part 7

531 Words
Zea berdiri kaku, jantungnya berdegup kencang di tengah suara denting logam dan raungan yang memekakkan telinga. Setiap benturan antara siluman serigala dan Dion membuat lantai bergetar. Namun yang membuat napasnya tercekat bukanlah pertarungan itu—melainkan kesadaran yang baru saja menyambar pikirannya. Belati itu bukan sekadar senjata, melainkan kunci untuk memutus atau… memperkuat ikatan antara dirinya dan siluman. “Zea! Pergi dari sini!” teriak siluman serigala, darah mengalir dari luka di lengannya. “Terlambat,” suara Dion terdengar licik. Dengan gerakan cepat, ia melesat melewati serangan siluman dan mengarah langsung ke Zea. Refleks, Zea meraih sebilah pedang tua yang tergeletak di lantai. Tangannya gemetar, tapi matanya menatap lurus. “Jangan dekati aku!” Dion berhenti hanya sejengkal dari wajahnya. Senyumnya menyeringai. “Kalau kau menyerahkan dirimu sekarang, aku akan mengakhiri penderitaannya. Kutukannya akan sirna… tapi kau akan menjadi milikku, selamanya.” Zea menelan ludah. Pilihan itu menusuk pikirannya: Membantu siluman melawan Dion, mempertahankan kebebasannya, tapi mempertaruhkan nyawa mereka berdua. Menyerahkan diri demi memutus kutukan siluman, tapi mengikat dirinya pada kegelapan yang tak ia mengerti. Siluman itu meraung, menerjang Dion dengan kekuatan penuh, membuat mereka berdua terlempar ke ujung ruangan. Debu tebal mengepul, menyelimuti udara. Zea menggenggam pedangnya erat. Suara hatinya berbisik… Kalau aku tak memilih sekarang… aku akan kehilangan segalanya. Dengan tekad yang tiba-tiba mengeras, ia melangkah ke tengah arena, memutuskan—dan keputusan itu akan mengubah segalanya. Debu mulai mengendap, dan di sela-sela kepulan itu, mata kuning Dion berkilat. Bulan purnama menembus celah atap, memandikan ruangan dengan cahaya pucat—dan Zea tahu, waktu mereka hampir habis. Siluman serigala terhuyung, nafasnya memburu, luka di tubuhnya makin parah. “Zea… jangan lakukan apa pun yang bodoh…” suaranya serak, nyaris memohon. Namun hati Zea sudah mantap. Ia melangkah ke arah mereka, menggenggam pedang dengan tangan kanan dan belati kutukan di tangan kiri. “Kalau aku tidak bertindak sekarang, kita berdua akan mati.” Dion menyeringai, darah mengalir di pelipisnya. “Jadi kau memilih…?” “Bukan memilihmu,” jawab Zea dingin, “tapi aku memilih mengakhiri malam ini.” Dengan kecepatan yang tak ia sadari sebelumnya, Zea menebas serangan Dion, lalu melesat ke sisi siluman serigala. Ia menusukkan belati ke tanah, tepat di lingkar sihir yang mengikat kekuatan kutukan itu. Cahaya merah menyala, udara terasa berat, dan jeritan gaib menggema di seluruh ruangan. Siluman serigala terjatuh, menggeliat kesakitan. Bulu-bulunya mulai memudar, taringnya bergetar, tubuhnya berubah—perlahan menjadi manusia. Namun, di detik yang sama, Zea merasakan panas membakar di dadanya. Luka tak terlihat terbuka di bawah kulitnya, dan darahnya menetes ke lingkar sihir. Simbol-simbol kuno menyala di sepanjang lengannya, mengikatnya dengan kontrak baru yang belum ia mengerti. “Zeana!” seru siluman itu—atau kini, pria berambut hitam dengan mata emas—berusaha bangkit untuk meraih dirinya. Tapi sebelum tangannya menyentuh Zea tubuhnya terdorong mundur oleh gelombang sihir. Dion tertawa—bukan karena menang, tapi karena sesuatu yang jauh lebih gelap telah dimulai. “Kau berhasil membebaskannya,” ucap Dion sambil menatap Zea dengan tatapan penuh rahasia, “tapi sekarang… kutukannya milikmu.” Zea terhuyung. Pandangannya mulai buram, dan sebelum segalanya menggelap, ia sempat melihat wajah manusia siluman itu—penuh ketakutan, bukan untuk dirinya sendiri… tapi untuk Zea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD