part 8

511 Words
Zea terbangun di tengah kegelapan. Tubuhnya terasa lebih ringan, namun setiap tarikan nafas seperti meminjam udara dari dunia yang bukan miliknya. Bau tanah basah dan darah memenuhi hidungnya—tapi baunya begitu tajam, seakan seluruh indra penciumannya terlahir kembali. Ia bisa mendengar suara serangga di luar, denyut jantung seekor tikus di sudut ruangan, bahkan detak jantung seseorang yang duduk tak jauh darinya. “Jangan bergerak.” Suara itu milik pria berambut hitam, kini mengenakan jubah lusuh. Tatapannya gelisah, namun tetap menjaga jarak. “Tubuhmu… belum menyesuaikan diri.” Zea memegang dadanya. Ada simbol samar menyala di kulitnya, dan setiap kali ia memandangnya, dadanya terasa sesak. “Apa yang terjadi padaku?” Pria itu menunduk. “Kau memutus kontrak kutukan dari tubuhku… dan memindahkannya ke dirimu.” Zea terdiam. “Berarti aku—” “Setengah siluman sekarang,” potongnya cepat. “Kau punya kekuatan… tapi juga lapar yang sama seperti makhluk itu.” Saat kata “lapar” diucapkan, Zea merasakannya—dorongan instingtif yang menyeramkan. Tenggorokannya kering, giginya terasa gatal, dan setiap suara detak jantung di sekitarnya seperti memanggil. Pria itu mendekat, lalu berlutut di hadapannya. “Kau harus belajar mengendalikannya sebelum malam purnama berikutnya. Kalau tidak… kau akan berubah sepenuhnya.” Zea menatapnya dengan mata bergetar. “Dan kalau aku gagal?” Ia terdiam sesaat, sebelum menjawab dengan nada berat, “Maka aku sendiri yang akan mengakhirimu.” Hutan di luar desa itu sepi. Hanya ada suara dedaunan bergesekan, dan angin dingin yang menusuk hingga ke tulang. Zea berdiri di tengah lingkaran tanah kosong, telapak kakinya menempel pada tanah lembap. Pria itu—yang kini sudah Zea tahu bernama Reyhan—melempar sebuah batu ke arahnya. “Dengarkan, jangan lihat. Gunakan telingamu, ikuti detaknya.” Zea mencoba fokus, namun setiap kali ia memejamkan mata, hal lain muncul: suara detak jantung Reyhan, aroma darah samar dari jarinya yang tergores, dan rasa haus yang membuatnya ingin melompat menerkam. Ia menggigit bibir, mencoba menahan dorongan itu. “Aku… tidak bisa,” gumamnya, napasnya tersengal. Reyhan berjalan mendekat, tatapannya tajam. “Kalau kau menyerah sekarang, malam purnama berikutnya kau akan menjadi monster penuh. Tidak ada jalan kembali.” Ia melemparkan batu lagi, kali ini lebih cepat. Refleks Zea menangkapnya tanpa membuka mata, jari-jarinya mencengkeram terlalu kuat hingga batu itu retak. Reyhan tersenyum tipis. “Itu dia. Kau punya kekuatan… tapi kontrolmu nol." Latihan berikutnya lebih brutal. Reyhan melukai telapak tangannya sendiri, membiarkan aroma darah memenuhi udara. Zea langsung terhuyung, matanya memerah, giginya memanjang tanpa ia sadari. “Lawan itu!” teriak Reyhan. “Aku… aku tidak—” Zea memegangi kepala, tubuhnya bergetar. Reyhan menahan bahunya dengan kuat. “Kau bukan hewan. Kau Zea. Ingat itu!” Suara itu entah bagaimana menembus kabut lapar di pikirannya. Nafasnya mulai teratur, dan perlahan taringnya surut. Namun saat ia membuka mata, ia sadar Reyhan begitu dekat, dan setiap denyut nadinya terdengar seperti panggilan. Ia menjauh cepat, takut pada dirinya sendiri. Reyhan hanya berdiri di tempatnya, menatapnya tanpa ekspresi, tapi matanya menyimpan sesuatu—antara kekhawatiran dan rasa bersalah. “Besok kita latihan lagi. Lebih berat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD