part 6

553 Words
Getaran itu semakin kuat, seperti gempa yang berasal dari dalam kastil. Dinding-dinding berderit, debu turun dari langit-langit, dan udara dipenuhi dengan aroma logam—darah. Zea mundur setapak, namun tangan siluman itu mencengkeram pergelangan tangannya, erat seperti belenggu. Tatapan emasnya kini memerah, pupilnya memanjang menyerupai binatang buas. Nafasnya menjadi berat, setiap tarikan terdengar seperti erangan yang ditahan. "Aku… tidak bisa…" suaranya bergetar, nyaris berubah menjadi auman. Tubuhnya mulai bergetar hebat, tulang-tulang bergeser di bawah kulit, otot-otot menegang. Suara retakan tulang menggema di aula, membuat Zea bergidik. Rambutnya memanjang dan menebal menjadi bulu gelap, gigi taring memanjang, dan kukunya berubah menjadi cakar. Zea menahan napas, tapi tak beranjak. "Kendalikan dirimu! Kau janji akan bertahan!" Ia menggeram keras, lalu memukul pilar batu di sampingnya hingga retak. "Kutukan ini… tidak seperti yang kau pikirkan! Ini bukan hanya tentang aku yang menjadi monster di malam purnama—ini tentang aku… yang menjadi pemburu… dan kau… mangsanya." Darah Zea berdesir dingin. "Jadi… selama ini kau—" "—terikat untuk membunuh wanita yang memberiku darah," potongnya, suaranya kini berat, setengah manusia setengah binatang. "Itulah kutukan leluhurku. Darahmu memberiku kekuatan… tapi juga memaksaku menghabisimu." Zea terdiam. Setiap naluri di tubuhnya memerintahkan untuk lari, tapi hatinya berbisik sebaliknya. Tiba-tiba, bulan purnama diselimuti awan tebal. Sorot matanya melemah sejenak, memberi celah bagi siluman itu untuk menarik napas panjang. Ia menunduk, memejamkan mata, mencoba meredam gejolak yang menguasai dirinya. "Kita harus menemukan cara memutus kutukan ini… sebelum malam berakhir," katanya sambil menahan napas seperti menahan badai. Dan dari kegelapan sudut aula, terdengar suara langkah lain—pelan, namun penuh keyakinan. Seorang pria berjubah hitam muncul, tersenyum licik. "Ah… rupanya aku datang di saat yang tepat. Zea… sepertinya kau belum tahu bahwa darahmu… adalah kunci yang selama ini kucari." Zea memundurkan langkahnya, matanya bergantian memandang siluman serigala yang hampir kehilangan kendali dan pria berjubah hitam yang kini berdiri di hadapannya. Udara menjadi dingin, seakan kehangatan tersedot keluar dari ruangan. Pria itu melangkah pelan, setiap gerakannya terasa seperti ular yang mengintai mangsa. Di tangannya, sebilah belati tipis berkilau, dengan ukiran simbol kuno yang Zea tak pernah lihat sebelumnya. Siluman serigala mendesis rendah. "Kau… Dion" Pria itu tersenyum tipis. "Senang kau masih mengingatku. Tapi malam ini, aku tidak datang untukmu. Aku datang… untuk darahnya." Tatapannya beralih ke Zea, penuh nafsu yang dingin. Zea merasakan napasnya memburu. "Kenapa darahku?" "Karena," jawab Dion sambil mengangkat belatinya, "darahmu adalah darah Perantara. Sekali mengalir di tubuhku, semua makhluk terkutuk akan tunduk padaku. Termasuk dia." Geraman siluman itu berubah menjadi auman yang mengguncang aula. Dalam sekejap, ia menerjang Dion dengan kecepatan tak kasat mata. Cakar beradu dengan bilah belati, percikan cahaya memancar. Bau besi bercampur dengan aroma bulu hangus saat senjata itu menoreh kulit siluman. Zea tersentak. "Berhenti! Dia akan—" "Diam, Zea!" teriak siluman itu, matanya kini merah penuh. "Kalau aku kalah, kau akan jadi miliknya!" Benturan demi benturan membuat pilar batu runtuh, serpihan beterbangan. Dion bergerak lincah, menghindari cakar yang nyaris merobek dadanya. Namun, di sela kekacauan itu, Zea melihat sesuatu—setiap kali bilah belati itu mengenai siluman, luka yang terbentuk memancarkan cahaya keperakan… dan perlahan memudar, seperti menyerap sesuatu dari tubuhnya. Itu bukan sekadar senjata. Itu… penyedot kutukan. Dan entah kenapa, hatinya berkata—jika belati itu digunakan padanya, bukan hanya siluman yang akan tunduk… tapi mungkin juga kutukan mereka berdua akan terikat selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD