Sepeninggalnya dari istana Bergelmir, salah satu rakyat Pan itu segera menuju istana rajanya. Ia datang dengan senyum yang mengembang, berharap Pan akan menghargai kerja kerasnya sehingga mendapatkan informasi penting seperti ini.
"Benarkah yang kau ucapkan? Setelah bertahun-tahun kakakku itu didiamkan oleh suaminya ... lalu sekarang ingin membuat keturunan? Kira-kira alasan apa yang mendasari hal itu?"
"Mohon maaf, Yang Mulia. Tidak ada waktu untuk memikirkan alasan itu, biar bagaimanapun, tindakan ini sangat berbahaya untuk Yang Mulia. Jika mereka memiliki seorang anak, maka Bergelmir akan sulit untuk kita rebut, anak itulah yang akan mewarisinya. Kita tidak boleh membiarkan Ratu Himalia mengandung."
Pan berdiri dari duduknya. "Benar apa yang kau katakan, segera panggil kepala tabib di istana ini, aku memiliki tugas penting untuknya," titah sang Raja Pan. Pria yang ditugaskan itu pun segera beranjak untuk mencari sang tabib.
Tak berselang lama, prajurit tadi datang dengan seorang pria tua dengan pakaian putihnya. "Saya kemari siap untuk menjalankan tugas dari Tuan Raja Pan," ucapnya memulai.
"Prajurit, kau boleh pergi. Aku ingin berbicara dengan sang tabib." Pria itu pun menurutinya dan segera beranjak pergi.
"Kepala tabib, aku tidak pernah kecewa dengan hasil kerjamu di istana ini. Namun, ini adalah tugas besar, kau harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Buatkan aku sebuah ramuan beracun untuk memandulkan seorang wanita, jika perlu ... yang sekaligus membunuhnya. Aku menunggu hasilmu hingga matahari terbenam nanti."
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan saat ini juga."
"Silahkan, kau boleh mengeksekusinya sekarang."
°°°
Pintu kamar sang ratu masih tertutup rapat, sang raja pun masih menunggu istrinya selesai diperiksa. Ya, Cordelia diizinkan untuk memeriksa rahim sang ratu hari itu juga.
Tak berselang lama, gadis dengan senyum lebar yang sudah bisa disebut dokter itu pun keluar kamar dan mempersilahkan rajanya masuk untuk menemui istrinya. Wanita itu pun terlihat begitu bahagia, membuat sang suami bertanya-tanya. Kira-kira apa hasil yang didapat oleh Himalia?
"Aku bisa hamil, Rajaku!" Pria itu pun segera menubruk tubuh istrinya. Tidak menyangka hal ini akan terjadi.
"Hasil yang didapatkan tabib sebelumnya bukanlah hal yang salah, Tuan. Namun, kemandulan yang dialami oleh Permaisuri Himalia ini masih bisa ditangani dengan baik walaupun ada kemungkinan rahim sang ratu akan melemah di masa mengandung nanti," jelas Cordelia dengan sopan. Sepasang suami-istri itu pun mengangguk paham mendengarnya.
"Lalu ... apakah tidak berbahaya jika istriku mengandung nantinya?" tanya Triton penuh rasa khawatir.
"Tidak apa, Tuan. Namun, ratu haruslah menjaga pola makan, kegiatan atau kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatannya."
"Baiklah, saya akan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Terima kasih, Cordelia, tidak salah jika Dewa Takdir mengirimmu kemari untuk menyelamatkan Bergelmir."
"Sama-sama, Tuan. Saya senang bisa menjadi seseorang yang berguna di kerajaan ini."
°°°
Hari mulai senja, Cordelia masih duduk di halaman belakang istana karena Raja Triton yang menyuruhnya untuk beristirahat, ia pun tidak ingin menyia-nyiakan waktu liburnya itu. Tak sengaja, ia menangkap sesosok pria yang ia kenal. "Adrasta!" panggilnya sambil melambaikan tangan.
Pria yang terlihat kelelahan itu pun segera mendekati gadis cantik yang memanggilnya, entah mengapa setelah melihat Cordelia, rasa lelahnya terlupakan begitu saja.
Gadis itu pun beranjak dari duduknya. "Hai, Adrasta! Kau baru selesai latihan pedang?" Pria itu pun mengangguk.
"Apa kau tidak merasa berat memakai baju zirah seperti itu?" tanya Cordelia sambil memiringkan kepalanya, hal itu berhasil membuat Adrasta menahan rasa gemasnya.
Detik selanjutnya gadis itu malah mendekati baju yang dikenakan Adrasta, berusaha memperhatikan setiap incinya dari dekat. Pria itu terlihat menahan napas karena merasa gugup dengan posisi Cordelia yang begitu dekat dengannya.
"Cordelia," panggilnya ragu. Gadis itu pun mendongak. Tatapan mereka bertemu, membuat keduanya salah tingkah. Gadis itu pun segera menjauhkan tubuhnya, gugup.
"Maafkan aku." Adrasta tersenyum simpul.
"Maaf untuk?"
"Mungkin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku," cicitnya sambil menunduk.
"Bukan begitu, aku senang berada di dekatmu, percayalah."
Hening, keduanya terjebak dalam rasa canggung.
"Hey! Duduklah, aku akan menemanimu mengobrol di sini. Boleh, 'kan?"
"Ahh iya!" jawab Cordelia dengan cepat. Ia pun segera mendudukkan bokongnya dengan kasar, entah mengapa ia sangat merasa gugup berada di dekat Adrasta. Pria yang berdiri di depannya itu hanya tersenyum menahan tawa. Gadis ini terlihat sangat lucu jika tengah gugup seperti ini, pikirnya.
Mereka berdua pun kini duduk bersebelahan, masih dalam keadaan yang canggung. "Apa kau tidak menjaga Ratu Himalia hari ini?" tanya Adrasta berusaha mencairkan suasana. Cordelia pun segera menjelaskan apa yang terjadi pada Ratu Himalia dan Raja Triton hari ini.
"Jadi, sebagai sepasang suami-istri mereka belum pernah melakukan 'anu'?"
"Kau jangan menyebutnya 'anu' seperti itu! Itu terkesan lebih ... anu."
"Kau pun menyebut kata 'anu'."
Cordelia membuang mukanya. "Ah sudahlah, topik ini tidak akan selesai!" Adrasta pun tertawa ringan. Memang pada dasarnya wanita itu tidak mau disalahkan, pikirnya.
"Entah mengapa aku memikirkan perasaan Panglima Styx," ucap Adrasta, setelahnya ia membuang napas panjang.
"Ya, aku pun memikirkan hal yang sama. Namun, mau bagaimana lagi? Ini demi kepentingan Kerajaan Bergelmir, lagi pula Panglima Styx---" Gadis itu teringat sesuatu.
"Adrasta!" Pria itu pun mendongak kaget, bertanya-tanya. "Apa bisa kau tanyakan kepada Panglima Styx mengenai alasannya mengapa tidak mau menikahi Ratu Himalia?"
"Panglima Styx pernah menceritakannya padaku," jawab Adrasta dengan tenang.
Gadis itu menengok kaget. "Apa?! Mengapa kau tidak pernah memberitahukannya padaku?! Sudah lama aku dan Ratu Himalia mencari jawaban itu dan Panglima Styx tidak ingin membeberkannya."
"Mana aku tau? Kau tidak pernah menanyakannya padaku." Benar juga, pikir Cordelia.
Adrasta pun segera menceritakan kisah cinta sebelum hari pernikahan sang ratu itu tiba. Mulai dari lukisan bergambarkan Raja Triton, Ratu Himalia, dan Panglima Styx yang ia temui di rumah sang Panglima hingga hasutan Triton kepada Styx untuk tidak menikahi Himalia.
Cordelia tertegun mendengarnya. Ternyata Raja Triton tidak sebaik yang ia perkirakan. "Mengapa Panglima Styx menuruti permintaannya?"
"Terkadang seorang pria itu lebih mengandalkan otak daripada hatinya. Raja Triton berucap bahwasannya Panglima Styx tidak cocok menjadi seorang raja di Bergelmir. Ia pun memikirkannya dari semua sudut pandang, ia memikirkan masa depan Bergelmir dan semua kejadian yang mungkin terjadi." Pria itu berhenti berucap. Cordelia masih menunggu kalimat selanjutnya.
"Setelahnya ia memutuskan untuk menyetujui permintaan Triton dan memutuskan untuk menghilang sementara di hari pernikahan itu. Biar bagaimanapun, ia tidak sanggup menyaksikan wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain."
"Adrasta, aku mohon. Jangan beri tahu Panglima Styx mengenai rencana Raja Triton untuk melakukan kewajibannya pada Ratu Himalia. Aku tidak ingin melihatnya sedih," ucap Cordelia sambil memegangi tangan Adrasta. Ia khawatir jika Styx akan sedih dengan berita ini.
°°°
Masih di waktu yang sama. Seorang pria masih sibuk meneguk araknya. Entah mengapa pikirannya terasa kacau? Ada apa sebenarnya? Apakah ada hal buruk yang tidak ia ketahui hari ini? Pikirnya.
Tak berselang lama, seseorang membuka pintu rumahnya, membuatnya mendongak. "Adrasta, apa kau mengetahui sesuatu yang buruk? Yang mungkin saja bisa menghancurkan hatimu, adakah?" Adrasta tertohok. Apa-apaan ini? Apakah dia mengetahui pembicaraannya dengan Cordelia? Pikirnya.
"Adrasta!" Pria itu mendongak kaget, lamunannya buyar.
"Apa kau menutupi sesuatu diriku?" Pria itu terlihat bingung, bagaimana jika ia berbohong dan Panglima Styx mengetahuinya?
"Memangnya hal semacam apa yang mungkin Panglima perkirakan saya bisa menutupinya?" Pria itu terdiam.
"Entahlah, ini sebuah firasat buruk atau apa? Namun, perasaanku terasa tidak enak, jiwaku merasa tidak tenang, Adrasta. Apa kau pun merasakan hal yang sama?" Adrasta masih berdiri di depan pintu. Benar juga, jiwaku adalah jiwa Panglima Styx, tidak heran jika perasaannya tidak tenang, pikirnya.
"Sudahlah, Tuan. Tidak akan ada hal yang berbahaya. Aku tidak merasakan apa-apa, mungkin kau hanya terlalu memikirkan keselamatan Bergelmir." Pria itu pun berjalan mendekat dan ikut duduk di depan sang panglima.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Tuan? Apa kau merasakan kekhawatiran?"
"Aku tidak tahu, Adrasta. Namun, aku merasa seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Aku tidak tahu itu apa."
"Apa kau sering merasakan hal seperti ini?" tanyanya berharap ini adalah hal yang biasa bagi seorang pria.
"Jika dipikir-pikir, aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini. Aku merasakan hal semacam ini ketika Himalia dalam bahaya dan aku tidak ada di dekatnya." Pemuda yang mendengarnya terdiam, sebesar itukah rasa cinta sang panglima hingga bisa merasakan hal-hal semacam itu?
Styx menyadari sesuatu. "Apakah terjadi sesuatu di istana?"