari memegangi rambutnya yang terasa ingin rontok. Sangat sakit sekali. Ia ingin menjambak balik rambut Gaby, tapi ia tidak bisa untuk menjambaknya. Tangannya sulit untuk mencapai rambut Gaby yang di kuncir itu. Ia bahkan hampir menangis karena kesakitan. Dua antek-antek gadis itu segera menolong temannya yang sedang dijambak.
“Udah Gaby udah,” lerai Keyla kasihan pada gadis yang menangis itu. Antek-antek gadis itu bahkan sudah ikut membantu temannya. Kini terjadi perjambakan antara mereka berempat. Tiga lawan satu, tentu saja Gaby akan kalah. Keyla merasa panik saat mendengar teriakan Gaby yang kesakitan karena dijambak. Keyla menatap ke sana ke sini untuk meminta bantuan dan akhirnya ia menemukan seorang laki-laki yang tak jauh darinya. Tanpa basa-basi lagi, Keyla langsung berlari menghampirinya dan menarik tangan laki-laki itu untuk menuju ke arah Gaby kembali.
“Tolongin pisahin mereka, Kak. Aku mohon,” ucap Keyla memohon amat sangat pada kakak kelasnya ini.
Laki-laki yang merupakan kakak kelas dari Keyla itu langsung menatapnya tajam saat tangan Keyla tadi menggenggam tangannya. Namun saat melihat maksud gadis ini membuatnya kembali beraut datar. Ia melerai pertengkaran itu tanpa bersuara sama sekali.
“Vi, ada Adnan!” ucap salah satu antek-anteknya yang bisa didengar jelas oleh Keyla dan Gaby. Mereka sontak langsung melepaskan jambakan itu hingga tersisa Gaby dan gadis aneh tadi yang saling menjambak. Saat gadis aneh itu menatap tatapan datar dari Adnan membuatnya langsung melepaskan jambakan itu juga tapi tidak dengan Gaby. Ia yang merasa belum puas langsung menjambak kuat sekali lagi baru melepaskannya. Gadis itu meringis sakit dan hendak membalas Gaby lagi, tapi salah satu temannya menghalanginya karena Adnan terus menatap ke arah mereka.
“Silvi, lo tau apa yang lo lakuin barusan?” tanya Adnan dengan suara penuh penekanannya.
“Dia yang mulai, Nan. Aku gak pernah kasar tuh, dianya aja yang bar-bar.” Keyla melongo saat melihat perubahan gaya bicara gadis yang ia ketahui bernama Silvi. Bagaimana bisa suaranya bisa dilembutkan seperti itu? Kemana suaranya yang ketus dan tajam tadi?
“Cih, cabe!” ketus Gaby sembari membenahi rambutnya yang berantakan. Ia memberikan tatapan tajam pada Silvi tanpa peduli bahwa antek-antek Silvi menatapnya tajam juga.
“By, gak boleh gitu.” Keyla menasehati.
Silvi berdecih, “Caper.”
Sebenarnya ucapan itu diarahkan Silvi pada Keyla karena ia tidak suka gaya bicara Keyla yang terdengar lemah lembut. Namun Gaby malah salah paham berpikir bahwa itu diarahkan untuknya. Ia menendang tulang kering Silvi hingga gadis itu meringis sakit.
“Lo!” kesal Silvi hendak melakukan pembalasan.
“Kalian ikut gue,” ucap Adnan penuh ucapan perintah.
Gaby dan Silvi saling bertatapan penuh permusuhan. Mereka tahu akan dibawa kemana, tentu saja ke ruang BK.
Silvi berjalan lebih dulu seorang diri tanpa teman-temannya, dan begitu juga dengan Gaby menyusul di belakang mereka. Saat tengah berjalan, Gaby kaget saat Keyla ikut berjalan di sampingnya.
“Lo ngapain ngikut, Key?” heran Gaby.
“Ya karena Key juga salah,” ucap Keyla lirih.
“Lo salah apa emang? Yang tengkar itu gue sama si mak lampir, lo gak ikut-ikutan Key.”
Keyla menggeleng ia tetap pada pendiriannya. Ia yakin seratus persen ucapan Silvi yang kasar tadi itu ditujukan untuknya, tetapi karena Gaby semua jadi berubah kericuhan. Seharusnya Keyla lah yang bermasalah saat ini bukan sahabatnya ini. Keyla merasa ini adalah tanggungjawabnya.
Setibanya mereka di ruang BK. Mereka langsung disambut suara yang berkata, “Ada apa Adnan?”
Adnan tidak menjawab. Ia menatap tajam pada Gaby dan Silvi untuk memerintahkan keduanya masuk ke dalam. Silvi menggeleng keras, ia malah memeluk lengan Adnan sambil merengek manja tidak mau. Gaby memutar bola mata malas menyaksikan sikap menjijikan yang Silvi tunjukkan. Tidak salah julukan cabe ia berikan pada gadis itu. Cih.
Gaby memilih masuk lebih dulu sembari menabrakan bahunya dengan sengaja pada bahu Silvi.
“Ish! Lo apa-apaan sih!” bentak Silvi tidak terima. Adnan segera melepaskan paksa tangan Silvi yang memeluk lengannya.
“Masuk sana!” ketus Adnan yang mulai jengah.
Silvi mencebikkan bibirnya dan berjalan masuk menghentak-hentakkan kakinya. Menurut Silvi itu menggemaskan, tapi tidak menurut Adnan. Itu terlihat menggelikan.
Saat Keyla hendak masuk, lengannya langsung ditahan.
“Mau kemana lo?” ucap Adnan dengan wajah berekspresi datarnya.
“Masuk,” ucap Keyla sedikit bingung. Tatapannya yang bingung terlihat begitu lucu di tatapan beberapa orang. Ya tentu saja karena Keyla memang terkenal akan kecantikannya yang menggemaskan.
“Lo mau disidang guru BK? Mau dapet surat panggilan juga padahal lo gak ikut-ikutan?” Terdengar jelas bahwa Adnan sedang heran dengan sikap gadis itu.
“Surat panggilan berarti orang tua harus datang ke sekolah, ya?” tanya Keyla. Pasalnya 11 tahun ia sekolah tidak tahu apa-apa tentang surat panggilan karena ia tidak pernah merasakannya.
“Iya.”
Di luar dugaan, wajah Keyla langsung tersenyum lebar. Ada binar harapan dalam tatapannya. Mata cokelat terang Keyla amat menunjukkan harapan yang besar itu. Adnan terkesima sesaat. Ia tidak mengelak bahwa gosip tentang primadona sekolah ada benarnya juga. Tatapan lembut dan memabukkan milik Keyla mampu membuat banyak laki-laki terkesima. Ini lebih dari kata cantik menurutnya. Ada gaya tarik berbeda dari mata itu. Seolah gadis ini perlu perlindungan darinya.
Adnan tersadar dari lamunannya saat Keyla melepas cekalannya tadi dan berjalan masuk ke ruang BK. Saat disidang guru pun Keyla menjawab sejujurnya. Bahkan ketika guru tidak mau memberikan surat panggilan, Keyla meminta guru itu juga membuatkannya. Siapa guru yang tega membuatkan surat panggilan pada Keyla yang merupakan aset sekolah karena seringkali menyumbang banyak piala lomba nasional maupun internasional untuk sekolah ini. Mereka menolak dengan alasan Keyla tak mungkin melakukannya. Keyla sudah terkenal sebagai murid teladan tanpa catatan di buku hitam oleh para guru. Semua guru mengetahui siapa itu Keyla Agatha Afsheen.
“Ya udah kalo gitu, nanti Pak buatin surat panggilan juga buat kamu.”
Keyla tersenyum semakin lebar. Ia mengangguk patuh. Saat mereka dipersilakan keluar, Keyla tak bisa menahan senyumnya semakin lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.
“Lo kenapa minta begituan sih, Key? Aneh banget jadi orang,” rutuk Gaby yang terlihat sedikit kesal dengan perbuatan Keyla. Kalau begini, ia akan merasa bersalah nanti.
“Gak apa-apa loh, Gaby cantik. Ini juga kan keinginan aku, jadi kamu jangan ngerasa bersalah gitu. Nikmatin ajalah,” ucap Keyla sembari memberikan kerlingan mata pada sahabatnya yang sedang khawatir itu.
“Terus nanti kalo ayah lo marah, gimana?” Itulah yang sejak tadi Gaby khawatirkan. Ia takut ayah Keyla marah dan melakukan k*******n pada Keyla, lagi.
“Enggak, percaya deh sama aku. Kan tadi aku udah bilang kalo ayah udah mau berubah.”
Bohong.
Keyla berbohong tentang ayahnya yang sudah berubah.
“Huh, terserah deh.”
“Nanti kalo ayah aku sama papa kamu ketemu, kita adu siapa yang paling hebat. Okay?” ucap Keyla sedikit menghibur hati Gaby yang gelisah.
Gaby tersenyum, “Ayo! Siapa takut. Papa gue pasti lebih ganteng dan hebat.”
“Ayah aku pasti yang terhebat.”
“Nanti adu siapa yang paling berotot aja, Key.”
“Gak ah, adu siapa paling tinggi aja, By.”
“Papaku yang terbaik.”
“Ayahku yang terbaik.”
Keduanya tertawa sepanjang perjalanan menuju kelas mereka. Kalimat candaan mereka ternyata bisa menghibur satu sama lain.
Keyla tersenyum lembut pada Gaby dan kembali menatap ke arah depan di mana koridor sekolah menuju ke arah kelasnya berada.
Dalam hati Keyla, sebenarnya ia menginginkan sesuatu terjadi dalam hal ini. Ia menginginkan agar ayahnya memarahinya dan mau pergi ke sekolahnya sekali saja. Ayah Keyla tidak pernah mau menginjakkan kakinya ke sekolah Keyla. Bahkan untuk mengambil raport pun yang mengambilkan raportnya adalah pembantu di rumahnya. Selama 11 tahun ia sekolah, selama itu pula sang pembantu sering kali datang ke sekolahnya. Bahkan beberapa temannya menganggap sang pembantu adalah ibu Keyla. Namun itu bagi yang tidak mengenal seorang Keyla Agatha Afsheen, tetapi jika itu yang sudah mengenal Keyla maka mereka akan tahu bahwa ibu asli Keyla adalah seorang wanita buta.
Semoga ayah mau dateng.
Begitulah harapannya.
Aku juga pengen kayak temen-temen lain yang bisa bawa ayah mereka dengan bangga, terus ditunjukin ke semua orang. Aku juga pengen rangkul lengan ayah kayak temen-temen yang lain, biar mereka tahu sehebat apa ayahku.
Keyla merasakan hatinya menghangat saat membayangkan perlakuan ayah pada anak gadis mereka. Apakah itu menyenangkan?
Ya Allah, bisa gak aku ngerasain sekali aja?
***