Halaman dalam kastil dipenuhi kabut pagi yang dingin. Tanah basah beraroma lumut, dan udara terasa berat seperti sedang menunggu sesuatu yang buruk. Zea berdiri di tengah lapangan batu, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap.
Siluman serigala berjalan mengelilinginya, langkahnya tenang tapi penuh tekanan. “Kalau kau ingin bertahan sampai bulan purnama,” ucapnya, “kau harus bisa melawan rasa takut. Di sini, ketakutan adalah bau yang mengundang kematian.”
Zea mengangkat dagu, meski jantungnya berdebar. “Apa yang akan kau lakukan?”
Ia tersenyum tipis. “Membiarkan mereka mencium bau takutmu.”
Seketika, dari sisi halaman, bayangan-bayangan bergerak. Empat sosok berjubah hitam muncul, wajahnya tertutup topeng kayu retak. Gerakan mereka cepat dan tidak wajar, seperti boneka yang tali kendalinya dipotong setengah.
Zea mundur setapak. “Mereka…?”
“Penghuni tingkat bawah,” jawabnya. “Mereka tidak akan membunuhmu… kalau kau bisa menghindar.”
Tanpa peringatan, salah satu sosok itu melompat ke arahnya, cakar panjangnya nyaris menyentuh pipi Zea. Gadis itu menunduk, lalu berlari mengitari halaman. Nafasnya memburu, matanya mencari celah untuk lolos.
Namun semakin ia berlari, semakin cepat mereka mengejar, dan suara serigala itu menggema di pikirannya—bukan melalui telinga, tapi langsung di dalam kepala: Jangan lari darinya. Hadapi.
Zea berbalik, menghindar dari serangan berikutnya, lalu meraih sebuah tongkat kayu yang tergeletak. Dengan teriakan singkat, ia menghantam tangan makhluk itu. Kayu retak, tapi serangannya cukup membuat lawan terhuyung.
Di pinggir lapangan, siluman itu mengamati, sudut bibirnya terangkat. Dia… tidak sepenuhnya lemah.
Satu demi satu, Zea mulai menemukan ritmenya—menghindar, memukul, menendang. Sampai akhirnya, ketiga sosok itu berhenti, berdiri diam seperti patung.
Zea terengah, keringat membasahi pelipisnya. “Selesai?”
“Untuk hari ini,” jawabnya sambil berjalan mendekat. Ia mengangkat tangan Zea, melihat simbol merah di kulitnya yang kini berdenyut lebih cepat. “Ikatan kita… semakin kuat.”
Zea menatapnya, bingung. “Itu berarti apa?”
Dia menatap balik, senyumnya samar tapi matanya tajam. “Itu berarti… saat bulan purnama tiba, kau tidak hanya akan terikat padaku oleh kontrak darah. Kau… akan menjadi milikku sepenuhnya
Hawa malam itu begitu berbeda. Udara yang biasanya dingin di sekitar kastil kini terasa berat, seolah mengandung rahasia yang tak ingin diungkapkan. Bulan purnama menggantung besar di langit, memancarkan sinarnya yang perak dan menusuk hingga ke jantung hutan.
Zea berdiri di balkon menatap ke arah hutan gelap yang mengelilingi kastil. Dadanya berdegup tak karuan. Ini adalah malam purnama pertama sejak kontrak darah itu dibuat—malam yang menurut perjanjian menjadi kunci bagi kebebasan sang siluman serigala.
Ia mendengar langkah kaki berat di lorong, lalu sosok itu muncul—tinggi, berwajah dingin, dan matanya memantulkan cahaya bulan seperti dua permata emas. Sorotnya tajam namun ada luka yang tersembunyi di dalamnya.
"Sudah siap?" suaranya dalam, nyaris seperti geraman.
Zea menelan ludah, jemarinya mengepal. "Kalau aku memberi darahku… apakah kau benar-benar akan bebas?"
"Ya," jawabnya, mendekat. "Tapi kau juga akan terikat selamanya pada takdirku. Jika aku gagal mengendalikan diri… kau yang akan jadi korbannya."
Bibir Zea bergetar. Antara takut dan… entah apa, sesuatu yang membuatnya tak bisa mundur. Ia mengangguk pelan. "Aku sudah memilih, meski aku tidak tahu akhir dari semua ini."
Siluman itu tersenyum samar—senyum yang tidak sepenuhnya manusia. Ia lalu menggenggam tangan Zea, membawanya ke aula tengah kastil. Lilin-lilin di dinding menyala dengan sendirinya, menciptakan bayang-bayang bergerak seperti roh penasaran.
Ketika mereka berdiri di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar, Zea merasakan tubuhnya seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Udara berputar di sekitar mereka, angin berdesir meski semua jendela tertutup.
"Mulailah," bisik siluman itu.
Zea menghunus belati kecil yang diberikan padanya. Dengan napas bergetar, ia menorehkan sayatan di telapak tangannya. Setetes demi setetes darahnya jatuh ke lantai batu, namun sebelum menyentuh, darah itu melayang di udara—bercahaya merah menyala.
Siluman itu mendekat, menatapnya dengan tatapan lapar bercampur rasa sakit. "Kau tidak tahu… betapa berbahayanya ini untuk kita berdua."
Zea menatap balik, mencoba menahan rasa takut. "Maka kita harus bertahan… bersama."
Dan tepat saat darah itu menyentuh bibirnya, seluruh kastil berguncang.