"Mohon maaf, Tuan. Tidak sopan melihat barang pribadi milik orang lain." Adrasta sama sekali tidak memperdulikan ucapan gadis itu. Ia terus menatap matanya dalam, di balik masker hitamnya, pria itu menerbitkan senyum.
Menatap mata pria itu membuat Cordelia menyadari sesuatu. Mata itu ... Cordelia membelalak, detik selanjutnya gadis itu segera merapikan tasnya dan meletakkan selembar uang di meja. Ia pun berlari melewati pria itu begitu saja.
Adrasta merasa bingung, ada apa? Pikirnya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengejar gadis itu keluar kafe.
"Cordelia! Kau Cordelia, 'kan?!" teriak Adrasta masih sambil mengejar gadis yang tengah berjalan terburu-buru itu.
"Bukan! Kau salah orang!"
Adrasta pun segera mencekal tangan gadis itu, kembali menatap retina hitam pekat miliknya. Ia membuka masker dan topi hitamnya. "Aku Adrasta, reinkarnasi sang Panglima Styx." Kedua pasang mata itu masih terikat, saling menatap, seakan mengungkapkan sebuah rasa.
"Mengapa kau berlari?" Tidak ada jawaban, gadis itu membuang muka. "Jawab pertanyaanku, kau Cordelia."
"Bukan."
"Tatap mataku jika kau tidak berbohong."
Cordelia pun menurutinya. "Mengapa jantungku berdetak tak beraturan?" ucap Cordelia dalam hati. Ia masih menatap mata itu, masih enggan berucap sesuatu.
"Kau Cordelia?"
"Bu-bu ...." Gadis itu kembali membuang mukanya, tidak kuat menahan gejolak dalam dadanya jika terus menatap mata pria yang berpakaian dominan hitam itu. "Iya! Aku Cordelia, lalu kau mau apa?!" tanya gadis itu judes, Adrasta pun tersenyum. Persis dengan gadis yang diceritakan Panglima Styx, pikirnya.
"Mengapa kau tersenyum?! Memangnya ada yang lucu di sini?!"
"Ayo kembali ke cafe, aku ingin berbincang denganmu."
"Siapa kau berani mengaturku?!"
"Kau ini cerewet sekali." Tak ingin bertele-tele, Adrasta segera menggendong gadis itu untuk kembali ke tempat minum kopi.
"Hey! Turunkan aku!"
"Diam, Cordelia!"
"Kau---"
"Apa aku harus mencium bibirmu itu supaya bisa diam?" Seketika gadis itu pun terdiam. Apa-apaan pria ini? Pikirnya.
Mereka pun sampai di tempat itu, Adrasta segera mendudukkan Cordelia di tempat yang sempat gadis itu duduki tadinya. Keberuntungan berada di pihak Adrasta, kedai ini tengah sepi pengunjung, jadi ia bisa membuka masker dan topinya.
"Untuk apa kau lari dariku?" tanya Adrasta memulai.
"Entahlah, aku hanya tidak ingin ada yang tahu mengenai perjalanan lintas waktu yang kualami. Lagi pula kau terlihat seperti orang jahat tau?"
Pria itu tertawa kecil. "Memangnya iya?" Tidak ada jawaban.
"Mengapa kau berpakaian seperti teroris seperti itu? Aneh."
"Aku hanya ingin menutupi tanda lahir di wajahku ini." Cordelia mendekatkan wajahnya untuk mengamati setiap inci wajah pria itu dengan seksama. Semakin dekat, kedua pasang mata itu kembali bertemu, entah mengapa jantung keduanya berdetak tak karuan?
Gadis itu pun segera menjauhkan wajahnya. "Untuk apa? Kau tetap terlihat tampan dan gagah walaupun dengan tanda lahirmu itu." Adrasta tersenyum, dia menyebutku tampan? Pikirnya.
"Maaf, tadi kau menyebutku apa? Tampan?"
"Dasar laki-laki! Tidak! Kau jelek, sangat jelek!"
"Bahkan jika Dewa Takdir mengatakan bahwa kita ini berjodoh, kau masih ingin menyebutku jelek?"
Gadis itu terperanjat. "Hey! Sembarangan saja, kita saja baru bertemu, untuk apa kau membicarakan perihal jodoh?"
"Memangnya kita dipertemukan untuk apa?"
Cordelia tampak berpikir. "Ten-tentu saja secara tidak sengaja."
"Lalu mengapa Ratu Himalia dan Panglima Styx mengucap janji untuk hidup bersama di kehidupan berikutnya?" Tidak ada jawaban. Apakah benar Adrasta ini jodohnya? Mengapa Tuhan memberikan jodoh dengan jalan yang antimenstrim seperti ini? Tidak seperti manusia pada umumnya, begitu pikirnya.
"Kita memiliki masalah yang sama. Jadi, mengapa kita tidak berteman dan bekerja sama saja?"
"Tidak semudah itu, kau kira aku bisa mudah begitu saja denganmu?" Ribet sekali gadis cerewet ini, pikir Adrasta.
"Sejak kapan kau bisa melakukan perjalanan lintas waktu itu?" Gadis itu berpikir sejenak.
"Entahlah, aku lupa kapan. Sebentar," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah benda pipih miliknya.
"Cerita ini dipublikasikan pada ... dua minggu yang lalu." Ia pun tersenyum, kembali menghadap lawan bicaranya. "Eh, tunggu. Kau?! Cerita ini ...." Adrasta pun segera meraih ponsel gadis itu. Detik selanjutnya pria itu tertawa.
"Benar kata Panglima Styx, Dewa Takdir memiliki banyak rahasia untuk kita bertemu," gumam pria itu sangat pelan.
"Apa kau bilang?" tanya Cordelia yang seperti mendengar sesuatu dari mulut pria di depannya itu.
"Kau suka membaca cerita fantasi?"
"Tidak, aku hanya tidak sengaja melihat cerita ini di beranda akun sosial mediaku, lalu aku membacanya lewat sebuah tautan karena berpikir cerita ini hampir sama dengan masalah yang aku alami."
"Ya, ini memang karyaku, berdasarkan perjalanan lintas waktuku sendiri, aku hanya memalsukan nama-nama tokohnya saja. Sedangkan kau? Apa kau seorang pelukis?"
"Bukan, aku hanya memiliki sedikit minat dan bakat di bidang melukis. Namun, aku tidak menjadikan itu sebagai pekerjaan, aku lebih ingin menjadi seorang dokter dan membantu banyak orang." Adrasta tersenyum, dia gadis yang berhati besar, pikirnya.
Lama-kelamaan gadis ini mulai luluh, ia tidak lagi berucap dengan nada bicara yang tinggi.
Tengah hari, keduanya sudah harus pulang ke rumah masing-masing. "Mari kuantar kau pulang."
"Ah, tidak perlu, aku belum bisa mempercayaimu sepenuhnya, Adrasta. Kita baru saja berkenalan." Pria itu hanya tersenyum, ia paham. Mereka pun segera berjalan keluar dari bangunan di pinggir jalan itu.
"Sampai jumpa!"
"Aku akan menemuimu nanti malam, di istana Bergelmir!" ucap Adrasta setengah berteriak sambil melambaikan tangannya kepada Cordelia yang tengah berdiri di pinggir jalan. Gadis itu pun tersenyum dan membalas lambaian tangan Adrasta yang tengah memakai helm fullface-nya.
°°°
"Bukankah ini tumbuhan yang mengandung senyawa beracun?" tanya Cordelia pada salah satu tabib yang hendak membuatkan obat untuk sang ratu.
"Paham apa kau soal obat-obatan? Kau hanya seorang pelayan!" Gadis itu hanya menghela napasnya berat. Apa dia meragukan kemampuanku? Pikir gadis itu sambil tersenyum miring.
"Panggillah kepala tabib di Kerajaan Bergelmir ini! Aku ingin menanyakan apakah obat yang kau racik ini benar atau tidak."
Salah satu tabib pemula di sana pun segera berlari untuk memanggil sang kepala.
"Ada apa ini?"
"Dia hanya seorang pelayan, Kepala. Seharusnya tugasnya hanya membawa obat ini untuk Ratu Himalia, sekarang ia malah mengomentari obat racikanku," jelas pria yang masih memegangi akar tumbuhan obatnya.
Pria tua itu pun segera berjalan ke arah Cordelia. "Jangan mentang-mentang kamu reinkarnasi sang permaisuri, kamu bisa berbuat seenaknya, ya!"
"Mohon maaf, memangnya jika saya adalah reinkarnasi Ratu Himalia, saya bisa langsung menyelamatkan beliau dari kematian? Dengan adanya takdir seperti ini, tentu saya memiliki kemampuan khusus untuk mengemban tugas ini, Dewa itu baik, Kepala tabib yang terhormat."
"Apa maksud ucapanmu?"
"Dia seorang tabib!" sahut seseorang dari luar ruangan praktek khusus para tabib itu.
"Kami berasal dari masa depan, dan Cordelia menuntut ilmu di perguruan tinggi jurusan kedokteran. Di masa ini, dokter itu adalah tabib. Jadi, janganlah kalian anggap Cordelia ini hanya pelayan biasa," jelas Adrasta yang awalnya hanya berniat menemui Cordelia. Namun, tidak sengaja ia melihat keributan di ruangan itu.
"Mohon maaf sebelumnya, Kepala tabib, siapa yang mengatur obat-obatan dan makanan yang dikonsumsi oleh Ratu Himalia?"
"Hydra, saya menugaskan dia karena ketelitiannya yang tinggi." Pria tua itu menunjuk pria yang sempat berdebat dengan Cordelia tadi.
"Sebenarnya kau siapa?" tanya gadis itu datar, yang ditanya hanya bungkam.
"Saya selalu memberikan permaisuri obat yang dia buat beberapa hari lalu. Namun, keadaan permaisuri semakin memburuk, saya curiga ada hal yang saling di sini." Pria di belakangnya terlihat begitu panik.
"Kau malah ingin meracuni permaisuri dengan langkah perlahan dengan memasukkan bahan-bahan yang justru tidak boleh dikonsumsi oleh permaisuri. Bukan begitu, Tuan Hydra yang cerdas?" Tidak ada jawaban.
Pria itu sudah terpojok. Ia segera membuka topengnya yang terlihat seperti wajah asli, ia tertawa keras. Detik selanjutnya, sebuah pisau sudah berada di depan leher Cordelia yang dijadikan sandra oleh penyusup itu.
"Penyusup! Segera laporan pada Raja Triton!"
Adrasta yang melihat hal itu mulai panik. Bagaimana caranya supaya bisa menyelamatkan gadis itu?
"Ya, kecurigaanmu selama ini memang benar, gadis cantik. Aku ini bukan manusia. Namun, aku adalah mantan rakyat Bergelmir." Semua orang masih diam di tempatnya, takut jika gadis itu diapa-apakan.
"Jangan khawatir! Aku akan melepaskannya di dekat sungai perbatasan. Aku tau gadis ini sangat berharga untuk Bergelmir. Jadi, aku akan melepaskannya setelah aku selamat dari tempat terkutuk ini."
"Cordelia," panggil Adrasta ragu. Ia sungguh tidak berguna sebagai seorang pria, pikirnya.
"Tidak perlu khawatir, Adrasta. Kau tidak perlu menyelamatkanku untuk saat ini, aku tahu kau sangat ingin menyelamatkanku. Namun, jangan biarkan dirimu terluka, turuti saja perkataannya." Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum meneguhkan dirinya sendiri. Entah mengapa setelah mendengar ucapan gadis itu hatinya terasa lebih tenang?