Sebuah Penglihatan
"Jangan kesana, kalau kamu tidak ingin celaka," ucap Karina, pada teman kerjanya. Kedua matanya terpejam sesaat, lalu menatap kosong ke depan.
"Celaka? Kok bisa?" tanya Nora, teman Karina.
Karina mengusap kasar wajahnya lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah. Aku seperti melihatmu tertimpa lampu gantung di ruang kerja Pak Tama," jawabnya ragu.
Nora tertawa kecil. "Ah, itu cuma halusinasi saja. Makanya jangan keseringan nonton film horor," tegurnya. "Ya sudah, aku pergi dulu, takut Pak Tama marah karena menungguku terlalu lama."
Dengan perasaan cemas Karina pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, hati-hati. Hindari berdiri di bawah lampu ya!" jawabnya sembari memperingatkan. Nora hanya tertawa sambil mengibaskan tangannya, menampik ucapan Karina.
Karina kembali melanjutkan bekerja, meskipun pikirannya kini melayang pada bayangan yang sempat terlintas dalam benaknya, saat Nora menepuk bahunya. Sesekali ia mengusap kasar wajahnya sambil berharap bayangan itu tak nyata dan Nora akan baik-baik saja nantinya.
Tetapi harapannya pupus ketika tiba-tiba suasana terlihat kacau. Semua berlarian panik, keluar dari arah ruang kerja Pak Tama. Perasaan Karina tiba-tiba tidak nyaman.
"Apa yang terjadi?" tanya Karina pada temannya yang melintas.
"Nora! Sebaiknya kamu kesana, lihat sendiri keadaannya, aku mau panggil ambulans," jawab teman Karina panik.
"Nora? Kenapa dia?" tanya Karina cemas. Cepat ia pun berlari menuju ruang kerja Pak Tama dan berpapasan dengan pimpinannya itu, yang sedang membopong tubuh Nora, dengan kepalanya yang berlumuran darah.
"Menyingkir dari hadapanku!" teriak Tama. Wajahnya terlihat pucat dan panik. Karina segera menepi, memberi jalan pada atasannya itu.
"Karina! Ikutlah denganku ke rumah sakit!" teriak Tama. Karina pun cepat menyusulnya, meninggalkan beberapa orang yang kini mulai membersihkan lantai karena ceceran darah dari kepala Nora.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Karina saat ia bersama Tama mendampingi Nora, di dalam mobil ambulans.
Tama mengusap kasar wajahnya. "Nora tertimpa lampu gantung di ruanganku," jawabnya dengan raut wajah sedih dan menyesal. "Aku lupa memperingatkannya, padahal sejak kemarin aku lihat ikatan lampu itu hampir terlepas."
Karina menatap Tama tak percaya. Jantungnya kini berdegup kencang. Terjadi? Apa yang ia lihat dalam bayangan itu kini benar-benar nyata dialami oleh Nora.
"Oh, tidak!" desis Karina. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang sedang terjadi dengannya? Sisi lain dirinya akhir-akhir ini bisa menjangkau sesuatu yang tidak lazim.
"Nora, ku harap kau baik-baik saja," ucap Tama di dekat telinga Nora. Seorang perawat sedang berusaha menghentikan pendarahan di kepalanya setelah membalut luka itu dengan kain kasa dan membubuhkan obat tertentu di kepala Nora.
Karina menatap prihatin pada Tama yang saat itu tertunduk sedih, menatap wajah Nora yang pias. Setitik air terjatuh dari matanya. Tama terlihat menyesali kelalaiannya, yang menunda untuk memperbaiki lampu gantung di ruang kerjanya.
"Seharusnya aku yang terkena, bukan malah karyawanku. Dia tidak salah apa-apa, dan semua terjadi saat aku memanggilnya datang. Aku tak ubahnya seperti malaikat maut. Aku berdosa!"
Tubuh Karina bergetar ketika mendengar suara dari dalam hati Tama. Ia mengerjapkan kedua matanya, tak percaya dengan pendengarannya. "Tidak mungkin," gumamnya.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Tama sembari mengusap sudut matanya yang basah.
"Ah, tidak Pak. Saya hanya membayangkan yang tidak-tidak," jawab Karina beralasan.
"Buang jauh-jauh pikiran burukmu tentang Nora! Aku yakin dia baik-baik saja," tegur Tama dengan perasaan takut.
"Semua yang terjadi ini kecelakaan, Pak. Tidak ada satupun yang tahu kapan musibah akan datang. Jadi, jangan menyalahkan diri Bapak sendiri karenanya," ucap Karina sembari menatap dalam kedua mata Tama yang saat itu terlihat redup karena kesedihan dan ketakutan.
Tama terkesiap. Karina seperti mampu membaca pikirannya. "Apa aku bicara sesuatu padamu, barusan?"
"Bicara apa, Pak?"
Tama tertegun. Itu berarti ucapan Karina hanya kebetulan saja. "Aku hanya menyesal, kenapa memanggilnya di waktu yang tidak tepat," ucapnya sedih.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit yang terdekat. Karina dan Tama melangkah cepat, menyusul brankar yang membawa Nora ke UGD. Namun, saat hendak dibawa masuk, Nora tiba-tiba membuka matanya dan memanggil Karina.
"Jangan dekat-dekat Karina, dia berbahaya. Aku terluka karena ucapannya!" teriak Karina sembari menatap Karina tajam. "Kau harus bertanggung jawab untuk itu, Karin!" desisnya pelan, dengan napas memburu, sebelum akhirnya ia kembali memejamkan mata dan segera dibawa masuk ke UGD.
"Apa maksud perkataannya?" tanya Tama curiga.
"Saya juga tidak tahu, Pak," jawab Karina, ragu.
"Yakin kamu tidak mengatakan apapun padanya?" Tama menatap tajam. "Kalau kamu bohong, masih ada CCTV yang bicara."
Mendengar hal itu wajah Karina seketika pucat. Ia pun lantas memutuskan untuk menceritakan semuanya, hingga akhirnya apa yang ia katakan pada Nora benar-benar terjadi.
Tama tertegun. Ia menatap Karina tak percaya. Sudut bibirnya seketika terangkat, seolah meremehkan ucapan karyawatinya itu.
"Apa benar kamu bisa melihat sesuatu hanya dengan sentuhan?" selidik Tama tak percaya.
"Saya tidak yakin, Pak. Tapi saya merasakan hal ini sejak baru sadar dari koma, setelah melahirkan," jawab Karina.
Tama terus saja menatap Karina tanpa berkedip. "Aku tidak percaya! Ini semua pasti hanya kebetulan," ucapnya.
Karina mengangguk dan tersenyum kaku. "Saya juga berharap ini hanya kebetulan."
Keduanya lalu terdiam hingga beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari UGD dengan wajah datarnya.
"Keluarga pasien atas nama Nora?" tanya dokter itu.
Karina dan Tama mengangguk kompak. Mereka melakukannya untuk bisa mendapatkan keterangan tentang kondisi Nora, karena selama ini yang mereka tahu Nora tinggal sendirian tanpa kedua orang tuanya.
"Luka pasien cukup parah, tetapi masih bisa diatasi dengan baik. Dan beruntung juga kami mempunyai stok darah yangbsesuai, karena pasien sempat kehilangan banyak darah dari lukanya," jelas dokter itu.
"Lalu bagaimana kondisinya saat ini, Dok?" tanya Tama dengan perasaan cemas.
"Saat ini pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat. Nanti kita lihat bagaimana perkembangannya saat pasien sudah sadar."
"Baiklah, tolong kabari kami, apapun yang terjadi."
"Baik. Saya permisi dulu," pamit dokter itu setelah selesai bicara dengan Tama. Sedari tadi Karina hanya diam mendengarkan semua penjelasan dari sang dokter.
Tama terduduk lemas. Ia mengusap kasar wajahnya dan menghela napas lega. "Syukurlah, setidaknya Nora selamat," ucapnya.
Karina mengangguk dan tersenyum. "Syukurlah."
Tama menoleh menatap Karina dengan penuh tanya. "Aku masih kepikiran ucapanmu pada Nora," ujarnya.
"Tolong jangan terlalu dipikirlan, Pak. Itu hanya kebetulan, bukan?"
Tama mencebikkan bibirnya. "Aku justru penasaran. Kalau memang benar kamu bisa melihat masa depan hanya dengan sentuhan, tolong lihat apa yang terjadi padaku hari ini, setelah aku pergi dari sini."
Karina tertegun. Ia membalas tatapan Tama dengan penuh tanya juga. "Untuk apa? Hal semacam itu tidak bisa kita atur, Pak. Semuanya terjadi secara kebetulan dan tiba-tiba saja."
"Bagaimana kalau aku tetap berkeras memintamu untuk melihatku?" Tama mendekat pada Karina lalu tiba-tiba menyentuh pundak karyawatinya yang sudah menikah itu. "Bagaimana, apa yang terjadi nantinya?"
Seketika kepala Karina terasa pusing dan berdenyut. Ia bahkan sampai memejamkan matanya erat hanya untuk mengusir rasa sakit itu. Lalu tiba-tiba terlintas dalam benaknya satu kejadian, semacam cuplikan film yang bergerak cepat, menunjukkan sesuatu hal padanya.
"Tidak!" desis Karina. Tama menatapnya penasaran.
"Bagaimana Karin?"