6. Cinta Segi Tiga

1359 Words
Setelah menceritakan hal tersebut Cordelia mulai paham seluk-beluk permasalahan di Bergelmir. "Apakah sekarang sudah tidak ada lagi bangsa iblis yang mengancam rakyat Bergelmir?" tanya gadis itu dengan polosnya. "Terkadang perasaan aman yang membuat kita tenang adalah tahap pertama datangnya bencana. Tidak ada kata aman di dunia ini, kita tidak boleh lengah, lagi pula kita hidup di tengah-tengah para bangsa pemangsa, kitalah makanan mereka. Namun, kita hanya memiliki penjagaan yang terlihat, Bergelmir tidak memiliki penjagaan secara spiritual." Cordelia mengernyit bingung, tidak mengerti dengan apa itu penjagaan secara spiritual. Himalia pun segera menjelaskan apa itu penjagaan spiritual, penjagaan spiritual adalah upaya mencegah datangnya musuh dengan memanfaatkan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh orang-orang tertentu. Di Kerajaan Bergelmir sendiri yang memiliki kemampuan khusus seperti ini hanyalah keturunan Raja seperti Himalia serta orang-orang yang terlahir dari orang tua yang memiliki ilmu spiritual juga, contohnya seperti peramal, paranormal dan biksu. "Berarti Anda memiliki kemampuan khusus, Ratu?" "Ya, seharusnya saya memiliki kekuatan khusus untuk melindungi Bergelmir. Namun, saya memiliki penyakit dalam yang membuat saya tidak mampu mengaktifkannya. Pan pun bisa melakukannya jika ia sudah menemukan cinta sejati dan bersemayam di hatinya." Cordelia masih berusaha mencerna kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Himalia, otaknya tidak sampai. Memangnya ada kekuatan-kekuatan seperti itu? Pikirnya. Memang terdengar mustahil di telinga gadis itu karena ia lahir di zaman modern, jauh dari zaman Kerajaan Bergelmir ini. "Apa maksudnya menemukan cinta sejati?" "Kekuatan itu bisa diaktifkan jika sang pemilik darah bangsawan sudah menikah dengan cinta sejatinya." "Apakah Ratu Himalia pernah mengaktifkannya?" "Saya pernah mencobanya dengan bantuan peramal sebelum memiliki penyakit ini. Namun, entah mengapa itu tidak berhasil. Bahkan peramal dan paranormal pun tidak mengetahui penyebabnya hingga sekarang, padahal saya sudah memenuhi semua syaratnya." Cordelia hanya mengangguk paham, ia bingung harus berbincang mengenai apa lagi. "Mohon maaf sebelumnya, Permaisuri, mengapa engkau menceritakan hal ini kepada saya secara terang-terangan? Tidakkah Ratu merasa curiga jika saya adalah utusan dari Kerajaan Pan? Saya kemari dengan cara yang tidak jelas. Apakah Anda tidak curiga, Yang Mulia?" Wanita bergaun mewah itu tersenyum. Dia gadis yang baik, pikirnya. "Sama sekali tidak, kami begitu yakin bahwa kamu adalah utusan Dewa Kehidupan dan Dewa Takdir untuk menyelamatkan Bergelmir." "Kami?" beonya. "Ya, ramalan kuno itu sudah menjadi informasi turun-temurun sejak berdirinya Dinasti Bergelmir. Tidak menyangka masa itu datang di zaman kekuasaanku, zaman ketujuh kejayaan Bergelmir. Kau adalah reinkarnasiku." °°° Adrasta tengah berjalan pulang ke kediaman sang panglima setelah lelah melakukan latihan fisik untuk menjadi anggota prajurit kerajaan. Ia berpikir akan segera merebahkan dirinya di kamar. Namun, saat ia membuka pintu terlihat sang panglima yang tengah melamun di ruang utama rumahnya. Adrasta yang melihatnya pun merasa bingung, ada apa dengan Styx? Pikirnya. "Tuan," panggil pria itu pelan. Styx terlihat kaget dengan kehadiran reinkarnasinya. "Panglima tengah sakit atau bagaimana?" tanyanya halus, Styx pun menggeleng pelan. Entah ada angin dari mana, tiba-tiba saja Adrasta teringat akan lukisan yang ia temukan kemarin di lemari sang panglima. "Panglima, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Pria itu mendongak, nada bicara Adrasta terdengar mencurigakan, pasti ada hal yang penting, pikirnya. Styx pun mengangguk menyetujui. "Silahkan duduk." Pria itu segera mendudukkan dirinya, berhadapan langsung dengan sang panglima. "Mm ... sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Namun, hal ini selalu mengganggu pikiran saya, kemarin ...." Adrasta menjelaskan kejadian kemarin hari, di saat ia hendak tidur siang di salah satu kamar milik Styx dan menemukan sebuah lukisan di lemarinya. "Lukisan ...? Ohh sudah lama saya mencari lukisan itu. Apakah lukisan seekor kuda perang?!" Adrasta menepuk jidatnya sendiri. "Bukan, Tuan." Setelah mengucapkan kalimat itu, pria berpakaian ala-ala ksatria itu segera berlari menuju kamar tidurnya dan mencari di mana lukisan itu berada, setelah beberapa menit mencarinya akhirnya Adrasta menemukannya di bagian paling atas lemari. Panglima yang sudah menunggu Adrasta pun segera menengok setelah melihat pria itu datang dengan sebuah kain kanfas yang cukup besar. Setelah melihatnya sekilas, pria gagah itu tersenyum simpul. "Haha, padahal saya sudah menyembunyikannya dari orang lain, tapi---" "Maaf, Panglima. Akan saya kembalikan segera!" potong Adrasta merasa bersalah karena sudah mengganggu privasi orang lain. "Tidak ...! Kamu sangat berlebihan, Adrasta. Jangan bertingkah seperti seorang wanita, jadilah pria yang pemberani," ucap Styx memberi wejangan. "Tapi saya sudah mengganggu privasi Tuan Styx." Pria itu masih menundukkan kepalanya ketakutan. "Bukan apa-apa, itu hanya cerita masa lalu. Segeralah bertanya sebelum saya berganti pikiran. Apa yang ingin kau tanyakan?" "Emm ... anu, itu. Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menunjuk seorang gadis cantik yang berdiri di antara Styx dan Triton dan tengah tersenyum lebar dalam lukisan tersebut. "Dia ... Himalia," jawab pria itu lemah. Entah mengapa Adrasta merasa ada yang aneh dengan ekspresi wajah dan tanggapan sang panglima? "Ratu Himalia." Adrasta masih mengamati lukisan tersebut, terlihat posisi Himalia lebih condong kepada Styx daripada suaminya, Triton. Pasti ada sebuah kesalahan di sini, pikirnya. "Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan. Namun, apakah hanya saya yang berpikir bahwa Ratu Himalia adalah kekasih panglima--- emm ... maksudnya untuk orang-orang awam yang melihat lukisan ini. Begitu maksudnya, Tuan, bukan bermaksud untuk mengecap Tuan sebagai orang ketiga dalam pernikahan sang ratu." Pria itu segera menunduk ketakuktan, ia merutuki pertanyaannya barusan. Entah bagaimana tanggapan Styx terhadap pertanyaannya? Pasti akan mengancam keberadaannya di sini, pikirnya. "Apakah kemistri itu tidak bisa berbohong?" Styx tertawa hambar di akhir katanya. "Ya, analisamu benar, Adrasta. Saya memang mantan kekasih Himalia." Adrasta segera mendongak kaget, mata pria itu membelalak. "Mungkin memang benar kamu ini adalah utusan Dewa Takdir yang ditugaskan untuk menyelamatkan saya, kamu harus tahu siapa saya, bahkan untuk hal-hal pribadi saya." "Emm tidak, Tuan! Tidak harus seperti itu, jika memang itu hal yang terbilang pribadi dan rahasia, sebaiknya Tuan tidak menceritakannya padaku." "Jangan bertingkah seperti wanita, Adrasta! Lagi pula ini sudah menjadi buah bibir masyarakat Bergelmir." Styx menghela napasnya panjang, bersiap untuk menceritakan kisah masa lalunya dengan sang ratu. Seorang gadis cantik terlahir dengan darah bangsawan. Namun, sifatnya yang rendah hati dan lembut membuatnya di puji-puji oleh masyarakat, khususnya para pria yang belum beristri. Namun, seindah apa pun pujian yang ia terima, tidak ada yang seindah kalimat cinta yang Styx lontarkan padanya. Ya, kedua remaja itu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, mereka bertemu di dalam istana Bergelmir karena memang Styx adalah anak dari Panglima perang yang hebat di zaman kekuasaan yang ke enam. Selain itu, Styx dan Himalia pun memiliki seorang sahabat, yakni Triton yang merupakan putra dari kepala tabib kerajaan. Sebagai seorang pria normal, diam-diam Triton mengagumi kecantikan sang putri kerajaan. Ia mulai berkhayal menjadi seorang raja di Bergelmir. Akhirnya tiba, saat di mana Raja Ananke membagi daerah kekuasaan kepada anak-anaknya, untuk mendapatkan itu Himalia sebagai penerima kekuasaan terbesar diharuskan menikah dengan seorang pria yang pantas menjadi seorang raja karena Himalia adalah seorang wanita yang tidak mungkin menguasai takhtanya seorang diri. Rencana pernikahan sudah ditentukan, sang putri pun sudah memilih dengan siapa ia akan menikah. Namun, tepat satu hari sebelum acara pernikahan digelar Triton mendatangi kediaman Styx dan berkata jika Styx jadi menggelar acara pernikahan dengan Himalia, maka ia akan memutuskan tali persahabatan di antaranya, ia pun mengatakan bahwa dirinya teramat mencintai Himalia. Mendengar hal seperti itu, tentulah membuat Styx merasa terkejut, tidak menyangka Triton memiliki sifat egois seperti itu. Awalnya Styx masih berpihak pada rasa cintanya. Namun, Triton terus saja membicarakan keburukan Styx dan membuat mental lawan bicaranya menciut. Triton mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi raja, ia lebih bijak dan tepat dalam memilih keputusan. Memang hal itu terlihat ketika mereka bersahabat, Triton sering mengambil keputusan yang benar dari pada Styx. Waktu terus bergulir, Styx bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia tidak boleh egois, ini bukan hanya masalah cinta. Namun, juga tentang kekuasaan kerajaan Bergelmir, jika ia salah langkah maka akan fatal akibatnya, begitu pikirnya. Pada akhirnya Styx memutuskan untuk menyerahkan Himalia pada Triton. Mengenai siapa pria yang akan menikahi tuan putri, hal itu belum dibocorkan oleh Himalia dan Styx. Jadi, Triton tidak akan dicap sebagai pengganggu dalam urusan pernikahan ini. Hari pernikahan itu telah tiba, Styx menyembunyikan dirinya di sebuah hutan yang terletak di sebuah lereng gunung. Di sana ia mulai melatih dirinya, ia harus menjadi seorang panglima kerajaan seperti yang sudah ia cita-citakan dari kecil. Di sisi lain, Himalia masih menunggu sang kekasih. Namun, dirinya tak kunjung datang, acara akan segera digelar. Tak lama seorang pria datang dengan baju pengantin berwarna merah membuat hatinya sedikit tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD