bc

Pelarian Manis ke Pelukan Kakak Ipar

book_age18+
8
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
fated
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
witty
city
office/work place
secrets
affair
substitute
like
intro-logo
Blurb

Adelia Putri (27) Terpaksa menerima perjodohan dengan Aditya Laksmana—anak dari sahabat ayahnya. Dia pun harus mengorbakan kisah cintanya bersama sang kekasih, demi berbakti kepada kedua orang tua. Meski hatinya hancur dan terpaksa menerima takdir. Pernikahan Adelia tidak sepenuhnya bahagia. Sang suami diketahui berselingkuh, bahkan sampai memiliki anak. Saat harapan untuk hidup tak ada lagi, entah takdir sedang mempermainkannya. Tiba-tiba kakak iparnya sendiri melamar disaat status Adelia masih sebagai istri adiknya. Apakah Adelia akan menerima perasaan sang kakak ipar? Atau memilih bertahan dan memaafkan sang suami?

chap-preview
Free preview
Pertemuan Penting
Di sebuah restoran mewah, Adelia Putri duduk dengan tegang di samping ibunya, Sukma Ayu. Keduanya tampak cantik dengan potongan pakaian formal. Wajah Adelia dirias tipis menambah pesona kecantikan alami. Di ujung meja, Ayahnya Dani Widodo terus memandang ponselnya dengan wajah dinginnya. Tak ada senyum dalam wajah yang sudah dipenuhi kerutan itu. Ia terus menenggak air putih menghilangkan dahaga yang entah kenapa terus membuat tenggorokannya kering. “Ibu ... apa aku harus ikut makan malam ini?” tanya Adelia dengan suara pelan, hampir berbisik. Sukma tersenyum tenang dan meraih tangan Adelia lembut. “Tenang saja, Adel,” bisik ibunya, “Kita hanya makan malam santai. Nggak perlu tegang begitu. Sahabat lama Ayah ingin sekali ketemu sama kamu.” Adelia mengangguk pelan, meski wajahnya menegang. Ia tahu betul, malam ini bukan sekadar makan malam biasa. Sejak pagi, sang ayah sudah menyinggung soal pertemuan penting dengan sahabat lamanya, Hasto Laksmana. Ia tidak bodoh. Ia tahu, topik yang akan dibicarakan adalah perjodohan. Beberapa menit kemudian, pelayan menuntun sepasang suami istri paruh baya masuk bersama seorang pria muda yang tinggi dan berpenampilan rapi. Dani langsung berdiri dan tersenyum lebar. “Hasto! Lama sekali kita nggak bertemu,” seru Dani dengan semangat. Keduanya berpelukan hangat, seolah waktu tak pernah memisahkan mereka. Istrinya, Sintya, menyalami Sukma dengan penuh keakraban. Sementara Adelia menunduk, menahan diri untuk tidak menarik napas terlalu keras. Dan di antara mereka, berdiri seorang pria muda yang tersenyum ramah, Aditya Laksmana. “Ini Aditya,” ujar Hasto sambil menepuk bahu putranya. “Anak keduaku. Baru pulang dari Singapura beberapa bulan lalu.” Aditya mengulurkan tangan dengan sopan. “Senang sekali bisa bertemu denganmu, Adelia?” sapa Aditya seolah sudah mengenali Adelia sejak lama. Adelia tampak terkejut, namun ia tetap membalas jabat tangannya dengan canggung. “Ya, terimakasih sudah datang,” ucapnya pelan. “Ternyata lebih cantik dari fotonya,” puji Aditya dengan senyum hangat. Tatapannya lembut seolah sedang jatuh cinta pada pertemuan pertama. Mereka semua duduk. Pelayan mulai datang membawa hidangan satu per satu. Percakapan pun mengalir dari tentang bisnis, tentang masa lalu, tentang betapa cepat waktu berlalu sejak kedua orang tua itu terakhir bertemu. Dani tertawa kecil sambil menatap Hasto. “Rasanya seperti kemarin kita masih sama-sama berjuang. Sekarang anak-anak kita sudah dewasa. Siapa sangka, ya?” Hasto tersenyum lebar. “Iya, Dan. Dulu kita pernah bercanda kalau anak-anak kita bisa berjodoh. Ternyata, bukan cuma candaan. Mungkin ini memang jalan yang ditentukan Tuhan.” Ucapan itu membuat jantung Adelia berdegup kencang. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan serbet di pangkuannya. Namun matanya sempat menangkap ekspresi bahagia ibunya, dan senyum tipis di wajah ayahnya. “Adit sudah siap membangun rumah tangga,” tambah Sintya lembut. “Kami berharap bisa mengenal Adel lebih dekat.” Sukma segera menimpali dengan suara yang hangat. “Kami juga bahagia jika anak kami bisa bersama keluarga yang baik seperti kalian.” Adelia terdiam. Kata-kata itu seperti beban yang menekan dadanya. Ia tahu, semua orang di meja itu mengharapkan jawabannya. Tapi bagaimana ia bisa bicara ketika hatinya masih terikat pada orang lain? Bayu. Nama itu kembali terlintas, menyesakkan d**a. Bayu yang selalu menunggu di setiap akhir pekan, Bayu yang mengajaknya merancang masa depan sederhana. Bayu yang mungkin saat ini tengah menunggunya tanpa tahu bahwa hatinya akan direbut paksa oleh keputusan keluarga. Aditya menatapnya sekali lagi, tersenyum lembut. “Saya harap, kita bisa saling mengenal lebih jauh, Adel.” Adelia mengangkat wajahnya perlahan, menatap senyuman itu yang entah kenapa begitu menusuk seolah memaksanya untuk membalas dengan senyum kaku. “Iya... saya juga berharap begitu.” Tapi di dalam hatinya, kata-kata itu terasa seperti kebohongan paling pahit yang pernah ia ucapkan. “Wah, anakmu benar-benar romantis dan berpendidikan tinggi, Hasto,” ujar Dani sambil tertawa kecil. “Adel sampai tersipu seperti itu.” Sukma tersenyum, menatap anak perempuannya seolah memberi isyarat agar bersikap lebih ramah. “Benar, Nak. Adit ini lulusan luar negeri, sekarang juga bantu mengurus bisnis keluarganya,” ucap Hasto penuh pujian. Adelia memaksakan senyum. Tatapannya sempat bertemu dengan Aditya, dan ia buru-buru menunduk. Aditya hanya tersenyum tipis. “Saya yang harus banyak belajar, Bu. Saya dengar Adel juga bekerja menjadi manajer perusahaan ternama? Itu hebat sekali,” ucapnya penuh perhatian. “Ah, kamu ini… sudah cocok saling puji saja,” gurau Hasto sambil tertawa. Suasana meja menjadi lebih cair. Dani tampak bahagia melihat keakraban kecil itu. Ia menyandarkan tubuhnya dan menatap kedua anak muda itu dengan pandangan yang penuh arti. “Kalau melihat kalian berdua begini, apa sebaiknya kita nggak perlu menunggu lama,” ucap Dani dengan nada bercanda tapi sarat makna. “Bagaimana kalau kita tentukan tanggal pernikahan? Sepertinya mereka sudah nggak sabar untuk bersama.” Semua tertawa mendengar itu kecuali Adelia. Ia mematung, jantungnya berdegup keras. Kata-kata ayahnya seperti cambuk yang menyadarkan bahwa semua ini nyata. Ia menatap piring di depannya, tak sanggup menatap siapa pun. Hasto menimpali dengan semangat, “Hmm, bagaimana kalau dua bulan dari sekarang? Waktu yang cukup untuk persiapan, bukan?” Adelia sontak menegakkan kepala, matanya membulat. “Dua… bulan?” Ia menoleh pada ibunya, berharap Sukma akan membelanya. Namun sang ibu hanya menggenggam tangannya pelan, memberikan senyum yang tak memberinya pilihan. “Dua bulan terdengar ideal, Om,” katanya sambil menatap ke arah Adelia. “Saya rasa itu waktu yang cukup untuk membuat Adelia jatuh hati pada saya.” Semua tertawa lagi. Bahkan Sintya menutup mulutnya, menahan tawa bahagia. “Adit, kamu ini bisa saja,” katanya. Namun bagi Adelia, dunia seolah berhenti berputar. Suara tawa orang-orang dewasa di sekelilingnya berubah menjadi gema samar. Ia hanya mendengar degup jantungnya sendiri dengan mata yang mulai memanas menahan tangis. “Bagaimana Adel? Apa kamu nggak keberatan?” tanya Sintya lebih memperhatikan reaksi Adelia yang hanya menunduk diam. Adelia menatap wajah orang-orang disekitarnya, mata ayahnya yang menajam seolah memaksanya untuk tidak mengecewakannya. Dan ibunya yang memaksa Adelia untuk tidak membuat kesalahan. Adelia pun menarik napas, mencoba tersenyum kaku, “Saya… akan berusaha sebaik mungkin,” ucapnya pelan. “Syukurlah, Adel tampak senang dengan keputusan ini,” ucap Hasto senang. “Kami senang sekali kalau kalian berdua bisa segera bersatu. Lagipula, keluarga kita sudah dekat sejak lama. Ini seperti menyatukan dua sahabat lama lewat anak-anak.” Suasana meja yang semula hangat perlahan berubah hening setelah tawa terakhir mereda. Adelia berusaha menenangkan diri, menatap gelas jus di depannya yang kini hanya tersisa separuh. Ia menunduk, berharap semua pembicaraan tentang pernikahan cepat berakhir. Namun, pertanyaan Aditya yang tiba-tiba memecah keheningan. “Tapi…” katanya pelan, matanya terarah pada Adelia, “kau nggak sedang menjalin hubungan dengan pria lain, bukan, Adel?” Adelia terpaku. Napasnya tertahan. Ia menatap Aditya dengan mata membulat, jantungnya berdentum keras. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan. Membuat bibirnya bergetar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
220.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook