Sejak pagi, Naura yang agak badmood gara-gara mobilnya mogok sudah berdiri di depan gerbang bersama beberapa orang pengajar lain untuk menyambut para siswa seperti yang seminggu ini dia lakukan. Entah dapat kekuatan dari mana hingga dia bisa bertahan sampai sejauh ini mekipun jika harus dikatakan bahwa seminggu itu bagaikan bencana baginya.
“Na—” Karen di sebelahnya memanggil. “Itu mobilnya Keylan, salah satu anak didikmu.”
“Keylan?” Naura baru mendengar nama itu. “Oh, yang kemarin izin ke luar negeri itu ya?”
Karen mengangguk, “Iya. Sana kamu samperin.”
Naura melihat pria paruh baya keluar dari kursi kemudi, bergerak cepat ke arah pintu belakang dan membukanya. Naura bergegas menghampiri.
“Selamat pagi,Key—” Naura mengatupkan bibirnya,menggantung ucapan selamat paginya saat melihat siapa yang ada di depannya. Sial!
Naura tidak tahu kenapa dunianya bisa sesempit ini hingga dia kembali di hadapkan pada anak laki-laki yang malam itu ditabraknya setelah acara lamarannya hancur. Apa mungkin ini karmanya karena berusaha keras untuk menghindar dari laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya itu tapi sudah memarahinya bahkan menolongnya dipertemuan pertama mereka.
Sepertinya Naura sudah tidak bisa menghindar lagi dan itu menjawab pertanyaannya kenapa dia bisa melihat laki-laki itu di sekolah ini karena ternyata anaknya bersekolah di sini.
Tunggu? Anak?
Berarti laki-laki itu sudah menikah tapi kenapa dia terlihat begitu bebas?
Naura mengintip ke dalam mobil, tidak melihat laki-laki itu ada sana dan Keylan hanya diatar oleh laki-laki paruh baya yang sepertinya supir keluarga. Naura merasa sedikit lega karena dia belum siap untuk bertemu dengannya.
Anak laki-laki yang semula terlihat cemberut itu diam sesaat nelihatnya lalu senyuman lebarnya muncul menampilkan giginya yang putih bersih dan Naura langsung memprediksi kalau di masa depan nanti, anak cowok itu akan menjadi pujaan banyak kaum hawa. Dari kecil aja sudah kelihatan banget gantengnya dan nanti kalau dia besar pasti bakalan makin ambyar.
Dilihat name tagnya, Keylan Rayindra Djatmiko. Naura mengerutkan kening melihat nama yang panjang itu.
“Tante?” ucapnya riang.
Naura tidak habis pikir, kenapa anak itu terlihat senang melihatnya padahal saat pertemuan pertama mereka malam itu, dia membuat Keylan menangis.
“Tante kok di cini?” tanyanya sembari turun dari mobil.
“Panggil Ibu Naura ya karena sekarang Ibu yang akan mengajari kamu di kelas.”
“Bu gulu Naula.” Keylan mengangkat tangan kirinya. “Gandeng dong, Bu gulu Naula.”
Naura menghela napas, lelah. Masih pagi tapi dia sudah dapat kejutan seperti ini. Naura menggandengnya sampai ke depan kelas dan membiarkan dia masuk sendiri.
“Bu Naula—” Naura menoleh mendengar panggilan itu. “Papi pasti senang lihat Bu gulu.”
Setelah mengatakannya, Keylan masuk ke dalam kelas sembari tertawa-tawa meninggalkan Naura yang menatap horror. Apa laki-laki itu memang sedang mengincarnya karena dia tidak bertanggungjawab membuat Keylan menangis?
Naura bergidik,”Duh, harus ngumpet di mana kalau begini caranya.”
Naura pasrah, jika memang mereka harus bertemu, Naura tidak bisa lari lagi.
***
CROTTT!!
Naura mengatupkan bibirnya dengan tatapan tajam, di sampingnya Keylan nyengir kuda dengan tangan belepotan cat air yang tadi muncrat ke kemeja putihnya hingga menciptakan noda yang terlihat jelas.
"Keylan—" Naura menekankan suku katanya. "Jangan dipencet!!'
"Baju Bu Gulu jadi ada walnanya," ucapnya seraya tertawa dan menunjuk kemejanya.
"Siniin!"
Naura mengambil cat air warna hijau itu dengan paksa membuat Keylan kaget. Di sekitar mereka anak-anak sedang aktif membuat prakarya yang dilakukan di area terbuka, salah satu sudut gazebo sekolah sambil angin-anginan. Anak-anak jelas saja begitu antusias melakukannya. Mereka sudah memiliki cap kaki, cap tangan, cap jempol dan semacamnya untuk mengasah kreatifitas mereka meskipun hasilnya acak-acakan.
"Jangan di ambil bu, nanti Key pakai apa?" Anak cowok yang gak bisa diam itu menghentakkan kakinya. Tidak terima cat-nya diambil.
"Itu kan sudah ibu ambilin di tempatnya, yang ini jangan dibuka terus disemprot sembarangan. Coba lihat baju kemeja ibu jadi begini!" Naura jelas kesal melihat noda merah di kemejanya.
"Bagus kok bu, bial celah."
Keylan selalu saja menjawab semua omongannya.
"Sudah duduk!" Perintah Naura. "Atau ibu ambil itu kertas gambarmu."
Keylan merengut, duduk di samping Cindy yang sedang asyik menoelkan ujung telunjuknya yang berwarna kuning di kertas.
"Heran, ini anak satu kok gak bisa diam sih."
Naura menggelengkan kepala, melipat lengannya di d**a dan duduk memperhatikan Keylan yang kembali ke kertas gambarnya lalu melihat kreasi anak-anak yang lain dan menunjuk-nunjuk apa yang menurutnya aneh di lihat. Anak-anak itu merengut mendengarnya dan malah tambah mengacak cat airnya di atas kertas.
"Sepertinya kalian berbakat jadi pelukis abstrak." Naura mangut-mangut sendiri dan melihat karya anak yang lainnya.
"BU GULUUUUU!!"
Pekikan di balik punggungnya itu membuat Naura berbalik, mendelik saat Keylan menyodorkan telapak tangannya yang sudah berhias cat air seraya berlari ke arahnya dan tersandung cat air milik Lisa hingga membuatnya langsung menubruknya.
"Awwwwww—" rintih Naura yang terjerembab ke belakang sementara Keylan ada di atasnya.
"Aduhh atitttt,"Keylan meringis-ringis.
Naura mendelik, makin melotot saat menyadari di mana cap tangan Keylan yang berwarna merah itu berada.
"KEYLAAAN!!!" pekik Naura mengangetkan semua yang ada di sana.
Telapak tangan Keylan menempel di dadanya dan saat anak itu menarik diri dan duduk,cap tangannya tertinggal di sana. Naura melotot, Keylan tertawa senang.
"Yeaaaayyyyyy!!!" pekik Keylan kemudian. “Baju bu gulu ada walnanya.”
Untung anak kecil, coba kalau sudah dewasa. Pasti bukan cap tangan lagi yang ada di sana tapi remasan tangan.
"s**t!!" umpat Naura kesal, meski dengan suara pelan. Keki.
***
Hari ini lengkap sudah deritanya.
Tadi pagi mobilnya mogok, tidak ada seorangpun yang bisa diandalkan untuk datang membantunya selain tukang bengkel hingga akhirnya memilih naik taksi, maag-nya kambuh karena belum makan, kemeja putihnya sudah bercorak saat ini yang bisa aja dia cuci tapi itu malah akan membuat warnanya amburadul jadi terpaksa dia pakai dan akan membuangnya saat berada di apartemen dan sekarang saat pulang, hujan turun dengan derasnya.
Sekolah sudah sepi sejak setengah jam yang lalu, Naura memilih berdiri sendirian di gerbang menunggu Fransiska yang akan menjemputnya, di bawah lindungan payung yang dipinjamkan Karen yang motifnya spongebob. Luar biasa sekali
Naura meniup poninya. "Apes banget hari ini."
Naura memeluk tubuhnya sendiri, memperhatikan sekelilingnya dan hujan seakan mengaburkan pemandangan apapun yang ada di depannya. Saat melihat kemejanya, di mana ada dua corak telapak tangan yang letaknya pas banget di masing-masing bagian dadanya membuat Naura tambah kesal.
"Cuma satu anak itu aja bikin gue kesel kayak gini," gerutunya.
"Rese memang!"
"Bu Guluuuu."
"Astaga!"
Naura loncat ke samping saat melihat Keylan yang rambut dan bajunya basah memegang ujung kemejanya, ikut bernaung di bawah payungnya.
"Eh, biar anak-anak harus punya sopan santun ya." Naura mencoba melepaskan paksa kemejanya yang digenggam Keylan. "Kamu bukannya nunggu jemputan di dalam ya? Kenapa keluar?"
"Bosan." Keylan memperlihatkan deretan giginya. "Mau sama Bu Gulu Naula aja?"
"Ibu bukan ojek payung. Enak aja!!"
Naura mencoba melepasnya tapi Keylan menggeleng dan semakin menarik bajunya. "Kamu ini maunya apa sih?"
"Nemenin Bu Gulu."
"Ibu gak perlu ditemanin. Mending masuk sana!"
Keylan menggelengkan kepalanya kencang. "Nda mau."
"Ih kepala batu." Naura menarik telinga Keylan supaya mau melepasnya tapi anak itu tetap saja menggelengkan kepalanya. "Lepasin!!"
"Key bosan di dalam. Jangan ditalik dong telinganya Key Bu."
"Ya memangnya Ibu pikirin kamu bosan atau gak. Kalau gak mau ditarik telinganya makanya dilepas dong!!"
Naura menarik telinga yang satunya tapi Keylan keukeh tetap bertahan.
"Ekhheemm."
Naura dan Keylan menoleh saat mendengar dehaman itu, melotot melihat siapa yang berdiri tidak jauh di depannya dan ternganga. Sial!
Seharusnya ya, Naura tadi jalan kaki saja cari tempat yang agak jauhan dikit agar dia tidak bertemu dengan laki-laki itu.
Naura merasakan jantungnya bergemuruh, menggenggam erat payungnya dan mengatupkan bibir rapat-rapat. Siap menerima semua omongan pedas laki-laki itu yang mengatainya tidak bertanggungjawaab.
Hari ini benar-benar apes buat Naura.
Laki-laki itu berdiri dengan satu tangan memegang payung dan tangan yang satunya masuk ke dalam saku coat hitamnya. Kemejanya yang berwarna merah menempel pas ditubuhnya yang padat berisi, dilengkapi kaca mata hitam yang menghiasi wajahnya tapi sama sekali tidak ada senyuman di sana.
Ekspresinya sama seperti malam itu, sedatar triplek tapi Naura tahu kalau tatapan laki-laki itu menancap pada wajahnya. Meski untuk sesaat Naura lupa bagaimana caranya bernapas karena dia seakan melihat model terkenal yang nyasar entah dari mana.
"Pappii," pekik Keylan, melepaskan kemejanya dan menerobos hujan berlari untuk memeluk laki-laki itu yang merentangkan tangannya.
Beginikah penampilan seorang hot daddy?
Laki-laki itu menggendong Keylan hanya di satu tangan, mencium pipi kanan dan kirinya dengan gamas hingga menciptakan sebentuk senyuman di sana yang membuat Naura terpana melihatnya sampai dia menoleh ke arahnya dan senyuman itu lenyap dari wajahnya. Mampus!!
“Tumben nggak melarikan diri?” sindirnya.
Naura tidak bisa berkata-kata, malah Keylan yang menjawab seraya melepaskan kaca mata Papinya membuat Naura hampir aja pingsan. Ketampanannya bikin ambyar. Malam itu sepertinya dia tidak bisa melihat dengan benar ketampanan yang menyilaukan di depannya meski hari sedang gelap dan berhujan.
Setelah itu dia salah fokus melihat bibir laki-laki yang malam itu menempel di bibirnya. Naura seketika merasakan wajahnya memerah,malu.
"Bu Gulu bau Key,Pi."
"Bau?" Laki-laki itu menoleh ke anaknya.
"Ba-lu." Keylan mencoba mengoreksi.
"Oh baru. Papi kirain bu guru bau."
Sialan!! Harum gini kok dibilang bau.
Naura mundur selangkah saat laki-laki itu maju mendekat, berhenti tidak jauh di depannya. Tatapan matanya menyusuri dari payung spongebobnya, turun ke bajunya yang bercorak yang langsung dia tutupin dengan tangan terus sampai ke bawah kemudian naik lagi ke atas.
"Pantas saja saat itu kamu ada di sini.” Laki-laki itu melihat ke arah parkiran seperti mencari sesuatu. “Mobilmu, kamu dorong pakai apa?”
"Pakai tenaga dalam," ucap Naura asal, berusaha tidak panik.
Tatapan laki-laki itu malah menghunus tajam, bergerak maju lagi sementara Keylan diam memeluk leher Papinya dan memperhatikan mereka bergantian. Oh sial!
“Kamu nggak amnesiakan tentang kejadian malam itu?”
“Tidak. Hmm, aku mungkin memang salah—”
“Kamu berteriak ke penolongmu lalu melarikan diri dan tidak bertanggungjawab,”sela laki-laki itu.
Naura menggerang dalam hati,”Iya benar. Kamu benar sekali. Kalau begitu di sini aku akan—”
“Ssstt.” Naura mingkem, bibir laki-laki itu terlihat sangat seksi. “Kalau mau bertanggungjawab lakukan yang benar. Aku akan menagihnya nanti.”
Sial!
"Dan satu lagi, aku tidak mau lagi melihat kamu menarik telinga anakku seperti tadi atau—" Naura mengerjapkan mata mendengar nada peringatan laki-laki itu lalu seperti tersadar, dia balik nyolot.
"Anakmu ini yang kebanyakan tingkah!"
Laki-laki itu memincingkan mata, "Atau kamu akan bertemu denganku di pengadilan dalam kasus kekerasan anak. Sebagai pengacara, aku bisa dengan mudah menuntutmu saat ini juga." Naura mengatupkan bibirnya. "Camkan itu!"
Apes!! Naura memalingkan wajahnya ke samping.
"Ayo kita ajak pulang Bu gulu Naula, Pi," ucap Keylan.
"Gak usah sayang. Bu gurunya masih mau berdiri jadi patung di sini." Naura melotot mendengarnya, mengalihkan tatapannya lagi saat laki-laki itu kembali melihatnya. "Ingat itu baik-baik!!"
Lalu dia berbalik membuat Naura langsung menghela napasnya tapi hanya sesaat karena laki-laki itu kembali berbalik dengan senyuman miring minta ditabok bolak-balik.
"Lain kali kalau pakai kemeja putih itu dilapisi dalaman. Biar gak muncul warna warni selain cap tangan yang ada di sana."
Naura mendelik, laki-laki itu tersenyum mengejek kemudian berbalik pergi meninggalkan Naura yang langsung melihat kemejanya dan melotot saat menyadari kalau branya yang berwarna biru tercetak jelas di sana.
"Arrrrrgghhhh!' pekiknya ditengah guyuran hujan yang semakin menderas. “Apes banget gue!”
Naura gak tahu ini pertanda apa tapi hari ini dia benar-benar ketiban sial. Mobil laki-laki itu sudah berlalu pergi, Naura menggerutu lebih panjang saat Siska belum juga datang untuk menjemputnya. Naura bergerak mendekati tepian jalan sambil celingukan dan mendesah keras, saat akan berbalik ke tempatnya tadi, sebuah mobil melaju kencang dan—
Byuuuurrr!
Naura tenganga, merasakan punggungnya basah akibat cipratan yang diakibatkan mobil gila tadi.
“Ya Tuhan,” desahnya.
Naura mengacak rambutnya kesal sampai suara tawa membahana itu membuatnya berbalik dan melihat Siska yang tertawa terbahak di sana. Ini benar-benar hari tersial dalam hidupnya meski tadi dia sempat mendapat sedikit keberuntungan bisa melihat lelaki yang tampan meski wajahnya begitu lempeng.
***