Farel mengangkat senapan dengan peredam suara, menunggu momen yang tepat. Ketika, siluet itu mendekat ...
Puff!—peluru peredam melesat, dan sosok itu tumbang tanpa suara.
Farel segera keluar, dan memeriksa tubuhnya. Setelah kembali Farel membawa sebuah lambang simbol Naga putih.
“Ini… bukan dari kelompok mafia Naga Hitam yang menyerang kita di Safehouse. Ini dari pihak kita.”
“Apa pihak kita?” Nadira terkejut.
“Iya Nadira. Dan itu membuat situasinya lebih rumit, kita harus mencari siapa pengkhianat itu. Pengkhianat yang juga sudah menjebak ayahmu, karena sampai sekarang pengkhianat itu belum di temukan.”
Nadira terdiam menatap simbol Naga putih itu ada rasa takut bercampur penasaran.
“Nadira, kau jangan percaya kepada siapa pun selain aku, dan besok aku akan mulai mengajarkanmu sesuatu yang lebih dari sekadar bertahan hidup. Kau harus bisa membunuh untuk tetap hidup.”
Deg
Jantung Nadira bergetar, seumur hidupnya dia tidak pernah membunuh. Jangan manusia kepada hewan saja Nadira tidak sanggup.
“Farel ... Sepertinya aku tidak bisa membunuh,” lirih Nadira.
“Kau harus bisa Nadira, karena kalau kau tidak membunuh mereka maka kau yang akan terbunuh.”
“Tapi Farel ....”
“Ssshhh, tidak ada kata tapi-tapi. Tidurlah besok kita mulai latihan.”
Nadira mengangguk, dia kemudian kembali ke kamarnya.
***
Fajar belum sepenuhnya datang, tapi Farel sudah membangunkan Nadira. Udara di luar dingin menggigit, kabut menutup hutan di sekitar rumah panggung.
Nadira masih setengah mengantuk, namun tatapan Farel cukup untuk membuat Nadira tersadar kalau ini bukan pagi biasa.
“Nadira, Pakai ini.” Farel melemparkan jaket kulit tipis dan sepatu boot.
“Pakai ini sekarang?”
“Iya, Kita mulai pelatihan yang sesungguhnya.”
Farel mengajak Nadira ke belakang rumah, di sana ternyata ada lapangan tanah berlapis kerikil. Di satu sisi ada meja panjang penuh senjata: pistol, pisau lipat, tongkat besi, bahkan busur panah.
Farel berdiri di tengah lapangan “Nadira, mulai sekarang kau tidak hanya belajar bertahan hidup. Kau belajar membunuh.”
Nadira menelan ludah. “Aku… tidak mau membunuh orang Farel.”
Farel menatap Nadira tajam “Kau harus mau, Nadira. Bukankah kau ingin membalas kematian ayahmu. Nyawa di bayar Nyawa.”
Mendengar hal itu suasana berubah Hening. Hanya suara burung hantu dari kejauhan. Mau tidak mau Nadira akhirnya berlatih membunuh.
Latihan pertama dimulai dengan pisau. Farel melemparkan pisau lipat pada Nadira
“Target,” kata Farel sambil menunjuk boneka kayu di ujung lapangan, “bukan untuk kau takutkan. Target adalah musuh yang ingin merobek tenggorokanmu.”
Farel menunjukkan gerakan cepat: tusuk ke perut, tarik ke atas, lalu dorong menjauh.
“Ini cara tercepat membuat lawan tak bangun lagi,” kata Farel datar.
Nadira lalu mencoba menirukan gerakan Farel. Awalnya tampak kaku, tapi setelah beberapa kali, gerakan Nadira mulai mengalir. Namun, setiap kali Nadira menghunus pisau, dia merasa sedikit ragu.
Farel lalu mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Nadira “Bayangkan orang di depanmu itu yang membunuh ayahmu. Bayangkan dia yang sudah menghancurkan hidupmu.”
Setelah mendengar itu, Tangan Nadira yang semula gemetar, kini mengeras. Tusukan berikutnya Nadira menghantam boneka kayu dengan kekuatan penuh.
Melihat apa yang dilakukan Nadira membuat Farel tersenyum tipis. “Bagus Nadira.”
Latihan kedua: pistol.
Farel memberikan Nadira sebuah pistol “Kali ini, tidak ada papan target.”
Nadira menoleh dan melihat lima botol kaca tergantung di tali, berayun pelan.
“Nadira, kau hanya punya satu peluru untuk setiap botol. Gagal, kita ulang dari awal,” kata Farel.
Nadira mengangguk. Udara dingin membuat jari Nadira sedikit kaku, tapi ia mencoba mengatur napas seperti yang Farel ajarkan.
Dor! Botol pertama pecah.
Botol kedua—Dor!—pecah lagi.
Namun saat botol ketiga berayun cepat, tembakan Nadira meleset.
“Ulang dari awal,” perintah Farel tanpa nada marah, tapi tegas.
Nadira kembali mencoba menembak, sudah tiga kali dia gagal di botol keempat, sampai tangan Nadira terasa seperti mati rasa.
Di percobaan keempat, Nadira memejamkan mata sejenak, mendengar suara rantai botol bergoyang, lalu menembak.
Dor!—lima botol pecah satu demi satu.
Farel mengangguk, tapi Nadira tahu dia belum puas.
Kemudian Latihan terakhir. Farel membawa Nadira masuk ke gudang kecil di sisi rumah.
Di dalamnya, seorang pria terikat di kursi, mulutnya dibungkam kain. Matanya menatap Farel penuh ketakutan.
Nadira merasa kaget, membuatnya refleks mundur selangkah.
“Siapa dia?”
“Dia adalah Orang yang memata-matai kita semalam,” jawab Farel tenang. “Dia bukan dari kelompok Mafia Naga hitam Tapi dia sudah mengetahui kita disini.”
“Farel, apa yang kau… maksudkan?”
“Nadira, kalau dia kembali hidup-hidup dia akan memberitahu pengkhianat itu keberadaan kita. Jadi kau tahu apa yang harus dilakukan.”
Deg
Jantung Nadira kali ini berdetak kencang. Nadira memandang pria itu—dia menggeleng cepat, air mata mengalir dan tangan Nadira mulai terasa dingin.
“Farel… aku tidak bisa.”
Nadira menatap Farel. Kemudian Farel menatap tajam Nadira.
“Nadira, kalau kau tidak bisa, berarti kau memilih mati. Pilihannya sederhana.”
Farel menaruh pisau di tangan Nadira lalu berbalik, meninggalkan Nadira berdua dengan pria itu di dalam gudang.
Nadira terdiam, suara napasnya dan detak jantung pria itu seolah memenuhi ruang gudang.
Nadira lantas memejamkan mata, mencoba menghapus rasa takut. Tapi suara Farel di kepala Nadira selalu terngiang “Kalau kau ragu, kau mati," kata-kata itu terus menggema.
Nadira akhirnya membuka mata dan tidak membunuh pria itu. Sebaliknya, dia keluar dari gudang, menatap Farel dan berkata, “Kalau dia harus mati, kau yang melakukannya. Aku belum siap… tapi aku akan siap.”
Farel terdiam menatap Nadira lama, setelah itu dia berjalan masuk kembali ke gudang. Beberapa detik kemudian, hening total.
*
Malam hari, Nadira duduk sendirian di teras rumah panggung, menatap hutan yang berkabut. Nadira tidak tahu apakah Farel marah kepadanya, karena tak bisa membunuh pria itu di gudang.
Nadira merasa ia harus belajar menghilangkan rasa kemanusiaan, agar bisa membunuh orang. Tak lama kemudian Farel keluar, lalu duduk di kursi sebelah Nadira.
“Kau punya hati yang terlalu besar untuk dunia ini, Nadira,” kata Farel pelan. “Itu adalah kelemahan.”
“Berikan aku sedikit waktu lagi Farel.”
“Baiklah, kau harus menghilangkan hatimu di saat membunuh Nadira.”
Nadira lagi – lagi terdiam, selang beberapa menit hujan turun deras. Suaranya menghantam atap seng rumah panggung, memantul di udara seperti ribuan peluru kecil. Kemudian suara kilatan petir menyambar memekakkan telinga.
Nadira dan Farel lantas masuk kedalam, Nadira duduk di dalam kamar sedangkan Farel duduk di ruang tengah, membersihkan pistolnya. Api dari tungku kecil memantulkan cahaya di matanya.
Tak lama petir kembali menyambar kali suaranya begitu dahsyat.
“Ahh!” teriak Nadira.