Bab 6

1031 Words
Nadira bergegas masuk, dia dan Farel berlari di lorong sempit itu, langkah kaki mereka bergema. Nafas Nadira mulai memburu, tapi dia harus terus mengikuti Farel. Di belakang, suara bentakan dan tembakan terdengar semakin dekat. Sepertinya mereka menemukan jalur yang dilewati Farel dan Nadira. Lorong berakhir di pintu besi tua. Farel memutarnya dengan paksa hingga terbuka. Udara malam dan bau tanah basah menyambut Farel dan Nadira, mereka lalu keluar dari hutan pinus yang sunyi. “Tunggu di sini,” kata Farel sambil mengeluarkan radio. “Semua unit, aktifkan rencana Delta. Lokasi dua!” Perintah Farel kepada anak buahnya. Kemudian Farel menarik Nadira agar berjalan cepat menuruni bukit, menuju sebuah mobil jeep yang tersembunyi di balik semak. Baru saja Farel menyalakan mesin, kilatan lampu senter muncul dari arah hutan. Beberapa penyerang mengejar. “Pegang erat!” seru Farel. Jeep melaju kencang di jalan tanah yang berlumpur, memantul di setiap batu. Peluru menghantam bodi mobil, memekakkan telinga. Nadira berusaha menunduk, tapi di saat yang sama Nadira mengarahkan pistol melalui jendela, menembak ke arah lampu senter. Dua di antaranya padam. Setelah hampir sepuluh menit pengejaran, akhirnya suara tembakan mereda. Farel tidak mengendurkan gas, dia terus melajukan Jeep nya hingga keluar ke jalan raya sepi. Sesekali Farel melirik kearah Nadira. Nafasnya tampaknya berat, tapi suaranya tenang. “Nadira, kau barusan lewat ujian pertamamu di dunia nyata. Dan kau lulus.” Nadira hanya diam. Tangannya masih bergetar, tapi di dalam hati Nadira ada perasaan aneh. Perasaan campuran antara lega, takut, dan adrenalin. “Sekarang kita akan ke mana, Farel?” tanya Nadira. “Kita akan ke tempat yang lebih sulit ditemukan, karena setelah malam ini, mereka tak hanya ingin menangkapmu tapi juga memburuku.” Nadira menatap ke luar jendela, melihat ke kegelapan hutan yang semakin menjauh. Nadira merasa dunia lamanya benar-benar sudah hilang, diganti dengan permainan antara hidup dan mati. Mobil Jeep yang di kendarai Farel terus melaju tanpa henti selama hampir dua jam, menembus jalanan sepi dan hutan gelap. Tidak ada suara selain deru mesin, dan Farel yang tampak fokus pada jalan. Sampai akhirnya, Farel berbelok ke sebuah jalan kecil yang nyaris tertutup pepohonan. Di ujungnya, berdiri sebuah bangunan tua yang menyerupai rumah panggung kayu. Tidak ada lampu dari luar, hanya cahaya remang dari jendela yang tertutup tirai tebal. “Selamat datang di rumah bayangan,” kata Farel singkat. “Rumah Bayangan?” Nadira tak mengerti. “Iya, Tempat ini hanya dikenal oleh dua orang di dunia ini yaitu aku, Ayahmu, dan sekarang kau adalah orang ketiga,” jelas Farel. Nadira terhenyak melihat sekeliling rumah Bayangan, dia tidak mengira ada tempat seperti ini. Begitu masuk, aroma kayu tua bercampur debu menyergap. Di dalamnya sederhana hanya ada ruang tamu kecil, dapur, dan dua kamar tidur. Tapi sesaat Nadira sadar ada sesuatu yang berbeda dengan rumah bayangan, yaitu semua jendela diberi lapisan baja tipis di balik tirai, dan di pojok ruangan ada kamera pengawas kecil yang diarahkan ke pintu. “Duduk,” perintah Farel sambil meletakkan senjata di atas meja. Farel menuang air ke gelas, lalu menatap Nadira. “Nadira, Mulai malam ini aturan berubah. Kau tak boleh keluar tanpa aku. Dan kalau aku bilang ‘sembunyi’, kau lari ke ruang bawah tanah di belakang lemari itu.” Farel menunjuk sebuah lemari tua. Nadira menganggukkan kepalanya mengerti, Lemari tua di sudut itu ternyata memiliki panel rahasia di bagian belakang. Ruang bawah tanah. Jalur terakhir kalau semuanya gagal. Setelah merasa sedikit tenang, Nadira menatap Farel yang duduk di depannya. “Farel, aku ingin tahu sampai kapan kita harus lari seperti ini?” Farel terdiam lama. Tatapannya dalam, seolah menimbang-nimbang “Sampai rencana kita siap untuk membalas mereka.” Nadira mengerutkan dahi. “Rencana?” “Iya, Nadira. Kita harus menyusun rencana untuk menyerang mereka. Hal pertama yang akan kita lakukan adalah mencari data gelap yang mereka cari selama ini.” “Sebenarnya apa isi data gelap itu apa Farel? Sampai mereka membunuh ayahku?” Farel menatap Nadira lekat-lekat. “Data gelap itu adalah sebuah buku hitam. Berisi daftar transaksi, nama-nama penting, dan rahasia yang bisa menjatuhkan setengah jaringan mafia di kawasan ini.” Nadira terdiam, mencoba mencerna. “Tapi aku benar-benar tidak tahu di mana buku itu Farel?” “Aku percaya padamu Nadira. Tapi mereka tidak, mereka yakin ayahmu pasti meninggalkan petunjuk padamu.” Belum sempat Nadira bertanya lebih lanjut, tiba-tiba suara beep dari perangkat di meja membuat Farel langsung waspada. Farel segera memeriksa layar kecil yang menampilkan peta—salah satu sensor gerak di perimeter hutan mendeteksi aktivitas. Farel bergerak cepat, mengambil senjatanya “Nadira, tetap di sini. Matikan lampu.” “Iya Farel.” Nadira mematikan lampu, membuat ruangan langsung gelap. Setelah itu suara langkah Farel menghilang di luar pintu. Lima menit terasa seperti lima jam bagi Nadira, gadis itu berdiri di balik tirai, mengintip ke arah hutan. Tapi tidak ada apa-apa, hanya gelap dan kabut tipis. Lalu dari kejauhan Nadira melihat cahaya redup bergerak seperti lampu senter. Tak lama pintu terbuka pelan. Nadira terlonjak kaget, tapi ternyata Farel yang masuk dengan napasnya sedikit berat. “Hanya rusa,” kata Farel singkat. Tapi ekspresinya berbeda. Seperti ada yang tidak dia katakan. * Malam itu Nadira dan Farel makan seadanya, kemudian Farel menyuruh Nadira untuk tidur. Tapi kedua mata Nadira sulit untuk terpejam, dia memikirkan ayahnya dan buku hitam. Sekitar pukul dua dini hari, terdengar suara langkah halus di luar jendela membuat Nadira seketika membuka mata. Perlahan Nadira meraih pistol yang Farel taruh di nakas. Selang beberapa detik kemudian langkah itu berhenti. Hening. Lalu, suara goresan pelan di dinding luar. Nadira menelan ludah “Apa itu hewan? Atau… mereka?” batin Nadira. Setelah itu Pintu kamar Mandi terbuka. Tampak Farel berdiri di sana, menempelkan jari di bibirnya memberikan tanda untuk diam pada Nadira. Farel lantas masuk, lalu menarik Nadira keluar kamar dengan gerakan cepat. “Ada orang di luar, Satu atau dua. Mereka sedang mengintai,” bisik Farel. “Apa kita harus keluar?” tanya Nadira. “Tidak. Kita tunggu sampai mereka membuat kesalahan,” jawab Farel. Farel dan Nadira bersembunyi di ruang tamu, lampu tetap mati. Dari celah tirai, Farel bisa melihat siluet seseorang bergerak di antara pepohonan. Tangannya memegang sesuatu bukan senjata, tapi… kamera. “Pengintai,” gumam Farel. “Mereka memetakan tempat ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD