Malam itu, kastil terasa terlalu besar untuk dihuni oleh hanya dua makhluk hidup—Zea dan siluman itu. Hujan masih mengetuk kaca jendela, sementara obor yang dipasang di dinding mengirimkan cahaya temaram berwarna oranye, menari di permukaan batu.
Zea duduk di kursi panjang dekat perapian. Pakaian sekolahnya yang basah sudah diganti dengan gaun sederhana berwarna abu-abu yang ia temukan di kamar lantai atas. Meski hangat, pikirannya kacau.
Dari sudut ruangan, siluman itu mengamati. Ia duduk santai di kursi besar, salah satu kakinya terangkat di sandaran, rambut peraknya tergerai. Sesekali, mata kuningnya berkilat ketika terkena pantulan cahaya api.
“Kau menatapku seperti ingin membunuhku,” kata Zea akhirnya, mencoba memecah keheningan.
“Aku menatapmu seperti… menilai apakah kau akan berguna atau tidak.”
“Berguna untuk apa? Menjadi darahmu di bulan purnama?!” sindir Zea
Siluman itu tersenyum miring. “Setidaknya kau mengerti peranmu.”
Zea menatapnya tajam. “Kalau begitu kenapa tidak kau bunuh saja aku sekarang? Ambil darahku dan lepaskan aku.”
Hening. Sorot matanya berubah sesaat—ada sesuatu yang menyerupai kesedihan singkat sebelum ia menutupinya dengan senyum tipis. “Karena darah yang bisa mematahkan kutukan… hanya punya kekuatan saat bulan purnama. Sebelum itu, kau hanya manusia biasa.”
Zea mengalihkan tatapannya. “Kalau aku tidak mau?”
Tiba-tiba, ia sudah berdiri di hadapannya. Gerakannya begitu cepat hingga Zea nyaris terjatuh dari kursinya. Kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Zea
“Kalau kau tidak mau…” ia berbisik, suaranya seperti geraman rendah, “…kontrak darah akan memaksa tubuhmu menuruti perintahku. Dan itu… akan sangat menyakitkan.”
Zea menahan napas, merasakan hawa panas bercampur ancaman yang mengelilinginya. Tapi di balik tatapan liar itu, ia bisa melihat sesuatu—kesepian yang membeku selama bertahun-tahun.
Saat siluman itu mundur, ia berbalik dan melangkah menuju pintu. “Tidurlah. Mulai besok, kau akan belajar bertahan hidup di sini. Kastil ini… bukan hanya milikku.”
Ucapan itu membuat darah Zea berdesir dingin. Jika bukan hanya miliknya… siapa lagi yang tinggal di sini?
Pagi itu, kabut tebal menyelimuti halaman kastil. Zea terbangun bukan oleh cahaya matahari, tapi oleh suara derap langkah di lorong luar kamarnya. Langkah itu terdengar berat… terlalu berat untuk manusia biasa.
Ia membuka pintu sedikit dan mengintip. Sosok tinggi berjubah hitam berjalan perlahan, membawa baki perak. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir, dan gerakannya kaku, seperti boneka hidup. Zea menelan ludah.
Saat ia hendak bertanya, dari ujung lorong muncul siluman serigala itu—kini dalam wujud manusia sepenuhnya, tanpa telinga atau cakar, tapi aura dinginnya tetap sama. “Masuk,” perintahnya singkat.
Zea menurut, meski rasa ingin tahunya membuncah.
Di meja, ia menemukan sepiring roti hitam yang beraroma rempah. “Apa ini?”
“Makanan,” jawabnya singkat. “Makanlah. Kau butuh tenaga.”
Zea menyipitkan mata. “Kalau kau mau aku tetap hidup sampai bulan purnama, kenapa di kastil ini ada… makhluk bertopeng yang menakutkan?”
Ia terdiam sejenak, lalu duduk di kursi seberang. “Kastil ini adalah penjara. Bukan hanya untukku… tapi juga untuk mereka. Makhluk-makhluk yang terikat janji, dosa, atau kutukan, sama sepertiku.”
Zea merinding. “Jadi mereka juga… monster?”
“Monster, manusia, dewa yang jatuh—semuanya sama saja di sini. Kita terikat oleh satu hal: kontrak darah dengan penguasa pertama kastil ini.”
Zea menatapnya, penasaran. “Penguasa pertama?”
Ia tersenyum tipis, tapi kali ini tidak ada kehangatan sama sekali. “Sang Pencipta Kutukan. Dan jika kau ingin bebas… kau harus melawannya.”
Sebelum Zea sempat bertanya lagi, pintu kamar terbuka sedikit, dan sosok berjubah hitam tadi berdiri di sana. Suara berat dan bergetar keluar dari balik topengnya, “Tuan… waktunya memanggil Dewan Bayangan.”
Zea menatap siluman itu, hatinya berdebar. Dewan Bayangan? Apa lagi itu?