8. Salah Pilih

1355 Words
"Jika memang itu sudah menjadi keputusan Yang Mulia, saya tidak bisa menolaknya." "Ini bukan perintah, Cordelia. Ini tawaran, saya tidak ingin memaksakan kehendakmu." Wanita itu meraih tangan gadis di sampingnya. "Saya meminta keikhlasan hatimu, reinkarnasiku." Gadis itu pun tersenyum hangat. "Baik, Ratu. Dengan senang hati saya menerima tawaran Ratu." Himalia pun tersenyum dan berterima kasih pada pelayan pribadi barunya itu. "Dengan begini, saya bisa bercerita denganmu di setiap saat tanpa mengganggu pekerjaanmu, karena ini adalah pekerjaan barumu." Gadis itu mengernyit. "Bercerita? Memangnya Ratu ada kisah yang penting untuk diceritakan kepada saya?" "Ya, tentang Bergelmir atau hal apa pun yang bisa mempermudah pergerakanmu ubah menyelamatkan masa ini." °°° "Ada perlu apa kau dengan sang ratu?" tanya Corne yang tengah menata makan siang untuk para prajurit. "Mungkin aku tidak akan bertemu denganmu sesering hari-hari kemarin, Kepala Corne." Wanita yang tengah fokus itu seketika menengok ke arah Cordelia. "Apa maksudmu? Apa kau dipecat oleh permaisuri?" Wanita itu tertawa renyah. "Enak saja! Aku akan menjadi pelayan pribadinya Permaisuri Himalia," ucap Cordelia dengan bangga. "Hah?! Kau ... sebenernya kau ini siapa? Mengapa ratu sangat menyayangimu? Apakah karena wajah kalian berdua mirip?" Gadis itu berpikir sekejap. "Ya ... bisa jadi karena aku adalah reinkarnasi sang permaisuri." "Aku sudah menduganya sejak awal, kaulah orang yang dikatakannya dalam ramalan kuno itu, berarti bencana besar akan segera datang." Corne tersenyum hambar, entah mengapa Cordelia merasa bersalah melihat raut wajah sang kepala dapur yang terlihat mendung. "Yasudah, lupakan saja. Mari kita antarkan makanan ini." °°° "Panglima Styx! Permisi, ini makan siang untuk para prajurit," ucap Corne dengan senyum yang mengembang di samping pria gagah yang berkedudukan seorang panglima itu setelah menata semua makanan di tempatnya. "Ya, terima kasih, Corne," jawabnya datar tanpa menatap lawan bicaranya, ia masih sibuk mengawasi para prajurit-prajurit pemula itu. "Kepala Corne, apa aku boleh kembali ke kamar sang ratu?" tanya Cordelia setelah berteriak, ia ingin segera kembali karena malu jika harus bertemu dengan sang panglima. Entahlah, Cordelia merasa tertarik dengan pria tampan itu. Styx tertegun mendengar suara gadis itu, ia seperti pernah mendengarnya. Ingatannya tertuju pada saat Himalia memeluknya dan memohon untuk pulang dengan suaranya yang manja. "Suara itu ...." Ia pun menengok ke belakang dan mendapati seorang gadis yang terlihat terkejut dengan wajah yang memerah, tidak menyangka pria itu akan menengok ke arahnya. Cordelia segera menundukkan dirinya malu. "Himalia?" gumamnya begitu pelan. "Bukan, Panglima. Dia itu Cordelia yang mengaku sebagai reinkarnasi sang Ratu Himalia." Corne menggembungkan pipinya kesal, ia menyesal karena telah mengajak Cordelia mengantarkan makan siang dan bertemu dengan Styx. Mengapa ia tidak berpikir bahwa Cordelia memiliki wajah yang sama dengan Himalia, mantan kekasih sang panglima? Bisa saja panglima malah beralih mencintai gadis dari masa depan itu. Pria itu segera membuang mukanya dan kembali menghadap pasukannya. "Kembalilah ke dapur, jika sudah selesai akan kukabari nanti," ucapnya dinginnya, seperti biasanya. "Baik, Panglima." Kedua wanita itu pun berlalu meninggalkan halaman belakang dan Panglima Styx yang wajahnya berubah mendung, ia merindukan sosok Himalia. °°° Terlihat seorang pria tengah meminum arak dengan keadaan setengah mabuk. Adrasta melihatnya dengan rasa iba, ada apa dengan sang panglima hingga kacau seperti ini? Pikirnya. Rambut Styx yang terurai panjang terlihat acak-acakan, tidak seperti biasanya. Ia terus saja meneguk arak itu, tidak peduli dengan keadaannya. "Panglima, ada apa denganmu?" tanya Adrasta sambil meraih botol kaca berukuran sedang yang ada di tangannya. Setelah mendapatkan pertanyaan itu, pikirannya berkembara pada saat dimana ia melihat langit malam yang cerah bertabur bintang bersama Himalia. Tawa kecil menyelimuti malam itu. Saat itu keduanya tengah dimabuk asmara, tertawa mengucap janji cinta. "Aku hanya putra dari panglima, Himalia. Jika kita tidak berjodoh ...." "Aku mencintaimu, aku tidak ingin bersama orang lain. Percayalah, bahkan di kehidupan selanjutnya dan di zaman apa pun, aku hanya ingin bersamamu, hanya bersamamu, Styx." Sepasang kekasih itu pun saling berpelukan, mereka percaya bahwa inilah yang disebut cinta sejati. "Panglima?" Panggilan Adrasta berhasil membuyarkan lamunan Styx. "Kau harus mencintai Cordelia." "Sudahlah, Panglima. Jangan minum arak terus, kau akan kehilangan kesadaran." Adrasta segera membereskan botol-botol itu dan segera menyimpannya di dapur. Pria itu pun kembali dari dapur. "Aku tidak kehilangan kesadaran, Adrasta, aku serius. Aku dan Himalia pernah mengucap janji bahwa kami akan hidup bersama di kehidupan berikutnya." Adrasta masih diam, ia masih berupaya mencerna setiap kalimat yang pria itu sampaikan. "Jiwaku adalah jiwamu. Cinta sejati itu hanya ada satu." "Cinta akan menemukan jalannya sendiri, bukan? Sudahlah, ayo ke istana, bukankah panglima harus melatih prajurit-prajurit pemula itu?" °°° Dua hari berlalu, Cordelia masih setia menemani kegiatan sang ratu. Kini mereka tengah bersantai di taman belakang istana, letaknya bersebelahan langsung dengan tempat berlatih para prajurit. "Jangan takut untuk mengayunkan pedang! Seorang ksatria tidak boleh ragu dalam bertindak!" Terdengar suara Styx yang tengah memimpin jalannya latihan di seberang sana. Himalia yang mendengar kalimat itu hanya tersenyum remeh. Bahkan kau saja ragu untuk menikahiku dulunya, Styx, kau bukanlah seorang ksatria, begitu pikirnya. "Pangling Styx?" gumam Cordelia pelan dengan wajah yang agak memerah. Himalia yang tengah duduk di sampingnya pun menengok. Apakah Cordelia juga tertarik dengan paras elok yang dimiliki pria itu? "Emm, Yang Mulia. Apa boleh saya pergi ke toilet sebentar?" bohongnya, sebenarnya Cordelia ingin mengintip Panglima Styx. Himalia hanya mengangguk mengiakan. Namun, tanpa pelayannya sadari, ia berjalan mengikutinya. Cukup lama Himalia membiarkan gadis itu menikmati indahnya paras Styx dari belakang, akhirnya ia mengejutkan sang empu. "Memangnya jalan ke toilet melewati area ini?" ucapnya mengejutkan Cordelia. "Ra-ratu. Ma-maafkan saya, saya lalai melayani Anda, maafkan saya." "Kau mencintai Styx?" Cordelia nampak terkejut mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut sang ratu, ia teringat dengan ucapan Corne yang mengatakan bahwa Ratu Himalia adalah mantan kekasih Panglima Styx. "Ti-tidak, Ratu," ucapnya cepat dan gugup. "Seseorang yang tengah jatuh cinta itu tidak bisa berbohong." Cordelia hanya diam tak berani menjawabi. "Seseorang yang tengah cemburu pun tidak bisa berbohong," jawab seseorang dari kejauhan. Kedua wanita itu mendongak dan mendapati Styx yang tiba-tiba saja datang. "Untuk apa aku cemburu? Bahkan aku sangat membencimu," ucap wanita itu menatap mantan kekasihnya nyalang. Styx menghiraukan ucapan gadis itu, ia tahu itu hanyalah kalimat sederhana untuk menutupi luka hatinya yang kembali terbuka. "Kau bilang seorang ksatria tidak boleh ragu dalam mengambil tindakan, buktinya kau ragu untuk menikahiku dulunya. Kau bukanlah seorang ksatria!" Styx begitu tertohok mendengar ucapannya. "Memang bukan, sebut saja aku pecundang yang secara sengaja mencintaimu dan kalah hanya dengan ucapan sahabatnya sendiri." Pria itu pun berlalu, hendak kembali ke halaman belakang istana. "Apa maksudmu, Styx?! Hey!" Pria itu terus saja berjalan dan menghiraukan teriakan dari sang ratu. Styx tampak berhenti di depan sana, ia teringat sesuatu. "Kalian memiliki jiwa yang sama, jika Cordelia mencintaiku, maka itulah cerminan dari jiwamu sendiri, Himalia. Jika ingin membohongi orang lain, bohongi saja dirimu sendiri terlebih dahulu! Kau tidak pernah pandai dalam berbohong," ucapnya setengah berteriak tanpa menatap lawan bicaranya, detik selanjutnya bayangan pria itu mulai menghilang tertutup dinding pemisah. "Kau tentu tidak mengerti apa yang terjadi, 'kan, Cordelia?" Gadis itu menggeleng dalam tundukkannnya. "Mari kembali ke kamar, akan aku ceritakan masa laluku dengan Styx." Sang ratu pun berjalan mendahului dan disusul oleh pelayannya. °°° "Corne pernah menceritakan hal ini, bukan?" "Ti-tidak, hanya sepenggal saja, Ratu." Wanita itu pun mengangguk, ternyata dugaannya terlalu jauh, begitu pikirnya. "Singkat saja, Styx adalah cinta pertamaku, kekasih pertamaku. Namun, hari pernikahan yang telah kita rencanakan dengan sempurna hanya berakhir sia-sia. Dia pengecut, dia pecundang, dia tidak menepati janjinya untuk menikahiku. Di hari itu dia menghilang dan menyuruh Triton untuk menggantikannya sebagai pengantin pria." Mata wanita itu sudah berkaca-kaca, membayangkan kejadian satu tahun lalu. "Sudah satu tahun aku tidak berbicara padanya, hanya hari ini. Aku tidak akan memaafkannya." "Tunggu, Yang Mulia. Apakah Anda tahu alasan Panglima Styx melakukan hal itu? Entah mengapa aku merasa ada yang salah." "Benar perkataan Styx, kita memang satu jiwa, Cordelia. Aku pun berpikir seperti itu. Sebenarnya ... alasan itulah yang membuatku kecewa, ia enggan menjelaskan alasan itu." Hening, hanya terdengar suara pedang yang bergesek satu sama lain di belakang sana. "Kau mencintai Styx, Cordelia?" "Saya tidak tahu, Ratu. Setiap melihat panglima aku merasa seperti dejavu." "Kau boleh mencintainya." "Ti-tidak, Ra---" "Tak apa, sekarang aku berpikir jiwamu adalah jiwaku juga, memang rasa itu adalah milikku." "Besok aku akan mengajakmu bertemu dengannya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD