6. Terima kasih, Gaby.

1293 Words
*** Keyla memejamkan matanya rapat dengan tangan yang meremas bajunya. Tubuh gadis itu terlihat bergetar ketakutan saat melihat sang ayah yang melemparkan surat panggilan ke wajahnya. Ingin rasanya ia menangis, tapi tak mungkin ia lakukan di depan ayahnya ini. “Ta-tapi Ayah-” “Saya tidak peduli!” Keyla tersentak karena bentakan dari ayahnya itu. Gadis itu mendongak menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, tapi yang terjadi ayahnya malah menggeram semakin marah. Saat Keyla rasa tangan ayahnya hendak terangkat untuknya, gadis itu langsung menunduk dan melindungi kepalanya dengan tangannya sendiri. Keyla tidak bisa menahan tubuhnya yang gemetar ketakutan. “Ampun, Ayah.” Amat lirih ucapan itu, tapi masih bisa didengar oleh Gio. “Pembawa s**l!” Setelah mengatakan itu, Gio memilih untuk kembali masuk ke rumahnya. Ia sudah tidak berselera untuk bersantai di teras rumah itu karena Keyla. Merasa emosinya selalu meledak-ledak jika di dekat anak itu. Gio seolah lupa bahwa Keyla adalah putrinya. Gio seolah menganggap ia dan Keyla hanya sebagai orang asing. Keyla berbalik menatap punggung ayahnya yang menjauh. Tubuh gadis itu merosot jatuh sembari menangis lirih. Keyla menekan kepalanya di lututnya agar tak terdengar oleh siapapun. Matanya menatap lirih pada surat panggilan dari sekolah. “Ayah, Key salah apa?” Keyla langsung berlari menuju kamarnya. Untung saja kamarnya berada di lantai atas dan berada di pojok sekali sehingga sulit untuk mendengar apa yang terjadi dengan gadis itu nantinya. Keyla mengunci pintunya dan menangis pilu seorang diri di kamar itu. Ia ingin bercerita pada bundanya. Ia ingin dekat dengan bundanya. Setidaknya jika ayah tidak bisa memberikannya kasih sayang masih ada bunda yang akan memberikan. Namun karena ayahnya pula, Keyla tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan bundanya. Keyla merasa tubuhnya tiba-tiba menggigil, kepalanya terasa amat pusing. Ia terus menangis sampai dirinya lelah dan jatuh tertidur. Tok... Tok... Tok... Ketukan pintu berhasil membangunkan Keyla kembali. Gadis itu merasakan matanya amat berat untuk terbuka dan tubuhnya terasa tak nyaman sekali. Keyla duduk dan menatap jam yang berada tak jauh dari tempatnya tidur. “Udah pagi?” lirih Keyla sedikit kaget. Ia akhirnya mulai beranjak untuk segera mandi. Untung saja ia sedang dalam masa haid, jadi ia tidak perlu merasa gelisah karena tidak bangun untuk sholat subuh. Keyla beranjak dengan tubuh lesu menuju pintu. Saat pintu terbuka, pembantunya sudah berada di sana dengan tampang khawatir. “Ada apa, Bi?” “Non Keyla baik-baik aja? Kenapa mukanya pucet gitu, Non?” cemasnya. Keyla tertegun sejenak lalu tersenyum lembut pada pembantu sekaligus ibu kedua menurutnya. “Enggak kok, Bi. Key baik-baik aja,” ucap Keyla meyakinkan. “Tapi-” “Enggak, Bi. Key seriusan,” ucap Keyla dengan sangat tegas. “Okay kalo gitu, nanti Non kalo udah siap-siap langsung turun aja ke bawah, soalnya ada Tuan sama Nyonya lagi sarapan,” ucapnya. Keyla langsung mengangguk cepat. Ia lantas menutup pintu kembali dan bergegas mandi. Setelah membutuhkan waktu hampir tiga puluh menit, Keyla telah siap dengan seragam sekolahnya. Ia bergegas turun dengan wajah yang ia paksakan untuk tersenyum. “Pagi, Bunda.” Sapaan ceria yang Keyla ucapkan berniat untuk menyembunyikan wajah pucatnya. “Pagi juga, Sayang.” Saat tangan Gita meraba-raba udara, Keyla tahu apa itu maksudnya. Ia segera mendekat dan Gita segera memeluknya lembut serta mengecup keningnya. “Anak bunda cantik banget,” ucap Gita dengan penuh semangat. Keyla merasa hatinya menghangat. Bundanya mengatakan ia cantik. Namun tiba-tiba ia merasa risih dengan tatapan tajam yang mengarah ke arahnya. Saat Keyla menatap ke sumber pemberi tatapan tajam, itu adalah ayahnya. Menjauh darinya. Gio mengucapkannya tanpa suara sembari memberikan tatapan tajam yang membuat Keyla langsung melepas pelukan itu. Saat Keyla hendak duduk, kursinya sengaja ditendang oleh Gio dan Keyla kembali menatap ayahnya itu. Pergi. Keyla menatap lamat pada wajah keras ayahnya. Bisakah ia egois sedikit saja? Dan akhirnya Keyla memilih mencoba untuk egois. Ia ingin melakukan apa yang ia mau tanpa peduli apa kata ayahnya. Baru saja Keyla duduk di kursinya, Gio langsung berdiri dan mengajak Gita untuk pergi dari sana dengan alasan ia harus segera bersiap ingin berangkat kerja. Gita yang tidak mengetahui ekspresi Keyla tentu saja hanya mengiyakannya. Kini tinggallah Keyla di meja makan itu seorang diri. Ia melihat piringnya yang masih kosong dan piring ayahnya yang masih tersisa sedikit nasi goreng di sana. Entah pemikiran dari mana, Keyla mengubah tempat duduknya menjadi duduk di kursi yang tadi di duduki ayahnya. Keyla menunduk menatap nasi goreng ayahnya dan tersenyum konyol. Gadis itu menghabiskan nasi goreng ayahnya dengan penuh khitmah sembari membayangkan ayahnya yang mengelus puncak kepalanya. “Kamu makan yang lahap ya, Sayang. Nanti kalo princess ayah udah gede, kita bakal adain lomba makan bareng.” Ucap seorang pria pada gadis kecil yang merupakan anaknya. “Pasti Bunda yang bakal menang.” Ucap wanita yang baru saja datang. “Gak lah, pasti princess ayah yang bakal menang. Kan Keyla pinter.” Keyla kecil tertawa bahagia kala ayah dan bundanya menyemangati dirinya untuk makan saat itu, wajar saja karena Keyla sedang sakit dan malas untuk makan. Keyla tertawa lirih sembari menunduk dalam. Ia mengunyah nasi gorengnya diiringi tangisan dan hati yang terasa sesak memilukan. Andai waktu itu bisa diulang kembali. Keyla ingin berhenti di masa itu saja. “Ayah, Keyla sekarang udah gede.” “Apa kira gak jadi lomba makannya?” “Apa Keyla masih jadi princess ayah?” Keyla merasakan aliran air mata di pipinya kian deras. Gadis itu segera menghapusnya saat pembantunya melintas menuju dapur. Keyla dengan cepat menghabiskan makannya dan meminum air yang tersedia. Saat Keyla hendak berangkat, suara pembantunya menginterupsi, “Non, ini uang jajan tadi baru aja dikasih Tuan ke Bibi, katanya suruh kasih ke Non Key.” Keyla tersenyum dan menerima uang lima puluh ribu itu. Sepertinya ada peningkatan dalam pemberian uang saku, tapi 2alaupun begitu Keyla tidak ingin boros. Ia akan menyimpan sisanya untuk jaga-jaga kalau nanti semisal ayahnya tidak memberinya uang. “Makasih ya Bi, Keyla berangkat. Assalamu'alaikum,” pamit Keyla sembari menyalimi tangan pembantunya sendiri. Keyla berangkat dengan menggunakan angkot seperti biasa. Setibanya di sekolah dan saat memasuki kelasnya, Keyla langsung disambut Gaby. Keyla mengernyit ketika menyadari Gaby datang lebih dulu daripada dirinya. Apa ada yang salah dari gadis itu? Saat itu Keyla langsung terpikir bahwa Gaby pasti datang lebih pagi karena ingin meminta tugas lagi. Keyla tertawa kecil. Ia langsung membuka tasnya dan memberikan buku itu pada Gaby. “Ih, kok lo tau sih!” pekik Gaby senang menerima buku itu. “Apa sih yang gak aku tau tentang kamu, By? Kerjain sana, itu tugasnya ada banyak sekitar tiga halaman.” “Tiga halaman? Itu mah dikit, Key. Yang banyak itu kalo sembilan halaman kayak kemarin-kemarin,” ucap Gaby. Keyla menggeleng pelan melihat kelakukan Gaby yang menurutnya lucu itu. “Key, nih ambil.” Keyla menatap tidak percaya pada pemberian yang Gaby tujukan untuknya. “I-ini ponsel?” Gaby mengangguk tegas. “Buat aku?” Gaby kembali mengangguk. “Tapi ini terlalu berlebihan. Aku bisa kok ngasih tugas kamu tiap hari tanpa imbalan gini, aku gak bisa nerimanya,” tolak Keyla dengan halus. “Ish, ini bukan imbalan, Key. Ini tuh buat mempermudah gue ngehubungin lo. Biar nanti gue ngerjain tugasnya gak di sekolah lagi, kita tinggal kongkalikong udah deh beres. Gue bisa ngerjain tugasnya sebelum hari H kayak gini. Dan ini juga bisa mempermudah gue nyari keberadaan lo yang kayak makhluk ghoib yang suka ilang tiba-tiba, terus juga kita bisa curhat. Seru deh pasti. Ayo terima,” ucap Gaby yang terdengar sangat memaksa. Keyla menelan salivanya kasar. Apakah ia harus menerimanya? Karena merasa terlalu lambat berpikir, akhirnya Gaby mengambil tangan Keyla dan menaruh kotak berisi ponsel baru itu ke tangan sahabatnya ini. “Udah gak usah banyak pikiran, terima aja.” Lama berpikir, Keyla akhirnya menerima itu. Ia memberikan senyumnya pada Gaby. “Terima kasih, Gaby.” Apa berarti aku juga bisa telpon ayah? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD