9. Menepati Janji

1305 Words
"Dulu kita pernah berucap janji, aku ingin hidup bersamanya di zaman mana pun, di kehidupan selanjutnya atau kapan pun itu. Aku hanya ingin dia." Cordelia hanya menatap wanita itu sambil tersenyum tipis. Ia harus tahu apa alasan kedua insan yang saling mencintai ini terpisahkan? Apakah Raja Triton menyembunyikan sesuatu? Pikirnya. "Ratu," panggilan gadis itu berbisik. Himalia yang mengerti pun langsung mendekat. "Apa Ratu mencintai Raja Triton?" bisiknya tepat di telinga sang ratu. "Cinta itu hanya ada satu, Cordelia." Gadis itu melihat sekitar, berjaga-jaga jika ada prajurit atau pelayan lain yang mengawasi mereka. Ia pun segera membisikkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Apa Ratu tidak merasa bahwa Raja Triton menyembunyikan sesuatu? Jika dia diperintahkan Panglima Styx untuk menggantikannya, dia pasti tahu alasan dari panglima." Setelah mendengar hal itu Himalia pun menegakkan tubuhnya kembali. "Apa ratu tidak pernah menanyakan hal ini pada sang raja?" Himalia tersenyum miring. "Entah apa tujuan Triton menikahiku, ia tidak pernah berinteraksi denganku layaknya seorang suami, selama satu tahun ini dia tidak pernah menyentuhku dengan alasan ... aku mandul." Cordelia segera menengok dengan cepat, kaget dengan ucapannya. "Benarkah?!" "Ya, kepala tabib bilang aku ini mandul. Aku ini ratu yang tidak berguna, aku tidak bisa memiliki keturunan yang bisa aku wariskan kekuatan spiritual dan Kerajaan Bergelmir. Aku benar-benar stres memikirkan hal ini, Cordelia." "Aku berjanji akan membuahkan ramuan untukmu, Ratu." "Kau bisa?" "Apa ratu meremehkanku?" tanya Cordelia dengan wajah jenaka. Kedua wanita itu pun tertawa ringan. "Iya, aku meremehkanmu sebelum kau berhasil membuatnya." "Mungkin aku akan menyelesaikan ramuan itu jika sudah wisuda nantinya, untuk sekarang ilmuku belum begitu dalam." "Wisuda?" bingung Himalia tidak paham dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu. Entah ini bahasa di zaman apa? Cordelia sering sekali mengucapkan kata-kata yang sulit dimengerti, pikir Himalia. "Ya, semacam tamatan dalam belajar, sudah menguasai semua ilmu." Wanita itu hanya mengangguk paham. Ia merasa tertarik dengan zaman yang gadis itu tinggali, ia berpikir di masa depan manusia banyak yang memiliki keahlian khusus karena memiliki ruang pendidikan yang cukup. °°° Keesokan harinya Himalia menepati janjinya untuk mempertemukan Cordelia dengan Styx. Wanita itu terlihat begitu bersemangat, bukannya merasa cemburu karena cinta pertamanya akan menemukan tambatan hati yang baru. Namun, ia berpikir hanya dengan cara ini ia bisa menepati janjinya untuk terus menemani pria itu dan melihat Styx bahagia karena wanita itu telah terbius dengan kalimat 'jiwa Cordelia adalah jiwanya'. Kini kedua wanita itu tengah duduk bersejajar di kursi taman belakang. Bahkan Himalia sendiri yang telah mempercantik tampilan pelayannya dengan berbagai cara. "Jadilah dirimu sendiri, Cordelia. Dia pun pasti mencintaimu karena kamu adalah jiwaku." Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum, sebenarnya ia merasa tidak enak hati dengan ratunya. Namun, jika ia menolaknya akan mengecewakannya pula karena wanita itu terlihat begitu bersemangat. Hening, keduanya masih menunggu kedatangan pria itu. "Ada apa memanggilku ... Ratu Himalia?" tanyanya datar. "Tidak ada, aku hanya ingin kau berbincang-bincang dengan reinkarnasiku ini. Rajutlah rasa cinta, aku selalu ingin kamu bahagia, Styx. Tidak mungkin aku menikah denganmu." "Kau mengkhawatirkanku?" Tidak ada jawaban. "Tidak perlu, ini kesalahanku sendiri." Pria itu pun berbalik, hampir melangkah pergi. "Styx!" Pria itu berhenti melangkah. "Tidakkah kau ingin memahami sekali ini saja bagaimana perasaanku?! Hanya dengan cara ini aku bisa menemanimu di sepanjang waktu, Styx!" Hati pria itu bergetar, egonya goyah. Ia pun berbalik dan berjalan mendekat kembali. "Kau mencintai Cordelia?" "Aku mencintai Himalia, bukan orang lain." "Cordelia itu aku, kita hanya terlahir di zaman yang berbeda." "Jika janji kita adalah sumpah yang terpenuhi. Maka, akan ada reinkarnasiku di masa itu juga, jiwa kita akan kembali bertemu, Lia. Jika kita tidak bisa mempersatukan cinta di zaman ini, Cordelia dan Adrasta bisa melakukannya." "Adrasta?" beo kedua wanita itu. "Ya, dia prajurit baru yang datang entah darimana dan mengaku sebagai reinkarnasiku." Tak sengaja, seorang pria dari kejauhan melihat ketiga orang itu. "Panglima Styx? Lalu ... siapa kedua wanita kembar itu? Apa dia Ratu Himalia dan reinkarnasinya? Diakah gadis yang aku tabrak di depan kediaman sang peramal?" "Jadi, kau tidak ingin mencintai Cordelia?" "Cordelia memiliki dunia sendiri di masa depan, Lia. Kalaupun aku mencintainya, aku tidak bisa menembus dinding masa depan dan masa lalu." Hening, keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing. Begitu pun dengan Cordelia yang tidak mengerti dengan akar permasalahan ini, siapa Adrasta? Apa dia juga gagah perkasa seperti Styx? Apakah dia jodohnya? Cordelia harus menemukannya, begitu pikirnya. "Aku diciptakan untukmu, Himalia, di zaman ini, bersama jiwa dan ragamu, hanya dirimu. Aku bersumpah tidak akan mencintai wanita lain." Hening, Himalia tertegun mendengar perkataannya, begitu pun dengan Cordelia, tidak menyangka pria cuek sepertinya bisa mengucapkan kata-kata yang meyakinkan seperti itu. "Kau harus bahagia dengan wanita pilihanmu, Styx. Aku sudah bersuami!" "Kukira mencintaimu itu rasa yang sederhana. Aku tidak pernah berpikir akan melihatmu menikah dengan orang lain." Pria itu tertawa hambar. "Aku yakin, aku akan lebih terpukul jika melihatmu hamil dengan Triton. Tak apa, aku hanya ingin terus mencintaimu, bukan merebutmu dari sahabatku sendiri." "Lalu mengapa kau tidak mau menikahiku?!" Wanita itu terlihat meledak-ledak, detik selanjutnya ia pun menangis. Cordelia pun segera berdiri dengan wajah yang khawatir. 'Jangan memeluknya, Styx! Jangan memeluknya! Dia adalah istri sahabatmu' Styx terus menguatkan hatinya sendiri. "Cordelia, peluklah ratumu, aku tidak bisa." Gadis itu pun segera menuruti perintahnya. "Maafkan aku, aku terus membuatmu menangis. Suatu hari nanti kau pasti akan menemukan jawabannya sendiri," ucapnya pelan dan terkesan penuh penyesalan. Pria itu pun berbalik, hendak pergi. "Katakan padaku, Styx!" "Tanyakan pada suamimu, Himalia. Entah ia bisa salah atau tidak." Pria itu benar-benar pergi meninggalkan area taman. °°° "Kau meminum arak dan tidak mengajakku, Adrasta? Bukankah ini arak milikku?" Pria yang tengah duduk dan baru saja meneguk minumannya itu pun mendongak, lalu menyengir kuda. "Sembarangan saja kau ini. Kau tau? Ini arak pemberian Raja Serigala." "Ahh, benarkah?! Memangnya serigala meminum arak? Bukannya mereka hanya meminum darah atau air biasa? Lagi pula, bukannya serigala adalah salah satu musuh bangsa manusia di Bergelmir?" "Kau pikir seluruh rakyat Kerajaan Serigala hanya berwujud hewan-hewan buas berkaki empat? Ini manusia serigala, Adrasta. Jadi, di siang hari mereka adalah manusia biasa. Mereka memang pemangsa makhluk lain. Namun, mereka juga mudah tunduk kepada seseorang apabila diberi imbalan yang setimpal." "Arak yang mereka buat rasanya sedikit berbeda dengan arak yang dibuat orang-orang Bergelmir. Aku membelinya dengan seekor rusa besar yang kuburu di hutan perbatasan." "Jadi, aku tidak boleh meminumnya?" tanya Adrasta dengan polos. Pertanyaan konyol macam apa ini? Bahkan ia sudah meneguknya hampir satu botol, pikir Styx. "Pertanyaan gila, kau hampir menghabiskan satu botol! Jika kau ingin memuntahkannya kembali, mentahkan saja, tapi aku tidak akan meminumnya." Kedua pria itu pun tertawa, hanya karena sebotol arak mereka sampai berdebat panjang lebar. Hening, keduanya masih sibuk meneguk minuman memabukkan itu. "Panglima, siapa kedua wanita yang kau temui siang tadi? Apa benar dia Ratu Himalia dan reinkarnasinya?" Styx masih berusaha menelan minumannya dengan cepat. "Ya, memangnya kenapa? Perlu aku menceritakannya padamu?" "Aku tidak memaksa." "Kau memang terlihat tidak memaksa. Namun, entah mengapa akulah yang merasa terpaksa." Keduanya pun kembali tertawa. Pria yang terlihat sangar dan dingin ini ternyata begitu konyol, pikir Adrasta. "Wanita yang aku cintai itu memang sangat konyol, dia menyuruhku mencintai reinkarnasinya." "Aku tidak yakin jika kalian tidak berjodoh," gumam pemuda itu sangat pelan. "Memangnya kenapa?" "Kalian berdua sama-sama konyol." Sang panglima tertawa geli. Ia tahu itu, bahkan ketika mereka masih bersama, keduanya sering berbuat hal-hal yang tidak jelas; seperti menangkap katak atau belalang di sawah milik penduduk, padahal Himalia adalah seorang putri terhormat pada masa itu. "Dia berdarah bangsawan. Namun, tidak ada sedikit pun jiwa bangsawan pada dirinya." Pria itu tertawa membayangkan masa lalunya yang indah. Adrasta hanya memandangnya malas, dasar b***k-b***k cinta, pikirnya. "Kau ditakdirkan untuk mencintai Cordelia, Adrasta." "Hah?!" Pria itu mendongak kaget. "Kau pasti akan menemukan rasa itu dengan mudah. Masih ingat tentang janjiku dengan Himalia untuk hidup bersama di kehidupan selanjutnya?" Pria itu mengangguk mengiakan. "Bantu aku untuk mewujudkannya." "Cinta itu tidak bisa dipaksakan." "Terserah apa katamu saja," jawab Styx tak peduli, ia sudah memperkirakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD