PART - 7 : MENGINTIP HOT DADDY KENCAN

1320 Words
Setelah diancam akan digeret ke pengadilan sama hot daddy yang ganteng itu, Naura stress. "Elo kalau stress mengerikan!!" Di sampingnya, Siska begidik seraya menunjuk lima paperbag dengan ukiran nama merek butik terkenal yang Naura letakkan di atas kursi. Malam ini, Naura menggeret paksa Siska menemaninya ke mall untuk menghilangkan rasa stress dan penat setelah seharian mengalami kesialan. "Ya inilah gue." Naura menggidikkan bahu, duduk menyandar di kursi salah satu restoran di dalam mall yang malam ini cukup ramai. Steak di piringnya masih sisa setengah berbeda dengan Siska yang sudah menghabiskan spaghetti-nya dan sedang menyantap es krim coklat bertabur kacang almond. "Memangnya elo gimana?" "Gym—" Siska menyendok es krim di mangkuknya. "Yoga dan sebagainya." "Ah kalau itu sih memang keharusan. Gue selalu rutin olahraga." "Elo ngilangin stress ngabisin duit berjuta-juta." Siska menggelengkan kepala, Naura hanya nyengir. "Jadi sebenarnya elo stress karena bertemu dengan laki-laki itu atau stress karena dia ngelihat jelas cetakan bra lo itu?" Naura menghembuskan napas kasar, mengunyah daging bakarnya dengan kesal. "Demi Tuhan, bagaimanapun caranya aku menghindar, eh ujung-ujungnya ketemu dia juga.” Siska terkekeh. "Elo harus lihat tatapan matanya yang tajam seperti burung elang. Gue aja sampai gak sanggup berkata-kata ditambah gua malu karena kejadian malam itu.” Siska menaikkan alis. "Oh ya, bukan karena elo terpesona dengan kegantengannya?" Naura hanya mendengus membuat Siska makin nyaring tertawa. "Level kegantengan skala 1 - 10?" "Nyaris 10 kalau saja tatapannya bisa ramah sedikit dan omongannya gak kayak bon cabe juga wajahnya gak lempeng begitu." "Ya itu kan salah lo juga yang kecyduk sama dia. Orang tua mana yang gak marah ngelihat anaknya digitukan." Siska menggeleng lagi. "Kalau gue sih juga bakalan nyolot." "Tapi gak juga sampai bawa-bawa pengadilan!" "Eh itu masih mending, dia masih kasih peringatan. Ini Indonesia cuy, elo harus tahu kalau orang tua zaman sekarang itu kebanyakan suka baper dan kalau lihat anaknya diganggu dikit aja, pengadilan langsung bertindak. Padahal ya belum tentu juga anaknya gak salah. Gak seperti zaman kita dulu yang gak masalah dikasih hukuman fisik supaya jera asal masih dalam batas kewajaran. Generasi micin sekarang ini kebanyakan berani-berani." "Iya kayak Keylan itu," sela Naura. "Nah maka itu, elo harus hati-hati. Gue kasih tahu dari sekarang. Punya profesi guru itu memang gak gampang, gaji sedikit tapi banyak yang gak menghargai cara mereka mendidik. Gak bisa sembarangan kalau sekarang. Jangan lo memperlakukan anak-anak di sana dengan kekerasan. Bahaya!" Siska menyendok lagi es krimnya dan memasukkan dalam mulut lalu melanjutkan bicaranya yang didengarkan Irma dengan seksama. "Mereka bisa aja ngadu di rumah dan elo yang kena. Orang dewasa lawan anak kecil ya tentu aja yang salah pasti yang dewasa kan?” "Walaupun anak itu salah?" Naura menopangkan dagunya. Siska mengangguk. "Elo harus punya cara lain yang lebih halus supaya mereka mau nurut. Tapi kalau elo memang rasanya sudah kepengen nimpuk mereka, elo lebih baik berhenti aja deh ngajarnya. Membahayakan!" "Ya gak gitu juga sih cuma omongan gue ini suka pedas kalau lawan mereka apalagi si Keylan yang banyak tingkah itu. Gue narik telinganya juga gak kencang-kencang amat kok. Gue juga gak mau dicap sinting." Siska tertawa mendengarnya, fokus lagi dengan es cream-nya. "Padahal anak-anak itu imut-imut loh tapi ya memang sudah kodrat mereka banyak tingkah. Masih dalam masa pertumbuhan. Banyak hal yang dieksplorasi." "Hmm—" Naura memijit pelipisnya, terlihat seperti sedang berpikir. Setelah beberapa saat, Naura menggelengkan kepalanya dengan kesal. "Ah di mata gue gak kayak gitu. Makin stress gue ngadepin mereka. Sepertinya, habis ini kita harus belanja lagi deh. Elo sih bikin kepala gue pusing." Siska ternganga. "Gila lo!!" Naura tertawa. "Gue harus beli baju kemeja yang warnanya gelap supaya kejadian tadi siang gak keulang lagi. Sumpah ya, gue malu banget!!" Siska tertawa dan mengangguk. "Maybe, lo bakalan sering ketemu Daddy tampan itu karena dia wali murid lo sendiri yang paling lo bawelin." Siska mendesah. "Ah gue jadi penasaran bagaimana wajah tampannya." Naura memutar bola mata, "Tapi gila aja sih, pantas aja Keylan gantengnya gak ketulungan gitu kalau bapaknya aja—” Naura mengatupkan bibirnya dengan tatapan mata yang mengarah ke tempat lain. "What?" Siska mengedarkan pandangan, penasaran. “Apa yang elo lihat?” "Sial!!" umpat Naura. “Ini sih bencana Namanya.” "Apaan sih?" Naura langsung mengambil buku menu, menutup wajahnya dengan buku itu membuat Siska semakin bingung. "Arah jam tiga, lelaki yang memakai kemeja biru donker dan celana jeans hitam yang baru aja masuk restoran—" bisik Naura dari balik buku menu di tangannya membuat Siska langsung mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan. Naura pelan-pelan mengintip cantik, melihat lelaki tampan itu berdiri tidak jauh dari pintu masuk berbicara dengan pelayan restoran. Saat laki-laki itu mengarahkan tatapannya ke mejanya, Naura mendelik, menyembunyikan lagi wajahnya sambil menahan napas. "Laki-laki yang digandeng sama wanita menor itu?" bisik Siska tanpa mengalihkan tatapannya. "Iya. Dia sudah pergi belum?" "Sudah. Ke arah private room." Naura menghembuskan napas lega, mengintip sesaat dan setelah memastikan lelaki itu sudah tidak ada, Naura meletakkan buku itu kembali ke atas meja. “Apes!” Naura kesal karena dalam sehari dia malah bertemu dua kali dengannya padahal sekarang kan dia sedang menghilangkan stress yang diciptakan laki-laki itu juga. "Gila, itu sih namanya hot daddy beneran. Sebelas dua belas aja sama Nick Bateman." Siska menggelengkan kepala nampak terperangah, memandangi ruangan tertutup yang ada di sisi lain restoran. "Jantung gue rasanya mau copot," desah Naura seraya mengelus dadanya. "Kenapa emang ama jantung lo? Takut di ancam lagi?" "Takut dipelototin. Bisa mati berdiri gue!" Siska tertawa, "Lebay lo. Elo mati berdiri bukan karena pelototannya tapi karena gak tahan sama kharismanya." Naura mendengus, menoleh sekilas ke belakang punggungnya di mana ruangan itu berada. "Tapi kok gue perhatikan dia masih muda banget ya?" Naura menoleh ke Siska dan memajukan kepalanya. "Maybe, MBA." Siska mengerutkan kening. "Bisa jadi sih tapi dilihat dari penampilannya yang hot begitu, dia pengusaha deh." "Sok tahu!! Dia sih ngakunya pengacara." Naura pelan-pelan menghabiskan makanannya lalu menunjuk es krim Siska. "Habisin itu es terus kita cabut. Gue gak mau ambil resiko ketemu sama dia lagi di sini. Nanti dikiranya gue nguntit dia.” Siska memutar bola matanya. “Ah, apa lo malu karena keingat ciumannya." Siska tertawa membahana. "Sialan!!" Umpat Naura.”Itu hanya napas buatan.” “Tapi elo sendiri yang neriakin dia mesum.” Naura menghela napas, Lelah. "Wanita yang tadi itu istrinya?" tanya Siska lagi. "Menor banget dandanannya. Gaunnya aja sexy gitu juga lipstick merahnya yah walaupun dia cantik banget seperti model sih." "Mana gue tahu." Naura manaikkan bahunya. "Besok deh gue coba cari info." Siska menaikkan alis. "Buat apa?" "Supaya gue tahu siapa dia. Itu aja sih." "Bukan karena kepo yang lain?" Siska menaikkan alisnya, menggoda. "Nggak. Sudah habiskan supaya kita bisa pulang." "Loh katanya mau shopping lagi?" "Udah gak selera." Naura menghabiskan steaknya, sesekali menoleh ke arah ruangan tertutup itu. "Kalau sudah ada istrinya gak bisa juga lo deketin dia," gumam Siska. "Kecuali elo mau jadi istri kedua." "k*****t!! Ogah banget gue." Siska tertawa begitu juga dengan Naura. Lima belas menit kemudian mereka bersiap untuk pulang saat tiba-tiba Naura kepengen ke toilet. "Elo tunggu gue sebentar ya, gue mau ke toilet dulu." "Oh oke." Siska mengangguk, duduk lagi di kursinya sementara Naura langsung ngacir ke toilet melewati pintu yang tertutup itu. Lima menit kemudian, dia keluar, berjalan dengan penuh percaya diri dan terhenti sesaat tidak jauh dari toilet. Dilihatnya pintu di mana Papinya Keylan berada dibuka oleh pelayan yang mengantarkan minuman. Naura celingukan, mendekat pelan-pelan dan menoleh kepalanya ke dalam. Terbelalak saat melihat laki-laki itu mulai mendekatkan wajahnya ke wanita yang bergelayut manja di sampingnya. Naura terkesiap sesaat dan termundur saat laki-laki itu tanpa sengaja mengangkat kepalanya dan menemukan tatapan matanya. "s**t!!" umpat Naura, ambil langkah seribu seraya merutuki kebodohannya. "Why?" tanya Siska heran. "Run. Now." Naura menarik tangan Siska begitu saja yang kewalahan membawa tas dan belanjaannya, keluar dari sana secepat kilat tanpa menoleh lagi ke belakang. Jangan sampai laki-laki itu mengenalinya karena bisa-bisa dia dijebloskan ke penjara seumur hidup karena mengintip. Sial!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD