Gara-gara laki-laki itu juga, Naura sampai gak bisa tidur dan paginya malah bangun kesiangan dan buru-buru berangkat ke sekolah sampai tidak sempat sarapan. Padahal dia tahu akibatnya jika tidak sarapan bagi tubuhnya.
Di sekolah, dia jadi gampang marah. Entah sudah berapa banyak anak-anak yang dia omeli padahal mereka melakukan kesalahan yang tidak perlu dipermasalahkan. Bahkan Keylan sudah dia marahi habis-habisan karena tidak mau menurut.
Setelah semua anak-anak sudah pulang, Naura keluar dari ruangan kelas setelah membersihkan beberapa barang yang tercecer. Dia sudah membayangkan makan rawon iga yang enak banget hingga membuatnya buru-buru keluar dari sana.
Saat berada di depan pintu di mana sepatunya berada, Naura terdiam sesaat dan menyimpitkan mata. Ada yang bergerak-gerak di sana. Naura mengedarkan pandangan melihat suasana sekolah yang sepi lalu kembali memperhatikan apa yang ada di dalam sepatunya. Naura mengaitkan rambut panjangnya ke telinga, merunduk seraya mengulurkan tangan untuk mengambil sepatunya saat sesuatu itu loncat keluar dan hampir saja mengenai wajahnya.
"Kyaaaa!"
Naura menjerit, kodok yang keluar dari sepatunya loncat-loncat ke arah taman dan menghilang. Naura menekan jantungnya yang berdebar lebih karena kaget dan berdiri menyandar di pintu.
"Arrrgghh, sialan!!” pekiknya kesal. Siapa yang usil memasukkan kodok itu ke sepatunya.
"WHhahhahahaa Bu gulu Naula menjelit. Whahahahahha.”
Naura mendelik saat mendapati Keylan keluar dari persembunyiannya di salah satu pilar dinding dan menertawakan dirinya yang seperti kena penyakit jantungan.
"Itu hanya kodok Bu. Kodok. Hampil aja kodoknya nyium ibu gulu." Lalu dia tertawa lagi seakan bahagia melihatnya.
"KEYLAN." Naura menekankan setiap suku katanya dengan suara geram, perutnya sudah keruyukan, kepalanya sudah mulai nyut-nyutan dan rasanya pengen nimpuk itu bocah yang isengnya kebangetan. "Sini kamu!!”
Keylan langsung ngacir saat melihat kemarahan Naura.
"Huaaaaa—" Teriaknya, berlari mengarah ke gerbang sekolah. "Bu Gulu malaaah. Bukan Key yang masukin kodoknya bu.”
“Sini kamu, Woi!!”
Naura berlari tanpa alas di koridor seraya menunjuk Keylan yang lari menghindar. Naura tidak mau menyerah gitu aja jadi dia juga mempercepat laju larinya dan saat hampir bisa menyusul Keylan, dia mengulurkan tangan berniat untuk menarik kerahnya, saat seseorang datang dari arah samping dan menghalangi Naura yang hampir aja bisa menggapai Keylan dan harus mengerem kakinya secepat kilat.
"Ah sial!"
Naura dengan napas naik turun, berhenti tepat sebelum kepalanya menyeruduk perut lelaki itu. Saat menegakkan punggungnya, Naura mendelik saat mengenali laki-laki bertampang sedatar papan triplek yang berdiri dengan tangan terlipat di depannya.
"Weeee, gak kena!" Ejek Keylan dari balik badan Papinya yang berdiri bak satria baja hitam dengan setelannya yang serba hitam dari atas sampai bawah.
Naura melotot ke arah Keylan saat mendengar dehaman samar itu. Naura berdiri tegak, reflek mundur beberapa langkah dan berhadapan dengan laki-laki hot itu.
"Jadi, kamu memang memiliki dendam pribadi dengan anak saya?" Laki-laki itu mulai berbicara. Ucapannya setajam pisau dan tatapannya seperti mencekik kerongkongan Naura hingga tidak bisa mengeluarkan suara. "Saya lihat dari jauh kamu mengejar anak saya seperti dia ini pencuri?"
Mampus!! Tapi Naura langsung sadar kalau di sini bukan dia yang salah walaupun mungkin memang sikapnya yang terlalu berlebihan.
Naura mengangkat dagunya dengan sikap menantang membuat laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya membuat wajahnya semakin terlihat macho dan bibirnya bikin salah fokus.
"Dia—" Naura menunjuk Keylan yang langsung menyembunyikan wajahnya. "Anak bapak itu harus dikasih teguran tegas untuk mengurangi berbuat kenakalan."
"Nakal? Nakal seperti apa maksudmu?" Laki-laki itu nyolot.
Oh sial. Siska benar. Orang tua sekarang gampang baperan.
"Bapak lihat ini—" Naura menunjuk kakinya yang tanpa alas. "Saya sampai gak pakai sepatu karena anak bapak yang ganteng ini masukin kodok ke dalamnya. Saya jelas kesal dong. Sudah pusing, lapar dan stress, eh malah di buat emosi sama dia."
Laki-laki itu memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah dan kembali menatap Naura yang menaikkan dagu dengan tangan terlipat dilengkapi ekspresi wajah yang dibuat sejudes mungkin.
"Apa kamu masih berumur sepuluh tahun yang harus marah karena ada anak-anak yang melakukan itu," semburnya, maju dua langkah ke depan hingga jarak mereka tidak lagi terlalu jauh. Naura langsung kagok. "Seharusnya ya, kamu lebih bisa mengalah dan berpikir dewasa. Dia ini masih masa-masanya bermain dan melakukan sesuatu yang membuat dirinya senang meskipun itu membuat kepalamu pusing—" laki-laki itu menunjuk kepalanya dengan telunjuk lalu menunjuk perutnya. "Lapar dan stress. Kamu harus bisa menjaga sikap dan menasehatinya dengan cara yang benar."
Sial, dia malah makin ngagas. Naura hanya bisa mengerjapkan mata.
"Bukankah seharusnya di sekolah diajari supaya mereka bisa mengurangi kenakalan mereka?" Laki-laki itu menyimpit tajam. Maju selangkah lagi dan Naura mundur teratur. Tatapannya bikin jantung rasanya tertusuk-tusuk. "Apa yang kalian ajari di sekolah tentang tata krama?!"
"Er—" Naura mingkem, bingung sendiri. "Stoopp!" Naura mengulurkan tangan supaya laki-laki itu tidak terus maju.
"Anak bapak susah di atur dan kalau dinasehati semakin menjadi-jadi. Saya hanya ingin memberinya pelajaran dengan tegas supaya dia tahu kalau apa yang dia lakukan itu salah dan tidak baik."
"Tapi apa mengejarnya seakan dia mencuri sesuatu itu perlakuan yang baik?"
"Jadi bapak maunya apa, hah?” Naura malah berteriak lebih karena kesal.
Laki-laki itu sempat kaget sesaat tapi langsung tersenyum miring. "Lebih baik kamu tanya sama guru-guru yang ada di sini kalau saya paling tidak suka anak saya dibentak-bentak dan diperlakukan tidak sesuai umurnya. Kalian berhak memberi tahunya apa yang salah dan benar tapi dengan cara yang lebih halus." Laki-laki itu maju, Naura bergeming di tempatnya sampai jarak mereka hanya sejengkal tangan. "Saya gak mau melihat kejadian seperti tadi atau kamu akan saya laporkan ke kepala sekolah." Naura mengatupkan mulutnya rapat. "Beri dia contoh yang baik bukannya malah seperti tadi. Kamu pasti tidak akan senang kalau seandainya anak kamu diperlakukan seperti tadi."
"Kamu tahu—" Naura buka suara. "Kamu berlebihan bersikap begini."
"Key gak masukin kodok ke sepatu Bu Gulu." Keylan bersuara. "Tadinya mau ngelualin tapi Key takut kodok." Naura mendelik. "Key ketawa kalena wajah Bu Gulu lucu."
Mampus dah!!
"See. Seharusnya kamu bertanya dulu dengan halus sebelum menuduhnya dan mengejarnya seperti tadi. Kamu yang bersikap berlebihan." Naura sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Saya mempertanyakan tata krama yang kamu miliki. Ah ya—" Laki-laki itu mengalihkan tatapannya ke samping, mengusap keningnya dengan telunjuk dan kembali menatap Naura dengan seringaian di wajahnya. "Aku lupa kalau kamu itu gak punya tata krama. Pantas saja berbuat seperti ini."
Naura mendelik, "Apa maksudmu?"
"Oh, kamu pura-pura lupa dengan kegiatan mengintipmu tadi malam." Naura mengatupkan bibirnya, laki-laki itu ternyata mengenalinya. "Memangnya kamu pikir aku tidak akan mengenalimu, hmm?"
Senyuman smirk itu begitu mematikan, Naura rasanya ingin masuk ke dalam bumi dan menghilang. Malunya, astaga!
"Kamu jangan ngomong sembarangan ya!" desis Naura.
Laki-laki itu tersenyum miring. "Mau menyangkal, hmm?"
Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya yang membuat mata Naura rasanya mau loncat keluar sangking kagetnya. Dompetnya.
"Ada wanita yang melarikan diri setelah ketahuan mengintip dan meninggalkan barangnya di sana." Laki-laki tu melambaikan dompet di depan wajahnya. "Ini milikmu, right?"
"Itu kesalahan dan ketidaksengajaan. Kembalikan dompetku dan sekalian kunci mobilku."
Naura berniat mengambil dompet itu tapi laki-laki itu menjauhkannya dari jangkauan dan menarik lengannya membuat wajah mereka saling bertatapan dalam jarak dekat.
"Aku akan memperhatikanmu mulai sekarang," bisiknya seperti bisikan dari neraka. "Jangan harap kamu bisa memperlakukan anakku dengan kasar. Kamu menyakiti anakku maka kamu akan berhadapan denganku. Ingat itu, Naura."
Naura mendelik, laki-laki itu tersenyum miring, menurunkan pandangannya memperhatikan seksama wajahnya lalu menyerahkan dompetnya membuat Naura rasanya mau pingsan.
“Kunci mobilmu masih harus ditebus dengan hal lain.”
Sialan! Kenapa laki-laki ini malah seperti sedang mempermainkannya?!
Laki-laki itu mundur, berbalik dan menggendong Keylan yang melambaikan tangannya.
"Bu Besok kita cali kodoknya sama-sama ya telus kita malahin."
Wah ini anak sama menyebalkannya. Like father like son.
Naura mengacak rambutnya, mengumpat di dalam hati, merasakan kepalanya semakin berdenyut dan berbalik dengan keceptaan tinggi hingga membuatnya tidak menyadari kalau dia berada di pinggir dan sempat terpeleset lalu—
"Awwww—"
Rintihnya saat kepalanya terhantup pilar dinding, terhuyung ke belakang dan sebelum benar-benar pingsan, dirasakannya seseorang memeluk pinggangnya dari belakang.
Siapa itu? Kesatria berwajah sedatar triplek— Tapi mana mungkin.
Sebelum dia bisa memastikan, pandangannya berubah gelap dan jatuh pingsan di dalam pelukan seseorang.
***