13. Raja Triton

1376 Words
"Ibu, menurutmu bagaimana jika benar Adrasta adalah jodohku?" tanya gadis itu dalam pelukan ibunya. Ya, begitulah kebiasaan Cordelia saat hendak memejamkan matanya di malam hari. "Memangnya kenapa? Dia pria yang baik." "Bagaimana Ibu tahu? Bahkan ibu baru bertemu dengannya." Wanita itu menghela napas. "Ibu pun tidak mengerti, Cordelia. Ibu merasa dia itu pria yang baik, entah mengapa tidak ada sedikit pun keraguan di hati ibu terhadap Adrasta." Gadis itu segera bangkit dan menegakkan tubuhnya. Apakah ibu juga merasakan hal yang sama mengenai Adrasta? Pikir gadis itu. "Ibu, sebenarnya siapa Adrasta itu? Mengapa aku juga merasakan perasaan cinta? Bahkan sebelum aku bertemu dengannya, aku merasa begitu aman berada di dekatnya." Cressida tersenyum mendengar penuturan putrinya. "Sudah, tidurlah, temukan jawaban itu di istana Bergelmir. Tanyakan itu pada Adrasta atau Ratu Himalia." Ia pun mengangguk dan menuruti perintah ibunya. °°° "Bagaimana, Adrasta? Kau menelan ucapanmu sendiri, bukan?" Pria yang tengah duduk meneguk tehnya itu mendongak sebentar. "Apanya yang menelan ucapan sendiri?" Ia kembali fokus meneguk tehnya. "Cordelia." Satu kata dan berhasil membuat pria itu tersedak. Styx tertawa melihatnya. "Lihatlah, orang yang tengah jatuh cinta itu tidak bisa berbohong." Pria muda itu hanya melirik sedikit ke arah sang panglima, tidak ingin memperdulikan ucapannya. °°° Masih seperti hari-hari biasanya, Cordelia hanya duduk di ranjang kamar sang ratu, menemaninya sepanjang hari. Sebuah panggilan membuat gadis itu mendongak kaget. "Mengapa kaget seperti itu? Aku hanya memanggil namamu, mengapa sampai sekaget itu?" Cordelia hanya tersenyum malu. "Kau sedang melamunkan sesuatu, Cordelia?" "Ah, ti-tidak, Ratu!" Wanita dengan gaun berwarna coklat s**u itu hanya tersenyum memaklumi. "Seseorang yang tengah jatuh cinta itu tidak bisa berbohong." Gadis itu tertohok mendengarnya. "Benar?" Tidak ada jawaban, Cordelia hanya menunduk malu. "Apa kau mau mendengarkan ceritaku, Cordelia?" "Memangnya saya pernah menolak permintaan Ratu?" Wanita itu tertawa kecil. Benar juga, pikirnya. "Apa kau mengenal bagaimana kepribadian suamiku, Cordelia?" Lawan bicaranya pun menengok bingung. Dia itu suamimu, mengapa harus bertanya pada orang lain? Pikirnya. "Tidak, Ratu. Saya tidak pernah berinteraksi dengan beliau sama sekali, bahkan untuk bertemu dengannya di istana ini saja terbilang sangat jarang. Saya tidak mengenal beliau dengan baik, walaupun dirinya seorang raja." "Aku juga." Cordelia kembali memperlihatkan tatapan bingungnya. Apa maksud perkataan wanita itu? "Walaupun dia adalah suamiku, aku tidak pernah berbicara banyak padanya." Tatapannya berubah sayu, memikirkan nasibnya sendiri. "Aku tidak tahu Bergelmir akan menjadi Kerajaan apa?" Hening, Cordelia masih menunggu ucapan selanjutnya, sedangkan Himalia terlihat tengah menahan air matanya yang hampir luruh, menyesali keputusannya dulu. "Mengapa dulu aku berpikir cinta akan hadir dengan sendirinya di pernikahannya ini? Mengapa aku berpikir akan dengan mudah mencintai Triton dan melupakan Styx dalam waktu yang singkat?" "Apakah ada yang salah dengan cara berpikirku?" tanyanya pada sang pelayan. "Tidak, Ratu. Sebagai seorang ratu, kau adalah orang yang bijaksana, kau memikirkan rakyatmu, ini bukanlah kesalahanmu. Aku pikir hampir semua orang akan berpikir seperti itu, cinta datang karena sebuah kebiasaan." Himalia pun tersenyum dan segera menggenggam tangan reinkarnasinya. "Terima kasih." Keduanya saling melempar senyum. Mungkin inilah yang namakan 'yang bisa memahamimu hanyalah dirimu sendiri.' karena jiwa Cordelia adalah jiwa Himalia. "Aku ingin menjadi seorang istri yang utuh, wanita yang normal, dan menjadi seorang ratu yang sempurna. Aku ingin itu, Cordelia." "Apa Ratu tidak ingin membicarakan itu dengan Raja?" Wanita itu tersenyum miring. "Memangnya ada waktu yang tercipta untuk aku berbicara empat mata dengan suamiku itu?" Benar juga, pikir Cordelia. "Jika waktu bisa diulang, mungkin aku akan memutuskan untuk menunggu Styx dan membatalkan acara pernikahan hari itu daripada harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai, aku tidak pernah berpikir Triton akan memperlakukanku seperti orang asing seperti ini." Cordelia menatapnya iba, ia berdo'a semoga saja kisah cinta Himalia tidak terjadi pada kehidupannya. "Aku tidak memiliki harapan lagi untuk Styx saat ini, kasihan dia, dia tidak ingin mencintai wanita lain lagi, bahkan untuk dirimu yang terbilang memiliki jiwa yang sama denganku, Cordelia. Yang kuharapkan sekarang hanyalah kebahagiaannya, tidak peduli seberapa besar rasa kecewaku padanya, aku masih mencintainya." Cordelia membiarkan saja wanita itu bercerita, enggan untuk memotongnya. "Bahkan, jika cinta ini adalah sebuah kesalahan yang membuatku menanggung dosa, aku masih teguh dalam pendirianku." Sang Ratu tersenyum setelah mengucapkannya, entah hal apa yang memenuhi kepalanya? Yang pasti Styx-lah yang menjadi rajanya. "Entah mengapa ... aku berpikir alasan mengapa Styx tidak ingin menukahiku adalah sesuatu yang dapat meredakan rasa kecewaku, itu membuatku semakin merasa penasaran." "Permaisuri, maaf atas saran saya yang terbilang monoton ini. Namun, saya berpikir semua pertanyaan yang selama ini Anda pendam, semuanya akan terjawab, Permaisuri." Wanita itu pun mengangguk menyetujui ucapan pelayannya. "Aku pun berpikir seperti itu, Cordelia. Sebisa mungkin aku akan memaksa Triton untuk berbicara empat mata denganku." Kedua wanita itu pun tersenyum hangat. Mereka berharap akan segera menemukan titik terang. "Untuk saat ini ... aku tidak begitu memikirkan masa lalu yang kelam. Memikirkan masa lalu hanya akan menciptakan rasa penyesalan yang tidak ada habisnya. Sekarang aku memikirkan masa depan Bergelmir." Tatapannya berubah sayu, terlihat pasrah, Cordelia tidak menemukan sedikit pun sebuah harapan di matanya. "Jika Triton tidak ingin menyetubuhiku, kepada siapa akan aku turunkan tahkta di Kerajaan Bergelmir ini?" Wanita itu kembali tersenyum miring. "Aku tidak menuduh, bahkan aku tidak tahu isi hati seseorang. Namun, jika alasan Triton mau menikahiku adalah untuk mendapatkan gelar seorang raja di Bergelmir, maka ia tetap membutuhkanku apa pun alasannya karena yang memiliki darah bangsawan di sini hanyalah aku. Ingin memiliki selir? Terserah dia saja. Namun, yang akan mewarisi Bergelmir tentulah keturunanku." Tanpa mereka ketahui, seseorang mendengarkan pembicaraan keduanya. Hatinya bergetar, mungkin benar, pikirnya. "Apa aku pernah bercerita kepadamu mengenai kabar bahwa aku ini mandul?" Gadis itu mengangguk mengiakan. "Menurutmu ... apakah hal itu yang membuat Triton tidak ingin menyetubuhiku?" "Tidak menutup kemungkinan, Permaisuri. Namun, isi hati seseorang itu tidak ada yang tahu. Mohon maaf, jika diizinkan ... saya ingin memeriksa rahim Permaisuri untuk mengecek kebenarannya. Permaisuri yang khawatir, saya sudah lulus dari universitas kedokteran, jika Ratu masih ragu, saya akan menggunakan teknik yang sederhana, walaupun hasilnya kurang akurat." "Lakukan saja jika itu hal baik, Cordelia. Aku percaya padamu." Gadis itu pun mengangguk dan tersenyum bahagia. "Namun, jikalau aku ini tidak mandul. Apakah itu hal yang membahagiakan? Semuanya akan sama saja jika Triton masi dalam pendiriannya. Sejujurnya ... aku mulai bertanya pada Tuhan, untuk apa aku diciptakan menjadi seorang Ratu? Tidak---" Pintu kamar terbuka membuat kedua wanita itu mendongak kaget. Siapa yang berani memasuki kamar permaisuri tanpa mengetuk pintu? Pikirnya. Namun, setelah melihat siapa yang datang membuat keduanya kembali menarik isi pikirannya. Apakah dia mendengar semuanya? Pikir Himalia merasa panik dan ketakutan. "Cordelia, bisa kau keluar sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan istriku." Gadis itu segera beranjak dari duduknya dan menuruti perintah sang raja. Mungkin ia akan pergi ke dapur saja untuk membantu Corne memasak, pikirnya. Namun, seseorang orang lain tidak sengaja melewati kamar sang ratu dan melihat Triton memasukinya. "Hampir saja aku kehilanganmu, ternyata dia ada di sini," gumamnya sambil berjalan menuju pintu ruangan itu. Beberapa detik kemudian ia pun segera berlari dan bersembunyi di balik dinding setelah melihat seseorang keluar dari sana. "Ratu?" tanyanya bermonolog. "Mengapa ia memakai baju pelayan?" Detik selanjutnya ia teringat sesuatu, ternyata itu hanya reinkarnasinya. Ia pun segera mendekatkan telinganya di depan pintu setelah memastikan bayangan Cordelia sudah tidak terlihat lagi, ia berusaha mendengarkan pembicaraan sepasang suami-istri itu. "Apa kau kecewa denganku?" tanya sang raja sambil berjalan mendekati istrinya. "Wanita mana yang tidak kecewa jika istrinya diperlakukan seperti orang asing?" jawab Himalia membuang mukanya. "Maafkan aku, kukira kau tidak pernah mencintaiku." "Aku tidak ingin membicarakan rasa cinta, suamiku. Aku memikirkan masa depan Bergelmir." Triton tersenyum mendengarnya. Tidak ada yang tahu, Triton begitu mencintai Himalia, walaupun tidak sebesar rasa cinta Styx kepada wanita itu. "Apa kau menginginkannya, Ratuku?" Wanita itu menengok kaget. Apakah ia tengah bermimpi? Pikirnya tak percaya setelah bertahun-tahun lamanya Triton tidak pernah menyentuhnya. "Kepala tabib bilang ... aku ini mandul. Kau tau, 'kan?" "Tidak ada yang tahu jika kita tidak mencobanya, lagi pula Cordelia berjanji akan memeriksa rahimmu, aku mempercayainya." Himalia tersenyum hangat, tidak menyangka waktu ini akan tiba. Pria itu pun beranjak. "Mungkin malam ini. Persiapkan dirimu, Ratuku." Pria yang masih berdiri di depan ruangan itu pun segera bersembunyi saat merasa bahwa Triton akan segera keluar dari kamar istrinya. "Aku harus segera melaporkan ini kepada Raja Pan," gumamnya pelan, lalu pria yang menyamar sebagai prajurit istana itu segera berlari untuk keluar dari istana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD