7. Panglima Tampan

1391 Words
Awalnya Himalia merasa aneh karena Triton datang mengenakan baju pengantin. Namun, ia segera hiraukan karena pikirannya hanya tertuju pada Styx yang tak kunjung datang. Ia pun segera menanyakan keberadaan Styx kepada Triton dengan wajah yang terlihat begitu panik. Namun, Triton segera menjelaskan mengapa ia memakai baju pengantin dan datang kepadanya, ia juga berbohong bahwa Styx tidak mencintainya dan tidak sanggup memikul beban sebagai seorang raja, ia bercita-cita menjadi seorang panglima perang. Jadi, tidak mungkin ia menikah dan membuat pasangannya merasa khawatir jika ia mati di medan perang. Himalia yang mendengar penjelasan dari sahabatnya merasa begitu sakit, ia sangat merasa kecewa dengan keputusan yang dibuat Styx. Mengapa ia membatalkannya di saat semua persiapan telah selesai dilakukan? Begitu pikirnya. Gadis dengan gaun pengantin berwarna merah itu pun menangis tersedu. Pernikahan bukanlah hal yang sepele, ia harus menikah hari ini juga, ia tidak boleh mengecewakan orang banyak. Akhirnya Himalia dan Triton mengucapkan janji suci sebagai suami-istri tanpa Styx yang mendengarnya. Setelah menceritakan hal itu sang panglima tersenyum getir. Jujur saja, ia masih mencintai Himalia, bahkan sampai sekarang ia belum menemukan penggantinya, bukannya belum menemukan. Namun, memang sang panglima yang tidak ingin menemukan penggantinya. "Mengapa Tuan melakukan hal itu? Bukankah itu menyakitkan?" Pria itu mendongak. "Aku tidak ingin bermusuhan dengan sahabatku sendiri, lagi pula ini untuk kebahagiaan mereka." "Mereka? Bukankah hanya Raja Triton yang bahagia? Apa Tuan tidak berpikir mengenai kebahagiaan Ratu Himalia?" Styx berpikir sejenak. Benar juga, ia tidak pernah berpikir mengenai Himalia yang bahagia atau tidak menikah dengan pria yang tidak ia cintai. "Entahlah, setidaknya kehidupannya dan rakyat Bergelmir terjamin hingga sekarang." "Bukan hanya saya, bahkan hampir semua rakyat Bergelmir berpikir bahwa kejayaan Bergelmir bergantung pada Anda. Anda yang sering memenangkan perang." Styx yang mendengarnya kembali tertawa hambar. "Tidak ada, Adrasta. Tidak ada, opinimu terlalu berlebihan. Kejayaan sebuah kerajaan itu terletak pada rajanya." "Entahlah, Tuan. Saya hanya pendatang baru yang tidak tahu-menahu tentang Bergelmir, tapi entah mengapa saya memiliki pemikiran seperti ini?" "Tidak apa-apa, setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya. Tugas kamu kemari adalah untuk menyelamatkan saya dan Bergelmir, bukan?" "Saya tidak tahu, Tuan. Namun, saya akan melakukan yang terbaik untuk Bergelmir dan Anda, saya akan mengabdikan diri kepada Tuan." "Terima kasih banyak, Adrasta, tapi kamu adalah teman saya, kamu malaikat penyelamat saya." Kedua pria itu pun tersenyum hangat, Adrasta tidak menyangka akan memiliki hubungan seakrab ini dengan sang panglima yang terkenal dengan ketegasannya. Hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. "Oh iya, saya baru ingat. Di saat saya kembali ke masa depan dan hendak menemui seorang peramal, saya bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah seperti Ratu Himalia." "Apa maksud kamu?" "Peramal itu bilang bahwa gadis itu memiliki nasib seperti saya, ia adalah reinkarnasi sang permaisuri yang hidup di zaman ini." Styx terlihat tengah berpikir, apakah gadis yang berada di kamar pelayan itu? Pikirnya. °°° Seperti hari-hari biasanya, Styx hanya melatih para pasukan pemula untuk berperang, beberapa hari yang lalu ia baru mengangkat beberapa remaja untuk menjadi pasukan prajurit karena para prajurit senior ditugaskan untuk menjaga kawasan gerbang masuk Bergelmir. Tak sengaja, ia kembali melihat seorang gadis yang mengenakan syal dari benang wol tengah menatapnya dari jendela kamar pelayan yang letaknya tepat di samping halaman belakang istana. "Apakah dia gadis yang dimaksud oleh Adrasta?" gumamnya menghiraukan tatapan aneh para prajurit pemula di depannya. Sang panglima tersadar, ia menghela napas. "Untuk apa kalian menatap saya seperti itu?" tanya pria itu datar. Tidak ada jawaban. "Kembali berlatih!" ucapnya tegas membuat semua orang ketakutan. Cordelia yang mendengar ucapan Panglima Styx tertawa geli. Ternyata dia adalah pria yang dingin, pikirnya. "Dia sangat gagah dan tampan," gumamnya dengan bibir yang menyinggung senyuman. "Siapakah pria tampan itu?" Styx yang merasa tengah diawasi kembali melihat ke arah gadis itu. Ia menatapnya tajam. Cordelia yang ditatap seperti itu pun merasa kaget. "Ya Tuhan!" Gadis itu segera menunduk untuk menyembunyikan dirinya. "Huh! Dia sangat galak!" ucapnya menyumpah serapahi sang panglima. °°° Hari-hari terus berlalu dengan cepat, Adrasta dan Cordelia disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, baik di masa lampau maupun masa depan. Namun, mereka lebih senang menikmati waktu di Kerajaan Bergelmir untuk sekarang ini, lagipula di masa depan Cordelia hanya mengambil hari Sabtu dan Minggu untuk kuliah, ia pun sudah meminta izin kepada orang tuanya, dan Adrasta hanya menikmati waktunya di masa depan untuk menuliskan kisahnya ini. Kini Cordelia tengah memasak di dapur istana bersama rekan-rekannya. Keadaan begitu hening, membuat Cordelia merasa bosan. "Mm ... Kepala Corne." Wanita yang tengah mengiris bawang itu mendongak. "Ada apa? Apa kau tidak bisa memotong sayuran itu?" "Ah, tidak-tidak!" jawabnya cepat. "Aku ingin bertanya sesuatu kepada Anda." Wanita itu mengernyitkan dahinya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Cordelia. "Apa Anda tahu siapa pria gagah dan galak yang sering memimpin jalannya latihan para prajurit di halaman belakang?" "Shut! Kau ini! Jangan bicara sembarangan, dia itu Panglima Styx, pria paling tampan di Bergelmir," ucap Corne dengan mata yang berbinar, mungkin ia tengah membayangkan ketampanan yang dimiliki oleh panglima pemberani itu. "Memangnya iya?" Corne mendekati bawahannya, ingin membisikkan sesuatu. "Dia itu mantan kekasih Ratu Himalia," bisiknya begitu pelan, menghiraukan tatapan bertanya-tanya para tukang masak lainnya. Cordelia terperanjat kaget. "Hah?! Kepala serius?!" "Shut! Kau ini memang tidak bisa diam, ya?" Gadis itu hanya menyengir kuda dan menatap sekitar, semua pasang mata menatapnya bingung. "Untuk apa kalian melihat kami seperti itu? Kembali memasak! Saya ingin segera bertemu Panglima Styx setelah ini," ucap wanita itu dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi. Semua orang pun "Ada apa, Corne?" Wanita itu menengok dan mendapati Himalia yang datang bersama kedua pelayannya. "Em ... anu, itu. Sa-saya hanya ingin mengantarkan makanan untuk para prajurit saja, Yang Mulia, maka dari itu saya harus bertemu dengan Panglima Styx terlebih dahulu," jawab kepala dapur itu dengan gugup, Cordelia menahan tawanya yang hampir pecah. Salah sendiri kau begitu centil, Corne, pikir Cordelia geli. "Apakah saya bertanya mengenai Styx?" Tidak ada jawaban. "Saya tidak lagi ada urusan dengannya, saya tidak menanyakan itu." Cordelia semakin menutup mulutnya supaya tidak melepaskan tawanya, Kepala Corne ini sangat konyol, pikirnya. Himalia menengok ke arah Cordelia yang terlihat menahan tawa. "Cordelia!" "Ti-tidak, Ratu! Saya tidak tertawa," ucapnya cepat. "Ada apa dengan kalian ini? Sangat aneh. Saya memanggilmu karena ingin mengajakmu ke kamar saya." Hening, tidak ada yang berani berucap. "Yasudah, saya tunggu kamu di kamar saya, Cordelia." "Baik, Yang Mulia! Secepatnya saya akan ke sana." Ketiga wanita itu pun berlalu meninggalkan ruang dapur kerajaan. "Kau menertawaiku, Cordelia?" tanya Corne dengan tatapan datar. "Ti-tidak! Aku tadi menertawai diriku sendiri. Em ... yasudah, saya izin ke kamar sang ratu dulu, Kepala. Saya permisi." Gadis itu pun segera berlari meninggalkan ruang dapur, ia tidak ingin mendengarkan omelan dari sang kepala dapur yang cerewet itu. "Jangan lupa kembali ke dapur lagi! Kau harus membantuku mengantarkan makanan para prajurit!" "Iya!" jawab Cordelia yang terdengar sudah agak jauh. "Huh, dasar!" "Kepala Corne, kira-kira ada perlu apa, ya Ratu Himalia dengan Cordelia? Mengapa ratu selalu memanggilnya?" "Apa urusan kalian menanyakan hal seperti itu?! Mengapa bertanya padaku? Jika ingin tau, tanyakan saja dengan Ratu secara langsung," jawab wanita itu judes. "Dasar nenek lampir!" gumam gadis yang bertanya tadi. "Apa katamu?!" °°° "Silahkan masuk, Cordelia." Gadis itu pun segera berjalan masuk dengan tubuh yang membungkuk hormat. "Em ... ada perlu apa Ratu memanggil saya?" Wanita yang tengah duduk di tepi ranjangnya itu tersenyum. "Murni, Sasafra, kalian boleh meninggalkan saya dengan Cordelia di sini." Kedua wanita itu pun patuh dan segera meninggalkan kamar tidur sang ratu. "Cordelia, mari duduk di samping saya." Gadis yang tengah berdiri itu menggaruk kepalanya kikuk. "Sa-saya tidak---" "Sudah, mari duduk di samping saya, saya ingin berbincang-bincang denganmu." Dengan langkahnya yang terlihat ragu ia segera duduk di samping sang ratu. "Cordelia, apa kamu senang berada di dapur istana?" Gadis yang ditanyai berpikir sejenak. "I-iya, Ratu. Namun, saya belum begitu mahir dalam mengolah bahan makanan." Himalia tersenyum. "Apa kamu mau menjaga pelayan pribadi saya? Saya ingin lebih dekat denganmu." Gadis itu menengok tak percaya. "Bagaimana, Cordelia? Kau akan menjadi pelayan utama saya, sedangkan Sasafra dan Murni hanya akan menjaga kebutuhan saya. Singkatnya kau akan menjadi teman bicara saya di sini." "Apakah Sasafra dan Murni tidak keberatan, Yang Mulia?" "Tentu saja tidak, saya sudah membicarakan ini dengan keduanya. Dengan ini pekerjaan mereka hanya mengantarkan obat dan makanan kepada saya di waktu-waktu tertentu, dan waktu lainnya saya akan ditemani oleh kamu," ucap sang ratu dengan wajah yang cerah ceria, ia sangat berharap jika Cordelia bisa menerima tawaran ini dengan keikhlasan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD