BAB 11

1036 Words
Setelah Ella pergi dengan taksi yang membawanya, Rheina dan Revan masih terpaku di tempat. Keduanya masih merasa canggung. "Ayo, kita makan dulu," ucap Revan pada akhirnya. Keduanya kemudian masuk ke rumah makan itu dan memilih tempat duduk. Setelah memesan makanan, keduanya kembali didera rasa canggung, lagi. Satu menit... Dua menit... Tiga menit... Tak ada yang berani memecah keheningan. Rheina berpura-pura memainkan ponselnya, meski tak ada yang menarik di dalamnya. Sementara Revan, pria itu memberanikan diri menatap ke arah Rheina yang sibuk dengan gawainya. Revan sudah memutuskan kalau dia akan mulai terang-terangan mengejar cinta Rheina. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini. Dia yakin kalau dirinya bisa membuat Rheina membuka kembali hatinya. Rheina dapat menangkap Revan yang dengan jelas menatapnya tanpa henti. "Re, kamu ingat aku nggak?" tanya Revan tiba-tiba. Rheina yang sedari tadi pura-pura sibuk bermain ponsel, seketika menghentikan aktivitasnya. "Bukankah kita pertama kali ketemu saat aku meeting sama Mbak Ella?" jawab Rheina. Revan menggeleng. "Kita sudah pernah bertemu jauh sebelum hari itu." "Kamu ingat gak kalau pernah bantuin cowok cupu yang di serang anak sekolah seusianya?" Revan kembali bercerita. "Kalau gak salah waktu itu kamu masih SMP kelas tiga. Soalnya kamu pakai seragam putih biru." Rheina terkejut. Bagaimana Revan tahu? Apa jangan-jangan... "Kamu anak SMA yang diserang itu, kan?" selidik Rheina. Revan mengangguk. Rheina menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu terkejut, tak menyangka kalau dunia mereka begitu sempit. "Apa jangan-jangan sekarang masih kayak dulu? Selalu ditindas?" ejek Rheina. "Hemm... Masih meledek, nih? Aku udah berubah, udah beda antara yang dulu dan sekarang. Dulu aku dilindungi olehmu, sekarang biar aku yang melindungi mu," ujar Revan sungguh-sungguh. Wajah Rheina sedikit memerah. Ia menyembunyikan wajahnya agar tak diketahui oleh Revan kalau dia tersipu. Saat SMA dulu... Memang pernah Revan dikeroyok oleh temannya sesama pelajar SMA. Revan yang waktu itu merupakan seorang kutu buku, tak berani melawan aksi bullying yang dilakukan teman-temannya. Hingga tanpa disengaja, ada seorang anak berseragam SMP tiba-tiba melempari salah satu siswa yang mengeroyoknya dengan sesuatu. Hal itu cukup menyita atensi tiga orang siswa yang sedari tadi menyerang Revan. Revan kagum dengan gadis SMP itu yang cukup mahir bela diri. Tiga orang anak SMA itu dikalahkan dengan mudah. "Kakak gapapa?" tanya gadis itu. Revan yang masih kagum dengan gadis itu, hanya bisa mengangguk. "Kakak terluka, ayo aku antar ke klinik," ajak gadis itu. "Tidak perlu. Hanya bekas pukulan seperti ini, tak apa," jawab Revan sok kuat. "Ya sudah kalau begitu. Ayo, aku antar sampai halte," ujar gadis itu sembari mengulurkan tangannya. Revan menyambut uluran tangan gadis itu untuk berdiri. Setelah berjalan beberapa langkah, Revan berhenti, memungut sesuatu yang tadi sempat digunakan gadis itu membantunya. "Hei, ini punyamu," ujar Revan sembari menyodorkan sebuah benda yang ia yakin merupakan kerajinan tangan gadis itu. "Aku udah gak butuh itu, Kak. Toh barang itu udah rusak. Tadi dapat nilai jelek gara-gara aku bikin prakarya dari cangkir bekas pakai," ucap gadis SMP itu tanpa menoleh. "Kakak buang aja, toh itu udah gak berharga," lanjutnya. Revan menggeleng. "Kalau kamu gak mau, biar cangkir ini buat aku aja," ujar Revan sembari memeluk benda mungil itu. "Terserah Kakak saja." Mereka berdua kemudian berjalan hingga halte. Keduanya berpisah saat bus yang akan mereka tumpangi tiba. "Oh, iya, nama kamu siapa?" tanya Revan. Gadis itu tak lekas membalas. Namun saat sudah memasuki pintu bis, "Namaku Rheina," teriak gadis itu. *** "Jadi, Kakak masih simpan cangkir itu?" tanya Rheina saat mengingat kembali masa lalu mereka. Revan mengangguk mengiyakan. "Kenapa tak di buang saja?" lirih Rheina. "Karena cangkir itu masih tetap cantik. Masih tetap sama seperti dulu. Meski cangkir itu dari barang bekas pakai, tak merubah fungsi dan keindahan cangkir milikmu itu." "Seperti halnya kamu, Re. Kamu tetap cantik, tetap Rheina yang dulu..." "Meski aku janda, bekas orang lain. Begitu 'kan maksud Kakak?" sela Rheina. "Bukan begitu, Re." Rheina hendak berdiri, namun dengan sigap Revan memegang lengan Rheina agar tak pergi. "Bagaimanapun keadaan kamu, status kamu, kamu tetap diri kamu, Re. Kamu tetap berharga buatku, Re. Jadi tolong, kamu jangan marah dulu ya? Please!" pinta Revan. Rheina akhirnya mengalah. Dia kembali duduk untuk melanjutkan makan siangnya. Tak lama sang pramusaji membawakan pesanan mereka. Mereka makan siang dalam hening, menikmati makanan yang tersaji dengan hati yang bahagia. Usai menandaskan makan siangnya, Revan pergi ka kasir untuk membayar tagihan. "Nanti aku ganti," ucap Rheina saat Revan kembali ke meja mereka setelah membayar. "Gak usah. Biar aku yang traktir. Anggap saja ini sebagai perayaan kamu mengingatku," sindir Revan halus. Astaga! Bukan salah Rheina juga 'kan kalau tak mengenali Revan yang bertransformasi menjadi makhluk tampan? "Iya, deh... Iya...." sahut Rheina malas. "Oh iya, Kak. Katamu cangkir itu masih ada denganmu. Boleh dong aku minta benda itu kembali?" "Big No. Barang yang udah kamu buang waktu itu udah jadi hak milikku," pemilik aslinya juga akan jadi hak milikku, lanjut Revan dalam hati. Rheina mencebik. Tak lama, wanita itu mendadak murung. Entah mengapa Revan yang membahas perkara cangkir itu membuatnya risih dan minder. Dia merasa kalau cangkir itu adalah seperti dirinya, yang terbuang, tak memiliki nilai karena bekas pakai. "Hei, jangan sedih gitu. Oke kalau kamu mau itu kembali, tapi ada syaratnya." Mata Rheina kembali berbinar. "Apa syaratnya?" Rheina antusias. "Mudah saja, kamu cukup mengabulkan satu permintaanku, apapun itu yang ku minta," jawab Revan enteng. Reflek Rheina mendekap tubuhnya, merapatkan blazernya. "Ya ampun, Re. Aku gak minta aneh-aneh." Revan tergelak. "Aku gak bakal minta sesuatu yang menyalahi norma. Tenang saja," lanjut Revan. Revan gemas dengan tingkah Rheina. Di mata Revan, wanita itu tetap saja menarik. Semua yang ada di diri Rheina sangat menarik bagi Revan. Revan bersyukur bisa bertemu lagi dengan Rheina, wanita yang ia kagumi sejak lama. Wanita yang sejak pertama mencuri hatinya. Ketika mengetahui kalau Rheina sudah menikah, Revan sangat kecewa. Dia marah pada dirinya sendiri dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan hingga dijuluki si gila kerja. Namun saat mengetahui Rheina hendak bercerai, Revan kembali bersemangat. Anggaplah Revan memanfaatkan keadaan, bahkan mengambil keuntungan disaat Rheina tengah dilanda masalah. "Ayo kita pulang!" ajak Revan. "Loh? Katanya mau minta sesuatu?" ujar Rheina bingung. "Iya, tapi gak sekarang." Revan meninggalkan meja terlebih dahulu. "Terus kapan?" Rheina kini menyamakan langkahnya dengan Revan. "Kapan-kapan. Nanti akan tiba saatnya, dan aku tak menerima penolakan." Revan menghadap Rheina dan menyentil hidung wanita itu dan berlalu dengan langkah seribu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD