"Apa kamu sudah memeriksa kehamilan dengan tespack?" Nyonya Adiwijaya mengeluarkan dua tas belanjaan dan meletakkan di kursi duduk antara dirinya dan Yumna.
Devian yang sedang minum air mineral, tersedak mendengar pertanyaan sang mama pada istrinya. Yumna sendiri bingung, kenapa tiba-tiba mama mertua menanyakan hal yang ia sendiri bahkan tidak memikirkannya sekali pun.
"Kenapa kamu seperti orang bingung begitu? Kalian kan sudah menikah dua bulan harusnya sudah ada tanda-tanda." Nyonya besar itu bertanya datar. Ia lalu mengeluarkan salah satu isi tas belanjaannya. "Ini pakailah besok setelah bangun tidur."
"I-ini?" Yumna menerima dengan ragu.
"Ini tespack. Kamu tau kan? Hemh. Oya ini beberapa lingerie yang mama beli saat ada kunjungan ke Paris bulan lalu. Karena ingat sudah punya mantu, mama beli beberapa." Wanita paruh baya yang menggunakan lipstik merah menyala itu menyodorkan satu lagi tas tanpa mengeluarkan isinya.
"Uhuk-uhuk." Ucapan sang mama kembali membuat Devian terkejut sampai batuk-batuk. Sedang wanita di samping ibunya hanya nyengir. Ia tak menegerti harus menjawab apa? Bahkan Devian tidak sama sekali memberitahu sebuah dialog untuk berjaga-jaga jika mertuanya bertanya demikian.
"Devian adalah satu-satunya pewaris keluarga Adiwijaya. Angkasa Group yang sudah berkembang di beberapa negara perlu penerus. Ah, setidaknya aku mau punya lima cucu." Nyonya Adiwijaya mengutarakan keinginannya itu dengan tawa kecil. Devian dan Yumna saling melirik beberapa saat dengan perasaan canggung yang hadir di antara mereka.
"Apa itu tidak terlalu banyak. Hemh." Tuan Adiwijaya yang pandangannya lurus ke jalanan tertsenyum sinis.
"Mereka itu pasangan muda dan normal. Tidak seperti ki-" Ucapan itu terhenti saat suami menoleh padanya. "Ehm, maksudku mereka masih punya banyak kesempatan untuk memberikan kita keturunan yang banyak, Pa. Ehm begitu maksudnya, hehe." Raut sesal terukir jelas di wajah tua Nyonya Adiwijaya. Sedang pria yang selalu nampak berwibawa itu memilih diam, kembali sibuk dengan pikirannya sendiri meski sempat tersinggung dengan ucapan sang istri.
"Baik lah, Ma. Mama jangan khawatir, Yumna akan buatkan banyak anak buat Mama." Wanita berkerudung itu memahami situasi tidak nyaman yang terjadi antara kedua mertuanya meski ia sendiri tidak mengerti duduk masalah sebenarnya. Ia mengepalkan dua tangan dan mengangkatnya. "Betul kan Mas?!" Yumna menyeru pada pria yang duduk di kursi depan.
"Yaa, ya. Tentu saja!" Devian tertawa meski batinnya merutuk. Ucapan Yumna terlalu sembarangan meski tidak serius.
'Apa dia pikir membuat anak itu semudah membuat kue?!'
Nyonya Adiwijaya tersenyum, sikap konyol Yumna itu sungguh manis. Seolah kini ia merasakan kehadiran anak perempuannya yang nyawanya terenggut saat dirinya harus menghadapi masalah besar dengan bapak kandung Devian.
***
Petang hari, pesawat telah landing di Bali sebelum hari benar-benar gelap. Di lobi bandara sebuah mobil besar sudah menunggu mereka. Hingga tiba di sebuah hotel Sunrise, seseorang sebaya dengan Devian menyambut.
"Hai, Bro. Datang juga akhirnya." Pria rupawan bernama Raga menghampiri.
"Lo langsung ke sini? Nggak pulang dulu?" Devian nampak heran dengan penampilan salah satu pemegang saham Angkasa Group yang masih mengenakan jas membungkus kemeja yang ia kenakan lengkap dengan dasi terlilit rapi.
Raga menyalami orang tua Devian, dilanjut dengan Yumna yang menolak bersalaman dan menangkupkan tangan.
"Ini?" Pria rapi itu menunjuk Yumna seperti mengingat sesuatu.
"Bianca. Dia istriku."
"Ohya, Bianca. Ini bukan kali pertama kamu ke Bali. Pasti bukan sesuatu yang wow lagi. Harusnya Devian membawamu bulan madu ke luar negeri, bukan malah boyongan bisnis. Haha." Raga bicara ceplas-ceplos seperti biasa. Yumna memang pernah ke Bali dulu saat study tour, tapi tetap saja ia merasa 'wah' dengan suasana sekarang. Meski sebenarnya ia sadar kepergiannya sekarang hanya kecelakaan, karena perselingkuhan Devian dan sekretarisnya kepergok.
"Huss. Gak usah mulai, deh." Devian mendorong pelan bahu Raga, memintanya pergi.
"Ya, sudah Yumna. Ayo kita pergi." Nyonya Adiwijaya memeluk pundak menantunya, ia akan membawa Yumna pergi sebelum mendengar banyak omong kosong Raga.
"Ohya, Mama, Papa dan ... kamu duluan saja. Ada sesuatu yang harus kami bahas."
Mereka pun berpisah di lobi.
"Eh, Yumna? Bukan Bianca?" Raga yang berjalan beriringan dengan Devian merasa ada yang aneh.
"Tutup mulutmu saat bicara depan orang tuaku." Devian mengabaikan pertanyaan sahabat sekaligus koleganya itu. Ia terus berjalan hingga kaki mereka menjejak lantai restaurant hotel.
"Jadi dia bukan Bianca?"
"Lo pikir Bianca bakal kerudungan begitu?"
"Gila lo! Baru juga bulan lalu menikah, sekarang udah nikah lagi. Ck. Gak nyangka pria yang semua wanita bilang dingin, ternyata buaya."
"Hiss. Gak bisa diam lo?" Devian melotot.
"Dasar buaya buntung." Raga tersenyum sinis.
.
.
.
"Entahlah Ga. Gue udah gila keknya." Suara Devian melemah.
"Emang."
"Tiap hari rindu pada Bianca, tapi dia menghubungi semau doi sendiri. Gue bahkan kagak bisa hubungi nomor yang digunakan saat nelpon."
"Apa? Jadi Bianca memang belum kembali? Dan lo masih ngarep sama dia?"
"Huft." Devian meniup berat. "Kalau saja hati bisa dikendalikan." Ia mengaduk minuman dingin di meja yang dipesan beberapa menit lalu.
Raga geleng-geleng. Ia sedikit bisa membaca situasi yang pria di depannya sedang hadapi.
"Lalu? Gadis yang tadi? Apa artinya cuma bidak yang lo pasang buat bisnis?"
"Lalu apalagi?"
"Huft, benar lo bukan buaya, Dev. Tapi pria dingin yang berhati kejam."
Obrolan mereka terjeda oleh bunyi yang berasal dari ponsel Devian. Sebuah chat dari Alina, sekretarisnya.
[Tuan, saya berniat memperbaiki semua kesalahan dan membayar hutang saya. Setelah mengumpulkan banyak keberanian, saya memesan lagi kamar di hotel yang Tuan tinggali sekarang. Saya menunggu Tuan nanti malam. Kamar 4052]
"Ada apa Dev? Muka lo tegang begitu?" Raga heran menatap reaksi Devian saat membaca pesan yang diterimanya.
"Ada yang ingin menghibur gue."