Cressida segera menyusul putrinya setelah mendengar penjelasan singkat darinya, ia khawatir gadis itu tengah berhalusinasi karena terlalu berharap bisa menyelamatkan reinkarnasi ke enam yang dibicarakan oleh peramal terkenal di daerahnya.
"Cordelia! Kamu sedang apa, Nak?" Gadis itu pun menoleh dan tersenyum ke arah ibundanya.
"Sedang melukis mimpi Cordelia, tapi Cordelia yakin itu bukanlah mimpi biasa," jelasnya masih fokus pada pensil dan kertas di tangannya. Cordelia sengaja menggambarnya di atas kertas supaya ia bisa membawanya dengan mudah ke kediaman sang peramal, ia yakin akan mendapatkan jawaban yang mendebarkan.
"Ini siapa?" tanya Cressida sambil menunjuk seorang pria gagah dengan pakaian besinya.
"Tidak tau, sebelum Cordelia tidur siang tidak sengaja melihat pria ini memimpin jalannya latihan para prajurit kerajaan." Wanita setengah tua itu mendongak tak percaya, zaman kerajaan? Ia tidak begitu yakin dengan ucapan putrinya itu.
"Cordelia ... Ibu minta jangan terlalu berharap, ya, Nak. Ibu tidak ingin kamu kecewa nantinya, jalani hidupmu dengan keikhlasan." Gadis itu mengangguk dan tersenyum tipis, lalu segera memeluk ibunya.
"Iya, Bu. Cordelia ingin berusaha semampu Cordelia, Cordelia nggak bakal berkhayal terlalu tinggi, kok, Bu. Ibu tenang aja."
"Yasudah, nanti kalau mau berangkat kuliah jangan lupa sarapan. Ibu ke kebun dulu."
°°°
Setelah pulang dari kuliahnya di sore hari, gadis itu segera menuju ke kediaman sang peramal. Sesampainya di sana, Cordelia segera menyerahkan beberapa kertas bergambarkan kejadian-kejadian yang ia lihat di istana, gadis itu pun segera menceritakan perjalanannya, mulai dari ia yang ditemukan oleh pelayan kerajaan hingga ia yang bertemu seorang pria yang memimpin para prajurit kerajaan, Cordelia menceritakannya dengan begitu antusias.
"Perjalanan lintas waktu itu benar adanya, Cordelia, dan kau kembali pada zaman yang sama dengan yang dialami oleh Adrasta. Dia adalah reinkarnasi pria yang memimpin para prajurit itu, dialah Panglima Styx."
"Adrasta?" beonya.
"Ya, kau bertemu dengannya kemarin, pria tertutup yang sempat menabrakku kemarin hari." Gadis itu berusaha mengingat-ingatnya, setelah beberapa saat ia pun membenarkan ucapan sang peramal.
"Cepat atau lambat kalian akan bekerja sama di masa depan maupun di masa lalu, mungkin sudah menjadi garis jodoh." Gadis itu hanya diam, enggan menjawabnya.
"Apa benar kau kembali ke masa yang lain setelah tidur?" Gadis itu mengangguk dan mengiakannya.
"Kini saya mengerti, kalian akan kembali pada zaman itu dengan cara yang sama, pintu perpindahan waktu itu ada pada saat kalian tidur. Namun, ingat ini baik-baik, tidak ada yang tahu pintu gerbangnya akan tertutup kapan. Kau pasti akan menemukan jawabannya jika hal itu benar adanya. Berjuanglah sebisamu, Nak, jangan sia-siakan kesempatan ini, kau adalah manusia terpilih, perjuangkan masa depanmu!"
°°°
Malam telah tiba, seperti biasanya, Adrasta akan segera menidurkan dirinya setelah melewati hari yang begitu melelahkan. Meski begitu, ia sangat berharap bisa kembali ke zaman ke tujuh kekuasaan kerajaan Bergelmir, ia penasaran dengan lanjutan ceritanya kemarin hari.
Memang benar, selama masih ada keinginan dan harapan, maka tentulah akan ada jalan. Adrasta sampai di zaman itu, seperti keadaannya yang kemarin, ia masih berbaring di ranjang milik sang Panglima Styx. Ia pun beranjak dan mendapati seorang pria yang tengah memasak di dapurnya.
"Kau sudah bangun, Adrasta? Kau tidur hanya dalam waktu satu jam. Namun, terlihat begitu pulas." Pria itu membelalak, satu jam?! Berarti satu hari di masa depan sama dengan satu jam di masa lalu? Begitu pikirnya.
"Apa benar satu jam, Panglima?" Pria itu pun mengangguk.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan perhitungan saya?" Adrasta segera mendekat dan menjelaskan semuanya. Styx yang mendengarnya agak terkejut, terdengar mustahil di pikirannya.
"Saya tidak tahu harus percaya atau tidak. Namun, perjalanan lintas waktu itu sulit untuk dipercaya, Adrasta."
"Jangankan Anda, saya pun tidak percaya dengan apa yang saya alami ini."
°°°
Di sisi lain, seorang gadis cantik baru saja terbangun dari tidurnya, ia melihat sekitar, seperti yang sudah diperkirakan, ia kembali ke zaman ini lagi. Ia segera beranjak dan menuju dapur.
"Cordelia, darimana saja kamu? Satu jam saya tunggu tapi tidak segera kemari."
"Maksudnya satu jam?" tanya Cordelia bingung pada kepala dapur itu.
"Iya, kamu menghilang selama satu jam, sejak sang permaisuri kemari tadi siang." Satu jam? Bahkan Cordelia telah menghabiskan waktunya selama satu hari penuh di Jakarta, apakah satu jam di sini sama dengan satu hari di masa depan? Tanyanya dalam hati.
"Hey! Ayo cepat bantu saya menyiapkan makan malam." Gadis itu pun tersadar dari lamunannya dan segera meraih alat masaknya.
Tak berselang lama, sang permaisuri kembali berkunjung di dapur dan membuat semua orang menunduk hormat. "Cordelia, bisa ikut saya sebentar? Saya ingin menanyakan sesuatu." Tidak ada jawaban, gadis itu bingung harus menjawab apa.
"Corne, boleh saya membawa Cordelia dari dapur?" Sang kepala dapur bernama Corne itu segera mengiakan ucapan Himalia, tidak mungkin ia menolaknya.
Sang permaisuri pun segera berjalan menuju taman kerajaan dan diikuti kedua pelayan dan Cordelia.
"Murni, Sasafra, kalian boleh meninggalkan saya. Saya ingin bicara empat mata dengan Cordelia," titahnya sambil duduk di kursi taman dan bersejajar dengan reinkarnasinya.
"Baik, Yang Mulia." Mereka pun berlalu meninggalkan area taman belakang.
"Cordelia." Gadis itu mendongak. "Tidak perlu terlalu hormat seperti mereka, kau bukanlah rakyatku, bukan pula pelayanku, kau kemari karena takdir, bukan? Kau ditakdirkan untuk menyelamatkan Bergelmir dari kehancuran."
"Yang Mulia Ratu, sejujurnya saya tidak mengerti mengenai perjalanan lintas waktu ini, saya pun tidak mengerti bagaimana caranya menyelamatkan kerajaan ini, saya hanya manusia biasa, Ratu."
"Takdir akan menuntunmu, Cordelia, percayalah."
"Memangnya masalah seperti apa yang menjadi musuh Kerajaan Bergelmir?" Pertanyaan yang bagus, pikir Himalia. Ia pun segera menceritakan sejarah berdirinya Kerajaan Bergelmir serta musuh-musuhnya.
Bergelmir adalah sebuah dinasti besar, semua rakyatnya adalah bangsa manusia dengan darah yang murni. Kehidupan berjalan dengan baik selama enam periode, keturunan Bergelmir hanya memiliki musuh bangsa serigala dan vampir, keduanya bukanlah musuh yang besar, mereka hanya menginginkan darah dan daging manusia untuk dimakan, hanya dengan alasan seperti itu tentu rakyat Bergelmir bisa mengatasinya dengan mudah. Namun, hal tersebut tidak berlaku di masa kekuasaan yang ke tujuh.
Pembagian kekuasaan yang dilakukan oleh Raja Ananke atau raja ke enam Kerajaan Bergelmir kepada kedua anaknya dengan cara yang tidak adil berhasil membuat perpecahan di Kerajaan Bergelmir. Kedua anaknya, yakni Himalia sebagai putri sulung dengan watak yang lemah lembut dan Pan, satu-satunya adik Himalia yang terkenal dengan sifat sombong dan arogan. Entah Ananke dan istrinya yang salah mendidik Pan atau bagaimana? Namun, sifat buruk yang dimiliki pangeran itu terlihat begitu mencolok, ia sering berbuat semena-mena dengan para rakyat dan pelayannya.
Dengan segala pertimbangan panjang, akhirnya Ananke memutuskan untuk memberikan takhta Kerajaan kepada putri sulungnya, Himalia dengan persetujuan semua rakyatnya. Pan yang pernah dinobatkan sebagai pangeran mahkota pun merasa tidak terima dengan keputusan ayahnya, ia pun membuat sebuah kelompok masyarakat yang memihak padanya. Awalnya Pan melakukan kudeta dengan membicarakan masa depan Bergelmir jika dipimpin oleh seorang wanita. Namun, kudetanya tidak berjalan dengan baik, ia gagal merebut takhta dari tangan kakaknya. Tidak ingin ada perselisihan dalam kerajaannya, Raja Ananke memberikan sepertiga bagian dari kekuasaannya untuk sang putra. Namun, Pan tetaplah Pan, ia tidak terima dengan ketidak adilan itu.
Dengan daerah kekuasaan yang ia miliki, Pan mendirikan sebuah kerajaan kecil di sana. Namun, Pan tidak memiliki s*****a atau pun pasukan untuk menyerang ataupun memberontak di Kerajaan Bergelmir. Akhirnya pria itu memutuskan untuk melakukan perjanjian dengan bangsa iblis, ini adalah tindakan yang begitu fatal. Pan mengorbankan setengah jiwa dan raganya untuk diberikan kepada para bangsa iblis. Dengan itu, ia tidak lagi memiliki darah mutlak bangsawan, ia menjadi sosok yang memiliki paras manusia. Namun, memiliki darah campuran, yakni manusia dan iblis.
Pan membuat semua pengikutnya menjadi makhluk manusia setengah iblis yang bisa bertahan hidup selama seratus tahun tanpa menelan jiwa manusia. Akhirnya Kerajaan Pan resmi berdiri dengan bantuan bangsa iblis murni.
Memang mereka bisa hidup tanpa memakan jiwa manusia. Namun, tujuan utama terbentuknya Kerajaan Pan adalah untuk merebut daerah kekuasaan Bergelmir. Seluruh rakyatnya diperintahkan untuk menghancurkan dinding-dinding pertahanan Bergelmir. Bentrokan yang dilakukan oleh pasukan dari Kerajaan Pan terus berlangsung hingga dua tahun lamanya dan berhasil merebut satu wilayah kecil yang memang letaknya paling pinggir dan sulit dijangkau oleh para petinggi-petinggi Kerajaan Bergelmir.
Mendengar hal buruk seperti itu membuat Triton memutuskan para prajuritnya untuk berjaga di pintu masuk daerah kekuasaan Bergelmir. Setelah perintah itu diturunkan, para pasukan iblis tidak lagi menganggu rakyat Bergelmir.