BAB 12

1001 Words
Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa matahari kini sudah berada di langit barat. Rheina dan Revan kini tengah menikmati langit yang berwarna jingga dari tepi pantai. Mereka masih di kota yang sama. sebelum pulang ke rumah masing-masing, Revan menyempatkan diri mengajak Rheina jalan-jalan di pantai. Setelah puas berjalan menyusuri tepian pantai, kini keduanya tengah duduk di hamparan pasir yang putih. Bernostalgia akan diri mereka setelah pertemuan tak sengaja itu. Banyak hal yang terjadi pada mereka, yang akhirnya menyebabkan mereka tak saling kenal. Ralat, Rheina yang tak mengenali Revan karena penampilannya jauh berbeda. Rheina masih ingat, dulu Revan merupakan anak SMA kurus berkacamata. Jelas sekali terlihat kalau dia adalah seorang kutu buku. Sedari dulu, Revan memang memiliki tinggi badan yang cukup bisa dijadikan olokan sebagai tiang listrik. Namun badannya yang kini berisi dan cenderung berotot, membuat Rheina tak mengenali Revan setelah beberapa tahun tak bertemu. "Aku berlatih taekwondo, agar bisa melindungi mu kelak. Gak lucu 'kan kalau kamu yang justru melindungi ku dari preman lagi?" kelakar Revan. "Iya juga, sih. Lalu, apa yang membuat kamu memilih menjadi pengacara? Padahal kalau dilihat-lihat kamu lebih cocok jadi CEO seperti kebanyakan novel yang aku baca." Rheina meneliti penampilan Revan dari atas hingga bawah. TUKK! "Awwh!" pekik Rheina. Revan mengetuk dahi Rheina cukup keras. "Apaan, sih?" sungut Rheina lagi. "Biar kamu gak kebanyakan halu. CEO seperti itu hanya ada di novel, di dunia nyata cuma ada satu dari seribu." "Iya... Iya... Diem aja, biar gak ngerusak halu ku," ujar Rheina kesal. Revan tertawa, dia sangat suka membuat Rheina kesal. Menurut pria itu, Rheina sangat menggemaskan kalau sedang marah. "Tapi ngomong-ngomong, kalau aku tiba-tiba alih profesi jadi CEO, kamu mau gak?" Rheina seketika menoleh, menatap pria yang sedang duduk di sampingnya dengan pandangan tak percaya. "Kenapa? Katanya aku lebih cocok jadi CEO?" "Udah, ah! Bercandanya gak lucu." Rheina bangkit dari duduknya. "Ayo kita pulang, biar gak terlalu malam," ajak Rheina. Revan hanya mengekor wanita itu di belakang. Entah kenapa ada sedikit rasa bimbang di hatinya. Apa ia akan terus melanjutkan pekerjaannya sebagai pengacara atau meneruskan pekerjaan papanya. "Oh iya, Re. Mamaku ingin bertemu denganmu. Kamu ada waktu senggang kapan?" "Biasanya weekend aku libur, sih. Tapi aku gak mau nemuin Mama mu sendirian." "Oke, nanti aku usahakan weekend. Aku kabari jamnya nanti. Makasih, ya?" ucap Revan. "Terima kasih untuk?" "Membuka hatimu lagi. Aku tau kalau tak mudah buatmu membuka hati lagi." "Aku mau move on, Kak. Kalau memang dengan cara ini bisa membuat aku melupakannya, akan aku jalani. Tapi aku minta maaf." Revan mengernyitkan dahinya. "Mungkin prosesnya akan lama untukku agar bisa sepenuhnya mencintaimu," ucap Rheina. "Jika suatu saat kamu lelah menunggu dan memilih wanita lain, itu mungkin akan lebih baik." "Tak ada wanita lain, Re!" Revan sedikit menaikkan nada bicaranya. Revan memilih menepikan mobilnya dibandingkan bersitegang dalam keadaan mengemudi. Dia tak ingin nyawa mereka melayang akibat emosi sesaat. "Aku akan pastikan, hanya kamu satu-satunya, Re." Revan meraih tangan Rheina. Rheina memalingkan wajahnya. Perkataan Revan mirip dengan perkataan Alvano dulu. Tapi kini? Kenyataannya dia menduakan Rheina hanya karena hal sepele. "Jangan berlebihan, Kak. Tidak ada yang bisa menjamin kamu gak akan berubah. Vano aja berubah, apalagi kamu?" lirih Rheina. Revan menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. Pria itu kini bingung, harus seperti apa meyakinkan Rheina. "Aku tak bisa punya anak, Kak. Aku mandul karena endometriosis." "Sakit itu bukan membuat kamu mandul begitu saja, Re. Ada obatnya. Dan aku yakin sebenarnya kamu tak bermasalah." "Jangan pesimis, Re. Aku akan selalu mendampingimu," ucap Revan lembut. Tanpa sengaja, setetes air jatuh dari mata indah Rheina. Dia takut, takut untuk berharap dan memberi harapan. "Kita hadapi bersama. Aku akan mendampingi mu hingga kamu sembuh. Aku yakin kamu bisa sembuh." Revan bersungguh-sungguh. Air mata Rheina yang tadi terbendung, kini pertahanannya luruh. Revan mendekap Rheina yang kini sedang terisak. Tak ingin menjadi tontonan orang sekitar, Revan membawa Rheina menuju mobilnya. *** Kini keduanya sedang dalam perjalanan pulang. Sesekali Revan melihat ke arah Rheina yang tertidur pulas karena kelelahan menangis di sampingnya. Revan melihat ada penjual martabak di tepi jalan. Pria itu menepikan mobilnya hendak membeli makanan itu untuk Rheina. Mereka belum mengisi perut mereka karena Rheina masih tertidur. Usai membeli sekotak martabak, Revan melanjutkan perjalanannya mengantar Rheina. Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di depan rumah Rheina. Revan berulangkali membangunkan wanita itu, namun wanita itu masih tertidur pulas. Mau tak mau, Revan mengangkat Rheina menuju rumahnya. Setelah susah payah mengangkat wanita itu ke kamar, Revan meletakkan kotak martabak tadi di meja dapur. Entah mengapa Revan yakin kalau sebentar lagi Rheina akan bangun. Revan meninggalkan catatan kecil diatas bungkusan martabak, lalu pulang setelahnya. Satu jam kemudian, Rheina terbangun. Perutnya yang kosong minta segera diisi. Wanita itu lalu beranjak menuju ke dapur hendak mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sebuah bungkusan menyita perhatian Rheina. "Dimakan yaa. Aku udah makan beberapa :D" Rheina membaca catatan kecil di atas bungkusan yang berisi martabak telur di dalamnya. Rheina hanya tersenyum. Hatinya berbunga mendapat perlakuan manis dari Revan. Rheina segera menghabiskan martabak itu. Meski sudah dimakan beberapa oleh Revan, tetap saja masih banyak sisanya menurut Rheina. Sisa martabak tadi masih lebih banyak dibanding porsi makannya biasanya. TRING... Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Rheina. "Terima kasih. Terima kasih udah mau mencoba menerimaku. Kalau sudah bangun, jangan lupa dihabiskan martabaknya." Begitulah isi pesan dari Revan. "Martabaknya udah dingungsikan ke perut. Terima kasih..." Balas Rheina. Rheina kemudian kembali ke kamarnya, dia berniat untuk mandi sebelum tidur kembali. *** Keesokan paginya, Rheina bangun seperti biasa. Pukul lima pagi, dia sudah membersihkan diri dan selesai menyiapkan sarapannya. Tak seperti sebelumnya saat bersama Vano, Rheina tak lagi diburu waktu untuk segera berangkat kerja. Kini ia bisa bebas memasak berbagai jenis sayuran yang pastinya menyehatkan. Tak ada lagi pria yang suka pilih-pilih makanan untuk sarapan di pagi hari. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras di luar. Rheina mengernyit heran, siapa orang yang pagi-pagi bertamu ke rumahnya. Tak biasanya ada tamu sepagi itu. "Rheina, keluar kamu!!" teriak seseorang di balik pintu rumahnya. "Rheina! Kalau kau tak segera membuka pintu, akan aku dobrak pintu ini!" teriak orang itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD