Akhirnya iblis itu menepati janjinya, ia melepaskan Cordelia di tepi sungai perbatasan setelah ia berhasil keluar dari wilayah Bergelmir. Adrasta yang memang mengikuti mereka sedari tadi segera menghampiri Cordelia yang terlihat begitu lemah.
Pandangannya kabur, gadis itu terjatuh ke pelukan Adrasta. "Cordelia!"
"Ah, terima kasih, maafkan aku yang menyusahkanmu," ucapnya berterima kasih, masih memandangi wajah tampan itu.
"Jangan pikirkan itu. Kau kenapa?" tanya pria itu penuh rasa khawatir.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit pusing, sedari tadi iblis itu terus mencekik leherku." Tanpa pikir panjang Adrasta segera menggendongnya supaya cepat sampai ke istana.
"Adrasta! Turunkan aku!" pintanya sambil memberontak. Namun, Adrasta enggan untuk menurutinya.
"Kau kira aku akan membiarkan keadaanmu semakin memburuk?" Gadis itu bungkam, ia menurut saja.
Tak sengaja, seseorang melihat keduanya tengah bermesraan di sana, pria itu tersenyum. "Kau menelan ucapanmu sendiri, Adrasta. Cinta tidak akan membohongi dirinya sendiri. Semoga janjiku dan Himalia bisa kalian wujudkan."
Ya, seseorang itu adalah Styx. Orang pertama yang begitu mendukung hubungan keduanya.
°°°
Iblis yang ditugaskan Pan untuk menjadi penyusup di istana Bergelmir telah kembali ke kerajaannya. Ia menundukkan dirinya di depan sang raja, ingin menyampaikan informasi penting mengenai terwujudnya ramalan kuno itu.
"Benar, Tuan Raja. Ada dua orang baru di sana, yakni reinkarnasi dari Ratu Himalia dan reinkarnasi Panglima Styx," ucapnya menjelaskan. Namun, sedikit pun tak dipedulikan oleh Pan. Tidak peduli mengenai reinkarnasi-reinkarnasi itu, pria itu tak berpikir mengenai kegagalan apa yang akan ia hadapi jika ada kedua manusia dari masa depan itu.
"Bagaimana bisa kau ketahuan?! Tugasmu belum selesai di sana."
"Mohon maaf, Yang Mulia. Namun, reinkarnasi Ratu Himalia itu adalah seorang tabib, ia mengetahui ramuan yang kubuat adalah ramuan yang salah dan beracun, ia memojokkanku, Tuan." Pan berdiri dari singgasananya.
"Baik, kembalilah ke pekerjaanmu sebelumnya, terima kasih atas kesediaanmu dalam mengemban tugas ini." Setelah mengiakan ucapan rajanya, pria itu segera kembali ke ruangannya sebagai seorang tabib kerajaan.
Pan sama sekali tidak memikirkan siapa wanita tabib itu. Yang ada dalam kepalanya hanyalah serangan dan serangan terhadap Bergelmir.
°°°
Hari mulai senja, Cordelia masih belum sadarkan diri, sewaktu dalam gendongan Adrasta ia sempat tidak sadarkan diri hingga saat ini. Ia masih di ruang praktek tabib kerajaan. Adrasta masih menemaninya hingga tertidur di kursi sambil melipat tangannya di depan d**a.
Cordelia mulai mendengar sesuatu, matanya terbuka sedikit demi sedikit, kepalanya terasa pusing dan badannya masih terasa sakit. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria yang tengah tertidur dengan pulas di kursi sampingnya.
Cordelia menatap wajah pria itu dengan seksama, tidak sadar bibirnya menyungging senyum layaknya bulan sabit. "Baru kali ini aku menemukan seseorang yang peduli padaku selain ayah dan ibu. Sebenarnya Dewa Takdir merencanakan apa dengan kehadiranmu ini, Adrasta?" gumamnya begitu pelan.
"Mengapa berada di dekatmu membuatku merasa begitu aman dan nyaman? Padahal baru kemarin kita bertemu, apakah bisa rasa cinta tumbuh dengan waktu yang sesingkat ini?" Cordelia reflek menutup matanya kembali setelah menyadari pergerakan dari tubuh Adrasta.
"Cordelia?" Itulah kalimat pertama yang ia ucapkan sambil berusaha membuka matanya. "Dia masih belum sadarkan diri?" Ia pun membuang napasnya panjang.
"Sebelumnya aku belum pernah merasa secemas ini asal kau tau, bahkan kepada diriku sendiri. Aku tidak tahu ini apa, bahkan rasa ini bergejolak sebelum aku bertemu denganmu." Cordelia masih mendengarkan celotehan Adrasta, ia masih menutup matanya, enggan membukanya sebelum Adrasta menyelesaikan monolognya.
"Apa benar yang Panglima Styx ucapkan? Jiwa kita---"
"Cordelia!" Tiba-tiba dua orang wanita datang dengan ekspresi wajah yang terlihat panik, membuat Cordelia gagal mendengar perkataan Adrasta yang terpotong.
"Bagaimana keadaan Cordelia?" tanya sang ratu yang tidak mendapati pelayannya kembali dari ruang obat sejak pagi tadi.
"Dia hanya kelelahan dan mengalami sesak nafas tadinya, sekarang kita hanya harus menunggu dia tersadar, menurut perkataan tabib seharusnya dia sudah sadar sekarang. Namun---"
"Adrasta ...," panggil Cordelia berpura-pura baru sadarkan diri.
Pria itu segera berdiri dan mendekati ranjang tempat Cordelia terbaring. "Iya? Aku di sini." Ia pun membantu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Tidak ada jawaban, Cordelia malah asik menatap retina hitam pekat milik Adrasta. Entahlah, tatapan teduh itu berhasil membuatnya luluh dan merasa aman.
"Aku baik-baik saja selagi ada di dekatmu," jawabnya tanpa berpikir, detik selanjutnya ia tersadar dengan apa yang ia bicarakan, ia pun menutup mulutnya sendiri.
"Ti-tidak! Maksudku---" Adrasta segera menyodorkan jari telunjuknya untuk menutup mulut gadis berpakaian hitam-putih ala pelayan itu.
"Jangan banyak bicara! Kau harus istirahat."
Himalia yang melihat keduanya pun tersenyum hangat, ia menghela napas, hatinya terasa tenang dan damai. Apakah janjinya dengan Styx diwujudkan oleh Dewa Takdir? Pikirnya.
"Cordelia, beristirahatlah. Jika sudah membaik, baru kau boleh kembali menemaniku." Gadis itu pun mendongak dan mengiakan ucapan ratunya penuh penghormatan.
Sepeninggalan sang ratu, Corne segera mendekat ke arah dua bayangan yang terlihat tengah jatuh cinta itu. "Bukankah kau yang bernama Adrasta?" Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Ya Tuhan! Wajahmu sangat mirip dengan kekasihku Panglima Styx." Adrasta membuka mulut dan matanya secara reflek. Sejak kapan Panglima Styx memiliki kekasih seperti ini? Pikir Adrasta.
"Ha, iya." Pria itu hanya menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kaku.
°°°
Setelah menjenguk reinkarnasinya, Himalia menuju lantai atas istananya, dari sana ia bisa melihat pasukan prajurit pemula yang tengah berlatih pedang dan dipimpin oleh mantan kekasihnya, Styx.
"Kau tau, Styx? Hingga detik ini rasa cintaku padamu masih belum berubah," ucapnya pelan, bermonolog.
"Jika memang kita tidak ditakdirkan berjodoh di kehidupan ini ... aku masih ingin bersamamu di kehidupan selanjutnya. Aku masih berharap janji kita itu bisa dikabulkan oleh Dewa Takdir, semoga saja dia memberikannya untuk Cordelia dan Adrasta." Ia masih di sana, berdiri menatap matahari yang hampir tenggelam penuh.
Styx yang merasa ada seseorang yang memperhatikannya pun segera menatap ke atas. "Himalia?" gumamnya begitu pelan.
Dadanya terasa sesak kala melihat wanita itu menitikkan air matanya. "Maaf, aku tidak lagi bisa mengusap air matamu itu, Himalia. Maafkan aku."
°°°
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Cordelia. Kini dirinya tengah memeluk kedua orang tuanya dengan senyum hangatnya.
Tak lama, seseorang bertopi dan bermasker hitam datang menghampiri Cordelia dengan membawa sebuah buket bunga berukuran besar, tak lupa dengan boneka beruangnya. Keduanya memang susah sangat akrab sejak pertemuan keduanya.
Cordelia pun segera memeluknya. "Mengapa kau masih mengenakan masker dan topimu?"
"Di sini banyak orang, Cordelia, aku takut kau malu memiliki sahabat sepertiku."
"Tidak perlu menutupi tanda lahirmu itu, kau tampan, kau selalu tampan, Adrasta." Gadis itu pun melepas pelukannya dan menatap mata pria tinggi itu. "Percayalah." Keduanya pun tersenyum.
Tanpa aba-aba, Adrasta membuang topi dan maskernya, menampakkan rupanya yang tampan walau sebagian dari wajahnya tertutup oleh tanda lahir yang tampak seperti cakaran hewan buas. Adrasta tak pernah tahu bahwa tanda lahir yang ia miliki membuat auranya lebih terlihat sebagai seorang pria, ia terkesan lebih gagah dan tangguh dengan tanda lahir itu.
"Kau tidak pernah memperlihatkan ini pada orang lain? Kau itu pria yang tampan."
"Tidak, bahkan aku malu pada diriku sendiri. Aku takut dengan perkataan pedas orang-orang." Gadis si depannya hanya menatapnya iba.
"Itu tidak terlalu buruk, bahkan aku sudah terbiasa, walaupun aku pernah berpikir untuk mati karena pandangan orang-orang mengenai tanda lahirku ini."
"Untung saja kau tidak jadi mati." Cordelia mengernyit, memangnya kenapa? Pikirnya. "Karena Ratu Himalia dan Panglima Styx harus menunggu reinkarnasi selanjutnya untuk mewujudkan janjinya." Mereka pun tertawa.
Sedari tadi kedua orang tua Cordelia hanya memandang putrinya yang tengah bercanda seorang laki-laki dengan tatapan penuh tanda tanya. Siapa pria itu? Mengapa terlihat sangat akrab dengan Cordelia? Pikir mereka. Akhirnya keduanya pun memutuskan untuk menghampiri anak tunggalnya.
"Cordelia, siapa dia?"
Gadis itu pun segera menjelaskan identitas Adrasta dan bagaimana cara mereka bertemu hingga akrab seperti ini. Adrasta pun terlihat begitu sopan, ia mencium punggung tangan kedua orang tua Cordelia dan tersenyum hangat.
"Adrasta, terima kasih telah menjadikan Cordelia sebagai temanmu, kami sangat senang melihat putri kami ini bahagia berada di dekatmu. Kami titipkan Cordelia padamu ketika di istana Bergelmir, karena kami tidak tahu apa yang terjadi di sana," ucap Sao penuh kasih sayang.
"Baik, Om. Saya akan menjaga putri Anda dengan seluruh kemampuan yang saya miliki." Keduanya itu pun saling berpelukan ala pria.
Cressida yang melihat itu pun segera memeluk putrinya. Dengan adanya kejadian ini membuat Cordelia semakin berpikir bahwa Adrasta memang benar jodohnya. Memang Tuhan itu memiliki banyak jalan untuk mempertemukan jodoh.
°°°