Setelah pulang dari kediaman sang peramal, Cordelia hanya duduk di rumah dan mengutak-atik ponselnya. Ia membuka salah satu akun sosial medianya. Setelah hampir lima belas menit berselancar di sana, ia menemukan sebuah postingan yang mempromosikan sebuah kisah cerita fantasy yang berjudul 'Reinkarnasi Sang Panglima Bergelmir'
Gadis itu tersenyum simpul. "Reinkarnasi ... hanya cerita fantasy." Ia pun mencoba membaca bab satu dari cerita tersebut. Sebenarnya Cordelia tidak ada sedikit pun minat membaca, ia tidak pernah suka membaca. Namun, karena ini kisah yang menceritakan kisah reinkarnasi, ia berpikir karya tulis itu akan membuatnya senang karena hampir sama dengan harapannya. Ia memang tidak suka membaca ataupun menulis. Namun, gadis itu memiliki kemampuan lebih untuk melukis.
"Tidur? Perjalanan lintas waktu?" Gadis itu tertawa kecil meremehkan. Ada-ada saja ide dari sang penulis, pikirnya.
Cordelia selesai membaca bab pertamanya. "Hanya satu?" Ia sedikit merasa kecewa karena yang tertulis di sana hanya bab satu, tidak ada seterusnya lagi. "Huh, semoga saja penulis itu segera menambahkan bab lagi."
Gadis itu pun segera meletakkan ponselnya di atas meja, ia akan tidur siang, pikirnya. Ia tertawa sejenak sambil memandang langit kamarnya. "Semoga saja aku bisa melakukan hal yang sama seperti yang diceritakan di cerbung tadi." Ia kembali tertawa, bercanda dengan dirinya sendiri. "Mustahil." Cordelia segera menutup matanya.
Tak berselang lama, gadis itu sudah terlelap di alam mimpinya, mimpi yang aneh.
°°°
"Di mana aku?" Seorang gadis tengah celingak-celinguk memandangi ruangan sekitar setelah terbangun dari tidurnya.
"Astaga! Permaisuri!" Ia pun menengok ke arah seorang wanita yang berteriak tadi. "Ke sini! Cepat bantu permaisuri untuk kembali ke kamarnya!" Tiga orang wanita dengan pakaian yang terlibat sama itu segera membopong Cordelia menuju sebuah ruangan dan mendudukannya di tepi ranjang.
"Permaisuri Himalia, maaf atas keteledoran saya," ucap pelayan itu sambil duduk bersimpuh di hadapannya.
"Siapa? Siapa Permaisuri Himalia? Apa saya tengah bermimpi?" Dua pelayan lain berdiri dibelakangnya saling pandang.
"Apakah yang mulia Permaisuri mengalami hilang ingatan?"
"Siapa yang kau panggil yang mulia, Murni?" Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan gaunnya yang mewah berjalan ke arah mereka.
"Pe-pe-permaisuri? Lalu ... ini siapa?"
Himalia tersenyum senang, apakah ramalannya itu benar-benar terjadi? "Apa benar kau utusan yang perintahkan kemari untuk menyelamatkanku?" Cordelia hanya diam, ia bingung harus menjawab apa? Ia masih bingung, sekarang ia ada di mana dan siapa orang-orang ini?
"Tolong bawa dia kepada Rajaku," titah sang permaisuri.
"Baik, Yang mulia." Ketiga wanita itu pun segera membawa Cordelia untuk menghadap sang Raja.
°°°
"Siapa namamu?" tanya Triton dari atas singgasananya.
"Co-cordelia," jawabnya gugup.
"Apa tujuanmu kemari?" Ia menggeleng. Jangankan mengenai tujuan, ia saja tidak tahu tempat ini, pikirnya.
"Ya, sudah. Berikan dia baju pelayan istana." Kedua wanita itu pun mengiakan ucapan rajanya. "Cordelia, mengabdilah pada kerajaan Bergelmir, seiring berjalannya waktu, kamu akan menemukan apa tujuanmu kemari."
°°°
Setelah kembali dari hadapan sang Raja, Cordelia segera bekerja di dapur dan bergelut dengan peralatan dan bahan-bahan memasak. "Apa kamu tidak bisa memasak, Cordelia?" tanya kepala dapur di sana.
"Tidak, saya hanya bisa membersihkan atau memotong-motong sayuran, saya anak seorang petani, lagi pula saya kuliah di jurusan kedokteran, saya tidak pandai memasak." Para wanita yang sedang memasak di sana saling pandang. Apa yang gadis ini bicarakan? Pikirnya. Jika hanya seorang gadis anak petani, hampir semuanya bisa memasak.
Sang kepala dapur segera menjelaskan bahwa semua gadis di daerah sini bisa memasak kecuali yang terlahir dari keluarga berada, mereka lebih suka mendalami pekerjaannya daripada memasak di rumah, lalu mengapa gadis ini tidak bisa memasak? Pikir mereka. Cordelia mendengarkannya dengan seksama, ia cukup tertarik dengan budaya orang-orang Bergelmir ini, dengan budaya ini mungkin ia bisa menjadi seorang gadis yang sempurna dengan kemampuan memasaknya, ia selalu ingin itu. Namun, waktunya tersita untuk belajar di universitas atau membantu orang tuanya di kebun dan memasarkannya.
Setelah mendapat jawaban Cordelia yang mau belajar memasak, mereka pun segera menanyakan apa yang dimaksud universitas dan kedokteran itu.
Gadis itu cukup tercengang dengan pertanyaan tersebut, benarkah di sini tidak ada perguruan tinggi? Akhirnya mau tidak mau Cordelia menjelaskan apa arti dari universitas dan bidang kedokteran itu.
"Di mana itu? Mengapa kami tidak pernah mendapatkan pendidikan seperti itu? Bahkan kami hanya diajari untuk membaca, menulis, dan kemampuan khusus yang berguna untuk kerajaan saja. Tidak ada ajaran-ajaran yang seperti kamu bilang tadi. Sebenarnya kamu ini dari mana?" Yang ditanyai hanya menggeleng, ia bingung antara tidak tahu dan bingung. Ia juga bertanya dengan dirinya sendiri, sebenarnya ia ini ada di mana? Mengapa semuanya terlihat aneh dan kuno?
"Saya dari kota Jakarta," jawabnya polos.
"Kota? Jakarta? Apa itu? Mengapa kami begitu sulit memahami bahasa kamu?" Cordelia semakin dibuat bingung, apa yang harus ia jawab? Bagaimana caranya menjelaskan semuanya?
"Kamu ini seorang manusia, 'kan? Atau ..."
"Ya, saya manusia. Memangnya makhluknya hidup apa lagi yang berwujud seperti ini?" Gadis itu tak habis pikir, pertanyaan konyol macam apa itu? Pikirnya.
"Apa dia bangsa manusia yang berasal dari daerah lain?" tanya wanita lain yang bernotabene sebagai wakil kepala dapur.
"Bicara apa kamu?! Sudah tidak ada manusia lagi selain keturunan Bergelmir!" Sang wakil terdiam setelah mendapat penjelasan pedas dari ketuanya, sedangkan gadis aneh yang berada di depannya terlihat bingung, apa maksudnya? Apakah manusia akan punah? Pikirnya.
"Cordelia." Tiba-tiba seorang wanita datang bersama kedua pelayan dan peramal kerajaannya. Para pegawai dapur itu segera mengeksekusi bahan makanannya karena takut dengan sang permaisuri.
"Apa benar kamu berasal dari masa depan dengan tujuan untuk menyelamatkan generasi reinkarnasi sebelummu? Yaitu aku." Gadis itu mematung di tempat, apa benar ia tengah berada di zaman itu? Apakah ia tengah bermimpi?
"Apa benar kau reinkarnasi ke enam itu?" Sang ratu tersenyum, akhirnya penyelamat kerajaannya telah sampai.
"Apa kau bertemu dengan seorang wanita tua dengan pakaian lusuh?" tanya seorang wanita tua yang dikenal sebagai seorang peramal hebat di Kerajaan Bergelmir. Cordelia berusaha mengingat-ingatnya, siapa wanita tua yang ia maksud? Pikirnya.
Gadis itu mendongak, teringat sesuatu. "Apa wanita yang kekeuh menyebutku Permaisuri Himalia?"
"Ya, sebentar lagi dia akan kembali dari masa depan, dia menyelesaikan tugasnya dengan baik. Saya yang sudah mengirimnya ke masa depan untuk mencari keberadaanmu. Namun, ternyata dewa kehidupan telah mengirimmu kemari terlebih dahulu." Cordelia menampakkan wajah herannya, memangnya bisa seperti itu? Pikirnya.
°°°
Setelah bergelut dengan alat masaknya, gadis itu memutuskan untuk tidur siang di kamar para pelayan. Kebetulan ruangan itu bersebelahan langsung dengan halaman belakang istana yang sering digunakan untuk berlatih para prajurit.
Dari jendela kamar tersebut, ia mengintip jalannya latihan pedang. Di sana terlihat seseorang dengan pakaian yang berbeda dari prajurit lain, Cordelia terus memperhatikannya. Gadis itu mengira bahwa mungkin pria gagah itu adalah seorang kapten atau pemimpin para prajurit-prajurit kerajaan.
Saat ia sibuk menebak-nebak siapakah pria tersebut, tanpa disadari pria yang ia amati itu menengok ke arahnya. Styk mengernyitkan dahinya. "Himalia?" gumamnya.
"Untuk apa dia di kamar belakang?" Cordelia yang menyadari bahwa sang panglima memperhatikan dirinya sedari tadi, ia segera menutup jendelanya dan segera tidur.
°°°
Cordelia terbangun dari tidurnya dengan mata terbelalak kaget. "Mimpi?!" Ia menatap sisi-sisi kamarnya dengan seksama. "Aku belum sempat menyelamatkannya."
Gadis itu segera menggerayangi lehernya, masih sama, pikirnya. "Aku yakin itu tadi bukan mimpi." Ia segera beranjak dari kasur dan berlari menuju ruang galeri pribadinya.
"Cordelia! Kenapa lari-lari di pagi buta?!" tanya ibunya yang tengah menata sarapan di ruang dapur yang sempat putrinya lewati.
"Cordelia tadi pergi ke zaman yang peramal itu bilang, Bu! Cordelia ketemu generasi ke enam itu." Setelah selesai dengan kalimatnya gadis itu kembali berlari menuju ruang kesayangannya.
Di sana terlihat banyak sekali lukisan-lukisan indah karya Cordelia, ia memang hobby dalam mengekspresikan perasaan atau isi pikirannya dalam sebuah lukisan. Namun, sekarang bukan mengenai perasaan atau pikirannya, melainkan isi mimpinya. Ia tidak ingin melupakan setiap detik dalam mimpinya itu, ia ingin mengabadikannya berdasarkan apa yang ia ingat.