part 9

475 Words
Pagi itu, Zea kembali ke desa bersama Reyhan, Udara masih dingin, tapi aroma kehidupan begitu kental—roti baru dipanggang, kayu dibakar, dan… darah segar dari ayam yang baru disembelih. Langkah Zea terhenti. Hidungnya seolah punya pikiran sendiri, mengikuti arah aroma itu. Reyhan langsung menatapnya curiga. “zeana.…” suaranya mengandung peringatan. “Aku… tidak apa-apa,” jawab Zea cepat, tapi matanya sudah berkilat samar. Mereka melewati pasar kecil. Seorang anak kecil berlari sambil memegang lututnya yang berdarah karena terjatuh. Bau itu menusuk hidung Zea seperti racun manis. Jantungnya berdebar, jemarinya mulai gemetar. Reyhan bergerak cepat, berdiri di depannya. “Lihat aku. Sekarang.” Namun suara denyut nadi si anak terlalu keras, seakan memenuhi seluruh kepala Zea. Ia melangkah ke samping, mencoba menghindari Reyhan, tapi pria itu menangkap pergelangannya. “Jangan lakukan ini di sini!” Zea meronta. “Aku… lapar, Reyhan. Aku tidak bisa—” Tiba-tiba, seorang pria desa yang melihat keributan itu mendekat. “Hei! Ada apa ini?” Reyhan hanya sempat menoleh sebentar, dan di momen itu Zea berhasil melepaskan diri. Ia hampir mencapai anak itu ketika suara teriakan Reyhan memecah udara. “ZEANA !!!” Seketika dunia seperti berhenti. Zea melihat tangannya sendiri, hanya satu jengkal dari wajah pucat anak itu. Mata bocah itu penuh ketakutan. Zea mundur cepat, tubuhnya bergetar hebat. Orang-orang mulai berkerumun, berbisik-bisik, beberapa menatapnya dengan kecurigaan. Reyhan menarik Zea keluar dari kerumunan, menyeretnya ke gang sepi. Nafasnya berat, rahangnya mengeras. “Kalau kau tidak belajar mengendalikan diri, semua orang di desa ini akan tahu siapa—atau apa—kau sebenarnya.” Zea menunduk, malu sekaligus takut pada dirinya sendiri. Tapi di lubuk hatinya, ada rasa lapar yang belum sepenuhnya hilang. Langit sore merona jingga ketika Zea duduk di tepi sumur desa, mencoba menenangkan pikirannya. Air dingin di genggamannya tak cukup untuk meredam rasa haus yang terus mengganggu. Reyhan berdiri tak jauh darinya, pura-pura sibuk memeriksa pedangnya, tapi matanya jelas mengawasi setiap gerakan Zea. Dari kejauhan, seorang pria bertubuh kurus dengan topi lusuh menatap mereka tanpa berkedip. Namanya Jerry, salah satu warga yang terkenal kepo pada urusan orang lain. Dia ada di pasar pagi tadi—dia melihat segalanya. Saat Zea dan Reyhan mulai berjalan pulang, Jerry mengikuti, menjaga jarak. Langkahnya nyaris tanpa suara, tapi tatapannya menusuk punggung Zea seperti belati. Di sebuah tikungan sepi, Zea merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menghentikan langkah, menoleh perlahan… tapi jalan di belakangnya kosong. “Mungkin hanya perasaan,” gumamnya. Namun Jerry masih ada, bersembunyi di balik gerobak tua. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia melihat tadi—bagaimana mata Zea berkilat, bagaimana ia nyaris menyerang anak kecil. “Aku tahu kau bukan orang biasa…” bisiknya pada dirinya sendiri. Malam itu, saat Zea tertidur di rumah Reyhan, Jerry sudah membuat rencana. Besok malam, dia akan mengikutinya lagi. Dan kalau benar dugaannya… dia akan memastikan seluruh desa tahu rahasia itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD