Terpaksa Berbohong

1210 Words
Sendok di tangan Sukma jatuh menimpa piring, menghasilkan bunyi nyaring yang membuat semua orang di meja itu terdiam. Dani menoleh, menatap Aditya dengan alis berkerut. Sintya tampak canggung, sementara Hasto hanya menghela napas pendek, tak menyangka putranya akan menanyakan hal itu di depan semua orang. “Adit!” tegur Sintya pelan tapi Aditya hanya mengangkat sedikit alisnya, menantikan jawaban. Dani yang menyadari keadaan semakin mencekam mencoba mencairkan suasana. “Tentu saja nggak,” ucapnya cepat, disertai tawa kecil yang terdengar dipaksakan. “Adel anak yang baik. Mana mungkin saya menjodohkannya saat dia punya hubungan dengan pria lain.” Namun Aditya tidak puas dengan jawaban itu. Ia menatap Adelia tanpa berkedip, tatapannya seperti hendak menembus isi hatinya. “Benarkah? Saya ingin mendengarnya langsung darimu, Adel,” ucapnya seakan menusuk jantung Adelia. Suasana menjadi benar-benar tegang. Hasto mencoba menepuk bahu putranya, “Adit, jangan terlalu serius. Ini baru awal perkenalan—” Tapi Aditya tak bergeming. Ia justru mengulurkan tangannya, meraih tangan Adelia yang tergeletak di atas meja. Genggamannya kuat, terlalu kuat. Adelia tersentak kecil, mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Aditya menahannya. “Jawablah aku, Adel. Apakah ada seseorang di hatimu sekarang?” Adelia menatapnya dengan pandangan nanar. Di dalam kepalanya, nama Bayu terus terngiang. Hatinya berteriak ingin mengatakan kebenaran. Ingin berkata bahwa ia masih mencintai seseorang. Tapi di sekelilingnya, tatapan orang tua mereka terasa menekan. Sukma menatapnya tajam, memberi isyarat yang jelas agar jangan membuat malu keluarga. Sementara Dani menatapnya dengan penuh tekanan, seolah jawaban Adelia akan menentukan segalanya. Adelia menelan ludah, merasakan jemarinya bergetar di bawah genggaman Aditya. “Mana mungkin ... aku punya hubungan dengan pria lain,” jawabnya dengan senyuman lebar yang dipaksakan. “Apakah kamu berpikir ayahku berbohong?” lanjutnya mencoba meyakinkan. Genggamannya perlahan mengendur, tapi belum sepenuhnya melepas. “Baiklah,” ucapnya akhirnya, dengan senyum samar di bibirnya. “Saya hanya ingin memastikan.” Dani tertawa pelan, mencoba memecah ketegangan. “Anak muda zaman sekarang memang langsung to the point,” katanya, pura-pura ringan. “Tapi gak apa, justru bagus. Artinya dia serius.” Sukma ikut menimpali, “Benar. Adit hanya ingin memastikan kalau putriku bisa diterima dengan tulus, tanpa ada masa lalu yang menggantung.” Adelia hanya tersenyum lemah. Tangan yang tadi digenggam Aditya kini terasa dingin, tapi bekas tekanan jemarinya masih terasa jelas. Ia menunduk, tak sanggup menatap siapa pun. Di dalam hatinya, rasa bersalah tumbuh seperti duri. Ia baru saja membohongi semua orang. Lebih buruk lagi ia berbohong kepada dirinya sendiri. Dani menghela napas panjang, menatap jam tangannya. “Wah, ternyata sudah hampir jam sembilan. Sepertinya kita harus pamit, Hasto.” Hasto mengangguk sambil tersenyum hangat. “Tentu. Malam ini benar-benar menyenangkan, Dani. Senang sekali akhirnya kita bisa duduk bersama lagi setelah sekian lama.” Sukma menimpali, “Benar. Dan aku sangat berterima kasih karena keluarga kalian sudah menyambut kami dengan begitu hangat.” Sintya tersenyum lembut, menggenggam tangan Sukma di atas meja. “Oh, jangan begitu. Kami justru yang berterima kasih. Hasto sudah lama sekali bercerita tentang persahabatannya dengan Dani. Akhirnya, kami bisa mengenal keluarga kalian lebih dekat.” Aditya yang sejak tadi diam, berdiri dan merapikan jasnya. Ia menatap Adelia yang masih menunduk. “Kalau begitu, biar saya antar kalian ke pintu,” katanya sopan. Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar restoran. “Terima kasih atas undangan makan malamnya,” ucap Aditya, menatap Adelia dan keluarganya Dani tersenyum lebar. “Kami juga berterima kasih, Adit. Kapan-kapan mampir ke rumah, ya. Supaya lebih akrab dengan Adel.” Aditya mengangguk. “Dengan senang hati, Om.” Kemudian, ia menoleh pada Adelia. “Kalau nggak keberatan, mungkin minggu depan aku bisa mengajakmu makan malam lagi? Nggak perlu formal… hanya kita berdua. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.” Adelia tertegun. Tubuhnya seolah membeku di tempat. Ia ingin menolak, tapi tatapan Sukma yang tajam dari samping membuatnya tak berani berkata tidak. Ia menelan ludah dan berusaha tersenyum. “Baiklah,” jawabnya pelan. “Minggu depan… aku akan kosongkan waktu.” Senyum Aditya mengembang lembut. “Senang mendengarnya. Semoga saat itu kau sudah lebih nyaman denganku.” Adelia kemudian berjalan menuju mobil bersama kedua orang tuanya. Dari kaca pintu restoran, ia bisa melihat Aditya masih berdiri di sana, menatap ke arah mereka hingga mobil bergerak menjauh. Di dalam mobil, suasana hening. Sukma bersandar sambil tersenyum puas, sementara Dani tampak lega. “Lihat, Adel,” ucap Danie, menoleh sebentar melalui kaca spion. “Ayah yakin, Adit itu pria baik. Kamu akan bahagia bersamanya.” Adelia tidak bisa menahan hatinya lebih lama. Ia menatap ayahnya dengan mata yang mulai basah. “Ayah ... sejujurnya nggak mau berpisah dengan Bayu.” Kalimat itu menggantung di udara, menusuk seperti pisau. Dani langsung menginjak rem dengan agak keras hingga mobil sedikit tersentak. Ia menoleh cepat ke arah Adelia dengan tatapan tajam. “Apa yang kamu bilang barusan?” suaranya meninggi. Adelia menunduk, air matanya mulai mengalir. “Aku masih sayang sama Bayu, Yah. Kami udah bersama lima tahun. Kami punya rencana—” “Cukup!” bentak Dani, suaranya menggelegar memenuhi kabin mobil. “Kamu tahu, Adel, kamu sudah berjanji akan menikah dengan Adit! Ayah sudah sepakat dengan Hasto, dan semuanya sudah diatur. Kamu pikir ini main-main?” Adelia terisak, bahunya bergetar. “Tapi Ayah, aku nggak bisa langsung ninggalin dia begitu saja. Bayu nggak tahu apa-apa soal perjodohan ini. Aku bahkan belum sempat bicara padanya.” Dani menatapnya penuh amarah yang tertahan. “Kalau begitu, segera bicarakan! Putuskan dia malam ini juga!” katanya dengan nada perintah. “Dan kalau kamu berani menunda-nunda, Ayah akan mempercepat pernikahanmu dengan Adit! Dua bulan? Tidak perlu! Satu minggu pun bisa kalau Ayah mau!” Sukma yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara, “Sudahlah, Nak. Jangan buat Ayahmu marah. Kamu harus tahu kapan saatnya berhenti mempertahankan sesuatu yang nggak pasti.” Adelia mengangkat wajahnya perlahan, matanya sembab dan penuh luka. “Tapi, Bu… Bayu pekerja keras, dia tulus sama aku.” Sukma mendengus kecil. “Kerja keras? Apa dia bisa menjamin masa depanmu? Bisa memberi hidup layak? Kamu tahu sendiri, hidup ini nggak hanya butuh cinta. Kamu butuh kepastian, kamu butuh keamanan, dan Adit bisa memberimu semua itu.” “Tapi Bu, aku nggak mencintai Adit,” lirihnya. Sukma menatapnya tajam. “Cinta bisa tumbuh, Adel. Kamu hanya belum mencoba.” “Tidak secepat itu, Bu…” tangis Adelia pecah, “Aku nggak bisa berpura-pura bahagia dengan orang lain sementara hatiku masih milik Bayu.” Dani menepuk setir mobil dengan keras hingga Adelia tersentak. “Cukup, Adel! Ayah nggak mau dengar alasan lagi! Kamu anak perempuan Ayah. Kamu nggak akan mempermalukan keluarga ini hanya karena laki-laki yang bahkan nggak jelas asal-usulnya itu!” Tangisan Adelia semakin pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menahan sesak di dadanya. Tapi air mata itu tidak mau berhenti. “Dengar, Nak…” ucap Sukma menimpali. “Adit itu pria yang sempurna untukmu. Dia sopan, berpendidikan, dan dari keluarga baik-baik. Semua orang tua bermimpi punya menantu seperti dia. Jadi, lupakan pria itu. Bayu nggak sebanding denganmu.” Adelia menunduk, bahunya bergetar hebat. “Tapi aku cinta sama dia, Bu.” Dani menghela napas berat. “Besok kamu telepon Bayu. Selesaikan semuanya. Ayah nggak mau masalah ini berlarut.” Adelia tidak menjawab. Ia hanya terus menangisi nasibnya yang tidak bisa lagi membantah perintah orang tuanya, meski hatinya harus tersakiti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD