2 – Awal Kekecewaan

2478 Words
“Bagaimanapun keadaan hatinya sekarang, entah terisi oleh nama siapa, do'aku takkan goyah meskipun harus bertarung di langit sana.”-Azhar- _________________________________________ Desiran ombak beradu, membusung bunyi pecahan yang merdu lalu melebur dengan riakan tak berdebu. Langit biru menampilkan lukisan indah bak kanvas tak ternoda. Awan tulus pun memilih untuk mengalah pada mentari yang menguning dengan begitu sempurna. Seorang pria sedang menyusuri bibir pantai setelah memantau progress proyek pembangunan Resort baru yang digarapnya. Resort bernuansa romantis didesain khusus untuk memanjakan pasangan-pasangan yang akan menghabiskan waktunya di Bali. Lokasi yang menghadap langsung ke bibir pantai membuat keindahannya semakin mengagumkan. Setelah memberi arahan dan menyelesaikan beberapa masalah yang disampaikan oleh Manager Konstruksi, ia memilih untuk menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sejenak sebelum kembali ke Hotel. Rencananya, dia akan berada di sini beberapa hari saja yaitu untuk memantau progress proyeknya. Namun, kepulangannya kali ini terdengar oleh orangtuanya hingga memintanya kembali ke rumah meski hanya sebentar. Tak bisa menolak, ia pun berencana untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya beberapa hari lagi. Azhar tersenyum ramah pada wisatawan yang menyapanya. Beberapa wanita terlihat mencoba menghampirinya dan menggodanya, tetapi Azhar menghindar dengan sopan. Ia tak ingin melonggarkan prinsip yang sudah ia jaga, termasuk untuk tak menyambut uluran tangan halus dari wanita-wanita cantik yang menggunakan pakaian pantai terbaik mereka. Ada beragam model manusia maka ada beragam pula model pakaiannya. Ada yang hanya menggunakan dua lembar kain kecil saja dan ada juga yang tetap menggunakan pakaian muslimahnya. Sudah dapat ditebak bahwa para turis asinglah yang dengan berani berpakaian terbuka di sini, juga tidak sedikit wanita Indonesia yang menggunakan gaun pendek dan transparan. Azhar melangkah dengan sesekali menunduk, takut tak mampu menjaga mata hingga bisa menjadi fitnah nantinya. Ia tak menyalahkan tatapan pertama, namun ia tak akan jatuh pada pandangan yang sama berikutnya. Saat berhenti di tepi pantai bagian barat, ia tak mampu menghindari pemandangan di depannya. Sosok itu sangat dikenalinya, gadis yang mampu menahan hatinya selama bertahun-tahun ini. Sosok yang sudah lama tidak ia jumpai. Meskipun begitu, tak berarti Azhar terbebas dari rasanya ini. Azhar masih sangat mengingat Sarah dan selalu menyematkan satu nama sederhana itu dipertengahan doanya. Tak mendesak, namun tak pernah mundur selama sosok cantik tersebut masih bisa ia raih. Setelah menampilkan senyum lembutnya, Azhar kembali beristighfar. Sarah sangat berubah dan tak seperti awal perjumpaan mereka. Sekarang Sarah dengan berani mempertontonkan auratnya di depan banyak orang yang bukan mahromnya. Azhar merasa sesak, mengapa ia tak bisa melupakan Sarah meski beribu kali dicobanya? Sempat ia memiliki ketertarikan dengan salah satu mahasiswinya, namun Allah berkehendak lain dengan membuat rasanya tertolak halus. Shanun namanya, gadis cantik yang sudah mulai berhijrah. Azhar mengenalnya sejak gadis itu masih berada ditengah kebimbangan dan akhirnya Azhar menyaksikan sendiri perubahan baiknya. Shanum mulai menggunakan pakaian syar'i yang membuatnya terlihat semakin anggun dan bermartabat. Andaikan saja Sarah seperti Shanum. Azhar membatin. Tapi sayang, Sarah tak seperti gadis bernama Shanum. Dia telah berubah, sangat berbeda dari gadis berseragam sekolah yang pernah Azhar temui kala itu. Saat itu Sarah masih menggunakan kerudung meski hanya sekadar formalitas di sekolahnya. Namun, mengapa semakin dewasa Sarah semakin menyepelekan kemuliaan dirinya? Apakah hanya Azhar yang memantaskan diri di sini? Apakah hanya Azhar yang ingin menjadi yang terbaik untuk Sarah? Azhar tersenyum perih, tentu saja begitu. Mana mungkin Sarah bisa sama sepertinya, mana mungkin Sarah menginginkannya seperti dirinya menginginkan gadis itu? Azhar hanya seorang pengecut yang larut dalam memperbaiki diri namun menyepelekan sesuatu yang harus disegerai. Meskipun begitu, sepenuhnya bukanlah kesalahan Azhar. Ia bahkan telah bertindak jauh sebelumnya dengan mengajukan diri ke hadapan orang tua Sarah saat gadis itu masih duduk dibangku kelas 3 SMA, namun ia langsung ditolak oleh keluarga Sarah. Mereka menolaknya dengan dalih bahwa Sarah masih sekolah. Itu memang benar, namun tak hanya begitu saja. Mereka juga menolak Azhar dengan alasan Azhar bukanlah seorang pengusaha, Azhar hanya mahasiswa sekaligus dosen biasa sehingga tak pantas. Kemudian, Azhar bertekad ingin memantapkan dan memapankan dirinya agar bisa bersanding dengan Sarah walau ia tahu bahwa kemungkinannya sangatlah kecil. Azhar tak tersinggung atau terhina sedikitpun dengan perkaataan orang tua Sarah, ia sangat memaklumi hal itu. Ia berusaha untuk selalu berbaik sangka dan mungkin saja waktu akan menghapus segalanya. Azhar percaya akan itu semua. Meskipun Sarah tak sesholehah yang ia harapkan, tetap saja Azhar masih tertambat pada sosok itu. Azhar ingin menggapainya, mendekati Sarah yang sedang tersenyum memandangi deburan ombak dengan pakaian pantainya yang melambai-lambai lembut. Namun, gadis itu terlihat semakin melebarkan senyumnya seraya mengantar peluk untuk seorang pria yang baru saja muncul. Azhar mundur dengan pandangan tertunduk kecewa. Ternyata perkataan tidak semudah perasaan dan tindakan. Ia teringat dengan ucapannya pada Adzkia sebelumnya. “Bagaimanapun keadaan hatinya sekarang, entah terisi oleh nama siapa, do'aku takkan goyah meskipun harus bertarung di langit sana.” Susah, susah sekali memegang perkataan tersebut saat penampakan kebahagiaan sepasang manusia itu memenuhi penglihatannya. "Semoga saja sesuai harapanmu. Aku tahu kau begitu mendambakannya, tapi ingat, jangan sampai membuatmu buta akan hal lainnya."  Perkataan Adzkia memang ada benarnya. Aku terlalu mendambakannya hingga tanpa sadar membuatku perlahan buta. Ia membatin. Azhar pun memutar tubuhnya berusaha menjauh dari seseorang yang tanpa sadar telah menyakitinya. Sarah, aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu meskipun itu menggores luka untukku. Semoga kau selalu bahagia dengan caramu dan semoga aku bisa melunturkan bayangmu meski tak ingin lakukan itu. *** Beberapa bulan telah berlalu "Bagaimana, Thoriq, kau menemukannya?" tanya seorang pria paruh baya yang terlihat gelisah di kursinya. Pria yang dipanggil 'Thoriq' terlihat sibuk dengan ponselnya namun tetap menjawab, "Tidak, Om, aku sudah mengecek ke semua sahabatnya, namun tidak ada diantara mereka yang tahu di mana Sarah sekarang.” Pria paruh baya itu mengeram, "Anak itu semakin bandel dan liar saja. Sudah berani membohongi orang tua dan sekarang meninggalkan rumah seenaknya." "Menurutku, lebih baik Om tunangkan saja mereka berdua. Takutnya Sarah akan bertindak lebih jauh lagi. Cita-citanya saja bisa ia tinggalkan untuk pria itu, apalagi jika kita terus memaksanya menjauhi Faris." Thoriq menyatakan pendapatnya karena terlalu kasihan melihat omnya yang terus memikirkan kelakuan sepupunya itu. "Entahlah, Om pusing. Ada-ada saja cara Sarah mempermalukan Om. Pertama, permasalahan dia meninggalkan kuliahnya. Kedua, kabar dia memilih menjadi model di Agensi Faris. Kalau model yang sopan tidak mengapa, ini kebanyakan gambar dia memakai pakaian yang mengekspose tubuhnya. Om malu, malu. Dan kali ini, dia nekat pergi dari rumah. Om yakin bahwa dia bersama pria itu sekarang." Papa Sarah menatap sendu beberapa majalah dan tabloid yang menampilkan putrinya dengan beragam pose. Ada beberapa gambar yang membuat darahnya mendidih yaitu ketika Sarah mempertontonkan auratnya dengan bebas. Kabar mengenai Sarah yang sering absen dari perkuliahan pun baru ia ketahui ketika dirinya tak sengaja bertemu dengan salah satu Dosen Sarah. Pria bernama Thoriq mendekati meja Papa Sarah. "Mungkin juga, Om. Aku sudah mengecek langsung ke Agensi dan katanya, Faris sedang tidak ada di tempat sejak beberapa hari yang lalu." Thoriq pun tak langsung percaya saat mendengar kelakuan Sarah yang kali ini melewati batas hingga langsung menuju alamat Kantor Faris yang ia dapatkan dari tantenya. "Terus bagaimana ini, Riq?" Tatapan pria di depan Thoriq nampak lemah. Ia lelah dibohongi oleh putrinya. Thoriq semakin mendekat ke meja Papa Sarah seraya menunjuk ponselnya. "Tenang, Om, jangan cemas. Aku sudah meminta bantuan orang kepercayaanku untuk menemukan Sarah. Ron tidak pernah mengecewakan. Dia akan melaporkan kinerjanya hari ini, kita tunggu saja." Papa Sarah menangkup tangannya ke wajah seraya berkata lirih, "Om lelah begini terus. Sarah anak tunggal Om, kalau bukan dia, siapa lagi yang akan menjadi kebanggaan Om. Meski dia sangat mencintai Faris, tapi Om merasa pria itu tidak cocok untuknya. Sekarang saja dia bisa menyesatkan Sarah, apalagi nanti.” Saat Sarah mengenalkan Faris ke hadapannya, ia langsung tidak setuju jika putrinya memiliki hubungan dengan pria itu. Terbukti, sejak itu Sarah benar-benar berubah bahkan mampu bertindak kelewatan seperti ini. "Oh, andaikan saja waktu itu Om menerima lamaran dari pria keturunan Timur Tengah itu. Mungkin saja ceritanya akan berbeda. Om menyesal, Riq." Papa Sarah mengungkapkan penyesalannya. Ia pernah menolak seorang pria yang waktu itu dengan berani melamar Sarah. Thoriq kembali duduk di sofa sambil menerawang jauh. "Sudahlah, Om, tidak baik menyesali yang sudah terjadi dan juga mengandaikan sesuatu yang telah terlepas dari genggaman." "Kamu benar. Tapi, apakah mungkin pria itu kembali lagi ke sini? Meminta Sarah pada Om untuk yang kedua kalinya? Jika iya, Om pasti akan langsung menerimanya. Apakah Azhar sudah menikah sekarang, Riq?" tanya Papa Sarah dengan pandangan berharap. "Entahlah, Om, yang lebih tahu adalah Riqhad. Mereka bersahabat." Thoriq mengangkat bahunya. Memang Riqhad dan Azhar adalah sahabat hingga sekarang. Namun, Riqhad saja sudah jarang Thoriq temui, bagaimana bisa ia tahu keadaan Azhar. Drrrt... drttt.... Ponsel Thoriq bergetar, ia langsung mengangkatnya. "Bagaimana, Ron?" "Bos, saya sudah melacaknya dan hari ini saya mengikuti mereka. Mereka sekarang berada di Singapura. Selain untuk pemotretan salah satu brand, mereka juga terlihat sedang liburan berdua. Dan- " terang suara di seberang sana. Thoriq terlihat tak sabaran. "Dan apa? Coba jelaskan dengan benar." Pria yang dipanggil 'Ron' menghela nafas sejenak lalu melanjutkan, "Saya sempat melihat Faris ingin melecehkan Sarah. Untung saja Sarah berhasil menolaknya hingga mereka bertengkar." "Menurut saya lebih baik jemput Sarah ke sini sebelum terjadi hal yang buruk. Ikuti saja keinginannya daripada ia menjadi lebih nekat lagi," tambahnya lagi. "Kamu benar, saya juga berpendapat seperti itu. Kalau begitu, kamu terus pantau mereka. Kami akan ke sana besok," sambut Thoriq sambil menghampiri Papa Sarah. "Siap, Bos. Jangan lupa bonus saya." "Kerja dulu baru bonus." Tut. Setelah mengakhiri panggilannya, Thoriq pun berkata pada omnya, "Sarah di Singapura, Om. Ayo ke sana besok!" Papa Sarah mengangguk lemah. Mungkin benar, mau tidak mau sebaiknya Sarah ditunangkan saja dengan kekasihnya itu. Ia akan berusaha menerima kenyataan ini meski dirinya masih mengharapkan seseorang yang telah dia singgung perasaannya. Tapi itu mustahil terjadi. *** Empat Bulan kemudian Sarah terlihat cantik dengan gaun sebatas lutut. Ia memilih untuk mengepang rambutnya hari ini agar terlihat lebih fresh. Setelah dari rumah temannya, Sarah kembali lagi ke rumahnya, sebab janjinya dengan Faris harus dibatalkan. Mantan pacar sekaligus tunangan dan calon suaminya itu sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan, itulah yang Sarah tahu dari pesan yang dikirimkan Faris kemarin. Saat sampai di rumah, Mama menyambutnya dengan kalimat perintah agar besok Sarah bisa ikut ke rumah Tante Hasna. Tante Hasna ingin mengenalkan seseorang kepada mereka semua. Sebenarnya, Sarah sangat malas menghadiri acara keluarga seperti itu, keluarganya masih saja sinis terhadap Faris padahal pria itu sebentar lagi akan menjadi anggota baru di keluarga mereka. Takut kembali membuat orang tuanya murka dan mengungkit-ngungkit kejadian lalu---ketika Sarah membandel, Sarah pun terpaksa menyetujuinya. Sarah menutup pintu kamarnya lalu memilih untuk menghubungi Faris dan menyampaikan rencana besok. Sarah ingin mengajak Faris ikut bersamanya.  Sudah dua kali panggilannya terhubung, tapi tidak dijawab oleh pria itu. Entah sedang apa Faris sekarang. Sarah menghela nafas dan kembali mendial Faris untuk yang ketiga kalinya dan syukurlah panggilan tersebut diangkat dalam detik kesepuluh.  "Hallo, Yang. Kenapa?" tanya Faris di seberang sana. Sarah mengernyit mendengar suara Faris yang sedikit mengganjal. "Yang, kamu jadi kan pulangnya besok?" Sarah menyampaikan maksudnya. "Iya, jadi. Terus?" Sarah merasa ada yang berbeda dari nada suara Faris, seperti tidak senang akan panggilan darinya ini. Namun, Sarah mencoba berpikiran positif dan mengabaikannya. "Gini lho, malam besok kita ke rumah Tante Hasna. Ada acara makan malam sekalian memperkenalkan anak angkatnya Tante." "Malas aku. Keluarga kamu masih nggak suka sama aku, ikut acara kalian bikin aku nggak nyaman aja. Kamu pergi sendiri aja ya, kalo enggak sama orang tuamu," tolak Faris. "Kok gitu sih, Yang? Kamu serius kan, mau nikahin aku?" Faris terdengar menghela nafas berat. "Emang aku terlihat main-main sama kamu? Kok malah nanya gitu?" "Ya kamu sih, nggak mau usaha deketin keluarga aku. Kalo kamu gini terus, keluargaku bakal gitu terus ke kamu," terang Sarah dengan emosi. Bagaimana tidak, Faris tak pernah berinisiatif lebih dulu untuk mendekati keluarganya padahal pria itu akan menjadi suaminya. "Makanya, ayo ke sana bareng, kita tunjukkan bahwa kamu nggak seperti yang mereka pikirkan," tambah Sarah---berusaha membujuk. Setelah sekian menit mendebatkan hal ini, akhirnya Faris pun setuju. "Oke deh, Yang. Aku ikut." "Makasih ya, udah mau ngalah. Sampai ketemu besok, aku sayang kamu." Sarah tak bisa menyembunyikan nada cerianya saat mendengar persetujuan Faris. "Iya, Yang. Aku sayang kamu," balas Faris singkat---tak seperti biasanya. Sarah kembali merasa ada yang berbeda. Ia seperti mendengar suara seorang wanita di sekitar Faris. Saat ingin menayainya, Faris lebih dulu menutup ponselnya. Sarah termenung sebentar untuk mempositifkan pikirannya kembali. Tidak mungkin Faris sedang bersama wanita lain saat ini. Iya, itu tidak mungkin. Faris hanya mencintainya, setidaknya itu yang Sarah yakini sampai detik ini. Sementara itu "Kok kamu bersuara sih? Nanti dia dengar dan curiga gimana?" keluh seorang pria setelah menutup ponselnya. Wanita di sebelahnya merengut kesal dan menunduk. "Maaf, By, soalnya kamu cuekin aku. Teleponnya lama banget, pake sayang-sayangan pula. Kan aku jadi sedih." Pria itu terkekeh sambil merangkul wanita cantik yang terlihat semakin cantik ketika merajuk. "Cup... cup... Udahlah, Han, kamu nggak usah sedih gitu. Sekarang hanya kamu yang aku mau, bukan dia yang berstatus calon istriku. Andai aku bertemu denganmu lebih dulu, maka aku tak akan menghabiskan waktu cuma-cumaku bersama dia. Wanita yang tak bisa memberiku rasanya." "Gitu ya? Berarti, kamu mau sama aku cuma karena aku murahan?" Si wanita melepas rangkulan di pundaknya dengan wajah pilu. "Eh, enggak gitu, Han. Aku mau sama kamu karena emang aku cinta sama kamu," aku sang pria dengan meyakinkan. Ia tak suka melihat wanita yang ia rangkul itu menunduk dan cemberut. Wanita itu menatap si pria dengan tatapan permohonannya. "Kalo cinta, kamu bersedia kan, ninggalin dia demi aku?" Pria itu terdiam lama, ia bimbang ditanyai pertanyaan yang satu ini. "Sudah aku duga bahwa kamu tidak bersedia meninggalkan dia. Mentang-mentang dia anak orang berada. Apa gunanya hubungan kita tiga bulan ini? Apa aku hanya selingan ketika kamu telah bosan menunggu murahannya dia?" Wanita itu kembali bersedih dan memalingkan wajahnya. Setelah bertarung sejenak dengan hati dan pikirannya, dengan menatap wanita di sampingnya, si pria pun berkata setengah ragu, "Oke, aku pilih kamu. Kamu nggak usah cemas sebab demi kamu aku akan ninggalin dia secepatnya. Sabar." "Makasih, Baby. Aku makin cinta sama kamu." Wanita itu berubah senang dan melempar tubuhnya untuk memeluk si pria. "Aku juga... jadi?" Si pria mengedipkan sebelah matanya. "Jadi apa?" Si wanita pura-pura tak mengerti. "Lanjutin yang tadi lah, nanggung tahu," pinta si pria sambil memeluk wanita itu. "Kamu mah mau enaknya doang." Wanita itu merengut dengan tangan mencubit lengan pria yang sedang mengungkung dirinya saat ini. "Kamu juga, kan?" Keduanya pun tertawa bersamaan setan yang bangga karena melihat umat manusia mampu ia sesatkan. Al-Munawi rahimahullah berkata, “Yaitu setan menjadi penengah (orang ketiga) di antara keduanya dengan membisikan mereka (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadikan s*****t mereka berdua bergejolak dan menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah di hadapan mereka berdua, sampai akhirnya syaitan pun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinahan.” (Faidhul Qodir 3/78).    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD