***
Keyla berjalan sembari melihat mall yang megah dipenuhi banyak ribuan manusia di dalamnya, tatapannya terlihat berbinar senang. Ia bukan senang karena bisa pergi ke mall, akan tetapi senang karena bisa pergi bersama ayah dan bundanya. Keyla di samping ayahnya yang mendorong kursi roda yang diduduki Gita.
“Kamu seneng, Key?” tanya Gita dengan antusias sembari menggenggam jemari Key.
“Seneng, Bunda.”
“Maaf ya kita jadi gak bisa sering jalan-jalan keluar,“ ucap Gita merasa bersalah.
“Gak apa-apa kok, Bunda. Lagian kan Key juga sibuk sekolah banyak nugas juga jadi wajar aja kita gak bisa keluar sering-sering,” imbuh Keyla dengan cepat. Gadis itu tidak membiarkan bundanya semakin berpikir yang tidak-tidak dan menyebabkan rasa bersalah timbul dalam benak sang bunda.
“Mas,” panggil Gita.
“Ya?” sahut Gio yang tersadar dari lamunan sesaatnya.
“Kamu kok diem aja? Malu ya ngajak aku yang buta?” Suara Gita terdengar sedih.
“Gak usah aneh-aneh deh, Ta. Istri aku cantik kayak kamu mana mungkin aku malu. Aku gak suka aja liat para pengunjung liatin istri aku ini,” sahut Gio cepat. Bukan sekadar alibi melainkan memang nyatanya seperti itu. Namun yang beda adalah apa yang baru saja Gio lamunkan.
“Ish kamu mah sukanya gombal.”
Keyla diam memperhatikan interaksi antara ayah dan bundanya. Cinta sang ayah terhadap bundanya begitu besar terlihat dari manik hitam itu yang menatap manik cokelat terang memancar kekosongan milik bundanya. Banyak kekurangan yang ada pada bundanya tidak membuat ayahnya berpaling pada wanita lain. Keyla bersyukur setidaknya ayahnya masih sayang bundanya. Dalam hati, Keyla berharap bisa menemukan sosok lelaki seperti ayahnya. Lelaki yang akan selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Gio memang layak dijadikan panutan sebagai kriteria sosok suami idaman wanita, tetapi Gio tak bisa dijadikan kriteria sosok ayah yang baik untuk putrinya.
Keyla harap ia menemukan lelaki seperti ayahnya, tapi ia tidak ingin anaknya di masa depan merasakan sosok ayah seperti perilaku Gio terhadapnya.
Gio, ayah yang buruk? Tidak!
Keyla membantah tegas mengatakan bahwa ayahnya adalah ayah yang buruk. Bagaimana bisa ayahnya yang paling terbaik itu dikatakan buruk? Keyla selalu diajarkan untuk mengucapkan syukur atas apa yang ia peroleh. Ayahnya baik, buktinya ia masih dipersilakan tinggal serumah dengan ayahnya. Ayahnya juga tidak menyuruhnya layaknya pembantu. Ayahnya juga tidak sering menyiksanya sebagaimana cerita ibu tiri Sinderella.
Keyla mengikuti kemanapun ayahnya melangkah, ia berusaha untuk menyamakan langkahnya dengan sang ayah agar tidak hilang dari jangkauan dan membuat kekacauan dengan berita hilangnya ia.
Keyla membuntuti Gio sampai di mana mereka tiba di toko besar ponsel yang berada di dalam mall itu. Keyla mengikuti ayahnya dan mendengarkan apa saja yang sedang ayah bicarakan dengan orang di depannya itu. Terlihat raut serius ayahnya yang sedang memilih ponsel apa yang baik untuk ia beli. Ia juga akan membeli dua. Satu untuk dirinya sebagai ganti ponselnya yang sudah rusak karena ia banting dan satu ponsel lagi untuk Keyla.
“Bisa saya lihat?” ucap Gio sembari menunjuk satu buah ponsel yang terpajang apik. Terlihat jelas jika ponsel itu berharga mahal pastinya.
“Apa kelebihan yang ini dan yang ini?”
Gio masih sibuk mencari kualitas ponsel yang bagus. Ia ingin membeli ponsel yang terbaik agar tak perlu membeli lagi. Sekali beli tak apa mahal yang penting bertahan lama.
Setelah melakukan beberapa perbandingan ponsel dan mendapatkan rekomendasi dari sellernya. Gio akhirnya memilih untuk membeli dua ponsel yang sama di mana kini banyak anak muda yang memakainya.
Keyla menganga lebar saat orang di depannya mengatakan harga yang harus dibayar oleh Gio. Empat puluh lima juta bukanlah harg yang murah hanya untuk sekadar ponsel saja. Keyla merasa ayahnya terlalu menyia-nyiakan uang hanya untuk dua buah ponsel. Keyla merasakan sesak saat ayahnya selesai membayar tanpa raut tertekan sama sekali. Sebanyak apa uang ayahnya?
“Pegang,” ucap Gio terdengar sedikit dingin. Pria itu memberikan kantung berisi dua buah ponsel yang sudah ia beli.
“Gunakan dengan baik,” sambung Gio kembali.
Keyla menatap kantung berisi ponsel yang ia pegang memiliki merek yang sama dan warna yang juga sama. Keyla lalu mendongak menatap ayahnya dengan senyuman lebar sembari berkata,“Terima kasih banyak, Ayah.”
Mereka mengelilingi pusat perbelanjaan itu dengan wajah ceria. Tidak, itu hanya berlaku pada Keyla dan Gita yang sejak tadi sedang mengobrol ceria dengan wajah penuh senyuman dan tawa yang terdengar menenangkan, berbeda halnya dengan Gio yang senantiasa diam dengan wajah datarnya. Pria itu hanya mengikuti apa yang diinginkan istrinya. Jika Gita mengatakan ingin makan, maka ia akan menuju restoran terbaik di mall itu, lalu jika istrinya ingin mengajak Keyla bermain maka ia akan melakukannya walau sedikit berat hati.
“Ayah, hari ini Key bahagia banget.”
Tubuh Gio sejenak menegang kaku saat mendengar kalimat tulus itu keluar dari bibir putrinya. Ia sadar dirinya seringkali mengabaikan putrinya ini, tapi apakah harus sebahagia ini hanya karena ia mengajaknya berjalan?
***
“Terus-terus, bokap lo gimana?” ucap Gaby dengan wajah senangnya. Gadis itu memegang tangan Keyla dan menantikan sahabatnya ini mengucapkan hal lain lagi.
“Gimama apanya?” heran Keyla.
“Ya, ekspresi bokap lo gimana? Dia kesel apa seneng?” decak Gaby yang merasa sedikit kesal dengan tingkat kelambatan Keyla dalam mencerna perkataannya.
“Oh itu aku gak tau. Soalnya muka ayah selalu datar,” sahut Keyla sembari menyengir menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Aish, kalo begitu berarti bokap lo masih setengah-setengah antara ikhlas sama enggak. Gak apa-apa, Key, ini tuh tandanya udah ada kemajuan. Gue harap bokap lo bakal berubah,” ucap Gaby dengan penuh semangat.
Keyla membalas kobaran api semangat yang Gaby berikan dengan senyuman hangat. Membayangkan ayahnya bersikap lembut sebagaimana ayah Gaby terhadap sahabatnya ini membuat Keyla merasakan jutaan bunga mengelilinginya, menggelitik perutnya dan menimbulkan kesan kupu-kupu pada perutnya.
“Terus setelah lo dapet ponselnya, lo dapet juga gak nomor ponsel ayah lo?”
Senyum Keyla luntur seketika.
Ia kembali teringat saat lusa kemarin setelah pulang dari mall ayahnya memberikan ponsel untuknya dan tidak memberikan nomor ponsel pria itu pada Keyla.
Dengan alasan Keyla akan menyusahkannya.
“Ganggu.”
Hanya itu yang ia ingat saat dirinya meminta nomor ponsel sang ayah. Gio mengatakan tidak untuk memberikan ponsel karena berpikir Keyla akan mengganggunya.
Melihat wajah sedih Keyla, Gaby yang peka langsung mengalihkan pembicaraan.
“Btw, bokap lo beliin ponsel apaan?”
Keyla berhasil teralihkan dari kesedihannya. Gadis itu kembali tersenyum bahagia sembari merogoh sakunya dan menunjukkan ponsel baru yang ayahnya belikan.
“Wah anjir! Pantesan aja lo lebih milih pake ponsel yang dibeliin bokap lo ketimbang ponsel yang gue beliin,” ucap Gaby sembari memegang ponsel Keyla. Sebenarnya merek ponsel itu sama saja dengan ponsel yang ia belikan untuk Keyla, hanya saja ini adalah versi terbaru.
“Terus ponsel yang gue beliin gimana?” ucap Gaby sembari cemberut.
“Masih aku simpen kok, By. Kan itu pemberian sahabat terbaik aku. Sebenernya aku mau pake yang kamu tapi berhubung ponsel yang ayah beli itu sama kayak punya ayah jadi aku mutusin buat couple-an sama ayah aja,” cengir Keyla dan berhasil mendapatkan jentikan jari di jidatnya.
“Huh, Dasar!” dengus Gaby. Namun dalam hati gadis itu bersyukur bisa melihat Keyla bisa tersenyum dengan sepenuh hati seperti ini. Bukan senyum hambar penuh kepalsuan seperti yang lalu.
Selalu bahagia, ya, Key.
Gaby mengucapkan doanya untuk Keyla, sahabat terbaiknya.
***