***
Keyla asik dengan ponselnya di dalam kamar. Ia sedang mencoba berbagai fitur benda pintar itu. Dan senyum sejak tadi tak lenyap dari wajah cantiknya. Gadis itu terlihat amat senang. Ia menggunakan ponselnya lebih dulu untuk membuat sosial media yang harus ada. Gaby bilang yang penting harus ada w******p dan i********:. Keyla menurut dan langsung membuat akun itu. Bahkan Gaby sudah menyediakan kartu dan kuota internet untuk ponselnya. Baru kali ini seorang Keyla berasa sangat senang sekali.
“Non, ” panggil Bibi Inem, sang pembantu.
“Iya, Bi?” sahut Keyla dengan cepat.
“Nyonya suruh Non Keyla buat makan malem bareng,” ucap Bibi Inem.
“Oh iya, Bi. Key siap-siap dulu, makasih ya, Bi.”
Keyla langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Ia bergegas turun menuju meja makan masih dengan senyumnya yang secerah masa lalu.
Keyla tak menyadari tatapan yang sejak tadi menatapnya intens. Gadis itu sibuk tersenyum lebar sembari duduk di tempatnya. Ia mengobrol sebentar dengan bundanya dan beberapa menit setelahnya barulah ia sadar akan tatapan yang terpusat padanya.
Keyla menatap mata tajam nan hitam milik sang ayah. Senyum masih terpatri di bibirnya karena bahagia yang amat sangat tak bisa tertahan olehnya. Anehnya, Gio tak merespon seperti biasa. Pria itu malah kembali melanjutkan makannya dalam keheningan. Melihat hal itu, Keyla langsung melenyapkan senyumnya menjadi wajah sendu. Ia menunduk melihat makanannya sembari merutuki diri sendiri yang tersenyum konyol di depan ayahnya. Apa yang akan ayahnya nanti pikirkan tentangnya? Apa ia akan dibilang tidak waras?
“Ayah,” panggil Keyla dengan suara lirih.
Tidak ada jawaban.
“Ayah, apa boleh Keyla minta nomor telepon Ayah?” ucap Keyla yang tentu saja bisa didengar oleh Gio dan juga Gita tentunya.
Keyla merasa was-was saat tak mendapat respon dari sang ayah. Ia berani mendongak dan menatap langsung pada sang ayah yang sejak tadi menatap ke arahnya. Begitu hening menerpa, Gita mengernyit heran.
“Mas, kamu masih di sini?” tanya Gita sembari meraba udara.
“Iya, aku masih di sini kok.”
“Lah terus anak kita nanya kok kamu diem?” tanya Gita yang penuh keheranan. Ia sangat yakin suara Keyla masih bisa didengar oleh suaminya ini.
“Aku gak hapal nomornya, Sayang. Nanti aku kasih ke dia,” ucap Gio beralibi. Ia sedikit malas dan tentu saja tidak mau memberikan nomor teleponnya pada Keyla karena berpikir gadis itu akan mengganggunya.
“Dia? Siapa?” Sudah cukup. Gita merasa ada yang aneh antara suami dan putrinya. Selama ini ia tidak pernah mendengar suaminya memanggil nama putri mereka. Bahkan yang selalu menyuruh Bibi Inem untuk memanggil Keyla agar sarapan dan makan malam bersama selalu dirinya. Gio tidak pernah sekalipun berinisiatif memanggil Keyla sendiri.
“Putri kita,” ucap Gio yang terdengar sedikit risih dengan tatapan Keyla yang tertuju padanya. Tatapan gadis itu penuh akan permohonan dan pengharapan.
“Putri kita siapa?” Gita terus mendesak untuk Gio menyebutkan nama putri mereka. Jika saja Gio tidak mau menyebutkan nama itu maka memang ada yang aneh diantara mereka. Gita was-was karena berpikir Gio masih belum rela dengan kejadian di masa lalu hingga mengabaikan putri mereka yang tidak bersalah.
“Mas,” panggil Gita yang merasa tak ada jawaban dari Gio.
“Memangnya siapa lagi yang jadi putri kita?” sahut Gio.
“Kamu kok aneh, ya? Kamu gak jahatin putri kita kan? Apa kalian lagi gak baikan karena suatu hal? Mas, kok aku ngerasa kamu gak pernah sehangat dulu sama putri kita?” Gita mengungkapkan semua hal yang menjanggal dalam hatinya. Keyla dan Gio tertegun karena ungkapan dari Gita. Tentu yang paling cemas adalah Gio. Ia takut Gita tahu bahwa ia bersikap tak baik pada putri mereka.
“Kamu kok yang aneh. Orang kami biasa-biasa aja, emang akunya aja yang lagi capek, Sayang.”
“Aku gak percaya sama kamu,” sahut Gita dengan cepat.
“Apa yang bikin kamu gak percaya? Aku sama Keyla baik-baik aja, iya kan, Key?” ucap Gio dengan wajah datar, tetapi suaranya amat hangat untuk didengar.
Keyla yang merasa tertegun karena pertama kali sejak kecelakaan terjadi, ayahnya menyebutkan namanya. Seolah ada letupan kembang api dalam dadanya dan beribu kupu-kupu yang menghiasi perutnya. Keyla sangat bahagia. Gadis itu memberikan senyum terbaiknya yang mana membuat matanya menyipit seperti bulan sabit.
“Iya, Ayah.” Keyla mengucapkannya dengan amat ceria. Gadis itu merasakan hari ini adalah hari paling beruntung dan membahagiakan untuknya. Hari pertama kali Gio menyebutkan namanya. Bukan sekali melainkan dua kali dalam satu kalimat.
“Bener, Key?” tanya Gita meminta kepastian lebih lanjut pada Keyla.
Melihat tangan Gita yang meraba-raba udara, Keyla paham bahwa bundanya itu sedang mencoba meraih tangannya. Keyla mendekatkan tangannya agar bisa diraih oleh Gita. Gita menggenggamnya erat sembari mengecupnya penuh kasih. Tidak ada tangan yang gemetaran, tidak ada tangan yang terasa dingin, tidak ada tanda-tanda bahwa Keyla sedang diintimidasi oleh Gio. Putrinya ini berkata dengan jujur, itu yang ia pikirkan.
“Bunda tenang aja, Ayah baik kok.” Ucap Keyla dengan nada cerianya, sehingga tanpa sadar tatapan Gio terarah padanya. Mendengar Keyla mengatakan dirinya baik, entah kenapa membuat ia merasa tertohok dan tersindir. Apa Keyla sedang mengejeknya? Namun saat melihat wajah putrinya yang tersenyum cerah, tentu saja itu bukan suatu kebohongan.
“Syukurlah kalo gitu. Bunda takut kalian gak akur.”
Keyla tertawa pelan untuk mencairkan suasana yang sempat kaku.
“Ah iya, kamu kenapa minta nomor ponsel ayah kamu, Nak? Apa selama ini kamu gak punya nomor ponsel ayah kamu?” tanya Gita yang kembali curiga.
“Enggak, Bun!” Tanpa sadar Keyla membantah dengan keras. Ia takut bundanya tahu dan orang tuanya menjadi bertengkar karena dirinya.
“Aku kemarin punya kok nomor ponsel ayah, tapi karena kemarin ponselnya dicopet jadinya semua kontak hilang. Baru aja tadi ayah beliin Keyla ponsel baru, Bunda jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang ayah. Ayah itu baik kok, Bun.”
Gita menghembuskan napas lega saat mendengar penjelasan dari Keyla. Sekarang dirinya malah merasa bersalah karena telah menuduh suaminya yang tidak-tidak. Gita langsung menggenggam tangan besar Gio dan meminta maaf karena telah menuduh suaminya dengan yang tidak-tidak.
Meja makan itu kembali tenang.
Keyla dan Gita kembali melanjutkan makan mereka dengan raut senang, sementara itu Gio sedang menatap pada putrinya. Ia merasa sudut hatinya yang terdalam tercubit akan ucapan Keyla. Apa gadis itu beli ponsel sendiri? Darimana gadis itu mendapatkan uang untuk membeli ponsel? Terbayang dalam benak Gio bahwa Keyla memiliki ponsel jadul yang hanya berguna untuk menelepon dan bertukar pesan.
Gio tersadar dari lamunannya yang singkat. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya ia memikirkan Keyla, putri yang selama ini tak ia anggap.
“Besok libur?” tanya Gio pada Keyla, tapi sayangnya Keyla tidak berpikir itu ucapan untuknya.
“Siapa?” tanya Gita menyahut.
“Keyla,” ucap Gio.
Jantung Keyla kita berdebar tak karuan, sensasi bahagia begitu memupuk dalam hatinya. Keyla langsung mendongak dengan cepat menatap ayahnya.
“Ya, Ayah?” sahut Keyla dengan penuh rasa haru dan senang.
“Besok libur?”
“Iya, kan besok Sabtu. Keyla sekolahnya kan cuma dari Senin sampe Jumat.”
“Besok kita beli ponsel,” ucap Gio dengan santai dan kembali melanjutkan makannya.
Keyla kaget. Ia sudah memiliki ponsel, untuk apa ayahnya mau membelikan ia ponsel lagi?
“Ayah, Keyla udah punya pon-”
“Gak ada bantahan.”
“Aku boleh ikut, Mas? Jarang-jarang loh kita keluar bareng gini,” ucap Gita yang juga terasa amat senang.
“Iya, kita pergi bareng besok.”
Keyla menangis tanpa suara. Itu bukan tangisan pilu seperti biasa, itu tangisan bahagianya.
Saat Gio menatap ke arah Keyla, pria itu terkejut saat melihat aliran air mata mengalir di pipi putrinya. Tubuhnya terasa kaku.
“Terima kasih, Ayah.” Ucap Keyla dengan senyum lebarnya yang menunjukkan penuh kebahagiaan.
Gio tertegun dengan senyum itu.
Apa sesenang itu?
***