"Kenapa kamu masih duduk disini?" tanya Bagas. Berjalan menghampiri Fina. Dia masih diam, duduk menatap ke arah tanah. Bukanya menanam bibit bunga. Dia bermain dengan cacing tanah menggunakan batang kayu. Tanpa jijik melihat cacing itu. Fina terus tersenyum, menyentuhnya dengan batang kayu kecil. Bagas menatap ke bawah. Kedua matanya melebar seketika saat melihat cacing di depannya. "Aaaaaa.... Apa itu?" teriak Bagas sontak membuat Fina terkejut. Dia melemparkan cacingnya dengan batang kayu tepat ke arah tubuh Bagas. "Hih... Ih... Cacing sialan.." Bagas terus mengibaskan bajunya. Bahkan, dia terus saja tidak henti menghentakkan kedua kakinya. Fina hanya diam, menahan tawanya. Ingin rasanya dia tertawa lepas. Tetapi, dirinya takut jika Bagas marah padanya. Meski sikapnya juga kasar. Teta

